NovelToon NovelToon
Dikira MONTIR Ternyata SULTAN

Dikira MONTIR Ternyata SULTAN

Status: tamat
Genre:Konglomerat berpura-pura miskin / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Moms TZ

Merasa ditikung saudara kembarnya, Darren memilih keluar dari rumah mewah orang tuanya, melepas semua fasilitas termasuk nama keluarganya.

Suatu hari salah seorang pelanggan bengkelnya datang, bermaksud menjodohkan Darren dengan salah satu putrinya, dan tanpa pikir panjang, Darren menerimanya.

Sayangnya Darren harus menelan kekecewaan karena sang istri kabur meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka.

Bagaimana nasib pernikahan Darren selanjutnya?
Apakah dia akan membatalkan pernikahannya dan mencari pengantin penganti?

Temukan jawabannya hanya di sini

"Dikira Montir Ternyata Sultan" di karya Moms TZ, bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Restu

Mami Mia, yang sedang duduk di depan meja rias, sontak berdiri dengan mata terbelalak. Tangan kirinya membekap mulutnya yang menganga. Ia benar-benar terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Ada apa, Mi?" tanya Papi Baim dari atas ranjang.

"Bang Ren, Pi. Dia... dia bilang mau menikah lagi," jawab Mami Mia dengan rasa tak percaya.

"Benarkah? Wah... bagus dong!" seru Papi Baim antusias.

"Lalu, sama siapa Bang Ren akan menikah?" tanya Mami Mia penasaran.

"Dengan Niken, adiknya Ajeng, Mi, Pi," jawab Darren.

Papi Baim dan Mami Mia saling berpandangan, lalu... "Apaaa!" keduanya memekik bersamaan.

"Abang yakin mau menikahi adiknya? Bagaimana kalau dia sama saja seperti kakaknya, Sayang? Mami tidak mau Abang terluka lagi," ujar Mami Mia khawatir.

"Benar, Bang. Apa Abang sudah mempertimbangkan masak-masak keputusan yang Abang ambil ini?" Papi Baim mengingatkan.

"Ren sudah memikirkannya matang-matang, Pi. Karena... Ren menyukainya. Dia gadis yang baik. Memang tidak secantik Ajeng, tapi insya Allah akhlaknya baik," ungkap Darren mantap.

"Tapi, Nak... Mami cuma khawatir. Kamu tahu sendiri bagaimana Ajeng dulu," Mami Mia mencoba menyampaikan kekhawatirannya. Terdengar nada cemas dalam suaranya.

"Iya, Bang. Papi juga nggak mau Abang salah pilih lagi. Ini soal masa depanmu, Nak," timpal Papi Baim, suaranya terdengar serius.

Darren menghela napas panjang, "Ren tahu, Mi, Pi. Tapi Niken berbeda. Dia... lebih sederhana dan tulus. Ren yakin ia bisa menjadi istri yang baik," ucapnya berusaha meyakinkan.

Terdengar hening sejenak dari seberang telepon. Akhirnya, Mami Mia menghela napas dan tersenyum tipis, meski Darren tak bisa melihatnya.

"Baiklah, Sayang. Kalau itu yang terbaik menurut Abang, Mami dan Papi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Abang," ucap Mami Mia dengan nada yang lebih lembut.

"Iya, Bang. Papi juga setuju. Asalkan Abang bahagia, Papi juga ikut bahagia," sahut Papi Baim, kali ini suaranya terdengar lebih cerah.

Darren tersenyum lega meski mereka tak bisa melihatnya. "Terima kasih, Mi, Pi. Ren janji, Ren nggak akan mengecewakan Mami dan Papi."

"Ya sudah, nanti kalau ada waktu, ajak Niken ke sini ya. Biar Mami dan Papi kenalan," pinta Mami Mia.

"Siap, Mi! Pasti Ren ajak," jawab Darren dengan semangat. "Ya sudah, Ren tutup dulu ya, sudah malam."

"Oke, Sayang. Jaga diri baik-baik ya," pesan Mami Mia.

"Sama-sama, Mi, Pi. Assalamualaikum," Darren mengakhiri panggilan telepon.

Darren merasa lega. Pada dasarnya, keluarganya memang tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa anak-anaknya akan menikah dan membina rumah tangga. Asalkan keduanya saling tulus mencintai, tanpa memandang status atau materi, Papi Baim dan Mami Mia pasti akan merestui.

Darren tersenyum menatap langit-langit kamar, memikirkan langkah selanjutnya untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Niken.

*

Setelah panggilan telepon terputus, Mami Mia lantas menuju tempat tidur lalu menata bantal dan merebahkan dirinya, sementara Papi Baim duduk bersandar pada headboard sambil membaca laporan perusahaannya.

"Niken... Niken..." Mami Mia mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. "Yang mana anaknya ya, Pi? Mami lupa wajahnya," ucap Mami Mia.

"Papi kurang memperhatikan, Mi. Waktu itu kan, fokusnya ke Ajeng terus," kata Papi Baim.

"Aah... mami ingat, anaknya sangat manis dan mungil," ujar Mami Mia.

"Maksudnya?" Papi Baim menoleh ke arah istrinya.

"Iya, badannya mungil, Pi. Mungkin dia masih sekolah. Eh, tapi, masa Bang Ren mau nikah sama anak yang masih sekolah, sih?"

"Mungkin baru lulus sekolah, Mi. Nggak mungkin kalau masih sekolah Bang Ren mau menikahinya," kata Papi Baim.

"Iya juga sih, Pi. Tapi kalau Bang Ren yakin, ya sudah. Kita doakan saja yang terbaik," kata Mami Mia.

"Betul, Mi. Yang penting putra kita bahagia. Kita nggak mau kejadian dulu terulang lagi," sahut Papi Baim.

"Mami cuma khawatir, Pi. Trauma sama Ajeng masih ada," ucap Mami Mia sambil duduk.

"Papi juga. Tapi kita harus percaya sama Bang Ren. Dia sudah dewasa dan bisa memilih yang terbaik untuk dirinya," kata Papi Baim menenangkan.

"Semoga saja Niken benar-benar berbeda dari kakaknya. Mami pengin Bang Ren dapat istri yang sayang sama dia, yang tulus, bukan cuma karena harta," harap Mami Mia.

"Aamiin. Kita doakan saja semoga Niken bisa jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anak Darren nanti," ucap Papi Baim.

"Iya, Pi. Mami jadi nggak sabar pengin ketemu Niken. Pengen lihat sendiri bagaimana dia," kata Mami Mia dengan nada penasaran.

"Nanti kalau Darren mengajaknya ke sini, kita harus menyambutnya dengan baik ya, Mi. Jangan sampai Niken merasa nggak nyaman berada di sini" pesan Papi Baim.

"Pasti, Pi. Kita harus tunjukkan kalau kita sayang sama Bang Ren dan mendukung keputusannya," jawab Mami Mia mantap.

Mami Mia menyandarkan kepalanya di bahu Papi Baim. Keduanya terdiam sejenak, membayangkan masa depan Darren dengan Niken.

*

Keesokan harinya, ketika suara ayam berkokok bersahutan, dan suara alarm di ponselnya berbunyi memekakkan telinga, Niken langsung bangun dari tidurnya meski matanya masih mengantuk. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar, merasakan sedikit kaku di otot-ototnya setelah semalaman beristirahat.

Dengan gerakan lambat, Niken bangkit dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai menunaikan kewajibannya, ia segera keluar dari kamarnya, lalu menuju dapur berniat membantu ibunya memasak, untuk menyiapkan sarapan.

"Mau masak apa, Bu?" tanya Niken setelah berada di dapur dan mendapati ibunya sedang memetik sayuran.

"Bagaimana kalau kita bikin pecel, bakwan sama tempe goreng? Sepertinya enak ya, Nik?" tanya Bu Hasna sambil tersenyum, wajahnya tampak berbinar.

Niken tersenyum sambil menatap ibunya, hatinya terasa hangat melihat ibunya tampak bahagia. "Wah, cocok banget, Bu. Sini, Niken bantu biar cepat," jawab Niken, lantas membantu ibunya menyiapkan sarapan.

Bu Hasna mengangguk, dan bersama-sama mereka mulai menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan. Suasana di dapur terasa hangat dan nyaman, diiringi dengan obrolan dan canda tawa bersama. Niken merasa bersyukur sang ibu bisa kembali ceria.

Bu Hasna menatap Niken sambil tersenyum dan berkata, "Jangan lupa nanti antar sarapan buat Nak Darren, ya. Biar dia tahu kalau kita peduli sama dia."

"Iya, Bu," jawab Niken sambil tersenyum malu-malu, wajahnya tampak merona mendengar nama Darren disebut.

Bu Hasna memperhatikan reaksi Niken, lalu menggoda. "Hmm, kayaknya ada yang senang nih."

Niken semakin salah tingkah, ia tidak membantah, tetapi wajahnya sudah cukup menjelaskan perasaannya.

.

.

.

Terima kasih atas pengertiannya untuk tidak menumpuk bab dan tidak lompat bab dalam membaca. Mari saling menghargai 🫶🫰

1
Berto Morgan
mantap bu
Berto Morgan
💪
Berto Morgan
hmmmm kelihatannya menarik ni cerita
kita lihat aja kelanjutan di bab nya
Naufal hanifah
menarik/Good//Good//Good/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih bintang 5 nya🫰🫶
total 1 replies
Rino Wengi
harusnya dijelaskan mereka berapa saudara... semuanya dipanggil bang jadi bingung siapa adik siapa abang...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: dibaca aja, nopel ini sudah tamat kok
total 1 replies
Rino Wengi
yg kakaknya Daniel apa Darren? membingungkan
Makmur Djajamihardja
Damai selalu bersama Ramadhan
Makmur Djajamihardja
belah durennya kapan bro
Makmur Djajamihardja
oh teganya dirimu tega banget bosqu
Makmur Djajamihardja
cinta itu ada 3 demvinisi 1.ciuman yg utama 2. cincin. di jari manis yg diminta 3.cincin bawah yg disita.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apa itu cincin bawah yg disita? tak paham author🤭
total 1 replies
Makmur Djajamihardja
terpana dan tersihir dewa asmara
Makmur Djajamihardja
Rony. Sianturi adalah anggota trio libels
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: waaah, itu grup musik favorit author,
total 1 replies
Makmur Djajamihardja
fitnah itu lebih. kejam dari pembunuhan bosqu
Makmur Djajamihardja
si nancy harusnya di perkaos rame rame
Lala lala
jadi ingat yutuber yg antar istrinya mau lahiran malah brojol di mobil, si suami yg bantu narik bayi keluar dr jln lahir 😄
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: gak tahu malah
total 1 replies
Lala lala
bahagia koq dgn jalan iblis jkn dasim
Lala lala
baru ini suami keceplosan zinah malah pembaca tak ngamok didukung cerai pulak haha
Lala lala
memang salah panji mabok dan ke maya.. tapi jika dia menikahi maya mgkin pembaca pun lega..ajeng ud kyk istri setan
Lala lala
bosen ah..ajeng malah ngomong kyk gitu
Lala lala
10 digit besar bgtt..super trilyunan 😄
Maksud digit itu
1 digit 1 juta - 9.000.000
2 digit 10 jt - 99.000.000
3 digit 100 jt - 999.000.000
4 digit 1.000.000.000 milyaran ke atas 🙏
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kah, gak tahu, ibu cuma ambil di gugel aja klo salah ya harap maklum🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!