NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara di Balik Kotak Kecil

Hari-hari yang penuh air mata itu akhirnya menemui titik terang. Siang itu, Ayah pulang tidak dengan memikul kayu, melainkan dengan langkah yang lebih ringan dan wajah yang begitu sumringah. Ia menggenggam sebuah benda kecil berwarna hitam, sebuah ponsel Nokia jadul dengan layar monokrom, benda mewah yang saat itu belum dimiliki banyak orang di desa kami.

"Nak, Ibu mau bicara ini! Sini, cepat!" seru Ayah dengan nada penuh kemenangan.

Aku yang sedang duduk di sudut ruangan sambil memeluk Pipit, boneka merah kesayanganku, seketika mematung. Jantungku berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadaku. Harusnya aku melompat kegirangan, harusnya aku berteriak memanggil nama Ibu. Namun, kenyataannya, mulutku terasa sangat kelu. Ada sebongkah rasa sesak yang menyumbat tenggorokanku, seolah-olah seluruh rindu yang menumpuk sebulan itu kini menggumpal dan menghalangi suaraku untuk keluar.

Aku melangkah ragu, menerima ponsel yang terasa hangat itu dari tangan Ayah. Dengan tangan gemetar, kutempelkan benda plastik itu ke telingaku.

"Halo...?" bisikku sangat pelan.

"Nonok!" suara itu menyambar seketika.

Itu suara Ibu. Suara yang paling kurindukan, yang biasanya kudengar saat ia mencari kutu di rambutku atau saat ia menggendongku pulang dari rumah Nenek. Nama panggilan itu, Nonok, sebenarnya sangat tidak kusukai karena terdengar jelek, tapi sore itu, mendengar Ibu menyebutnya membuat air mataku nyaris tumpah lagi.

"Lagi apa sekarang? Sudah makan belum?" tanya Ibu beruntun, suaranya terdengar sangat ceria, meski aku bisa merasakan ada getaran yang ia sembunyikan. "Oh iya, Ibu sudah belikan kamu boneka baru, lucu banget. Nanti kalau paketnya sudah datang, kasih tahu Ibu ya?"

Aku terdiam. Boneka baru? Camilan? Itu bukan yang kuinginkan. Pikiranku hanya terpaku pada satu hal yang selama ini menghantuiku setiap malam.

"Ibu kapan pulang?" tanyaku akhirnya, suaraku bergetar. "Ibu kok bohong, sih... katanya pulangnya sebentar, tapi kok lama sekali?"

Keheningan seketika menyergap di seberang sana. Hanya terdengar suara kresek-kresek sinyal yang timbul tenggelam. Aku bisa membayangkan Ibu di sana sedang menggigit bibir, mencari alasan yang paling masuk akal untuk menenangkan anak kecilnya.

"Ibu sebentar lagi pulang, Nok," jawabnya, kali ini suaranya terdengar lebih berat, seperti sedang menahan tangis yang hebat. "Nanti pas Ibu pulang, Ibu bawakan banyak camilan buat kamu sama Kakak. Tunggu Ibu ya? Jangan nakal-nakal, jangan merepotkan Ayah. Jadi anak yang baik..."

Suara Ibu semakin gemetar. Aku tahu ia sedang menangis di sana, di kota yang jauh dan asing itu. Kerinduan kami ternyata sama besarnya, hanya saja ia memiliki kewajiban yang membuatnya harus tetap bertahan di sana.

Ayah kemudian mengambil kembali ponsel itu. "Sudah ya, gantian sama Kakak."

Ayah memberikan ponsel itu kepada Kakak yang sejak tadi berdiri tak jauh dari kami. Berbeda denganku yang penuh emosi, Kakak bereaksi sangat datar. Wajahnya tetap tenang, seolah percakapan itu adalah hal biasa.

"Iya, Bu. Sehat. Iya. Sudah," hanya itu kalimat-kalimat singkat yang keluar dari mulutnya.

Setelah menutup telepon, Kakak melengos begitu saja. Ia mengambil layang-layang bambu yang baru saja ia buat, lalu berjalan keluar rumah tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun, aku tahu di balik sikap dinginnya itu, Kakak sebenarnya sedang berusaha keras menjadi benteng yang kuat. Sebagai anak pertama, ia merasa harus menelan kesedihannya sendiri agar aku dan Ayah tidak melihat sisi lemahnya. Ia membawa lari rindunya ke langit luas bersama layang-layang itu.

Meski rindu belum terobati sepenuhnya dengan pelukan fisik, suara Ibu di dalam kotak kecil itu setidaknya menjadi balsem bagi hatiku yang selama ini perih. Aku kembali memeluk Pipit, dan mulai menghitung hari dalam hati.

Sore itu, suasana rumah terasa berbeda. Kesunyian yang biasanya mencekam kini terasa sedikit lebih hangat. Ayah kembali sibuk dengan kegiatannya, namun sesekali ia bersiul kecil, sebuah tanda bahwa beban di pundaknya juga sedikit terangkat setelah mendengar suara Ibu.

Aku berjalan ke arah dipan, membaringkan Pipit di sampingku, lalu memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak tidur dengan isak tangis yang tertahan. Aku membayangkan Ibu di sana, di tempat yang jauh, mungkin sedang menatap langit yang sama dengan langit yang dipenuhi layang-layang Kakak.

Kami memang terpisah oleh jarak yang tak kasatmata, namun suara dalam kotak hitam kecil itu telah menyambungkan kembali potongan-potongan hati kami yang sempat tercecer. Aku akan menunggu, seperti janji Ibu. Aku akan menjadi anak yang baik, bukan karena aku takut dimarahi, tapi karena aku ingin saat Ibu pulang nanti, ia menemukan anak kecilnya telah tumbuh sedikit lebih kuat dari hari ia pergi.

Di luar, hari mulai gelap. Angin membawa harum tanah basah ke dalam rumah. Aku pun terlelap dengan sebuah keyakinan sederhana, bahwa sejauh apa pun Ibu pergi, suara kami akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!