NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian

Hari-hari setelah percakapanku dengan ibu terasa lebih sunyi. Bukan karena dunia berubah, tapi karena aku sendiri yang memilih diam.

Aku tetap membuka ponsel, tetap melihat status Hana, tapi kali ini aku menahan diri untuk tidak bereaksi. Tidak membalas, tidak memulai percakapan, bahkan sekadar emoji pun tidak. Bukan karena tak peduli justru karena terlalu peduli.

Aku takut. Takut jika aku terlalu dekat, aku akan lupa batas. Takut jika aku terlalu jujur, aku akan melukai lebih banyak hati termasuk hatiku sendiri.

Hana tetap ada. Namanya tetap muncul di layar. Senyumnya tetap sama di foto-foto itu. Bahagia, utuh, di hidup yang bukan milikku. Dan aku belajar menerima satu hal pahit *mencintai bukan berarti memiliki*

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri

apakah aku sedang berusaha melupakan,

atau hanya menunda rasa sakit?

Aku sibuk dengan pekerjaan. Menambah jam lembur. Mengisi hari dengan hal-hal yang membuat tubuh lelah agar pikiranku ikut lelah. Tapi setiap malam, saat semuanya sunyi, satu nama tetap datang tanpa izin.

Hana. 💔💔

Aku tidak lagi menulis puisi. Tidak lagi merekam lagu. Aku menyimpannya dalam kepala, menguburnya dalam dada. Seolah dengan begitu, rasa ini akan mengecil dengan sendirinya.

Tapi ternyata tidak.

Semakin kutahan, semakin jelas rasanya.

Dan di titik itu, aku mulai sadar

jarak ini bukan untuk menjauh darinya,

melainkan untuk menyelamatkan diriku sendiri.

Aku mencoba memblokir akunnya. Aku mencoba menyelamatkan diriku sendiri.

Di titik ini, ada perempuan lain yang sebenarnya sudah cukup akrab denganku. Selama ini kami hanya berteman. Aku berusaha untuk tidak memaksakan diriku mencintainya. Terlebih Aku ingat pesan IBU.

Aku tahu, ada sesuatu darinya aku bisa merasakannya. Sikapnya berbeda, lebih perhatian, lebih hangat. Dia baik, ramah, dan menyenangkan. Bahkan, jika harus jujur, dia tak kalah cantik dari Hana. Tapi sepertinya sejak dulu aku memang tidak pernah menilai seseorang dari fisik semata. Selalu ada hal lain yang membuatku bertahan pada satu rasa.

Mungkin ada sesuatu yang berbeda pada Hana.

Atau mungkin… aku yang belum selesai dengan diriku sendiri.

Aku menghela napas panjang. Ah, sudahlah. Kenapa aku terus menyebut namanya, padahal barusan saja aku memblokirnya?

Aku menatap layar ponselku yang kini terasa lebih sunyi. Tidak ada namanya di sana. Tapi anehnya, justru di saat itulah aku sadar menjauh secara digital tidak serta-merta membuat hati ikut menjauh. Dan untuk pertama kalinya, aku mengakui satu hal: yang paling sulit untuk kulepaskan bukan Hana, melainkan perasaanku sendiri.

Sejak hari itu, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Disya. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada janji apa pun. Semuanya mengalir pelan, seperti teman yang saling mengerti batas.

Disya adalah tipe perempuan yang tidak banyak bertanya, tapi selalu tahu kapan harus hadir. Kadang hanya sekadar mengirim pesan singkat, menanyakan apakah aku sudah makan, atau mengingatkan agar tidak pulang terlalu malam. Hal-hal kecil, tapi terasa tulus.

Suatu sore, saat aku baru saja selesai bekerja, ponselku bergetar.

“Ka, kamu capek nggak? Kalau nggak, temenin aku makan yuk. Santai aja, nggak lama kok 😊”

Aku membaca pesannya beberapa kali. Tidak ada tekanan di sana. Tidak ada tuntutan. Hanya ajakan sederhana. Aku tersenyum kecil. Mungkin… tidak ada salahnya. Bukan untuk jatuh cinta, bukan untuk menggantikan siapa pun. Hanya keluar sebentar, menghirup udara lain, memberi ruang pada diri sendiri.

“Oke,” balasku singkat.

Saat aku melangkah keluar rumah, aku sadar satu hal. Aku sedang belajar membuka pintu kecil dalam hidupku. Bukan untuk masa lalu, tapi untuk kemungkinan yang belum kutahu arahnya.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa bersalah. pada diriku sendiri. Tidak bersalah karena mencoba melangkah. Tidak bersalah karena memberi ruang pada kemungkinan baru, meski hatiku belum sepenuhnya pulih. Aku tahu, ajakan Disya bukan kesalahan. Dia tulus, hangat, dan hadir tanpa menuntut apa pun. Tapi langkahku hari ini bukan tentang dia ini tentang aku yang sedang mencoba lari.

Lari dari nama yang masih sering muncul di kepala, dari rasa yang belum selesai, dan dari diriku sendiri yang belum benar-benar sembuh.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!