NovelToon NovelToon
SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

Status: tamat
Genre:Keluarga / Tamat
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: Raymond Siahaan

"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."

Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.

Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : CAHAYA DI BALIK PAHITNYA KENANGAN

Dinginnya lantai semen di rumah kontrakan kami yang bocor selalu menjadi alarm alami bagiku. Setiap kali tubuhku menggigil atau perutku melilit karena hanya ada sepotong ubi untuk dibagi bertiga, aku selalu menanamkan satu janji di dalam hati: Ini harus berakhir. Aku, Raymond, tidak lahir dari kemewahan, tapi aku bertekad mati dalam keadaan telah memberikan kehidupan yang layak bagi Ibuku.

Kenangan pahit masa kecil—saat tetangga memandang sebelah mata karena ayah sudah tiada, atau saat kerabat menjauh karena takut kami meminjam uang—menjadi bahan bakar yang tak pernah padam. Di bangku kuliah, aku bukan mahasiswa yang datang untuk sekadar eksis. Bagiku, perpustakaan adalah istana dan buku-buku tebal itu adalah kunci gerbang menuju kemerdekaan finansial.

Setiap semester, aku bergelut dengan angka dan logika. Saat teman-temanku asyik nongkrong di kafe hingga larut malam, aku memilih berdiam di pojok kamar dengan satu lampu belajar yang redup, menghitung neraca hingga mataku perih. Hasilnya? IPK-ku selalu bertengger di angka yang memuaskan. Namun, aku tahu, teori di atas kertas tidak akan cukup untuk menaklukkan kerasnya dunia kerja.

Memasuki semester lima, tantangan baru datang: Praktik Kerja Lapangan (PKL). Aku memilih Bank Bumiputera. Aku ingin merasakan langsung bagaimana jantung ekonomi berdenyut. Hari pertama melangkah ke kantor itu, aku merasa kerdil. Gedung yang megah, orang-orang berpakaian rapi, dan aroma kertas yang profesional.

Di sana, aku dipertemukan dengan seorang mentor, seorang karyawan senior yang tegas namun sangat berilmu. "Di sini bukan tempat untuk main-main, Raymond. Satu angka salah, nasabah bisa rugi," tegasnya pada hari pertama.

Aku tidak tersinggung. Justru, setiap teguran dan masukannya kucatat di buku saku kecilku. Aku belajar bagaimana mengelola administrasi perbankan, memahami alur transaksi, hingga cara berkomunikasi yang profesional. Aku menjadi orang pertama yang datang dan terkadang yang terakhir pulang. Ketulusanku berbuah manis; di akhir masa PKL, aku mendapatkan apresiasi tinggi. Mentor itu menepuk pundakku, "Kamu punya mental petarung. Pertahankan itu."

Waktu bergerak seperti anak panah yang melesat. Semester enam pun tiba—gerbang terakhir yang paling menakutkan: Tugas Akhir (TA).

Aku mulai berburu judul. Perpustakaan kampus yang berdebu menjadi rumah keduaku. Aku membolak-balik skripsi alumni, menjelajahi jurnal di internet, hingga berdiskusi panjang dengan kakak tingkat. Setelah beberapa kali ditolak, akhirnya dosen pembimbingku mengangguk setuju pada sebuah judul yang mengangkat efisiensi sistem akuntansi.

Namun, persetujuan judul hanyalah awal dari "darah dan air mata". Setiap asistensi, coretan merah selalu menghiasi lembar demi lembarku. "Revisi bagian ini," "Data ini kurang akurat," atau "Gunakan referensi yang lebih baru." Ada saat-saat di mana aku merasa lelah, namun bayangan wajah Mama yang penuh harap setiap kali melihatku pulang kuliah selalu mengembalikan semangatku.

Hari sidang yang dinanti pun tiba. Jantungku berdegup kencang hingga terasa di tenggorokan. Mengenakan kemeja putih bersih dan dasi, aku berdiri di depan para penguji. Awalnya suaraku sedikit bergetar karena gugup, namun saat aku mulai menjelaskan metodologi dan hasil temuanku, rasa percaya diri itu muncul. Aku menguasai apa yang kuteliti. Sore itu, pengumuman keluar: Aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.

Hari wisuda adalah momen yang terasa seperti mimpi. Saat namaku, Raymond Siahaan, dipanggil ke atas podium, aku merasa beban berat yang kupikul selama bertahun-tahun seolah luruh seketika. Aku melihat Mama di kursi undangan, menyeka air mata dengan ujung kain kebaya lamanya. Aku tahu, air mata itu bukan karena sedih, tapi karena bangga.

Namun, di tengah kemeriahan itu, ada secercah kesedihan. Aku harus berpisah dengan teman-teman seperjuangan. Kami saling berpelukan, memberikan selamat, dan berjanji untuk tetap berhubungan. Namun, aku tidak bisa larut dalam perayaan terlalu lama. Bagiku, ijazah ini bukan sekadar pajangan, melainkan senjata untuk berperang mencari kerja.

Aku tak mau berdiam diri. Hanya berselang beberapa minggu setelah wisuda, aku mulai mengirimkan lamaran ke berbagai tempat. Tuhan memang tidak pernah tidur bagi mereka yang berusaha. Aku diterima di sebuah perusahaan swasta sebagai staf Accounting.

Hari pertama bekerja adalah hari yang sangat kusyukuri. Rekan-rekan kerjanya ramah, lingkungannya positif, dan yang paling penting: pekerjaan ini adalah passion-ku. Aku menikmati setiap baris angka yang kuinput ke sistem, setiap rekonsiliasi bank yang kubuat, dan setiap laporan keuangan yang kususun.

Kini, rutinitas sebagai pekerja kantoran kujalani dengan penuh integritas. Aku tidak pernah mau bermalas-malasan. Di kepalaku selalu terngiang ucapan orang-orang yang dulu meremehkan keluarga kami. Aku akan membuktikan bahwa kami bisa bangkit.

Gaji pertama yang kuterima langsung kuberikan sebagian besar untuk Mama. Melihat senyumnya saat menerima amplop itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Aku mulai menabung sedikit demi sedikit. Targetku jelas: Aku ingin membangun rumah yang kokoh untuk Mama. Aku ingin membuktikan pada keluarga besar dan tetangga yang dulu menyepelekan kami bahwa dengan doa dan kerja keras, anak seorang janda miskin pun bisa sukses.

Aku selalu menyerahkan setiap langkahku pada Tuhan. Karena aku yakin, pahitnya kehidupan di masa lalu hanyalah cara Tuhan membentukku menjadi pribadi yang kuat. Kini, aku melangkah dengan tegak, bukan karena sombong, tapi karena aku tahu seberapa besar tenaga yang kukeluarkan untuk sampai di titik ini. Perjalanan masih panjang, tapi aku siap menghadapi apa pun, demi Mama, demi masa depan, dan demi harga diri yang dulu sempat terinjak.

Setiap deru mesin motor bebek berwarna hitam itu terdengar seperti simfoni kemenangan di telingaku. Meskipun statusnya bekas, motor itu adalah saksi bisu tetesan keringatku di meja akunting setiap bulannya. Aku mengelusnya pelan, mengingat bagaimana dulu rumah ini terasa begitu hampa dan sunyi.

Pahitnya masa lalu bukan sekadar tentang kemiskinan, tapi tentang kehilangan. Aku masih ingat jelas raut wajah Mama yang pasrah saat satu per satu barang di rumah kami diangkut orang. Televisi, kulkas, hingga setrika tua—semuanya ludes dijual mendiang Bapak demi memuaskan jerat judi. Masa kecilku dihabiskan di antara dinding-dinding rumah yang kosong, menyisakan trauma yang mendalam tentang rasa tidak aman.

Kini, roda nasib mulai berputar berkat izin Tuhan. Sejak aku diterima bekerja di perusahaan swasta ini, niat utamaku hanya satu: mengembalikan martabat rumah ini. Gaji demi gaji kusisihkan dengan teliti. Pelan tapi pasti, aku mulai melengkapi kembali apa yang dulu hilang.

Bulan pertama, aku membelikan Mama mesin cuci agar punggungnya tak lagi sakit karena mengucek pakaian. Bulan berikutnya, sebuah televisi kecil kini kembali mengisi ruang tamu, menghidupkan suasana yang dulu mati suri. Dan puncaknya adalah motor ini. Tidak perlu baru dari dealer, yang penting mesinnya sehat dan bisa membawaku mencari nafkah dengan lebih cepat.

Melihat Mama tersenyum saat duduk di boncengan adalah kebahagiaan yang tak ternilai. Aku bersumpah dalam hati, selama raga ini mampu bekerja, aku tidak akan membiarkan rumah ini kekurangan lagi. Aku ingin membuktikan kepada tetangga dan keluarga besar yang dulu mencemooh bahwa sisa-sisa kehancuran masa lalu bisa dibangun kembali menjadi istana yang penuh berkat. Dengan kerja keras dan penyerahan diri pada Tuhan, aku yakin hari-hari pahit itu benar-benar telah usai.

1
Aisyah Suyuti
nenarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!