Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU
10:15 AM. Kawasan Pemakaman Tua, Bogor.
Raka tidak pernah menyukai bau kamboja. Baginya, aroma manis yang memuakkan itu adalah frekuensi pengganggu sebuah pengingat akan kematian yang tidak efisien.
Ia menghentikan motor dual sport hitamnya tepat di bawah pohon beringin yang akarnya menjalar seperti tentakel raksasa, mencengkeram gerbang pemakaman yang sudah miring dimakan usia.
Ia tidak langsung turun. Di dalam helmnya, Raka menarik napas panjang, membiarkan paru parunya terisi udara lembap khas pegunungan yang bercampur dengan bau oli panas dari mesin motornya.
Matanya, yang dibingkai oleh kaca iridium, bergerak dengan ritme yang konstan menyapu dari kiri ke kanan, atas ke bawah. Ia sedang menjalankan sub rutin dalam otaknya Scanning Perimeter.
Satu menit berlalu. Ia menghitung enam belas burung gereja yang bertengger di kabel listrik jika mereka tiba tiba terbang tanpa alasan, itu adalah sensor gerak alami. Ia memperhatikan bayangan nisan tidak ada distorsi cahaya yang menandakan adanya lensa kamera tersembunyi.
Siapa sebenarnya pria di balik helm gelap ini?
Dunia mungkin melihatnya sebagai bayangan, tapi di dalam tempurung kepalanya, Raka adalah sebuah arsitektur yang sangat kompleks. Jika sebagian besar manusia hidup berdasarkan dorongan dopamin dan emosi, Raka hidup berdasarkan Logika Struktural.
Sejak kecil, ia tidak melihat dunia sebagai kumpulan benda, melainkan sebagai aliran data. Baginya, sebuah pohon bukan sekadar tanaman itu adalah sistem hidrolik yang mendistribusikan nutrisi melawan gravitasi. Sebuah senapan bukan sekadar senjata itu adalah konversi energi kimia menjadi energi kinetik dengan variabel hambatan udara.
Raka turun dari motor dengan gerakan yang sangat cair, jenis gerakan yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang telah menghabiskan ribuan jam berlatih untuk tidak menyinggung satu helai rumput pun. Ia melepas helmnya, memperlihatkan wajah yang keras namun rapi.
Rambutnya dipangkas pendek ala militer, bukan untuk gaya, tapi agar tidak menjadi liabilitas dalam pertarungan jarak dekat. Matanya berwarna hitam pekat, jenis mata yang tidak hanya melihatmu, tapi membedahmu menjadi komponen komponen kecil.
Sejak usia delapan tahun, Raka sudah tahu bahwa ia berbeda. Saat anak anak lain menangis karena jatuh, Raka akan duduk diam, menatap luka di lututnya, dan mencoba memahami bagaimana pembuluh kapilernya bekerja untuk menghentikan pendarahan. Kondisi ini, yang oleh psikiater militer disebut sebagai Hyper Systemizing, menjadikannya seorang penyendiri yang mengerikan, namun juga seorang aset yang tak ternilai.
Di sekolah dasar, ia pernah membongkar jam tangan Rolex milik kepala sekolahnya hanya karena ia ingin tahu bagaimana putaran gir kecil di dalamnya bisa menciptakan ilusi waktu. Ia mengembalikannya dalam kondisi sempurna, bahkan lebih akurat dari sebelumnya.
Sejak saat itu, Raka menyadari bahwa ia punya bakat ia bisa memperbaiki sistem apa pun. Dan terkadang, cara terbaik untuk memperbaiki sistem adalah dengan menghancurkannya terlebih dahulu.
Sambil melangkah memasuki area pemakaman yang berlumut, Raka menjalankan ritual internalnya. Ia menyebutnya sebagai Pre Combat Checklist.
Pertama, ia mengecek keseimbangan tubuhnya. Ia merasakan tumpuan berat badannya di tumit, memastikan setiap langkahnya memiliki daya pegas yang cukup untuk meloncat atau menghindar dalam hitungan milidetik. Kedua, ia memeriksa indra perasanya. Lidahnya menyentuh langit langit mulut; kering, tapi tidak dehidrasi. Ketiga, ia melakukan pemetaan mental terhadap senjata yang ia bawa.
Di pinggang belakang, sebuah Glock 17 dengan modifikasi trigger dua tahap.
Di saku paha, sebuah pisau karambit keramik hitam yang ia asah sendiri hingga mampu membelah selembar tisu yang dijatuhkan di atasnya. Di pergelangan tangan kiri, sebuah jam tangan taktis yang ia bongkar dan rakit ulang dengan tambahan pemancar pulsa elektromagnetik jarak dekat.
Setiap alat ini bukan hanya benda mati bagi Raka. Mereka adalah perpanjangan dari sarafnya. Ia mengenal setiap goresan di bodi senjatanya seperti ia mengenal garis tangannya sendiri. Namun, di balik semua presisi itu, ada satu hal yang tidak bisa diproses oleh algoritma Raka Rasa Kehilangan.
Setiap kali ia melihat nisan, otaknya secara otomatis memutar rekaman video dari Lembah Hitam dua belas tahun lalu. Ia bisa melihat api itu lagi. Ia bisa mencium bau daging terbakar dan bau mesiu yang tajam. Ia bisa mendengar teriakan rekan rekannya yang terputus oleh suara ledakan.
Itu adalah satu satunya data yang korup di dalam memorinya. Sebuah bad sector yang tidak bisa diperbaiki, tidak peduli seberapa keras ia mencoba memformat ulang jiwanya.
Raka berhenti tepat di depan sebuah nisan tua yang sudah tertutup lumut kerak. Nisan itu milik seorang pria yang meninggal tahun 1945, seseorang yang tidak punya hubungan dengannya, namun di bawah tanah di samping nisan itu, Raka telah menanam sesuatu yang jauh lebih berharga daripada tulang belulang sebuah dead-drop komunikasi yang menggunakan teknologi transmisi ultrasonik.
Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah alat seukuran koin, dan menempelkannya ke nisan tersebut. Alat itu bergetar halus.
"Aku tahu kau di sana," kata Raka pelan. Suaranya datar, nyaris seperti bisikan angin di antara dahan kamboja.
"Kau membuang buang daya baterai sensor termalmu hanya untuk memastikan ini benar benar aku." sahut sebuah suara.
Keheningan menyelimuti makam itu selama beberapa detik. Hanya suara jangkrik siang hari yang bersahut Edwards. Kemudian, dari balik sebuah pohon beringin besar sekitar sepuluh meter di sisi kiri Raka, sebuah bayangan bergerak.
Seorang wanita muncul. Ia mengenakan jaket lapangan berwarna abuabu kusam dengan celana kargo yang penuh saku. Rambutnya dipotong pendek, berantakan seolah dipotong dengan pisau taktis. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet militer yang layarnya berpendar biru pucat.
"Sepuluh tahun, Raka. Dan kau masih berjalan seolah olah dunia ini adalah ranjau darat yang menunggu untuk diinjak," suara wanita itu terdengar parau, namun ada jejak kehangatan yang berusaha ia sembunyikan.
"Liana," Raka menyebut nama itu dengan berat. Nama itu adalah kunci dari kotak hitam di pikirannya.
Liana melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar tiga meter. Di dunia mereka, kepercayaan adalah komoditas yang mahal. Ia mematikan layar tabletnya dan menatap Raka dengan mata yang lelah namun tajam. "Kau terlihat lebih tua, Raka. Atau mungkin itu hanya karena kau sekarang benar-benar terlihat seperti hantu."
"Kenapa Protokol Sunyi aktif?" Raka mengabaikan basa basi itu. Baginya, waktu adalah variabel yang paling berharga dan tidak boleh dibuang.
Liana menghela napas, sebuah ekspresi manusiawi yang membuat Raka merasa sedikit tidak nyaman. "Karena Yudha tidak pernah benar-benar mati, Raka. Dan dia tidak sendirian. Aegis-7 bukan hanya sekadar sistem satelit. Itu adalah algoritma pembersihan. Mereka menyebutnya 'The Great Reset'. Mereka ingin menghapus semua jejak digital dari siapa pun yang dianggap sebagai ancaman bagi sistem baru mereka. Termasuk kita."
Raka terdiam. Ia menatap nisan di depannya, mencoba memproses informasi tersebut. Jika Yudha masih hidup, maka pengkhianatan di Lembah Hitam bukan sekadar kecelakaan politik, melainkan sebuah rencana jangka panjang. Sebuah strategi yang sudah berjalan selama satu dekade.
"Mereka sudah mulai, Liana?" tanya Raka.
"Mereka sudah mengaktifkan tahap pertama di Singapura semalam. Pemadaman listrik total selama sepuluh menit di distrik finansial. Tidak ada yang curiga, semua menganggap itu masalah teknis. Tapi aku tahu itu adalah uji coba transmisi Aegis," Liana menyerahkan tabletnya pada Raka.
Raka mengambil tablet itu. Jemarinya menari di atas layar, membedah barisan kode enkripsi yang bergerak cepat. Matanya berkilat saat ia menemukan celah dalam algoritma tersebut. "Ini bukan sekadar pemadaman. Mereka sedang menyuntikkan spyware tingkat root ke setiap perangkat yang terhubung saat listrik menyala kembali."
Liana mengangguk. "Itulah kenapa aku memanggilmu. Aku bisa meretas jaringannya dari luar, tapi seseorang harus memasukkan virus pembatalan ini secara fisik ke dalam pusat kendali mereka di darat. Dan hanya ada satu orang yang cukup gila untuk menyusup ke fasilitas dengan tingkat keamanan Level 4 tanpa terdeteksi."
Raka menatap Liana, lalu menatap motor hitamnya di kejauhan. Hidupnya yang tenang, rutinitasnya yang terkendali, dan kesunyian yang ia bangun dengan susah payah baru saja hancur berkeping keping. Tapi di saat yang sama, ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang Tujuan.
"Dimana lokasinya?" tanya Raka.
"Pulau terpencil di lepas pantai utara. Mereka menyebutnya The Grid," jawab Liana.
Raka mengencangkan sarung tangan taktisnya. Suara gesekan velcro terdengar seperti janji akan peperangan yang akan datang. Ia tidak lagi melihat Liana sebagai mantan rekannya, melainkan sebagai koordinat awal dari misi barunya.
"Persiapkan logistiknya, Liana. Aku butuh gadget baru. Sesuatu yang bisa menembus perisai frekuensi Aegis," kata Raka sambil berbalik menuju motornya.
"Kau mau pergi sekarang?" tanya Liana.
Raka berhenti sejenak, melirik ke arah nisan tua itu sekali lagi. "Hantu tidak punya waktu untuk menunggu, Liana. Kita sudah terlambat sepuluh tahun."
Raka menghidupkan mesin motornya. Suara knalpotnya membelah kesunyian makam, menakutnakuti burung burung gereja yang sejak tadi ia hitung. Saat ia memacu motornya keluar dari gerbang pemakaman, Raka bukan lagi seorang pria yang bersembunyi. Ia adalah komponen terakhir dalam sebuah sistem yang akan menghancurkan Aegis dari dalam.
Logikanya sudah bulat. Strateginya sudah terbentuk. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan algoritma musuh menang.