NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / CEO / Romantis / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:62.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara warna dan desah napas

​Suasana di dalam ruang ganti pribadi itu terasa begitu hangat dan intim. Aroma wangi dari pakaian-pakaian baru yang masih memiliki bau khas butik kelas atas bercampur dengan aroma parfum kayu gaharu milik Ares, menciptakan atmosfer yang memabukkan bagi Gia. Di hadapannya, deretan busana yang dipilihkan Ares seolah-olah bercerita tentang kehidupan baru yang menantinya. Tidak ada lagi daster kusam atau baju pelayan yang sering ia kenakan di rumah Sarah. Kini, yang ada hanyalah kain-kain berkualitas tinggi yang siap membalut tubuhnya dengan kehormatan.

​"Ayo, kenapa diam saja?" Goda Ares sambil bersandar pada bingkai pintu lemari kaca, tangannya bersedekap di dada.

"Mas ingin lihat bagaimana busana-busana ini terlihat saat melekat di tubuhmu. Anggap saja ini peragaan busana pribadi untuk suamimu"

​Gia tersenyum malu-malu, wajahnya merona merah. Ia mengambil sebuah setelan pertama—sebuah sweater oversized berbahan wol lembut berwarna putih gading yang dipadukan dengan rok pleated selutut berwarna cokelat susu. Dengan langkah ragu, ia masuk ke balik tirai ruang ganti dan keluar beberapa saat kemudian.

​Ares memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala tanpa berkedip. Gia tampak begitu manis, sangat kontras dengan kesan formal yang selama ini dipaksakan oleh Nyonya Besar.

​"Gimana, Mas? Apa nggak terlihat terlalu muda buat Gia?"

Tanya Gia sambil memutar tubuhnya perlahan, membiarkan roknya mengembang indah.

​Ares terkekeh kemudian langkahnya mendekat ke arah Gia.

"Justru itu poinnya, Gia. Kamu memang masih muda. Mas ingin kamu merasakan gimana rasanya menjadi mahasiswi yang bebas. Tapi..." Ares sengaja menggantung kalimatnya sambil memegang dagunya, berpura-pura berpikir serius.

​"Tapi apa, Mas?" Gia mulai merasa cemas.

​"Tapi sepertinya Mas harus menyewa sepuluh pengawal ekstra untuk menjagamu di kampus nanti!" Bisik Ares di telinga Gia, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

"Mas takut mahasiswa di sana nggak fokus belajar karena terus melirik mahasiswi seni yang terlalu cantik ini"

​Gia tertawa kecil, ia memukul pelan lengan Ares dengan wajah yang semakin memerah.

"Mas Ares ini ada-ada saja. Mana mungkin mereka seperti itu!"

​"Mas serius, Gia!" Ares meraih jemari Gia dan menuntunnya kembali ke arah rak pakaian.

"Sekarang coba yang itu. Yang ada di ujung!"

​Ares menunjuk sebuah gaun A-line berwarna biru dongker dengan kerah putih yang memberikan kesan cerdas dan berkelas. Gia kembali masuk ke ruang ganti. Kali ini, ia keluar dengan rasa percaya diri yang sedikit lebih tinggi. Gaun itu pas di tubuhnya, menonjolkan pinggangnya yang ramping dan kulitnya yang bersih.

​Ares berdiri dari tempat duduknya, tatapannya kini berubah menjadi lebih dalam dan intens. Ia berjalan mendekati Gia, langkah kakinya yang mantap terdengar jelas di atas lantai kayu. Gia terpaku di tempatnya, menatap bayangan Ares yang semakin mendekat di cermin besar di belakangnya.

​Ares berhenti tepat di belakang Gia. Ia tidak menyentuhnya, namun jarak mereka begitu dekat hingga Gia bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh suaminya. Ares menatap pantulan mata Gia di cermin, lalu perlahan tangannya bergerak merapikan kerah gaun Gia yang sedikit terlipat.

​"Kamu tahu, Gia..." Suara Ares kini terdengar lebih rendah, serak, dan penuh dengan emosi yang sulit dijelaskan.

"Terkadang Mas lupa kalau pernikahan ini berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Setiap kali Mas melihatmu seperti ini, Mas merasa seolah-olah Mas adalah pria paling beruntung karena Siska memutuskan untuk lari hari itu"

​Gia menahan napasnya. Jantungnya berdebar kencang, seirama dengan detak jantung Ares yang bisa ia rasakan dari punggungnya. Ia memberanikan diri untuk berbalik, hingga kini mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang hanya menyisakan beberapa sentimeter saja.

​Gia mendongak, menatap mata Ares yang biasanya tajam dan berwibawa, namun kini tampak begitu lembut dan penuh pemujaan. Di dalam kamar yang tenang ini, dunia seolah berhenti berputar. Tidak ada Nyonya Besar yang menuntut, tidak ada bayang-bayang Sarah yang menghina, dan tidak ada beban masa lalu yang menghimpit. Hanya ada mereka berdua.

​Tangan Ares yang tadi merapikan kerah baju, kini perlahan naik menyentuh pipi Gia. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Gia dengan sangat lembut, gerakan yang sangat sederhana namun memberikan sengatan listrik ke seluruh tubuh Gia. Gia memejamkan matanya sejenak, menikmati sentuhan itu, sebelum kembali menatap Ares dengan tatapan yang penuh kerinduan.

​Wajah Ares mulai merunduk. Hembusan napasnya yang hangat menerpa kulit wajah Gia, membuat gadis itu merasa seolah-olah ia sedang mencair. Gia secara naluriah memegang ujung kemeja Ares, meremasnya sedikit seolah mencari pegangan agar tidak jatuh. Mata mereka saling mengunci, sebuah percakapan tanpa kata yang jauh lebih jujur daripada ribuan kalimat janji.

​Di mata Ares, Gia bukan lagi sekadar gadis yang ia selamatkan dari kemiskinan. Gia adalah cahayanya, rumahnya, dan masa depannya. Sedangkan di mata Gia, Ares adalah pelindungnya, dunianya, dan cinta pertamanya yang ia temukan di tengah badai.

​Jarak di antara mereka semakin menipis. Hidung mereka bersentuhan, menciptakan gesekan halus yang membuat napas Gia semakin memburu. Bibir Ares hanya berjarak sehelai rambut dari bibirnya. Gia bisa mencium aroma mint dan kayu manis yang segar dari napas Ares. Ia sedikit mendongakkan wajahnya, memberikan izin tanpa suara bagi suaminya untuk melangkah lebih jauh.

​Namun, tepat saat bibir mereka hampir saja menyatu dalam sebuah ciuman yang mendalam, terdengar suara ketukan di pintu kamar luar yang cukup keras.

​"Tuan Ares? Maaf mengganggu, ada telepon penting dari kantor pusat yang tidak bisa ditunda!" Suara kepala pelayan terdengar dari balik pintu.

​Seketika, realitas kembali menghantam mereka. Gia tersentak kecil dan sedikit mundur, melepaskan remasannya pada kemeja Ares. Wajahnya kini benar-benar seperti kepiting rebus, matanya menatap lantai dengan malu yang luar biasa.

​Ares memejamkan matanya, menghela napas panjang untuk meredam gejolak di dadanya. Ia tampak sangat kesal karena momen indahnya terganggu, namun ia mencoba untuk tetap tenang. Ia menatap Gia sekali lagi, lalu tersenyum tipis sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang.

​"Sepertinya dunia memang tidak membiarkan kita tenang terlalu lama" Gumam Ares dengan nada sedikit kecewa namun tetap lembut.

​Gia hanya bisa mengangguk pelan, masih tidak berani menatap mata Ares.

"Iya, Mas. Sebaiknya... sebaiknya Mas angkat teleponnya!"

​Ares mengecup kening Gia dengan lama, sebuah kecupan yang penuh dengan janji terpendam.

"Mas pergi sebentar. Kamu lanjutkan mencoba bajunya, oke? Jangan lupa coba sepatu yang itu, Mas ingin lihat kamu memakainya saat kita makan malam nanti!"

​Ares berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum ia keluar, ia menoleh sekali lagi.

"Dan Gia... kamu terlihat sangat cantik dengan apa pun yang kamu pakai. Tapi lebih cantik lagi kalau kamu sedang menatap Mas seperti tadi!" Ares sengaja mengedipkan sebelah matanya pada Gia.

​Setelah Ares menghilang di balik pintu, Gia luruh ke atas sofa di ruang ganti itu. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih menggila. Ia merasa bahagia, sangat bahagia, namun juga merasa ada sesuatu yang baru saja tumbuh di antara mereka, sesuatu yang lebih dari sekadar tanggung jawab pernikahan. Di ruangan yang dipenuhi kemewahan itu, Gia akhirnya menyadari bahwa hatinya telah sepenuhnya jatuh ke tangan sang Tuan Ardiansyah.

1
Esther
Ares cemburu berat sama Satria🤭
astr.id_est 🌻
cieee celembu 🤭😄😄😄
astr.id_est 🌻
romantis bgtt ares 🥰🥰🥰
Shee_👚
gpp di posesif suami sendiri, toh posesif juha kebutuhan dan ke ingin gia terpenuhi jadi nikmati aja di cintain sebegitu besarnya sama suami
Shee_👚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Shee_👚
ada yang kebakaran tapi bukan karena api🤭
Shee_👚
aduh cilaka ini di pasangin sama satria, bisa-bisa ares berasap 🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Gia
Hanima
👍👍
Esther
Ares bener2 ya😄
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Gia semoga kamu selalu bahagia 🥰🥰
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tahu yang lembut?
Maharani Rani
lanjuttt😍
astr.id_est 🌻
sukaaaaaa
Nar Sih
tuh kan jdi pusat perhatian gia yg yg sdh ketahuan istri ceo ares ardiansyah pasti bnyk mahasiswa yg patah hti nih
Hanima
Lanjut Aress
Shee_👚
gpp lah di posesif selama itu untuk kebaikan, selama tidak mengekang pa pun ke bahagian gia.
merry yuliana
crazy up kak 💪🙏
Shee_👚
satria lngsung kicep dah liat ares, sabar ga satria belum jodoh🤣
Maharani Rani
lanjutt❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!