NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BOOM

"Nadira!"

Bima berjalan masuk ke dapur, menghampiri Nadira yang tengah menyiapkan sarapan.

Perempuan yang sibuk mengaduk bubur dengan tangan kanan, sementara tangan kiri memegang pinggang sontak menoleh.

"Apa, Mas?" tanya Nadira setengah lesu dan malas.

"Kamu semalam di kamar Nenek, kan?" tanya Bima, rahangnya mengeras, menatap Nadira tajam.

Nadira tidak langsung menjawab. Ia berbalik dan kembali mengaduk bubur di panci. "Iya, semalam nenek kamu yang super baik itu memintaku memijit kakinya yang keriput," jawab Nadira ketus.

Bima mencengkram lengan Nadira hingga meringis kesakitan. "Jangan bohong kamu!"

"Lepas, Mas!" Nadira berusaha meronta.

"Apa yang kamu lakukan di kamar nenek, Nadira?!" desak Bima.

Nadira menepis kasar tangan Bima yang mencengkram lengannya hingga terlepas. "Sudah aku bilang, aku pijitin dia sampe larut malam, Mas. Aku kamu tuli!"

"Bohong!" bentak Bima lalu mencengkram rahang Nadira dengan kuat.

"A-apa maksudmu?" tanya Nadira susah payah.

"Kamu yakin nggak ngambil sesuatu di kamar nenek?!" tanya Bima, nada suaranya mengandung tuduhan.

Tangan Nadira terkepal di samping tubuh. "Aku nggak ngambil apapun dari kamar nenekmu," bantahnya.

"Kamu yakin?!" desis Bima tepat di depan wajah Nadira.

"Kalo aku nemuin bukti jika kamu mencuri, apa kamu siap aku seret ke kantor polisi?"

Nadira tak menjawab, ia justru memalingkan wajah ke arah lain.

Bima menyeringai sinis, lalu menghempaskan cengkramannya dengan kuat. "Dasar wanita rendahan. Miskin!" makinya.

Nadira hanya bisa diam menahan kemarahannya yang bergejolak.

Bima mendengus dingin lalu berbalik dan melangkah keluar dari dapur.

"Biar aku periksa kamarnya, Nek!" seru Bima dengan kencang.

Kaki Nadira seketika gemetaran. Dadanya kembang kempis. Ia mematikan kompor dan segera menyusul Bima. Begitu keluar dari dapur, ia mendapati Marsinah yang menatapnya dengan nyalang.

"Dasar wanita tak tau terima kasih. Nyesel aku kasih kamu tempat di rumah ini!" Wanita tua itu melangkah tergopoh-gopoh menyusul cucunya.

Nadira, dengan penuh percaya diri mengikuti dari belakang. Ia kembali ke kamarnya, dan melihat Bima bersama Mardi tengah mengobrak-abrik tempat tidurnya.

"Aku nggak ambil apapun! Yang aku ambil, itu hakku!" tegas Nadira.

Bima berhenti. Ia berbalik dan tersenyum sinis ke arah Nadira. "Hak? Hak apa, Nadira?"

"Apa kamu pikir, barang yang kamu curi itu hakmu? Sejak kapan?" Bima berjalan mendekat.

"Kembalikan gelangku, Nadira!" desak Marsinah.

Nadira, tampangnya begitu tebal. Meskipun sudah didesak kanan-kiri ia masih bisa bersikap tenang. "Nenek minta saja pada Mas Bima. Dia nggak kasih full gajiku, jadi sebagai gantinya, Nenek yang harus bayar!" jawab Nadira.

"Dasar wanita nggak tau diri. Belum jadi menantu kamu sudah berani mencuri dan berkata kasar seperti itu pada calon suamimu, hah!"

"Dan, apa maksudmu gaji? Kamu ini calon menantu rumah ini, bukan pembantu!" bentak Marsinah menggebu-gebu. Bola matanya hampir melompat keluar.

"Calon menantu?" Nadira tertawa pahit.

Ia mencondongkan tubuh ke arah Marsinah. "Itu hanya formalitas untuk kalian, kan? Yang sebenarnya adalah... kalian mencari pembantu gratisan untuk mengurus keluarga ini."

"Kalian ingin aku seperti wanita lumpuh itu!" teriak Nadira.

Ia sudah kehabisan sabar. Rasa lelah dan diperlakukan semena-mena, membuat dia hilang akal. Perempuan itu tidak peduli lagi pada apapun, selain pergi dari rumah Bima dan kembali ke desa.

"Nadira!"

Bima menunjuk wajah Nadira dengan tangan gemetar. Sebutan lumpuh bagi Gina memantik amarahnya.

Marsinah langsung menyentuh dada. "Apa ini, Bima? Bagaimana bisa kamu menemukan calon istri yang kasar dan tak punya sopan santun pada orang tua."

"Dia berani sekali membentak Nenek," kata Marsinah dramatis.

Nadira mendengus dingin sambil melipat tangan di depan dada.

"Apa ini?"

Suara Mardi mengintrupsi pertikaian mereka.

Mata Nadira melotot saat melihat sesuatu yang ada di tangan Mardi. Tangannya terjatuh ke samping tubuh, dada berdebar kencang.

"I-itu... buku nikah aku dan Mas Arga?" batin Nadira, wajahnya seketika pucat pasi.

Bima memutar tubuh menghadap ayahnya lalu tersenyum penuh kemenangan. "Aku akan menyingkirkanmu dengan cara yang tak pernah kamu duga, Nadira," bisiknya yang hanya bisa dia denger sendiri.

"Apa itu, Mardi?" Marsinah yang tak asing dengan benda tersebut segera mendekat dan merebutnya.

"Buku nikah? Milik siapa ini?" Marsinah membuka buku berukuran kecil berwarna hijau itu dengan perlahan.

Nadira menahan napas. Berkali-kali dia melirik Bima, berharap pria itu melakukan sesuatu untuk menghentikan Marsinah, namun ekspresinya terlihat menikmati momen tersebut.

"Sial! Ada apa ini?" batin Nadira, menyadari ada yang tidak beres pada Bima.

"Apa dia sengaja ingin membiarkan keluarganya tau?"

"Nadira? Arga?"

Kelopak mata Marsinah terbuka lebar saat melihat foto dan nama yang tertera di halaman buku.

"Apa itu, Nek?" Bima mendekat dengan langkah cepat, ekspresi wajahnya dibuat penasaran.

"Bima, apa ini? Nadira ternyata udah nikah dengan pria bernama Arga?!" Marsinah menunjukkan buku nikah itu pada Bima dengan tangan gemetar.

Bima tersenyum samar. Ia terdiam beberapa detik, menunjukkan keterkejutannya, lalu menoleh ke arah Nadira dengan ekspresi seolah-olah dialah korbannya.

"Kamu menipuku dan keluargaku, Nadira. Berani sekali kamu!"

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!