Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan dari Dalam
Rapat darurat digelar pagi itu di ruang utama kantor pusat. Wajah-wajah direksi tampak tegang. Laporan yang ditemukan tim digital semalam kini tercetak rapi di atas meja masing-masing.
Nama itu terpampang jelas.
Adrian Prasetyo.
Direktur senior yang sudah bersama perusahaan lebih dari lima belas tahun.
Ragnar memandang pria berusia lima puluhan itu dengan tatapan tenang, meski hatinya bergolak.
“Pak Adrian,” ucapnya akhirnya, “apakah Bapak ingin menjelaskan sesuatu?”
Ruangan hening.
Adrian tersenyum tipis. “Menjelaskan apa?”
Ragnar mendorong satu berkas ke arahnya. “Komunikasi Anda dengan perwakilan Van Der Meer. Termasuk dokumen internal yang bocor ke media.”
Beberapa direksi saling pandang.
Wajah Adrian sedikit berubah, tapi ia tetap duduk tegak. “Itu untuk melindungi perusahaan.”
“Dengan menjatuhkan saya?” Ragnar bertanya datar.
“Dengan menyelamatkan stabilitas,” balas Adrian cepat. “Anda terlalu emosional. Keputusan Anda memutus aliansi tanpa strategi pengganti adalah perjudian.”
“Dan Bapak memilih bekerja sama diam-diam dengan pihak luar?” suara Ragnar tetap tenang, namun tajam.
Adrian menghela napas. “Saya hanya ingin memastikan perusahaan ini tidak runtuh karena urusan pribadi Anda.”
Kata-kata itu seperti menampar, tapi Ragnar tidak terpancing.
“Ini bukan soal pribadi,” katanya tegas. “Ini soal integritas.”
Beberapa komisaris mulai berbisik. Situasi berubah cepat.
Ayah Ragnar yang duduk di ujung meja memperhatikan tanpa bicara. Wajahnya sulit ditebak.
Akhirnya salah satu komisaris senior angkat suara. “Pak Adrian, tindakan Anda melanggar etika perusahaan. Apa pun alasannya.”
Ruang rapat berubah menjadi medan pertarungan tanpa suara.
Dan untuk pertama kalinya sejak badai ini dimulai, Ragnar merasa bukan hanya bertahan—tapi memimpin.
________________________________________
Di Ciwidey, Yasmin sedang membantu ibunya meracik adonan kue ketika ponselnya bergetar.
“Rapat besar hari ini,” pesan Ragnar.
“Ada kemungkinan perubahan besar.”
Jantung Yasmin ikut berdegup.
Ia tidak mengerti dunia korporasi sepenuhnya. Tapi ia mengerti satu hal: jika pengkhianatan itu benar, Ragnar sedang menghadapi pukulan yang lebih berat dari sekadar rumor.
“Semoga Allah mudahkan,” balasnya singkat.
Namun di dalam hati, ia mulai merasakan perubahan.
Dulu ia merasa kecil di dunia Ragnar.
Sekarang ia mulai merasa dibutuhkan.
________________________________________
Rapat berlangsung hampir empat jam.
Akhirnya keputusan diambil.
Adrian diberhentikan sementara sambil menunggu proses hukum internal.
Berita itu menyebar cepat.
Media yang sebelumnya menyerang Ragnar kini mulai menulis ulang narasi: konflik internal, perebutan kekuasaan, sabotase.
Ayah Ragnar memanggilnya ke ruang kerja setelah rapat.
“Kau menang hari ini,” ucapnya datar.
“Ini bukan tentang menang,” jawab Ragnar.
Ayahnya berdiri dan berjalan ke jendela. “Aku meremehkanmu.”
Ragnar terdiam.
“Aku kira kau bertindak karena cinta semata. Ternyata kau tetap berpikir sebagai pemimpin.”
Ragnar menatap punggung ayahnya. “Saya hanya tidak ingin perusahaan ini berdiri di atas kompromi yang salah.”
Ayahnya berbalik perlahan. Untuk pertama kalinya, ada sedikit rasa bangga di matanya.
“Tapi badai belum selesai,” katanya pelan.
Ragnar mengangguk. Ia tahu.
________________________________________
Di Amsterdam, Clara membaca berita tentang pemecatan Adrian.
Ia tersenyum tipis.
“Ayah terlalu jauh bermain,” gumamnya.
Ia sadar kini bahwa situasi sudah keluar dari kendali pribadi. Ini bukan lagi tentang hubungan mereka.
Ini tentang kekuasaan dan harga diri.
Dan entah mengapa, melihat Ragnar berdiri tegak menghadapi pengkhianatan membuat hatinya semakin rumit.
Ia kehilangan dia.
Tapi ia juga melihat versi terbaiknya muncul justru karena kehilangan itu.
________________________________________
Sore itu, Ragnar menelepon Yasmin.
“Adrian diberhentikan.”
Yasmin terdiam sesaat. “Itu kabar baik?”
“Untuk sementara, iya.”
“Apa kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Ragnar tersenyum lelah. “Aku lelah. Tapi aku baik.”
“Ragnar,” suara Yasmin lembut, “aku tidak mengerti detail bisnismu. Tapi aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kamu tidak sendiri.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti pelukan.
Untuk pertama kalinya, Ragnar merasa tidak harus menanggung semuanya sendirian.
________________________________________
Namun malam itu, ancaman baru datang.
Sebuah surat resmi masuk ke kantor: gugatan hukum dari perusahaan afiliasi Van Der Meer terkait investasi lama Ragnar yang belum sepenuhnya selesai.
Jumlahnya besar.
Jika kalah, dampaknya bisa mengguncang stabilitas keuangan perusahaan.
Ragnar membaca surat itu dengan wajah tenang, tapi dadanya terasa berat.
Ini pukulan langsung.
Bukan rumor.
Bukan opini publik.
Tapi jalur hukum.
Ayahnya menerima salinan yang sama.
“Sekarang ini bukan lagi urusan perasaan,” katanya pelan. “Ini perang terbuka.”
Ragnar mengangguk.
Ia tahu siapa yang berdiri di baliknya.
Namun ia juga tahu satu hal lain:
Jika ia mundur sekarang, semua yang sudah ia perjuangkan akan sia-sia.
________________________________________
Di Ciwidey, Yasmin merasakan kegelisahan tanpa tahu detailnya.
Ia keluar rumah dan berjalan ke kebun teh sendirian.
Angin sore berembus lembut, membawa aroma tanah basah.
Ia duduk di antara barisan hijau yang rapi, memandang langit yang mulai jingga.
“Ya Allah,” bisiknya, “jika jalan ini Engkau ridai, kuatkan kami. Jika tidak, beri kami tanda yang jelas.”
Air matanya jatuh perlahan.
Ia sadar, semakin jauh mereka melangkah, semakin besar ujian yang datang.
Dan kini, bukan hanya reputasi yang dipertaruhkan.
Tapi masa depan nyata.
Sementara di Jakarta, Ragnar menandatangani dokumen balasan hukum dengan tatapan mantap.
Ia tidak lagi hanya membela dirinya.
Ia membela prinsip yang ia pilih.
Namun jauh di dalam hati, satu ketakutan mulai tumbuh:
Bagaimana jika tekanan ini membuat Yasmin akhirnya benar-benar menyerah?
Karena mencintai dalam badai memang indah dalam teori.
Tapi melelahkan dalam kenyataan.
Dan gugatan itu baru awal dari pertarungan panjang yang bisa mengubah segalanya.