NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kepulangan Sang Fajar

Di tepi sungai yang jernih, Ranu sedang merapikan jubah biru tuanya. Ki Sastro berdiri di belakangnya, masih tampak canggung melihat sosok yang dulu ia gendong kini telah tumbuh lebih tinggi darinya.

"Gusti Ranu," panggil Ki Sastro dengan nada ragu.

Ranu menoleh, membiarkan rambut hitamnya tertiup angin. "Sastro, ada apa? Mengapa wajahmu terlihat seperti orang yang baru saja menelan biji kedondong?"

"Ampun, Gusti. Hamba hanya merasa... panggilan 'Tuan Muda' rasanya sudah tidak pantas lagi. Anda sekarang terlihat seperti seorang pangeran yang turun dari kahyangan. Apakah hamba harus memanggil Anda 'Gusti Prabu' atau 'Raden'?" tanya Ki Sastro sambil menunduk.

Ranu terkekeh pelan, suara remajanya terdengar merdu namun berwibawa. "Sastro, kau ini terlalu banyak aturan. Panggil saja aku Ranu, atau jika kau merasa tidak enak karena umurmu yang sudah bau tanah itu, panggil saja aku Den Ranu. Itu lebih sederhana. Tapi ingat, jangan pernah menganggapku sebagai bocah ingusan lagi, karena sekali aku bergerak, sejarah kerajaan ini bisa berubah."

Ki Sastro tersenyum lega, hatinya menghangat. "Baik, Den Ranu. Hamba mengerti. Mari kita berangkat, kuda sudah hamba siapkan di perbatasan hutan."

Perjalanan menuju desa tempat tinggal orang tua Ranu ditempuh dengan kecepatan tinggi. Saat mereka memasuki perbatasan Desa Durja, pemandangan yang terlihat membuat rahang Ranu mengeras. Desa yang dulunya asri kini tampak kusam. Banyak rumah yang terbengkalai, dan pos-pos penjagaan kini diisi oleh prajurit dengan seragam hitam berlambang Matahari Merah—simbol dari pasukan bayaran Mahesa.

"Den Ranu, lihat itu. Mereka benar-benar sudah masuk hingga ke jantung desa," bisik Sastro dengan geram.

"Biarkan saja dulu, Sastro. Aku ingin melihat rumah bapak dan ibu," jawab Ranu tenang, namun mata peraknya mulai berkilat tajam.

Mereka sampai di depan gubuk tua yang kini sudah direnovasi sedikit lebih baik berkat bantuan dari istana sebelumnya. Namun, suasana di sana tampak tegang. Beberapa prajurit berseragam hitam sedang berdiri di depan pintu, berteriak-teriak kasar.

"Hoi, saudagar tua! Mana jatah upeti bulan ini? Jangan bilang kau mau menggunakan alasan 'anakku adalah titisan dewa' lagi! Bocah itu sudah hilang delapan tahun, mungkin sudah jadi tulang belulang di hutan!" teriak salah satu prajurit sambil menendang keranjang jagung.

Ki Garna, yang kini terlihat jauh lebih tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya, keluar dari rumah. Ia membungkuk dalam. "Ampun, Paman Prajurit. Panen kali ini gagal karena hama. Mohon beri kami waktu seminggu lagi."

"Seminggu?! Kau pikir perut kami bisa menunggu seminggu?!" Prajurit itu mengangkat tangannya, hendak menampar Ki Garna.

Namun, tangannya berhenti di udara. Bukan karena ia berubah pikiran, melainkan karena pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram oleh sebuah tangan yang sangat kuat namun terasa halus.

"Paman, tanganku ini sudah gatal ingin memegang sesuatu sejak bangun tidur. Apakah paman bersedia menjadi sasaran pertama?" ucap sebuah suara jernih dari belakang.

Semua orang menoleh. Ki Garna terbelalak. Ia melihat seorang pemuda tampan berdiri di sana, memegang tangan prajurit itu dengan santai.

"Siapa kau, anak muda?! Beraninya ikut campur urusan Mahesa!" bentak prajurit itu. Ia mencoba menarik tangannya, tapi tangan Ranu seperti kunci baja yang tidak bisa dibuka.

"Aku? Aku hanya seorang anak yang tidak suka melihat bapaknya diganggu oleh lalat-lalat kotor," jawab Ranu.

Dengan gerakan yang sangat halus, Ranu memutar pergelangan tangan prajurit itu. KRAK! Suara tulang bergeser terdengar jelas. Prajurit itu menjerit dan jatuh berlutut. Teman-temannya yang lain segera menghunus pedang.

"Serang dia!"

Ranu tidak menghunus senjata. Ia hanya menggerakkan jubahnya. Teknik Kibasan Sayap Langit ia lepaskan dalam skala kecil. Angin kencang mendadak tercipta, menghantam kelima prajurit itu hingga mereka terlempar ke luar halaman, jatuh pingsan di jalanan desa.

Ranu berbalik menatap Ki Garna. Matanya yang putih perak perlahan melunak, memancarkan kasih sayang yang mendalam.

"Bapak... Ranu pulang," ucap Ranu lirih.

Ki Garna gemetar. Suara itu, mata itu... meski tubuhnya sudah berubah menjadi pemuda gagah, aura ketenangan itu tidak pernah berubah. "Ra... Ranu? Benarkah ini kau, Nak?"

Nyai Sumi lari keluar dari dalam rumah setelah mendengar keributan. Saat melihat Ranu, ia langsung jatuh terduduk sambil menangis histeris. Ranu segera mendekat dan memeluk ibunya.

"Dinda Ibu, jangan menangis. Maafkan Ranu karena tidur terlalu lama," bisik Ranu sambil mengusap air mata ibunya.

"Kanda Garna, lihatlah anak kita! Dia sudah besar... dia sudah jadi pemuda yang sangat tampan," tangis Nyai Sumi bahagia.

Sore itu, suasana di rumah Ki Garna menjadi penuh haru dan kegembiraan. Ki Sastro membantu menyiapkan makanan, sementara Ranu duduk di balai-balai mendengarkan cerita ayahnya tentang penderitaan rakyat selama delapan tahun terakhir.

"Sejak kau menghilang, Kerajaan Mahesa semakin berani, Den Ranu," ucap Ki Sastro ikut menimpali. "Mereka menggunakan ilmu hitam untuk memperkuat prajuritnya. Bahkan Ki Ageng Jagat di istana pun kewalahan karena jumlah mereka yang sangat banyak."

Tiba-tiba, suara derap kaki kuda yang sangat banyak terdengar dari arah gerbang desa. Bukan lagi prajurit biasa, tapi pasukan khusus dengan zirah lengkap. Di barisan paling depan, tampak seorang wanita cantik menunggang kuda putih dengan pakaian zirah perak yang elegan.

"Itu... itu Diajeng Sekar Arum!" seru Sastro.

Pasukan itu berhenti di depan rumah Ki Garna. Diajeng Sekar Arum turun dari kudanya dengan terburu-buru. Wajahnya yang cantik tampak cemas. Selama delapan tahun, ia selalu mengirimkan pakaian untuk Ranu ke hutan, berharap sang penyelamat ayahnya akan bangun.

Mata Sekar Arum mencari-cari, hingga ia terpaku pada sosok pemuda yang berdiri di depan pintu. Ia terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Pemuda itu mengenakan jubah biru tua pemberiannya.

"Ranu Wara...?" bisik Sekar Arum.

Ranu melangkah maju, memberikan hormat yang sangat sopan dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada. "Hamba menghadap, Gusti Diajeng. Maafkan hamba karena membuat jubah ini sedikit kekecilan di bagian bahu."

Sekar Arum tertawa kecil di tengah air matanya yang mulai jatuh. "Kau... kau benar-benar bangun. Dan kau tumbuh menjadi pria yang... sangat berbeda dari bayanganku."

"Berbeda? Apakah hamba terlihat lebih jelek sekarang?" tanya Ranu dengan nada bercanda yang membuat suasana tegang sedikit mencair.

"Tidak, justru sebaliknya," jawab Sekar Arum dengan wajah merona merah. "Tapi Ranu, keadaan sedang darurat. Pasukan Sekte Bayangan Neraka sudah berada di perbatasan ibu kota. Mereka dipimpin oleh Kakang Prabu Mahesa sendiri. Ayahanda Raja memintamu untuk segera datang. Hanya kau satu-satunya harapan kami."

Ranu menatap langit yang mulai menggelap. Bintang ketiga di punggungnya menyala sepenuhnya, memberikan kekuatan baru yang memungkinkannya mengendalikan elemen alam lebih luas.

"Sastro, siapkan kuda. Bapak, Ibu, istirahatlah di dalam. Malam ini, aku akan membersihkan sisa-sisa kotoran di tanah Durja," ucap Ranu dengan nada dingin yang membuat siapa pun bergidik.

Ranu melompat ke atas kuda hitamnya. Di sampingnya, Diajeng Sekar Arum menatapnya dengan penuh harap.

"Den Ranu," panggil Sastro. "Apakah kita akan langsung ke medan perang?"

"Tidak," jawab Ranu sambil menyeringai tipis. "Kita akan ke dapur istana dulu. Aku tidak bisa berperang dalam keadaan lapar. Setelah itu, baru kita kirim pasukan Mahesa itu kembali ke liang kuburnya."

Dengan satu hentakan, kuda-kuda itu melesat menuju ibu kota, membawa harapan baru bagi Kerajaan Durja yang sedang berada di ujung tanduk.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!