Di bawah bayang-bayang aturan feodal-kultivasi, di mana jenius dari kalangan bawah pada akhirnya akan terkubur, Chen Yuan memilih mengamati.
Mengetahui bahwa sang ibu angkat telah dimanipulasi dan bahkan menganggapnya, pecahan kesadaran anak kandungnya sendiri, ia memilih untuk membayar hutang budi itu—bukan dengan darah, tetapi dengan memainkan peran untuk melindungi dan memperbaiki kehidupan saudaranya.
Di dunia yang kejam dan penuh kepentingan, ia memilih mencoba lagi untuk merasakan arti ketulusan, bukan pertukaran.
Demi membuatnya bahagia dan mampu berdiri di dunia ini, ia bahkan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan eksistensinya.
Namun semua itu hanyalah awal.
Di balik semua itu, misteri tentang dirinya sendiri sangat rumit, apalagi segala sesuatu di sekitarnya.
Ini adalah kisah tentang seorang pemuda yang ingin mencoba lagi–bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk menemukan arti kehidupan yang tak sempat ia miliki.
Kelanjutan World of Cultivation: Aimless Journey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slycle024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa ketenangan dimalam hari
Di tepi jurang, pria berpakaian cokelat muda masih menatap kabut hitam pekat yang menakutkan. “Kenapa dia masih hidup?” katanya pelan, saat menyadari posisi Chen Yuan terus berubah-ubah.
Angin di sekitar tiba-tiba berhenti.
Langit di atas hutan bergetar pelan—lalu terdengar suara guntur yang menggelegar.
“Rubah Iblis! Matilah!”
Di cakrawala, suara itu tiba-tiba terdengar, seperti tangisan burung abadi di sembilan langit. Disana, dua siluet sedang saling kejar-mengejar. Satu diselimuti warna biru muda dan satu lagi diselimuti cahaya merah menyala.
BOOOOM!
Kedua serangan mereka bertabrakan lagi.
Langit dan Bumi bergetar hebat.
Kobaran api di langit, layar biru di bumi, keduanya terjalin pada saat yang bersamaan.
Pertarungan mereka terus berlanjut.
Di sisi lain, pria berpakaian coklat muda hanya bisa mundur saat melihat pertarungan semakin meluas. Ia berasumsi bahwa Chen Yuan pasti akan mati terkubur.
Getaran hebat mengguncang jurang.
Chen Yuan membuka mata dan langsung memanjat dinding berbatu, mengikuti arus hangat yang mengalir.
Dari kejauhan, langit malam berubah merah dan biru—tanda pertarungan besar sedang terjadi.
Aku baru bangkit, dan dunia sudah ribut lagi… kesialan macam apa ini?
Pecahan dinding jurang runtuh seperti hujan kematian, memaksanya bergerak cepat serta menuntut kehati-hatian.
Semakin dekat…
“Di sini!”
Jarinya menyentuh sesuatu—kecil dan bulat sempurna. Energi kehidupan bocor deras dari dalam benda kecil itu. Energi itu hangat—namun lembut, tetapi tidak mungkin cukup untuk menyembuhkan luka berat. Oleh karena itu, dia sangat hati-hati.
Chen Yuan menggenggam benda itu.
Permukaannya halus seperti mutiara, tetapi denyut di dalamnya terasa seperti jantung yang berdetak dalam simfoni yang harmoni.
Tiba-tiba suara desiran terdengar.
SSSSHHHHH!
Dari celah batu di bawah kakinya, terdengar suara gesekan panjang.
Retakan di dinding jurang melebar. Debu dan kerikil berjatuhan. Sepasang mata hijau menyala muncul dari kegelapan, menatap lurus ke arah Chen Yuan.
Seekor ular raksasa merayap keluar.
Tubuhnya sebesar batang pohon kuno, sisiknya hitam berkilau seperti baja basah. Di kepalanya tumbuh benjolan kecil menyerupai tanduk, dan dari mulutnya keluar kabut tipis beracun.
Ular itu mendesis panjang.
Gelombang tekanan menyapu jurang. Batu-batu kecil di sekitar Chen Yuan langsung hancur, membuat tubuhnya hampir terhempas menabrak dinding.
Ular itu tidak memberi kesempatan.
Tubuhnya melesat seperti cambuk raksasa. Dinding jurang meledak saat ekornya menghantam.
Bang!
Chen Yuan meloncat, berputar di udara, hampir terjatuh kembali ke dasar jurang. Nafasnya belum stabil, tubuhnya dipenuhi luka, tapi bebatuan terus berjatuhan tanpa henti, memberinya keuntungan atas ular itu.
Ular itu membuka rahangnya lebar. Cairan hijau pekat menyembur keluar, menghantam batu dan langsung mengikisnya menjadi asap.
Chen Yuan menekan kaki ke dinding, mendorong tubuhnya ke samping. Kemudian, Ia mengeluarkan belati berwarna hitam dari cincin ruang dan bersiap menyerang.
Ular itu menyerang lagi dengan ganas.
Begitu ular itu mendekat, tubuhnya menghindar ke samping. Namun, dia tidak memilih untuk melakukan serangan brutal, dia terus menghindar dan melakukan goresan kecil. Tatapannya dingin seperti pemburu saat dia dengan penuh perhatian mengamati.
Dari pengamatannya, dia menyadari bahwa ular ini benar-benar bodoh. Jelas-jelas situasi sedang kacau, tetapi is memilih mengejarnya meski tubuhnya terus ditabrak bebatuan.
Setelah merasa percaya diri, dia mengerahkan kekuatan spiritual tersisa untuk melindungi tubuh. Kemudian, ia menyerang dan menghindar, menyelip di antara serangan, meninggalkan luka-luka tipis di tubuh ular itu. Tebasan demi tebasan mengiris perut, punggung, hingga pangkal ekor dengan cepat, presisi, dan tanpa ragu.
Dampak goresan, membuat ular menyadari sesuatu zat aneh masuk ke tubuhnya melalui luka. Raungan itu semakin kuat saat mencoba melingkar di area di sekitar Chen Yuan. Namun, bebatuan dan ukuran tubuh Chen Yuan membuatnya sulit untuk dikunci.
Ular itu mengamuk.
Tubuh raksasanya membentur dinding jurang tanpa peduli pada runtuhan batu yang terus menghantam sisiknya. Ular itu menerjang lurus dan ingin memakan Chen Yuan dalam sekali tegukan.
Setelah melihat ini, mata Chen Yuan berkilat dingin, dan dia tanpa ragu menerjang, lalu kemudian berguling di tanah.
Tepat di bawah perut ular, dia menusuk dengan sekuat tenaga.
Seketika itu juga, belati menembus daging dan membuat Chen Yuan mau tak mau melepaskan belati saat merasakan benturan keras.
Akibatnya, darah berceceran dimana-mana, meskipun tak terlihat jelas di malam hari.
Desisan pilu ular tersebut merupakan bukti nyata, sebuah luka mengerikan menganga di perutnya, meski hanya sepanjang tinggi manusia.
Melihat kesempatan, dia bergerak cepat menaiki ular tersebut.
Begitu sampai di punggung, ia menghentakkan kaki.
DUUM!
Energi spiritual tersisa mengalir ke telapak kakinya, membuat kepala ular ditekan ke tanah. Ia menggunakan punggung ular sebagai tumpuan, lalu melompat tinggi menuju dinding jurang di atas.
Bebatuan terus berjatuhan, dia menggunakannya sebagai tumpuan baru untuk naik ke atas dengan cepat.
Hanya tinggal beberapa meter lagi menuju bibir jurang.
BOOOOOOM!
Gelombang angin dari pertarungan di langit menyapu turun seperti badai ilahi. Langit merah dan biru berputar. Tekanan mengerikan menghantam segala arah.
Chen Yuan yang masih di udara tersentak, kehilangan keseimbangan.
Angin itu terlalu kuat dan berat, sehingga dia tidak mampu bergerak naik. Kemudian, tubuhnya terasa seperti dihantam gunung.
“Tidak bagus—”
Angin memukulnya mundur.
Tubuhnya terhempas ke belakang sebelum sempat meraih tebing, jatuh bebas.
Di bawahnya, ular raksasa yang perutnya terkoyak masih hidup.
Mata hijaunya kini menyala liar oleh amarah dan rasa sakit. Ia tidak bisa bergerak bebas saat ini, apalagi bergerak dan melompat naik. Ular itu memutar tubuhnya dengan kekuatan terakhirnya, memanfaatkan kemalangan Chen Yuan, dan membuka rahangnya lebar-lebar seolah-olah menyambut makanan.
Chen Yuan masih melayang, belum menemukan pijakan baru. Tubuhnya didorong angin, jatuh bebas ke bawah.
Seperti aku benar-benar tidak punya pilihan lain.
Ia membakar esensi darahnya.
Booom!
Kekuatan dasyat meletus dari dalam tubuhnya. Pembuluh darahnya terasa seperti terbakar, jantungnya berdetak liar, namun kekuatan yang meledak itu memaksa Qi spiritualnya pulih dan menyeimbangkan diri.
Keterampilan ‘Langkah Awan’ digunakan.
Tubuhnya bergetar di udara, meninggalkan bayangan samar seolah berteleportasi, melesat ke tebing.
Sesampainya di sana, ia tanpa ragu meninju tebing, hingga batuan keras hancur seketika. Tanpa ragu, ia menghantamkan Qi ke satu titik, mengebor lubang seukuran tubuhnya dan menerobos masuk tepat sebelum gelombang angin kedua menyapu turun.
BOOOOOOOM!
Seluruh jurang berguncang.
Dari dalam celah sempit itu, ia menahan napas. Debu dan getaran memenuhi ruang kecil tersebut. Di luar, suara runtuhan dan raungan ular bercampur dengan dentuman langit.
“Hei! Bantu aku!” kata Chen Yuan menatap benda kecil bulat itu masih berdetak pelan… hangat… hidup.
Namun ini tidak cukup untuk menyembuhkan lukanya saat ini.
Sunyi.
Hanya suara nafasnya sendiri yang berat.
Tiba-tiba, ketika ia menatap lebih dekat, cahaya putih meledak dari benda kecil itu, menyilaukan dan membutakan penglihatannya.
Tiba-tiba, kekuatan hisap yang mengerikan menarik kesadarannya tanpa ampun.
Ugh!
Rasa sakit menghantam jiwa dan merobek kesadarannya berkali-kali. Dunia berputar, ia tak mampu bertahan lagi dan akhirnya pingsan.
Tubuhnya bersandar dalam celah sempit itu. Namun cahaya kehijauan menyelimuti tubuhnya, mulai menyembuhkan luka.
Di tengah kegelapan, dua suara bergema di benaknya.
“Takdir memang selalu mempermainkan harapan manusia,” suara lirih terdengar. “Dari semua manusia, kenapa malah orang cacat?”
“Kakak! Tolong jangan sering mengeluh,” Suara lain terdengar, lembut namun tenang. “Ini kesempatan bagi kita untuk melihat dunia luar. Kita hanya perlu membimbingnya sedikit demi sedikit. Lagipula... hidup atau matinya… tidak merugikan kita sama sekali.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...