Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24: Persiapan Akhir Dan Kekuatan Yang Baru
Sinar matahari pagi menyinari lokasi pertempuran yang telah dipilih dengan cermat—dataran luas di kaki Gunung Tianwu, yang dulunya menjadi tempat pertemuan antara manusia dan naga kuno. Ribuan prajurit dari Perhimpunan Pemburu Naga dan Sekte Ular Hitam yang telah bertobat berkumpul di sana, membentuk formasi yang teratur dengan bidang energi yang mengelilingi seluruh area.
Di tengah medan, sebuah platform khusus telah dibangun dari batu dan kayu alam. Di atasnya, Feng berdiri bersama dengan Hei Yu, Linglong, dan para pemimpin klan, menyaksikan persiapan yang sedang berlangsung. Udara terasa sangat tegang dengan energi yang terkumpul dari segala arah—cahaya keemasan dari Pedang Naga bercampur dengan energi gelap yang terkendali dari kekuatan Hei Yu dan pengikutnya.
“Kita memiliki kurang dari tiga hari sebelum segel benar-benar roboh,” jelas Liu Hai sambil menunjukkan peta sihir yang menunjukkan lokasi segel utama di kedalaman Gunung Tianwu. “Energi gelap telah mulai keluar secara perlahan, dan jika kita tidak bertindak dengan cepat, ia akan menyebar ke seluruh Tanah Seribu Pegunungan dalam waktu singkat.”
Feng mengangguk dan melihat ke arah pasukan yang sedang berlatih dengan giat. Prajurit dari kedua kelompok kini bekerja bersama dengan harmonis—yang dulunya saling berlawan kini saling mengajari teknik mereka, menggabungkan kekuatan cahaya dan kegelapan menjadi sesuatu yang baru dan lebih kuat.
“Klan Naga Merah telah mengembangkan teknik baru untuk mengendalikan api dengan kekuatan gelap,” ujar Li Mei dengan suara yang penuh semangat. “Ini membuat api kita lebih efektif dalam membersihkan energi negatif tanpa merusak alam sekitar.”
Lin Xia menambahkan dengan senyum lembut, “Klan Naga Hijau juga telah menemukan cara untuk menggunakan energi gelap untuk memperkuat pertumbuhan tanaman. Ini akan membantu kita memulihkan wilayah yang rusak setelah pertempuran selesai.”
Hei Yu berdiri dengan sikap yang tegas, wajahnya menunjukkan kedalaman pengalaman yang baru. “Saya dan anggota Sekte Ular Hitam yang telah bertobat akan mengajar kalian cara merasakan dan mengendalikan energi gelap tanpa terpengaruh olehnya,” katanya. “Kunci utamanya adalah tidak melawan atau menyerah padanya—melainkan menerima dan membimbingnya ke arah yang benar.”
Pada siang hari, sesi pelatihan intensif dimulai. Hei Yu memimpin kelompok prajurit untuk belajar merasakan aliran energi gelap di sekitar mereka, mengajari mereka cara menariknya ke dalam diri tanpa biarkan menguasai pikiran atau perasaan mereka. Sementara itu, Feng mengajarkan teknik untuk menggabungkan kekuatan cahaya dengan kegelapan, menunjukkan bagaimana kedua energi itu bisa saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.
Di salah satu sudut medan, Linglong bekerja dengan anak-anak muda dari berbagai klan, mengajari mereka dasar-dasar kontrol energi yang seimbang. Wajah anak-anak yang penuh semangat dan rasa ingin tahu membuat Feng merasa harapan yang dalam—mereka adalah generasi masa depan yang akan menjaga keseimbangan yang mereka bangun.
“Saat kamu menggabungkan kedua kekuatan ini,” jelas Feng kepada kelompok prajurit yang sedang berlatih, “ingatlah bahwa tidak ada yang benar-benar baik atau jahat. Semuanya tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Kekuatan cahaya bisa menyala terlalu terang dan membakar yang tidak disengaja, sedangkan kekuatan gelap bisa memberikan kedalaman dan perlindungan yang kita butuhkan.”
Dia menunjukkan dengan mengambil energi cahaya dari Pedang Naga dan menggabungkannya dengan energi gelap yang diberikan oleh Hei Yu. Hasilnya adalah cahaya berwarna ungu muda yang lembut namun kuat, mampu membersihkan energi negatif dari tanah tanpa menyebabkannya kerusakan.
“Begitulah cara kita akan menangani kekuatan gelap yang akan keluar,” ujar Feng dengan suara yang jelas. “Kita tidak akan menghancurkannya—kita akan menyatukannya dengan kekuatan cahaya untuk membawa kembali keseimbangan yang hilang.”
Pada malam hari kedua, ketika bulan mulai muncul di atas langit, Naga Putih Tianwu muncul kembali dengan anggun di langit terbuka. Tubuhnya yang panjang dan megah menyala dengan cahaya kebiruan yang lembut, dan suara merdunya terdengar di seluruh medan.
“Waktunya telah tiba untuk kamu mengetahui rahasia terakhir tentang Pedang Naga,” ujarnya dengan suara yang penuh kedalaman. “Pedang ini tidak hanya dibuat dari kekuatan cahaya—ia juga mengandung jiwa naga gelap yang setara dengan diriku. Hanya seseorang yang bisa menerima kedua jiwa itu yang bisa mengaktifkan kekuatan penuhnya.”
Dengan kehendaknya sendiri, Pedang Naga mulai menyala dengan cahaya yang luar biasa kuat—cahaya keemasan berubah menjadi ungu yang indah, dan bentuk kedua naga muncul di sekitar bilahnya: satu putih bersinar dan satu hitam mengkilap.
Feng merasakan kekuatan baru mengalir melalui dirinya saat dia memegang pedang itu. Dia bisa merasakan kehadiran kedua naga di dalamnya, berbicara padanya dengan bahasa hati yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mereka memberitahunya tentang keseimbangan yang hilang dan tanggung jawab yang harus dia pikul sebagai penjaga alam semesta.
“Hei Yu,” ujar Feng dengan suara yang lembut namun kuat, menghadap teman barunya. “Kita bukan hanya dua orang yang berasal dari keluarga yang berbeda—kita adalah dua sisi dari sebuah kesatuan yang sama. Kita perlu bekerja sama untuk mengaktifkan kekuatan penuh yang bisa menyelamatkan dunia ini.”
Hei Yu mengangguk dengan penuh pemahaman. Dia mengeluarkan pedang hitamnya yang besar, dan energi gelap yang menyala darinya mulai menyatu dengan cahaya Pedang Naga. Kedua pedang itu mulai bersinar dengan cahaya yang sama—ungu muda yang penuh dengan harapan dan kekuatan.
Pada hari terakhir sebelum segel roboh, seluruh pasukan berkumpul di medan pertempuran. Ribuan prajurit berdiri dengan sikap tegak dan siap, dengan energi yang menyatu menjadi satu aliran besar yang kuat namun terkontrol. Di atas langit, bintang-bintang mulai menyala dengan lebih terang, seolah alam itu sendiri sedang menyaksikan persiapan mereka.
Feng berdiri di depan pasukan bersama dengan Hei Yu, Linglong, dan para pemimpin klan. Pedang Naga di tangannya bersinar dengan cahaya ungu yang indah, dan suara kedua naga terdengar seperti paduan suara yang merdu.
“Kita menghadapi masa depan yang tidak pasti,” ujar Feng dengan suara yang bisa didengar oleh semua orang. “Namun kita tidak lagi takut, karena kita telah menemukan kebenaran yang sebenarnya. Kita tidak akan melawan kegelapan atau menyerah padanya—kita akan menyatukannya dengan cahaya untuk membangun dunia yang lebih baik!”
Suara sorak yang menggema memenuhi udara, menyebar ke seluruh dataran dan ke pegunungan di kejauhan. Setiap prajurit merasa kekuatan baru mengalir dalam diri mereka—not kekuatan yang berasal dari kemarahan atau takut, tapi kekuatan yang berasal dari penerimaan diri yang penuh dan keyakinan pada masa depan yang lebih baik.
Di kejauhan, cahaya hitam mulai muncul dari arah Gunung Tianwu—segel mulai roboh dengan cepat. Tanah mulai bergoyang dengan lembut, dan suara seperti gemuruh naga terdengar dari kedalaman bumi. Waktunya telah tiba untuk pertempuran terakhir yang akan menentukan nasib seluruh alam semesta.
Tapi kini mereka siap. Mereka telah belajar bahwa keseimbangan adalah kunci dari semua hal, dan bahwa hanya dengan menerima kedua sisi dari diri mereka sendiri yang mereka bisa membawa perdamaian yang sebenarnya bagi dunia yang mereka cintai.