NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Yang Tersembunyi

Siang itu, Rahman, Aisyah, dan Fariz langsung berangkat menuju makam leluhur yang berada di ujung desa.

Tempat ini dijaga dengan baik. Sangat baik. Mulai dari jalan masuk, di sisi kiri dan kanan terlihat banyak sesajen yang ditata rapi. Bunga. Kemenyan. Dan dupa yang menyala di mangkuk tanah liat, asapnya naik tipis ke udara.

Tidak ada yang bicara saat berjalan. Hanya suara langkah di tanah dan napas yang pelan.

Sampai mereka tiba di depan gerbang makam.

Makam yang selalu dianggap keramat oleh warga Desa Sumberarum. Makam Eyang Pandilarang. Leluhur pertama yang membuka desa ini ratusan tahun lalu.

Aisyah melihat ada beberapa anak buah Darma Wijaya berjalan mondar-mandir di depan gerbang. Berjaga. Mengawasi. Seperti sedang menunggu sesuatu.

"Iz, sebaiknya kita berpencar untuk cari petunjuk lain." Aisyah menatap Fariz. "Aku akan coba masuk mendekat ke makam itu."

Fariz mengangguk. "Hati-hati."

Aisyah berjalan ke arah anak buah Darma Wijaya yang sedang berjaga. Sementara Fariz dan Rahman mencari jalan lain. Celah lain. Informasi lain yang bisa mereka dapat tanpa terlihat.

"Mbak Aisyah sedang apa di sini?"

Salah seorang anak buah Darma Wijaya bertanya saat melihat Aisyah mendekat.

"A-anu, Mas..." Aisyah berusaha mengatur napasnya. Menghilangkan rasa gugup yang mulai hinggap. "Aku disuruh Bapak untuk ngecek persiapan suguhan besok malam."

Anak buah itu menatap rekannya. Menggerakkan kepala. Seperti sedang berkata tanpa suara: Bagaimana ini?

Suasana hening sejenak.

Lalu salah satu dari mereka mendekat.

"Memangnya tumbalnya sudah siap?" Bisiknya sambil menatap Aisyah.

Jantung Aisyah berdetak lebih cepat. Pertanyaan yang berbahaya.

"A-aku lihat Bapak sedang persiapan dengan seseorang tadi pagi."

Jawaban yang samar. Tidak menyebut nama. Tidak memberi detail.

Anak buah itu mengangguk. Seperti cukup puas dengan jawaban itu.

"Ayo, Mbak. Sini."

Ia mengajak Aisyah mendekat ke arah makam yang dianggap tua. Yang dianggap suci.

Di sana, Aisyah melihatnya dengan jelas.

Pintu berwarna kuning keemasan berdiri kokoh. Tinggi. Megah. Dengan dinding bata merah yang terbuka di kedua sisi. Dan ukiran Jawa kuno di sekeliling pintu yang menggambarkan kesakralan tempat ini.

"Nanti sore beberapa persembahan akan mulai ditata di sini, Mbak."

Anak buah itu menunjuk pilar kosong setinggi satu meter yang ada di samping pintu.

"Rencananya malam ini calon persembahan akan dimandikan di dalam." Ia menunjuk pintu emas itu. "Dan besok pagi akan disiapkan ritual pembukaan jalan agar semuanya lancar."

Aisyah hanya mengangguk. Mencoba terlihat tenang meski dadanya sesak.

Lalu ia melangkah mendekat ke pintu. Ingin melihat apa yang ada di dalam.

"Mbak, jangan!"

Pria itu langsung menepis tangan Aisyah ketika akan menyentuh pintu.

Aisyah terkejut. Mengeraskan ekspresinya. Berusaha terlihat kesal meski sebenarnya ia lega tidak perlu masuk.

"Maaf, Mbak." Ia menundukkan kepala. "Waktunya belum mulai. Ini pantangan. Kalau dilanggar bisa bawa sial untuk seluruh warga desa ini."

Ia mengulang lagi. "Maaf, Mbak."

Aisyah menarik napas. Mengangguk.

Sekarang ia tahu. Tempat ritual yang sebenarnya ada di dalam sana. Di balik pintu emas itu.

"Ya sudah, Mas. Aku lapor Bapak dulu kalau semuanya sudah siap dilaksanakan."

Aisyah beranjak pergi. Berjalan pelan agar tidak terlihat terburu-buru.

Ia menunggu di luar gerbang. Bersembunyi di balik pohon besar yang daunnya lebat.

Lima belas menit.

Dua puluh menit.

Sesekali berpura-pura mengamati sesajen yang ada di jalan. Agar tidak terlihat mencurigakan kalau ada yang lewat.

Lalu ia mendengar suara.

Panggilan pelan dari balik tembok samping makam.

"Ssst... Aisyah."

Suara Fariz.

Aisyah menoleh. Melihat Fariz dan Rahman berdiri di balik semak-semak di sisi tembok.

Ia mendekat dengan cepat.

"Kami menemukan sesuatu. Ayo."

Fariz memandu Aisyah dan Rahman menyusuri jalan sempit di balik tembok makam.

Mereka berjalan cukup lama. Melewati semak-semak yang tinggi. Melewati pohon tua yang akarnya menjulur ke tanah. Jalan ini hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan dengan seksama.

Sampai akhirnya mereka tiba di suatu tempat.

Belakang pendopo.

"Lihat."

Rahman menunjuk. Di balik tanaman rambat yang lebat, ada gerbang kecil. Terbuat dari kayu tua yang sudah berwarna gelap. Hampir tidak terlihat karena tertutup dedaunan. Seperti sengaja disembunyikan.

"Jalan ini menghubungkan pendopo dengan makam," kata Fariz pelan.

Mereka mengintip dari balik semak. Dari sini mereka bisa melihat bangunan pendopo dengan jelas, kaca besar yang selalu di gunakan oleh Darmawijaya untuk menatap makam dari kejauhan.

"Selama ini kita tidak pernah tahu kalau ada jalan khusus yang hanya diketahui beberapa orang saja," kata Fariz sambil menatap jalan itu.

"Sepertinya jalan ini sengaja digunakan untuk membawa calon persembahan menuju makam tanpa terlihat warga." Rahman bicara pelan. "Mereka bisa membawa dari pendopo lewat jalan ini, langsung sampai ke pintu makam. Tanpa ada yang melihat."

Fariz mengangguk. "Sekarang kita tahu kalau jalan ini akan digunakan untuk membawa Bapak."

Ia menatap Rahman. Lalu ke Aisyah.

"Tapi di mana Dewi Kuasa akan membuat perjanjian baru?"

Aisyah menjawab. "Tadi aku sempat mau masuk ke makam Eyang Pandilarang, tapi anak buah Bapak menghalangiku, Man. Jadi aku yakin kalau ritual itu akan dilaksanakan di dalam sana. Di balik pintu emas itu."

Ketiganya terdiam sebentar. Menyerap semua informasi yang baru mereka dapat.

Lalu Fariz bicara lagi.

"Kita harus berpencar sekarang. Cari informasi sebanyak mungkin sebelum terlambat."

Ia menatap Aisyah.

"Aisyah, kamu kembali ke rumah. Cari tahu waktu pelaksanaannya. Kalau bisa, dengarkan apa yang Bapakmu bicarakan dengan anak buahnya."

Lalu ke Rahman.

"Man, kamu kembali ke pondok. Cari petunjuk bagaimana caranya untuk melawan Dewi Kuasa. Baca semua catatan Kyai Salman yang belum kita baca. Pasti ada sesuatu."

Lalu ia menarik napas.

"Aku akan coba pulang. Melihat kondisi Bapak. Kalau bisa, aku akan coba bicara dengannya."

Fariz menatap keduanya.

"Sekarang baru jam satu. Kita berkumpul lagi jam empat sore di pondok, setelah Ashar. Kita punya tiga jam untuk cari informasi sebanyak mungkin."

Rahman dan Aisyah mengangguk.

Lalu mereka berpisah. Masing-masing ke arah yang berbeda. Dengan beban yang sama di dada.

Tiga jam. Hanya tiga jam untuk menemukan cara menghentikan ritual yang sudah dirancang ratusan tahun lalu.

RUMAH DARMA WIJAYA — SORE HARI

Aisyah duduk di kamarnya. Mengawasi dari balik jendela.

Karno masih duduk di depan pintu ruang ritual. Berjaga. Tidak bergerak dari sana sejak pagi tadi.

Aisyah tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa mendekat. Tidak bisa mendengar.

Hanya menatap. Menunggu. Berharap ada celah.

Setengah jam berlalu.

Lalu ia mendengar sesuatu.

Suara. Samar. Dari dalam ruangan.

Seperti orang berdoa. Atau melafalkan mantra. Bahasa yang tidak ia mengerti. Tapi nadanya membuat bulu kuduknya berdiri.

Lalu suara langkah.

Pintu terbuka.

Darma Wijaya keluar. Diikuti oleh dua orang anak buahnya.

Karno berdiri. Membungkuk sedikit saat Darma Wijaya lewat.

Mereka berbicara sebentar. Terlalu pelan untuk Aisyah dengar.

Lalu Darma Wijaya mengangguk. Masuk kembali ke dalam.

Aisyah menatap jam dinding.

Jam tiga sore. Satu jam lagi sebelum ia harus ke pondok.

RUMAH FARIZ — SORE HARI

Fariz berdiri di kejauhan. Bersembunyi di balik pagar tetangga.

Memantau rumahnya dari sana.

Pintu masih tertutup rapat. Tidak ada suara dari dalam. Tidak ada gerakan.

Tapi ada yang berbeda sekarang.

Kabut putih yang tadi pagi masih terang, sekarang terlihat sedikit lebih gelap. Warnanya berubah jadi keabu-abuan. Dan di dalamnya, ada kilatan cahaya yang muncul sesekali. Seperti petir kecil yang menyambar di dalam kabut.

Fariz menatap perubahan itu dengan napas yang tertahan.

"Waktu sudah dekat."

Gumamnya pelan.

"Tumbal sudah siap. Mereka sedang membuka jalan."

Ia tahu apa artinya perubahan ini. Ritual persiapan sudah dimulai. Dan kalau ritual persiapan dimulai, berarti malam ini Bapaknya akan dibawa ke makam untuk dimandikan.

Besok pagi, ritual pembukaan jalan.

Besok malam...

Dadanya sesak.

Lalu ia melihat sesuatu yang lain.

Kumpulan bayangan hitam berdiri di depan pintu. Tidak lagi berjongkok di atap. Tapi berdiri. Berbaris rapi. Seperti prajurit yang menunggu perintah.

Seperti sedang menyambut kedatangan seseorang.

Fariz mengerutkan dahi.

Menyambut siapa?

Lalu ia mendengar suara motor dari kejauhan.

Ia langsung bersembunyi lebih dalam di balik pohon.

Tiga motor datang.

Sucipto diapit oleh dua orang di motor tengah. Ia dikenakan pakaian serba hitam. Dan di lehernya, kalung bunga tujuh rupa yang baunya tercium sampai ke tempat Fariz bersembunyi.

Pria yang ada di belakangnya memegangi tubuh Sucipto. Menopang. Seperti takut ia jatuh.

Fariz menatap ayahnya dengan mata yang menyipit.

Wajah Sucipto terlihat. Mata terbuka. Tapi kosong. Seperti tidak ada yang hidup di balik tatapan itu.

Ia sadar. Tapi tidak punya kehendak.

Seperti boneka yang diatur oleh tuannya.

Motor berhenti di depan rumah.

Sucipto turun. Berjalan sendiri. Tapi gerakannya kaku. Tidak natural. Seperti ada yang menarik tali di tubuhnya dan membuat ia melangkah.

Lalu barisan bayangan hitam itu bergerak.

Membuka jalan. Membiarkan Sucipto masuk.

Lalu menutup kembali. Mengepung rumah. Menjaga agar tidak ada yang masuk. Atau keluar.

Pintu tertutup.

Fariz berdiri di situ. Menatap rumahnya.

"Aku tidak bisa masuk ke dalam."

Gumamnya pelan. Frustrasi. Putus asa.

"Lalu aku harus bagaimana sekarang?"

Tidak ada jawaban.

Hanya angin yang bertiup pelan. Membawa bau bunga tujuh rupa yang membuat perutnya mual.

Hampir jam empat. Waktunya kembali ke pondok.

Ia berbalik. Berjalan meninggalkan rumahnya dengan langkah berat.

Meninggalkan ayahnya di dalam. Sendirian. Dengan bayangan-bayangan hitam yang menjaga.

Dengan ritual yang akan dimulai malam ini.

Dan ia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!