Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Jam dinding di kamar menunjukkan pukul tujuh malam tepat.
Suara hujan di luar telah mereda, menyisakan hawa sejuk yang merasuk hingga ke dalam ruangan.
Linggar tersentak dari tidurnya, mengerjapkan mata berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat hilang.
Hal pertama yang ia lihat adalah sosok pria yang berdiri di depan cermin besar.
Rangga sudah mengenakan tuxedo hitam dengan potongan sempurna yang membungkus tubuh atletisnya.
Kemeja putihnya yang kaku kontras dengan dasi kupu-kupu yang terpasang rapi.
Ia terlihat sangat tampan, berwibawa, dan memancarkan aura pemimpin yang tak terbantahkan.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" seru Linggar panik sambil segera duduk tegak.
Ia melihat pergelangan tangannya sudah bebas dari ikat pinggang Rangga.
Rangga menoleh melalui pantulan cermin, senyum tipis terukir di wajahnya.
"Kamu tidur sangat nyenyak seperti anak kecil. Aku tidak tega merusak istirahatmu."
"Tapi kita sudah terlambat!" Linggar meloncat dari tempat tidur.
Ia menyambar tas perlengkapannya dan berlari kecil menuju kamar mandi.
"Beri aku waktu lima belas menit!"
Di dalam kamar mandi, Linggar bergerak dengan kecepatan kilat.
Ia membasuh wajahnya, memoleskan riasan yang sedikit lebih tebal dari biasanya untuk menutupi kelelahannya.
Setelah itu ia mengambil sebuah gaun hitam panjang berbahan satin yang jatuh dengan elegan di lekuk tubuhnya.
Gaun itu sederhana, namun potongannya sangat cerdas sehingga membuat tubuh berisi Linggar terlihat sangat anggun dan berkelas.
Ia membiarkan rambut panjang ikalnya tergerai bebas, menutupi bahunya yang putih.
Sebagai sentuhan akhir, ia menyemprotkan parfum khasnya yaitu aroma buah blewah yang segar, manis, namun tetap meninggalkan kesan mewah.
Pintu kamar mandi terbuka. Linggar melangkah keluar dengan sedikit ragu, jemarinya meremas tas tangan kecilnya.
"Aku sudah siap, Rangga. Maaf membuatmu menun—"
Kalimat Linggar terhenti saat ia mendapati Rangga sedang terpaku di tengah ruangan.
Pria itu tidak lagi merapikan jam tangannya, tetapi matanya menatap Linggar tanpa berkedip, dari ujung kaki hingga ke helai rambutnya.
Aroma blewah yang dibawa Linggar memenuhi indra penciuman Rangga, aroma yang sama yang pernah Linggar deskripsikan saat mereka mengobrol sebagai 'Nadya'. Namun, bagi Rangga yang ada di sana sekarang, kehadiran fisik Linggar jauh lebih nyata dan memabukkan.
"Rangga?" panggil Linggar pelan, wajahnya memerah karena tatapan intens itu.
Rangga berdeham, mencoba menguasai dirinya kembali meski jantungnya berdegup tidak karuan.
"Parfummu, baunya sangat segar. Blewah?"
Linggar mengangguk pelan. "Iya, ini aroma kesukaanku."
Rangga melangkah mendekat, berdiri cukup dekat hingga Linggar bisa merasakan panas tubuh pria itu.
Rangga mengulurkan sikunya, memberikan isyarat agar Linggar menggandengnya.
"Kamu terlihat sangat luar biasa malam ini, Linggar. Gaun itu sangat cocok untukmu. Ayo berangkat, Tuan Bayu pasti akan iri melihat asisten yang aku bawa jauh lebih bersinar daripada tamunya yang lain."
Linggar menyambut lengan Rangga dengan jari-jemari yang dingin karena gugup.
Di bawah tatapan memuja Rangga, ia merasa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bukan lagi "babi" yang dihina dunia, melainkan seorang wanita yang benar-benar diinginkan.
Malam itu, Ballroom hotel tempat mereka menginap berubah menjadi lautan kemewahan.
Lampu kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan yang jatuh di atas lantai marmer yang mengilap.
Linggar melangkah dengan anggun di samping Rangga. Meski jantungnya berdebar, ia tetap profesional.
Sebagai sekretaris andal, Linggar menyapa beberapa kolega penting dan memperkenalkan Rangga kepada para pengusaha papan atas. Suaranya tenang dan berwibawa, membuat Rangga berkali-kali menatapnya dengan bangga.
Namun, langkah Linggar mendadak terkunci. Napasnya seolah terhenti di tenggorokan saat matanya menangkap sosok pria di sudut ruangan itu.
Mantan kekasihnya itu berdiri di sana, mengenakan setelan jas yang tampak mahal, dengan tangan merangkul pinggang wanita yang sama.
Wanita yang menjadi alasan Riko mengkhianatinya dan melontarkan kata-kata kejam tentang bentuk tubuhnya di depan umum.
Linggar merasakan seluruh tubuhnya mendingin. Ingatan tentang ejekan 'babi' itu kembali berdengung di telinganya seperti kaset rusak, meruntuhkan kepercayaan diri yang baru saja ia bangun.
Jemarinya yang menggandeng lengan Rangga mulai gemetar hebat.
Rangga, yang selalu peka terhadap perubahan sekecil apa pun pada Linggar, segera menyadarinya.
Ia merasakan cengkeraman tangan Linggar yang menguat dan melihat arah pandang matanya yang nanar.
Rangga mengikuti arah pandang itu dan melihat Riko yang sedang tertawa sombong sambil memegang gelas sampanye.
Rangga menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Linggar hingga aroma parfum maskulinnya menenangkan saraf Linggar yang tegang.
"Apa dia Riko yang kamu ceritakan?" bisik Rangga dengan suara rendah namun tajam.
Linggar tidak mampu bersuara. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku.
Air matanya hampir saja menetes, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak hancur di tengah keramaian ini.
Rangga tidak melepaskan pandangannya dari Riko.
Tatapannya yang tadi hangat kini berubah menjadi dingin dan mematikan, seperti predator yang siap menerkam.
Ia menggenggam tangan Linggar yang gemetar, menyatukan jemari mereka dengan erat.
"Tegakkan kepalamu, Linggar," perintah Rangga dengan nada yang memberikan kekuatan instan.
"Jangan tundukkan kepalamu pada pria yang bahkan tidak punya harga diri untuk menghargai wanita sehebat kamu."
Tepat saat itu, Riko menoleh. Matanya bertemu dengan mata Linggar. Riko tampak terkejut melihat Linggar yang terlihat jauh lebih elegan dan cantik malam ini, namun seringai meremehkan mulai muncul di bibirnya.
Riko mulai melangkah menghampiri mereka, berniat kembali meluncurkan hinaan yang sudah lama tidak ia sampaikan.
Rangga menarik napas panjang, memasang wajah CEO-nya yang paling angkuh.
"Biarkan aku yang menanganinya. Kamu cukup berdiri di sampingku dan jadilah wanita tercantik malam ini."
Riko melangkah mendekat dengan angkuh. Matanya memindai tubuh Linggar dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang sangat kentara.
Saat jarak mereka sudah cukup dekat, Riko sengaja menyenggol bahu Linggar dengan keras saat ia berpura-pura ingin melewati mereka.
"Ups," gumam Riko tanpa rasa bersalah.
Dorongan itu cukup kuat untuk membuat Linggar yang sedang mengenakan sepatu hak tinggi kehilangan keseimbangan.
"Aaah!" pekik Linggar tertahan saat rasa nyeri menjalar dari pergelangan kakinya yang keseleo.
Sebelum tubuh Linggar sempat menyentuh lantai, tangan kekar Rangga dengan kilat menyambar dan menarik pinggang Linggar.
Rangga menariknya begitu dekat hingga tubuh Linggar bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya.
"Masih saja ceroboh ya, Linggar?" Riko tertawa sinis, mengabaikan kehadiran Rangga.
"Mau pakai gaun semahal apa pun, kalau dasarnya sudah seperti babi, tetap saja kelihatan berat dan menyusahkan orang."
Wanita di samping Riko ikut tertawa kecil, menutup mulutnya dengan tangan yang penuh perhiasan.
Suasana di sekitar mereka mendadak dingin. Rangga tidak langsung membalas.
Ia justru berlutut di depan Linggar, memeriksa pergelangan kaki wanita itu dengan sangat lembut di depan mata semua orang.
Setelah memastikan Linggar bisa berdiri dengan tumpuannya, Rangga bangkit dan berdiri tegak menghadap Riko.
Rangga menatap Riko dengan tatapan yang sangat tenang, namun mematikan.
"Maaf, saya tidak tahu kalau Tuan Bayu mengundang petugas kebersihan yang mengenakan jas malam ini," ucap Rangga dengan suara bariton yang cukup keras hingga didengar beberapa kolega di sekitar mereka.
"Apa maksudmu?! Aku tamu di sini!" ucap Riko dengan wajah memerah.
Rangga tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan penghinaan.
"Oh, saya pikir Anda petugas kebersihan, karena mulut Anda penuh dengan sampah. Hanya orang yang tidak berpendidikan dan memiliki masalah mental yang menghina fisik seorang wanita di depan umum untuk menutupi rasa tidak percaya dirinya sendiri."
Rangga merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam emas.
Kartu nama eksklusif milik Steward’s Group dan melemparkannya ke lantai tepat di depan sepatu Riko.
"Jika perusahaan kecilmu itu butuh bantuan modal karena pemiliknya terlalu sibuk mengurusi berat badan orang lain daripada performa kerja, hubungi kantorku. Aku akan mempertimbangkan untuk membelinya hanya agar aku bisa memecatmu secara terhormat," ucap Rangga.
Riko terdiam seribu bahasa. Ia tahu siapa pria di depannya.
Rangga Steward bukan orang yang bisa ia lawan. Semua orang di ballroom kini menatap Riko dengan tatapan mencemooh.
Rangga kembali beralih pada Linggar. Ia merangkul pinggang Linggar dengan sangat protektif, seolah ingin menunjukkan pada dunia siapa yang berkuasa atas wanita itu.
"Ayo, sayang. Berada di dekat orang yang tidak berkelas seperti ini hanya akan merusak aroma parfummu yang mahal," ujar Rangga lembut.
Ia menuntun Linggar berjalan menjauh, meninggalkan Riko yang berdiri mematung di tengah kerumunan dengan harga diri yang hancur berkeping-keping.