NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Posesif

Pagi itu, saat Takara baru saja membuka pintu unit apartemennya dengan tas kerja yang tersampir di bahu, ia dikejutkan oleh sosok Arlo yang sudah berdiri di lorong dengan kunci mobil di jarinya.

"Pagi, Takara," sapa Arlo dengan senyum yang jauh lebih percaya diri dari biasanya.

"Berangkat bareng, yuk? Aku sudah panaskan mobil. Nggak perlu pesan taksi atau naik bus, udara pagi ini cukup menyengat."

Takara sempat ragu sejenak. Biasanya mereka berangkat masing-masing kecuali jika ada urusan mendadak, namun sorot mata Arlo pagi ini tampak sangat bersungguh-sungguh.

"Eh, kebetulan banget. Oke deh, makasih ya, Arlo," jawab Takara akhirnya. "Tapi nanti agak siangan aku harus geser ke area B, soalnya ada janji temu sama tim desain interior buat bahas konsep lighting studio."

"Akan kuantar sampai ke depan pintunya kalau perlu," sahut Arlo ringan sambil membukakan jalan menuju lift.

Di dalam mobil, Arlo sengaja memutar lagu-lagu instrumen yang menenangkan, menciptakan suasana yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk dunia idol yang sempat Takara datangi kemarin.

"Takara," panggil Arlo saat mereka berhenti di lampu merah. "Soal yang semalam di Sungai Han... aku cuma mau bilang, aku benar-benar menghargai kepercayaanmu bercerita soal Jake. Dan aku harap, itu nggak bikin kamu merasa canggung buat minta bantuan aku kalau dunianya mulai terasa terlalu berat buatmu."

Takara menoleh, sedikit tersentuh dengan cara Arlo menyampaikan dukungannya tanpa terdengar menghakimi. "Makasih, Arlo. Aku cuma nggak mau ada masalah profesional antara kita gara-gara kehidupan pribadiku."

"Nggak akan. Malah, aku merasa lebih semangat sekarang. Aku ingin memastikan proyek ini sukses besar, biar kamu punya alasan buat merasa bangga sudah tetap tinggal di sini," kata Arlo, matanya tetap fokus ke depan, namun tangannya sesekali mengetuk kemudi dengan santai.

Sesampainya di lokasi proyek, suasana langsung berubah menjadi sibuk. Takara segera menemui Hana, sang desainer interior yang sudah menunggunya di area studio rekaman yang masih setengah jadi.

"Konsep jembatan kayu ini luar biasa, Takara," puji Hana sambil menunjukkan palet warna material.

"Tapi untuk pencahayaannya, kita butuh sesuatu yang warm tapi tetap terlihat modern. Bagaimana kalau kita pasang lampu recessed di sepanjang pinggiran jembatan?"

Takara mengangguk, namun pikirannya terusik saat melihat Arlo tetap berdiri tidak jauh darinya, seolah sedang "menjaga" area tersebut. Setiap kali ada pekerja konstruksi laki-laki yang mencoba menyapa Takara, Arlo dengan sigap mendampingi dan mengambil alih pembicaraan teknis.

Di sela-sela diskusinya dengan Hana, ponsel Takara bergetar berkali-kali di dalam saku rompinya. Ia sempat melirik layarnya sebentar.

📲 Jake: Ra, maaf suara gue semalam kedengeran capek banget di pesan suara. Gue ada waktu break 1 jam sore ini. Gue jemput ya? Gue pengen kasih liat sesuatu.

Takara menggigit bibir bawahnya. Ia menatap Hana yang sedang menunggu pendapatnya, lalu melirik Arlo yang baru saja membawakan botol air mineral untuknya.

"Takara? Jadi bagaimana menurutmu soal lampunya?" tanya Hana membuyarkan lamunan.

"Ah, iya... lampunya. Sepertinya ide lampu recessed itu bagus, Hana. Mari kita coba simulasikan dulu," jawab Takara cepat, sambil memutuskan untuk membiarkan pesan Jake tidak terjawab sementara waktu.

———

Takara menyandarkan punggungnya di dinding beton yang masih kasar, menghela napas panjang sembari mengusap peluh di dahinya. Di seberangnya, Arlo sedang sibuk berdiskusi dengan mandor, sesekali melirik ke arah Takara seolah memastikan wanita itu baik-baik saja.

Dengan jari yang sedikit gemetar karena kelelahan, Takara akhirnya membuka ponselnya.

📲 Takara: Jake, sorry banget. Proyek lagi sibuk-sibuknya. Gue baru bisa pegang HP sekarang.

Baru saja jempolnya menekan tombol send, suara deru mesin beberapa van hitam mewah terdengar memasuki area gerbang samping agensi yang tak jauh dari lokasi konstruksi. Takara menoleh secara refleks.

Pintu van terbuka, dan satu per satu member ENHYPEN keluar dengan pengawalan ketat. Mereka tampak mengenakan pakaian yang sangat rapi, setelan jas modern yang dipadukan dengan riasan panggung yang masih menempel sempurna. Sepertinya mereka baru saja menyelesaikan sesi pemotretan atau sedang bersiap menuju lokasi syuting iklan.

Di barisan tengah, Takara melihatnya. Jake.

Laki-laki itu tampak sangat berbeda dari "Jake Brisbane" yang sering merengek padanya. Dia terlihat sangat tajam, profesional, dan... asing. Jake sedang mendengarkan arahan stafnya sambil berjalan cepat, namun tiba-tiba langkahnya melambat. Ia menoleh ke arah area konstruksi yang bising, seolah instingnya mengatakan bahwa Takara ada di sana.

Mata mereka bertemu selama beberapa detik di antara debu bangunan dan hiruk pikuk pekerja.

Jake baru saja merasakan getaran di sakunya, pesan dari Takara masuk, tepat saat ia melihat sosok Takara berdiri dengan rompi proyek dan helm putihnya. Namun, yang membuat rahang Jake mengeras bukanlah penampilan Takara yang berdebu, melainkan sosok Arlo yang tiba-tiba melangkah mendekati Takara.

Arlo secara alami meletakkan tangannya di bahu Takara, memberikan sebotol air dingin dan membisikkan sesuatu yang membuat Takara sedikit tersenyum.

Dari kejauhan, Jake bisa melihat interaksi itu dengan sangat jelas. Ia ingin berhenti, ia ingin berteriak menyapa, atau setidaknya memisahkan tangan Arlo dari bahu sahabatnya. Namun, manajer di sampingnya terus mendorongnya untuk masuk ke dalam van berikutnya.

"Jake, ayo cepat! Kita sudah terlambat 15 menit untuk lokasi syuting berikutnya," tegur manajer tegas.

Jake terpaksa memalingkan wajah, masuk ke dalam mobil dengan perasaan terbakar. Ia tidak langsung membalas pesan Takara. Ia justru mengirimkan pesan baru yang nadanya sangat berbeda.

📲 Jake: Gue liat lo tadi. Kelihatannya lo emang "sibuk" banget sama partner baru lo itu ya, Ra? Sampai nggak sempet bales chat gue dari pagi.

Takara membaca pesan itu dan seketika merasa lemas. Ia menatap van hitam yang mulai melaju pergi meninggalkan area agensi.

"Ada apa, Takara? Wajahmu mendadak pucat," tanya Arlo dengan nada khawatir, tangannya masih berada di bahu Takara.

"Enggak... cuma capek aja, Arlo," jawab Takara pelan sambil melepaskan tangan Arlo dengan halus. "Aku mau lanjut bahas interior sama Hana dulu ya."

Takara berjalan menjauh, meninggalkan Arlo yang menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Arlo tahu Takara baru saja melihat Jake, dan ia juga tahu bahwa perang dingin di antara dua sahabat itu baru saja dimulai.

———

Di dalam ruang ganti yang dipenuhi gantungan baju desainer dan aroma parfum mahal, suasana mendadak terasa gerah, bukan karena pendingin ruangan yang mati, tapi karena aura dingin yang terpancar dari sudut meja rias.

Jake menghempaskan tubuhnya ke kursi, membiarkan penata rias menghapus sisa eyeliner di matanya dengan kasar. Tangannya mencengkeram ponsel seolah benda itu adalah musuh bebuyutannya.

"Apa-apaan sih Takara itu! Dia malah udah sibuk punya teman baru," gerutu Jake ketus. Suaranya cukup keras hingga membuat beberapa staf menoleh heran.

Ni-Ki, yang sedang asyik mengunyah camilan di sofa sebelah, mengerutkan dahi. "Ada apa, Hyung? Masih soal arsitek galak itu?"

"Dia nggak galak, Ki! Dia cuma... ah, udahlah. Intinya dia sekarang susah banget dihubungin. Padahal gue baru aja liat dia di lokasi proyek tadi, dan ada cowok yang sok akrab banget sama dia. Pake pegang-pegang bahu segala lagi!" Jake mengomel panjang pendek, tangannya memperagakan gerakan "pegang bahu" dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat.

Tiba-tiba, sebuah suara berat dan tenang menyambar dari balik majalah fashion yang sedang dibaca Jay.

"Yah, gimana lagi dong?" Jay menurunkan majalahnya, menatap Jake dengan tatapan judging yang legendaris. "Orang sahabat satu-satunya dia aja sibuk kayak gini. Jadwal kita padat, latihan sampai subuh, syuting iklan nggak beres-beres. Kalau gue jadi Takara pun, gue bakal nyari kesibukan lain lah. Masa dia harus nungguin lo di depan pintu kayak anak kucing?"

Jake tertegun. Kalimat Jay barusan terasa seperti siraman air es di tengah musim dingin. Menusuk sampai ke tulang.

"Tapi kan... dia di sini karena gue yang minta!" bantah Jake, suaranya sedikit mengecil.

"Justru karena itu, Hyung," sahut Ni-Ki sambil nyengir jahat. "Lo yang bawa dia ke sini, tapi lo yang nggak punya waktu buat dia. Terus sekarang lo marah kalau ada cowok lain yang punya waktu buat nemenin dia makan ramen di Sungai Han? Make sense, nggak?"

Jake terdiam seribu bahasa. Logika Jay dan Ni-Ki benar-benar menghantam egonya. Di satu sisi, dia merasa posesif karena Takara adalah satu-satunya "jangkar" dari masa lalunya yang normal. Di sisi lain, dia sadar bahwa dia tidak punya hak untuk melarang Takara bersosialisasi.

"Tapi cowok itu... si Arlo itu... dia kelihatan tulus banget jagain Takara," batin Jake gelisah.

Ia kembali menatap layar ponselnya. Pesan sindirannya tadi belum dibalas oleh Takara. Rasa sesal mulai merayap. Bagaimana kalau Takara marah?

Bagaimana kalau Takara benar-benar lebih memilih menghabiskan waktu dengan rekan kerjanya yang "nyata" daripada menunggu bintang dunia yang "bayangan"?

"Gue harus apa, Jay?" tanya Jake akhirnya, menanggalkan gengsi idol-nya di depan sahabat grupnya.

Jay menutup majalahnya, berdiri, dan menepuk bahu Jake. "Berhenti bertingkah kayak pacar yang posesif kalau status lo cuma 'sahabat masa kecil'. Kalau lo nggak mau dia makin jauh, kasih dia ruang buat kerja, tapi jangan biarkan dia ngerasa sendirian."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!