Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Surat Panggilan
Queen masuk ke kamar Sofia dan Ellara. Keduanya tengah tertidur lelap. Queen lalu menatap dadanya dengan ekspresi pasrah. Sepertinya memang perlu dipompa. Mengingat kejadian tadi, betapa malunya dia.
Queen mengambil baju ganti dan pergi ke kamar mandi, setelah itu dia mulai memompa asinya untuk kedua bayi cantiknya.
Sementara itu, Bryan masuk ke dalam rumah dengan raut wajah linglung. Dia terus terbayang bayang saat Queen menutup dadanya dengan ekspresi malu.
"Ah, dasar otak sialan." Bryan tiba-tiba mengumpat dan mengacak acak rambutnya.
Ketiga saudara Bryan menatap Bryan dengan ekspresi aneh. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka menebak jika ini bersangkutan dengan ibu susu Ellara.
Kakek Lewis memanggil Bryan ke ruang kerja. Pria itu masuk dengan wajah datar. "Ada apa, Kek?"
"Kemarilah, ada yang ingin kakek bicarakan denganmu."
Bryan duduk berhadapan dengan kakeknya. Pria itu menunggu kakeknya berbicara. Akan tetapi, setelah cukup lama. Kakek Lewis belum juga mengeluarkan suara.
"Sebenarnya apa yang ingin kakek bicarakan denganku?" tanya Bryan tidak sabaran.
"Begini, Bryan. Apakah kamu tidak mau melakukan tes DNA."
"Kenapa aku harus melakukan tes DNA, bukankah Ellara sudah jelas adalah anakku. Dia memiliki golongan darah yang sama denganku. Kakek tahu kan pemilik golongan darah RH-Nul itu langka. Bahkan keturunannya belum tentu RH-Nul."
"Sofia juga memiliki golongan darah RH-Nul. kamu dan Queen memiliki golongan darah yang sama. Queen melakukan inseminasi di rumah sakit tempatmu menyimpan sp*rma. Bisa saja perawat keliru memberikan sp*rmamu pada Queen."
"Ya Tuhan, Kek. Bagaimana bisa kakek kepikiran hal itu. Kakek terlalu banyak menonton Drama ku rasa."
"Kau ini benar-benar menyebalkan. Apa salahnya dicoba. Kamu lihat sendiri, wajah Sofia dan Ellara hampir mirip. Hanya berbeda warna matanya saja."
"Sudah cukup, Kek. Jangan bahas masalah ini lagi, kalau Queen mendengar ini dia bisa marah."
"Kenapa harus marah? Dia seharusnya bersyukur karena dia tidak mengandung anak suaminya. Pria ba*jingan itu sungguh menjijikkan."
Bryan hanya menanggapi ucapan kakeknya dalam diam. Dia tidak bisa tidak memikirkan ucapan kakeknya itu. Ia rasa mungkin memang ada benarnya, tapi kemungkinan itu ia pikir terlalu mengada ada.
***
"Bagaimana? Apakah ada perkembangan dari penyelidikanmu?" Petugas polisi yang kemarin menangani kasus perampokan di rumah Queen menggelengkan kepalanya."
"Ini sungguh aneh."
"Apanya yang aneh?"
"Xavier Bucher terlihat pergi sore hari di mall bersama seorang wanita. Sepertinya mereka sepasang kekasih."
"Sudah ku duga sejak awal. Aku melihat pria itu tidak benar-benar peduli pada istrinya. Buktinya saat masuk rumah dia tidak langsung menemui istrinya, tetapi justru malah pergi ke ruang ganti dimana barang-barang itu hilang. Seolah dia terlihat sangat kehilangan."
"Bisa jadi dia memang tamak."
"Kamu benar."
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Panggil dia. Kita harus mengumpulkan keterangan darinya juga. Sekaligus mencari bukti keterlibatannya."
"Besok aku akan mengirim surat panggilan untuknya. Penyelidikan ini harus ada titik terangnya. Kalau tidak, nama baik kantor polisi ini akan tercoreng."
Mereka semua akhirnya sepakat untuk memanggil Xavier.
Keesokan harinya Xavier mendapat surat panggilan ke kantor polisi, Karna penasaran, Mia turut serta ke sana sebagai sekertaris Xavier.
Pria itu sama sekali tidak keberatan. Dia justru senang karena Mia mendampingi dirinya.
Setibanya di kantor polisi, Mia dan Xavier masuk ke ruang penyidik. Awalnya mereka tidak mengijinkan Mia masuk. Akan tetapi, Xavier berulang kali meyakinkan para polisi jika Mia tidak akan macam-macam. Dengan ekspresi menahan kesal, akhirnya mereka mengijinkan Mia berada di dalam ruangan.
"Tuan Xavier, kami akan mengajukan beberapa hal terkait masalah perampokan yang menimpa istri anda."
"Ya, saya pasti akan bekerja sama."
Satu jam berlalu, Xavier keluar dengan raut wajah letih dan tampak tertekan. Sepertinya berhadapan dengan penyidik lebih buruk dari pada menghadap Dekan. Meski hanya ada sepuluh pertanyaan, tetapi semuanya membuat fokus Xavier hilang. Salah satu pertanyaannya yaitu menanyakan di mana keberadaannya dan dengan siapa.
Awalnya Xavier tidak ingin mengakuinya, tetapi karena ada petugas polisi July, Xavier akhirnya mengaku jika dia tengah bersama Mia. Karena kebohongan itu lah, petugas polisi mencecar dia dengan pertanyaan yang lebih banyak dan mendetail.
"Apa mereka gila? Mereka mencurigaiku sebagai tersangka?" ujar Xavier kesal.
"Tenanglah. Sikapmu yang seperti ini yang membuat polisi mencurigaimu," kata Mia kesal.
Wanita itu sudah kesal terlebih dulu karena namanya diseret dalam masalah ini. Dia tahu jika polisi mungkin sudah bisa menebak hubungan mereka, karena waktu itu polisi menghubungi Xavier pagi pagi buta. Secara, mana mungkin ada sekertaris yang mengangkat ponsel milik atasannya di pagi buta.
"Sialan memang! Belum juga kita mengambil perhiasan Queen, tetapi justru malah kemalingan. Andai saja kemarin kita mengambil perhiasannya lebih dulu," ujar Xavier sembari memukul stir mobilnya.
Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan kantor polisi. Jully dan rekannya saling melempar tatapan. "Kalian menemukan celah?"
"Ya, selain dia berselingkuh, aku bisa melihat dia terlihat gugup dan tidak fokus. Sepertinya memang dia yang menyewa perampok itu."
"Kita harus perketat pengawasan padanya. Kamera CCTV diretas sampai sulit untuk dipulihkan. Jadi satu-satunya cara kita harus mengawasinya langsung."
Xavier tidak tahu jika dia menjadi sasaran target pengawasan polisi. Dia justru membawa Mia berbelanja lagi di sebuah pusat perbelanjaan.
"Sayang, kamu tidak pernah memakai kartu bankmu?"
"Gajiku sangat sedikit, Mia. Uang itu tidak cukup untuk kita."
"Kalau begitu bolehkah aku memakai kartunya untuk berbelanja?"
"Tentu saja boleh."
Xavier merasa bahwa uang di kartunya tidak mungkin sebanyak uang di kartu milik Queen. Ibaratnya deviden selama setahun, bisa jadi adalah gaji Xavier bertahun-tahun.
Dengan langkah ringan Mia menarik Xavier, mengunjungi satu per satu toko yang dia mau. Dalam waktu kurang dari dua jam, kedua lengan Xavier telah penuh dengan belanjaan. Mia sangat senang menggesek kartu bank Xavier.
"Mia, kurasa ini sudah cukup. Lenganku sakit sekali." Mia menghentikan langkahnya sambil cemberut. Namun, senyum di wajahnya segera terbit.
"Sayang, bisakah aku menyimpan kartu ini untukku?"
"Tentu saja."
Xavier tidak menyadari jika ulahnya kali ini akan berakibat fatal pada kehidupannya nanti. Tanpa perlu Queen bertindak terlalu jauh, Mia justru membuat semuanya berjalan sesuai yang diharapkan oleh Queen.
Suatu hari nanti Mia pasti akan menyesali semuanya. Dia masih tidak tahu nasib buruk apa yang akan menimpanya nanti. Yang jelas saat ini dia terlalu bahagia karena bisa berbelanja sepuasnya.
Mia pulang dengan hati yang senang. Dia menatap deretas tas belanjanya dengan ekspresi penuh kepuasan. Senyumnya mengembang lebar.
Mia langsung memeluk Xavier begitu mereka masuk ke dalam mobil.
"Sayang, terima kasih untuk semuanya."
"Apapun untukmu, Sayang," jawab Xavier sembari menarik wajah Mia dan lalu memagutnya dengan lembut."