Radit, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang rendah, mendadak mendapatkan sistem misterius yang mengubah nasibnya. Dari mahasiswa biasa, kini bangkit menjadi sosok bertopeng putih yang bengis. Seluruh kekuatan, duniah bawah, dan kejayaan diraihnya.
Di tengah puncak, ia kembali menemukan arti hidup melalui cintanya pada Rania. Namun, tragedi kampus merenggut segalanya. Amarah dan dendam bangkit kembali menghancurkan dunia.
Setelahnya pembalasan tersebut, Radit memulai hidup baru dan meninggalkan segalanya hanya demi satu hal. Dirinya yang kuat dan menemukan kembali cintanya yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Sistem Kehidupan Mulai Berubah
Kekuatan
Ia berdiri perlahan. Gerakan nya ringan, terlalu Ringan . Radit melangkah satu kali, lantai berderit halus. Ia mengepal kan tangan, lalu memukul udara. Angin terbelah, menghasil kan suara rendah yang membuat jendela kamar bergetar.
Mata nya melebar sedikit. " Aku..... " Dia melanjut kan bicara nya " Berbeda .... ?"
[ KENAIKAN RANAH SELESAI ]
[ RANAH HOST PRAJURIT AWAL ]
Sisa poin 47300.
Pagi hari di kampus selalu sama. Suara sepatu beradu dengan paving, tawa ringan mahasiswa baru, aroma kopi murah dari kantin, dan papan pengumuman yang di penuhi selembaran organisasi. Tidak ada yang istimewa dan justru itulah yang Radit butuh kan.
Ia berjalan di antara kerumunan mahasiswa dengan ransel sederhana di punggung nya. Jaket hitam, kaos polos, celana hitam yang sudah sedikit pudar, penampilan nya sama sekali tidak mencolok.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik langkah tenang itu, tubuh nya telah melampaui batas manusia.
Gedung Fakultas Ekoni menjulang tinggi di hadapan nya. Radit berhenti sejenak, mengamati pintu kaca yang memantul kan bayangan nya sendiri. Ia terlihat sama seperti kemarin, namun perasaan di dada nya berbeda.
Lebih stabil, lebih dingin, ia melangkah masuk. Ruang kuliah sudah setengah penuh. Beberapa mahasiswa sibuk membuka laptop, yang lain mengobrol tentang tugas dan gosip kampus. Radit memilih bangku tengah bukan deoan bukan juga belakang . Posisi yang tidak menarik perhatian.
" Dit.. ! "
Seorang pemuda melambai kan tangan, tubuh nya kurus, rambut nya yang sedikit berantakan, wajah nya selalu terlihat ceria.
Itu Agus, satu satu nya teman dekat Radit sejak semester awal.
" Pagi! " jawab Radit sambi duduk di sebelah nya.
" Kamu kenapa ? Kok akhir - akhir ini kamu kelihatan berbeda? " Tanya Agus sambil menyipit kan mata nya. " Lebih Segar ? "
Radit hanya mengangguk kecil.
" Kurang tidur mu yang berkurang, bukan penglihatan ku saja kan? "
Agus tertawa . " ah tetap dingin ya kamu. "
Dosen masuk, dan ruang kelas langsung hening. Materi hari itu tentang struktur ekonomi dan distribusi kekuasaan modal, topik yang biasa nya membuat mahasiswa menguap.
Namun tidak bagi Radit, setiap kata dosen tertangkap jelas, setiap konsep terhubung cepat di pikiran nya. Otak nya bekerja lebih efisien, lebih tajam. Bukan karena kecerdasan bertambah drastis, tetapi karena tidak ada lagi gangguan.
Ia menulis dengan rapi, cepat , dan tepat. Empat keluarga besar pikir nya. Jika ini negara... Maka mereka adalah tulang punggung nya.
Tanpa sadar, Radit mulai melihat dunia kampus bukan sebagai tempat belajar semata, tetapi sebagai miniatur dunia kekuasaan. Organisasi mahasiswa, kelompok elit, mahasiswa kaya semua nya bergerak dengan pola yang mirip.
Jam istirahat tiba.
Kantin kampus ramai, Radit dan Agus duduk di sudut , Masing masing dengan sepiring nasi dan lauk sederhana.
"eh, kamu dengar nggak? " Agus menurun kan suara nya. " anak Fakultas hukum itu, Wijaya Kusuma, kata nya bakal jadi ketua badan eksekutif mahasiswa. "
Radit berhenti mengunyah sejenak. Nama itu familiar.
"Kata nya keluarga nya besar banget. " lanjut Agus. " Sumbangan acara, ini, itu, Gilaaaaa benar benar Gilaaaa. " Guman Agus yang sangat kagum pada kekayaan keluarga Wijaya.
Radit mengangguk pelan. Anak master menengah pikir nya. Dunia kampus pun tidak steril.
" Bukan urusan kita. " jawab Radit datar.
Agus mengangkat bahu. " Iya sih. Kita mah cukup lulus saja. "
Namun Radit tahu, kampus adalah tempat terbaik untuk bersembunyi sekaligus mengamati. Tidak ada yang mencurigai mahasiswa biasa. Tidak ada yang mengawasi terlalu ketat. Sore hari, ia pergi ke perpustakaan.
Bangunan tua itu sunyi . Cahaya matahari sore masuk melalui jendela tinggi, memantul kan cahaya nya di rak - rak buku.
Radit duduk di meja pojok, membuka laptop dan mulai mengerjakan tugas. Namun sebagian perhatian nya tertuju ke sekeliling.
Langkah kaki, nada suara, ritme napas orang orang di sekitar. Tanpa ia sadari bahwa ia sedang melatih kontrol kekuatan nya.
Seorang mahasiswa menjatuh kan buku, Radit refleks bergerak terlalu cepat. Dalam sekejap, ia sudah berdiri dan menangkap buku itu sebelum menyentuh lantai.
Mahasiswa itu terkejut ... " ehhhh... Makasih...! "
Kemudian Radit menyerah kan buku itu tanpa ekspresi.
"sama sama! "
Ia kembali duduk, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Terlalu cepat pikir nya. Aku harus lebih menahan diri.
Menjadi prajurit awal di dunia biasa adalah ujian kontrol, bukan kekuatan. Menjelang malam, Radit berjalan pulang melewati gerbang kampus. Lampu lampu menyala satu per satu. Di kejauhan , gedung gedung tinggi kota berdiri angkuh.
Ia berhenti sejenak. Kehidupan kampus ini.... Tenang Hampir damai.
Namun Radit tahu, ini hanya fase. Ia bukan datang ke dunia ini untuk hidup tenang selama nya. Ia datang untjk naik.
"kampus hanya lah persinggahan. " gumam nya.
" tempat aku belajar memahami manusia. .. Sebelum melampaui mereka. "
Ia melangkah pergi menyatu dengan bayangan malam. Di mata dunia Radit hanyalah manusia biasa.
Bersambung....
lanjut kk, tetap semangat ya. saran aja sih, kalau ada waktu, sebelum lempar up, sebaiknya swasunting dulu, biar nggak terlalu banyak typo. 😊🙏🙏
ada beberapa typo ya thor, kalau sempet, ayo kita revisi. 💪
ceritanya bagus Thor, langsung subscribe, satu vote, dan dua iklan, untukmu. 😊.
ayo kita saling mendukung ya😊