NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dosen / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:195.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Pintu terbuka kasar.

Kaisar melangkah masuk dan membanting helmnya ke lantai hingga berbunyi nyaring, memantul di dinding rumah yang masih terasa asing bagi mereka berdua. Itu tanda yang sangat jelas dia masih marah.

Shelina yang berdiri tak jauh dari pintu menegang sesaat. Dadanya bergetar, tapi wajahnya tetap tenang. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, tidak pula menunjukkan sakit hati, meski di dalam dadanya, sesuatu seperti diremas pelan.

Ia menarik napas.

“Ayo bicara,” ucap Shelina, suaranya datar, terkendali.

Kaisar tak menjawab, dia melangkah masuk lebih jauh, melepas jaket dengan kasar, lalu menjatuhkannya di sofa tanpa peduli, tatapannya dingin.

Shelina mengikuti dua langkah di belakangnya.

“Kaisar.”

Tidak ada jawaban sama sekali.

“Kaisar,” ulangnya, sedikit lebih tegas. “Kita nggak bisa terus kayak gini.” Ucapan itu seperti menyulut api.

“Semua orang suka maksa!” bentak Kaisar tiba-tiba, berbalik tajam.

“Dari dulu sampai sekarang! Daddy, Mommy, Kak Aksa ... sekarang Miss juga!”

Shelina terdiam sesaat, ucapan itu menusuk, tapi ia memilih menelannya dalam-dalam. Dengan suara yang tetap sabar, hampir lembut, Shelina berkata,

“Kalau kamu masih marah, kamu boleh nggak pulang dulu. Aku nggak apa-apa.”

Kaisar mendengus, tatapannya sinis.

“Tapi,” lanjut Shelina, menatapnya lurus, “kamu nggak boleh marah-marah di dalam rumah ini. Ini rumah kita berdua.”

Kaisar tertawa pendek dan terdengar kering, tanpa humor.

“Bukan rumahku,” bentaknya. “Ini rumah Miss!”

Kalimat itu menghantam tepat di dada Shelina. Namun, Shelina tetap berdiri di tempatnya.

“Kaisar,” ucapnya pelan tapi tegas, “boleh bicara baik-baik?”

Ia melangkah satu langkah lebih dekat, menjaga jarak aman, seolah takut sedikit saja emosi mereka bersentuhan, semuanya akan runtuh.

“Kita harus bikin kesepakatan,” lanjutnya. “Ayo … ngobrol bareng.”

Di tengah rumah yang masih sunyi itu, dua orang yang terikat oleh keadaan berdiri saling berhadapan satu dengan amarah yang belum reda, satu lagi dengan luka yang disembunyikan rapi.

Akhirnya mereka duduk di meja makan. Duduk tidak berdampingan, melainkan berhadapan, masing-masing di ujung meja, dengan jarak yang terasa terlalu jauh untuk sepasang suami istri yang tinggal serumah.

Shelina meletakkan segelas jus jeruk di depan Kaisar, disusul roti panggang yang masih hangat. Gerakannya tenang, terukur. Ia menebak, bahkan tanpa bertanya Kaisar pulang dalam keadaan lapar. Dan kemungkinan besar, bertengkar dengan keluarganya. Keras kepala seperti itu jarang lahir dari kekosongan.

Shelina lalu duduk, menyesap teh hangatnya perlahan. Sesekali ia melirik Kaisar yang masih memasang wajah masam, rahangnya mengeras, sorot matanya penuh sisa amarah.

“Kai…” panggilnya pelan.

Kaisar mendengus kecil, hendak menyela, tapi Shelina langsung mengangkat tangan sedikit bukan menggurui, melainkan meminta.

“Kai, boleh aku lanjut dulu?” ucapnya lembut. “Sebelum aku selesai, kamu jangan menyela.”

Kaisar menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil. Shelina menarik napas, menata kata.

“Lain kali, meskipun kamu marah, kesal, atau capek … kamu nggak boleh minggat dari rumah lagi.” Ia menatap meja sejenak, lalu kembali menatap Kaisar.

“Usia kita terpaut sembilan tahun. Aku ngerti … itu bikin kamu malu, marah, merasa terpaksa.” Suaranya sedikit bergetar, tapi tetap terkendali.

“Aku setuju pernikahan ini kita rahasiakan. Dari teman-temanmu, dari orang-orang di sekitarku.” Shelina berhenti sejenak, menelan ludah.

“Tapi aku mohon … sekali aja,” suaranya melunak, hampir memohon,

“saat di rumah ... jadilah suami yang baik.”

Matanya berkaca-kaca, tapi tidak jatuh air mata.

“Aku akan berusaha jadi istri yang baik. Aku tahu tanggung jawabku. Tapi aku juga ingin kamu tahu … kamu punya tanggung jawab juga, boleh?” Keheningan menggantung di antara mereka.

Kaisar menatap jus jeruk di depannya lama, lalu akhirnya bersuara lebih pelan dari biasanya.

“Boleh, Miss.” Ia menghela napas, pundaknya turun.

“Semua boleh … Aku juga capek ribut sama Kak Aksa. Kalau Miss kesal dikit aja, mereka pasti nyalahin aku.” Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan dengan suara jujur yang nyaris lirih.

“Soal tugas … aku minta maaf. Bukan karena aku nggak mau ngerjain.” Kaisar mengangkat wajahnya, menatap Shelina.

“Aku ketiduran malam itu … setelah ngangkat Miss ke ranjang. Tangan aku ditahan, aku nggak bisa pergi. Alhasil … aku lupa sama tugas.”

Pipi Shelina langsung merona.

Ada malu yang menyelinap cepat, ia menunduk, menyembunyikannya di balik cangkir teh. Detak jantungnya sedikit tak karuan.

“Maaf,” ucap Shelina pelan. “Aku juga salah.”

Alis Kaisar terangkat refleks, kata yang tak pernah ia duga keluar dari bibir dosen killer itu. Shelina mengangkat wajahnya lagi, menatap Kaisar dengan sorot yang lebih hangat.

“Kalau di rumah,” katanya pelan,

“panggil aku Shelin aja.” Ia tersenyum kecil, tipis.

“Kita suami istri di rumah. Di kampus … kita tetap dosen dan mahasiswa.”

Kaisar terdiam, menatapnya lama.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang terasa canggung. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, menghitung jarak di antara dua orang yang sudah sah sebagai suami istri, namun masih terasa seperti orang asing.

Shelina berdehem pelan. Jemarinya saling bertaut di atas meja. Napasnya diatur, seolah kata-kata berikutnya adalah sesuatu yang sudah lama ia timbang, namun tetap terasa berat saat hendak diucapkan.

“Itu…” Ia berhenti.

Matanya terangkat, menatap Kaisar lama. Terlalu lama.

“Kita … sudah jadi suami istri yang sah,” lanjutnya akhirnya. Suaranya lebih pelan dari sebelumnya. “Aku tahu kewajibanku.”

Kaisar refleks menegakkan punggungnya.

Shelina menjeda lagi. Kali ini lebih lama. Ada sesuatu di sorot matanya yang bukan dingin, bukan tegas seperti di kelas tetapi melainkan ragu yang berbalut keberanian.

“Kalau kamu…” Ia menelan ludah.

“Kalau kamu pengen … aku bisa berikan.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah lolos dari benteng pertahanannya sendiri.

“Asal,” lanjutnya cepat, seakan takut kata-katanya disalahartikan,

“kamu nggak cari orang lain di luar.”

Shelina menunduk sedikit, jantungnya berdegup keras, dia tidak berani melihat ekspresi Kaisar. Dalam kepalanya, hanya ada satu ketakutan, Kaisar masih muda, liar, dan tak pernah kekurangan pilihan. Lebih baik ia menawarkan diri dengan sadar daripada suatu hari dikhianati tanpa ia siap.

Sementara itu, Kaisar membeku di kursinya

Matanya membesar, napasnya tertahan setengah detik.

'Apa … ini Miss Shelina barusan… menawarkan diri?' Pikirannya berisik.

1
Aji Priatun
suka
Raisha
maaf Thor,aku kok agak bingung sama kalimatnya ya, yg nyetir kan kaisar tp kok kalimatnya aneh gitu?🤔..."tangan kiri tetap memegang stir tp tangan kanan tak pernah benar² melepaskan jemari selina",gitu kan ya? emang bisa tangan kanan pegang tangan orang yg duduk di sebelah kirinya,apa gak susah nyetirnya? kalo setir mobilnya sebelah kiri,lha itu baru bisa & masuk akal...Maaf ya,kalo aku salah
Raisha: terimakasih kak author🙏😃
total 2 replies
Nani Te'ne
suka
Nanik Arifin
sampai end Arman g keluar kata maaf tuk Kaisar & menjelaskan semuanya ?
hanya merima takdir gitu aj ? itu mah merendah, nunduk ke sesama aj g. baru bisa nunduk Tuhan dia
Eka
tjor lel.aska lanjit tjor ku tunggu jangan lama2
Aisyah Alfatih: udah tamat ya kak 🙏 Aksa nikah di novel sebelah di eps terakhir 🙏
total 1 replies
nuraeinieni
happy ending,,,,trimakasih thor,karyanya bagus,,,di tunggu karya barunya.
nuraeinieni
syukurlah ibu dan bayinya selamat,,,selamat kai,shel sekarang sdh jadi orang tua
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
cepat banget tamatnya, sist? aksa aja belum nikah.
Aisyah Alfatih: nikah di sebelah kak, 🤭🙏 udah aku bagi info...
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah bahagia semuanya
Naufal Affiq
semua karya kakak tamat
Aisyah Alfatih: tgl 3 rilis karya baru ya kak 🙏
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah selamat
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
tidak sepenuhnya tamat kan, sist?
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
alhamdulillah... semua selamat
SLina
thor bonchap dong 😊
Aisyah Alfatih: nanti di pikirkan ya kak, ini masih bingung 😁
total 1 replies
Teh Euis Tea
alhamdulilah semuanya sudah berdamai dan bahagia, makasih thor sudah melanjutkan cerita ini sampe tamat, sehat selalu untuk othornya di tunggu novel selanjutnya
Fenty: g chapter ni Thor?
aksa kan belum nikah
total 3 replies
Teh Euis Tea
duh sampe deg degan aku bacanya takut shelina ga ada umur, syukurlah selamat 22nya
Nanik Arifin
klo Aksa yg salah besar aj bisa minta maaf, apa kau masih dg egomu, Arman ?
kata"mu kemarin yg bilang, "Aksa anakku" itu sangat menusuk. seolah Kirana tak pernah jd ibu Aksa pdhl justru Aksa lah yg dekat lbh dlu drpd kamu. Kirana tak pernah membedakan Aksa dg darah daging sendiri, tapi kamu ??
Kinara menanggung ini puluhan tahun, seusia Kaisar ttnya. sekarang capek, wajar. yg g wajar itu kamu, Man. membenci darah daging sendiri & membawa anakmu yg bukan keturunan Kinara menjadi alatmu tuk menghancurkan Kaisar. anak laki" satu" nya Kinara
Nanik Arifin
emang murni itu Ken ego kamu, Man. Aksa hanya berusaha membuat Kaisar bertindak terkendali & dewasa. atau... itu titipan pesanmu, Man... kebencian yg dibungkus kearifan & kepatuhan Aksa membuatnya berpikir itu usahamu merendahkan Kaisar darah dagingmu. Krn bungkusmu tll rapi, Aksa pikir itu logis. Ayah yg ingin mendidik anaknya mjd lebih baik
SLina
lanjutannya mana thor?
Aisyah Alfatih: udah update ya kak, udah tamat di bab 56🙏
total 1 replies
SLina
ipar y sgt keren.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!