Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Kematian dan Kelahiran Kembali
Bak seseorang yang hatinya patah, Ratih juga merasakan dunianya seolah runtuh. 5 tahun lamanya, dia menjadi istri yang selalu mementingkan kepentingan suaminya. Karirnya yang cemerlang, dia tinggalkan demi menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak, yang bahkan anak simpanan suaminya.
Air matanya sudah habis, dia keluar dari dalam mobilnya dengan mata sembab, menuju ke rumah mewahnya yang bahkan dibangun sesuai dengan keinginan suaminya.
Ratih melangkah dengan langkah gontai.
Dari arah rumah, keluar seorang wanita paruh baya. Pengasuh yang menemaninya sejak kecil. Melihat Ratih yang begitu sedih, pelayan itu bergegas menghampiri Ratih.
"Nyonya, nyonya kenapa?"
Ratih menoleh, dan langsung memeluk pelayannya itu.
"Bibi Erma!"
Tangisnya pecah, dia tidak memiliki siapapun lagi. Kedua orang tuanya sudah tiada tiga tahun yang lalu. Karena sebuah kecelakaan. Hanya bibi Erma yang dia percaya saat ini.
"Mas Fandi, bi. Mas Fandi!"
Ratih seolah mengadu, berusaha membagi beban berat di dalam hatinya. Rasa sesak itu, rasa kecewa, rasa sedih, sakit yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Dia menumpahkannya lewat air mata di pelukan seseorang yang sudah dia anggap keluarga, bukan pelayan semata.
Usapan lembut bibi Erma di punggung Ratih, membuat Ratih tahu. Setidaknya dia tidak sendirian, tidak benar-benar sendirian.
Malam semakin larut, Ratih masih berdiri diam di belakang jendela kamar Naufal. Jika Naufal bukan anaknya, lantas dimana anaknya. Jawaban itu sungguh hanya bisa diberikan oleh Fandi, namun saat ini dia sungguh tidak ingin melihat Fandi. Dia takut tidak bisa menahan diri dan melakukan sesuatu yang akan dia sesali di kemudian hari.
Butiran air mata itu menetes lagi, 5 tahun lamanya. Artinya anaknya ada di luar sana selama 5 tahun ini. Entah bagaimana nasibnya. Pasti banyak kesulitan di luar sana. Sementara dia memanjakan anak orang lain, dengan kasih sayang dan kemewahan, dia tidak tahu apakah di luar sana anaknya bahkan bisa makan.
Air mata itu tak kunjung berhenti. Dia sudah menghubungi pengacaranya, untuk datang besok. Untuk membantunya mencari anaknya. Dia sudah berencana mengatakan semuanya pada pengacaranya.
Ceklek
"Nyonya, nyonya belum makan dari siang. Setidaknya minumlah susu hangat ini, nyonya!" kata bibi Erma.
Ratih menoleh ketika bibi Erma berjalan menghampirinya.
"Nyonya, nyonya harus kuat. Besok pak pengacara Markus pasti akan membantu nyonya menemukan anak nyonya yang sebenarnya. Minum dulu susunya selagi hangat, ini akan nyaman untuk perut nyonya!"
Bibi Erma menyerahkan gelas berisi susu putih hangat itu pada Ratih. Ratih menerimanya, meminumnya setengah.
"Terima kasih, bi Erma. Bibi istirahatlah, bibi pasti lelah!"
Bibi Erma meraih gelas itu, tapi tiba-tiba saja pintu kamar Naufal itu terbuka. Fandi dan Sarah masuk bersama.
Mata Ratih terbelalak lebar, dadanya bergemuruh, dia merasa begitu marah melihat keduanya.
"Berani-beraninya kalian datang kemari? bibi Erma, usir mereka pergi!" pekik Ratih yang memang tidak ingin melihat kedua pengkhianat itu.
"Nyonya, mana mungkin aku mengusir anakku sendiri?"
Deg
Ratih tertegun, matanya melebar. Menatap bibi Erma dengan raut wajah kaget bukan main.
"Anak?" tanya Ratih.
"Iya, bibi Erma adalah ibuku!" kata Sarah.
Ratih terhuyung, dia tidak percaya semua ini. Semua orang yang dia makan, semua orang yang dia anggap keluarga, ternyata para penipu.
"Uhukkk!"
Ratih merasa dadanya sesak, dan ketika dia batuk, cairan merah keluar dari mulutnya.
"Karena kamu sudah mau matii, maka aku akan katakan semuanya padamu. Percuma kamu cari anakmu, dia sudah kamu jual. Dia kami jual pada orang yang akan menjadikan dia pengemis di pinggir jalan. Aku dengar orang itu tak segan mematahkann kaki atau tangan, supaya banyak yang kasihan pada anak-anak yang dijadikan pengemis di jalanan itu!"
Ratih marah, mata dan wajahnya merah. Di sudut bibirnya kembali mengalir cairan merah itu.
Dadanya sakit, dia ingin memukul Fandi. Tapi dia malah terjatuh di lantai.
Brukk
"Susu itu beracun, kamu akan matii, nyonya!" kata bibi Erma yang mendekati Sarah dan merangkulnya.
"Kalian semua, kalian semua jahat!" pekik Ratih dengan semua sisa tenaganya.
"Orang tuamu, bukan jatuh ke jurang tanpa sengaja juga Ratih..."
Mata Ratih makin melebar, sakit di dadanya akibat racun itu tak sebanding dengan rasa sakit ketika dia mendengar pengakuan lain dari Fandi.
"Remnya blong, aku yang melakukannya. Satpam Joni, dia orangku. Dia yang melakukannya!"
Ratih seperti tertusukk dan tertusukk lagi. Kenapa orang-orang yang dia percaya semuanya menaikannya dari belakang seperti itu.
"Kamu merasa sendirian ya? tapi itu salahmu. Orang-orang yang setia malah kamu usir!"
"Itu karena kalian!" pekik Ratih, "kalian sudah menipuku..."
"Ya, dan kamu harus matii sekarang! Besok, pengacaramu akan datang, dan mengatakan kamu terkena serangan jantung!"
Ratih menggelengkan kepalanya. Pengacaranya juga? sungguh dia ingin menertawakan betapa bodohnya dirinya. Bagaimana bisa dia menyingkirkan orang-orang kepercayaan ayahnya, dan menggantinya dengan semua orang Fandi. Dia benar-benar sudah butaa.
"Kalian akan dapat balasan... agkh!"
Fandi mencekikk leher Ratih.
"Balasan? balasan katamu?" Fandi terkekeh, "bahkan kamu akan mati. Wanita kotor sepertimu, menurutmu pantas untukku!"
Brakk
Fandi kembali menghempaskan tubuh Ratih.
Ratih kesakitan, nafasnya terasa semakin tercekat dan pendek-pendek.
"Anak itu anakmu, kenapa kamu tega...." Ratih masih berusaha menyadarkan Fandi. Anaknya juga anak Fandi, kenapa harus sekejam itu pada anaknya sendiri.
Jika pun dia harus mati, setidaknya Fandi harus menyelamatkan anak itu.
"Yang menyelamatkanmu malam itu dari para perampok bukan aku! yang memberimu penawar obat itu juga bukan aku. Ada seseorang yang mendahuluiku. Tapi, karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi orang kaya maka aku menikahimu. Anak itu bukan anakku!"
Ratih memejamkan matanya. Dia benar-benar menganggap Fandi penyelamatnya. Ternyata bukan. Betapa bodohnya dia.
Dadanya terasa sesak, meski sudah mengetahui semuanya. Dia juga tidak bisa melakukan apapun. Ratih terkulai lemas di lantai, pandangannya mulai kabur. Meski begitu dia bisa melihatnya samar. Ketiga orang di dalamnya sedang tertawa.
"Aku tidak akan memaafkan kalian! aku akan membalas...."
Brukk
Bip
Bip
Bip
"Ratih, Ratih?"
Ratih membuka matanya perlahan, semuanya putih. Dia pikir dia sudah matii. Tapi beberapa saat...
"Ratih, akhirnya kamu bangun. Jangan tidur nak, setelah melahirkan kamu tidak boleh tidur!"
"I...ibu!"
Ratih melihat ibunya.
"Iya ini ibu. Selamat ya nak, anak kamu laki-laki. Bibi Erma sedang mengikuti perawat yang membersihkannya..."
Ratih mencubit tangannya sendiri. Dan rasanya sakit.
'Ini bukan mimpi!' batinnya.
Ratih melebarkan matanya, dan berusaha bangun.
"Jangan bangun dulu..."
"Bu, tolong ikuti bibi Erma. Awasi anakku Bu, jangan biarkan dia sendirian, jangan biarkan anakku bersama bibi Erma. Cepat Bu!"
***
Bersambung...
biar Sarah jadi gila 🤣
Bahwa Rafa dan Ben banyak banget kemiripannya..
Perlu di selikidiki nih fakta kebenarannya..
Kalau perlu, Rafa & Ben melakukan tes DNA..
Untuk mengungkapkan fakta yg sebenarnya..
Bahwa malam kejadian itu, Ben lah yang bersama nya..
Bukan Fandi yg me ngaku² yg menolong nya..
Hingga Ratih terpedaya oleh tipuan Fandi padanya..
Jadi penasaran, bagaimana kisah awal kejadian nya.. 🤔
Tanpa menyadarinya, cinta tumbuh begitu saja di dalam hati 2 insan manusia..
Semisal tadinya hanya menganggap teman biasa saja..
Namun karena selalu bersama, terbiasa ada, dan saling mengenal 1 sama lainnya..
Maka saat itulah muncul rasa ketertarikan di hatinya..
Seseorang menyadari bahwa itu adalah perasaan cinta, ketika mereka berdua mulai ada rasa kehilangan salah satunya..
Dengan status teman di awalnya, justru kita bisa mengenal lebih baik tentang masing² karakter & kepribadiannya..
Berbeda dengan mereka yg langsung status pacaran di awalnya, terkadang justru lebih berpotensi untuk menerima orang yang salah dalam hidupnya..
Kenapa..?
Karena ketika kau menerima seseorang dengan status pacar, maka kau mengira bahwa seolah-olah dialah jodohmu yg sesungguhnya.. 😁
Begitu pula perselingkuhan, yg terbiasa selingkuh gak akan jera sebelum datang nya penyakit mematikan, dan di rajam sampai mati.. 🤭
Jangan kau mencintai karena ketampanan, sebab ketampanan bisa lenyap termakan usia..
Namun cintai lah dia karena akhlaknya, karena dia tak kan mudah tergoda..
Dan cintai lah dia karena karakter & sifatnya, karena kau tak kan punya alasan lagi untuk membencinya..
Karena dia yg setia, tak kan memandang mu sebelah mata...
Dia yg sayang padamu, tak kan tega membuat mu terluka..
Dan dia yg mencintaimu dengan tulus, tak kan pernah membuat mu kecewa..
Assseeekk.. 💃🏻💃🏻🤭
Namun jangan kau kira semua orang baik padamu.. "
Percaya boleh.. Waspada tetap..
Sebab terkadang justru orang terdekat lah yg paling sering & tega membuat mu terluka dan kecewa karenanya..
Bukan lah begitu..? 😊
Kau minta di hargai sebagai suami..
Sedangkan Ratih sebagai istri tak pernah kau hargai..
Kau malah berselingkuh di belakang istri..
Kau berpura-pura baik di depan istri..
Namun kau menginginkan istri mu mati..
Apa suami seperti itu pantas untuk di hargai..
Bahkan kau sendiri adalah tipe lelaki yg gak tau diri dan gak punya hati..
Tidur saja sana kau Fandi, jangan pernah terbangun lagi dari mimpi² hingga kau mati.. 😏😁
Sejak kapan dia punya jiwa keibuan..
Jika dia punya, kenapa bayi Naufal dia tumbal kan..
Padahal Rafa & Naufal sama² bayi yg tak berdosa, justru kau menjual anak mu sendiri demi keuntungan..
Yasudah, nikmati saja hari² mu seperti itu, yg menyakitkan..