Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Suami, Tapi Penindas
Pagi ini, semangatku seolah lenyap tak berbekas. Rasanya hampa karena sosok kecil yang biasanya menemaniku kini tak lagi ada di sisiku.
Pikiran buruk mulai merayapi benakku; haruskah aku kembali mengorbankan harga diri dan tubuhku pada laki-laki itu hanya agar aku bisa mendapatkan putriku kembali?
Namun, aku segera menepis pikiran gila itu. Aku tidak boleh memaksakan keadaan dengan cara yang salah. Mungkin saat ini, aku harus belajar untuk lebih bersabar, meski dada ini rasanya sesak luar biasa.
Aku menyeret langkah menuju kamar mandi, lalu ke dapur untuk menyeduh teh hangat, mencoba menenangkan saraf yang tegang.
Mamak, yang biasanya sibuk mengurus Melsha di jam seperti ini, kini hanya bisa menumpahkan kesedihannya dengan mencuci baju pagi-pagi sekali. Kesunyian rumah ini terasa sangat menyiksa.
Melsha kini berada di bawah kendali ayahnya. Bayangan kejadian semalam terus berputar di kepalaku. Saat aku dan Bapak datang untuk menjemputnya, suasana justru pecah menjadi pertengkaran hebat.
Bapak dan Ahmad terlibat adu mulut yang sangat panas, hingga penjemputan itu berakhir gagal dan aku terpaksa pulang dengan tangan hampa.
(Flasback on)
Malam itu, pukul 21:00, aku sudah berada di rumah mertuaku. Sambil menunggu kedua orang tua Ahmad selesai sholat di mushola, aku duduk dengan perasaan tidak karuan.
Tiba-tiba, aku melihat Melsha datang merangkak ke arahku. Hatiku hancur, mungkin dia merasa haus dan ingin menyusu.
Segera kupangku ia dan kuberikan susu; dia meminumnya dengan tenang dalam dekapanku. Bapak yang menemaniku hanya terdiam, sebelum akhirnya memulai pembicaraan dengan Ahmad.
"Jadi begini, Mad. Maksud kedatangan Bapak ke sini ingin membawa Melsha kembali ke rumah. Itu pun jika kamu mengizinkan. Jadi, bagaimana?" tanya Bapak mencoba tenang.
"Saya tidak mengizinkan Melsha dibawa, kecuali Yani mau tinggal lagi di rumah ini," jawab Ahmad ketus. Jawaban itu membuat darahku mendidih.
"Aku tidak mau lagi tinggal di sini! Kamu selalu kasar dan ringan tangan. Asal kamu tahu, Bapak yang membesarkanku saja tidak pernah kasar padaku! Tapi kamu? Kamu hanya suami, bukan orang yang melahirkanku! Apa pantas kamu memperlakukanku seperti itu?" sahutku berapi-api. Aku tidak peduli lagi meski Bapak memberi isyarat agar aku diam.
"Tapi aku suamimu!" bentaknya keras.
"Kamu berani membentakku di depan Bapakku?! Gila kamu ya! Suami? Apa pantas kamu disebut suami kalau kerjamu cuma memukuli wanita? Apa pantas kamu disebut laki-laki? Hah!" balasku, tak sudi kalah gertak.
"Sudah! Sudah!" Bapak menengahi perdebatan kami yang semakin panas. "Jadi, sekarang apa maumu, Mad?"
Aku menatap Ahmad dengan kebencian mendalam. "Kali ini aku tidak akan sudi tinggal di rumah yang hanya penuh luka. Oke, silakan kamu rawat anak itu sekarang. Tapi awas saja kalau sampai dia tidak terurus dengan baik! Ayo pulang, Pak!" ujarku dengan suara bergetar menahan tangis.
Melsha yang tadi menyusu di pelukanku direnggut paksa oleh ayahnya dan dibawa masuk ke kamar.
Ahmad seolah tak ingin anaknya mendengar kegaduhan antara orang tuanya, meski tindakannya merampas anak dari ibunya justru lebih kejam.
Malam itu kami pulang dengan tangan hampa. Aku memutuskan satu hal 'aku akan kembali bekerja sekeras mungkin. Aku akan mengumpulkan uang untuk menyewa pengacara hebat agar bisa mengambil kembali hak asuh anakku secara hukum.
Disa'at aku berdiri lalu masuk kedalam ruangan, hanya sekedar berpamitan dengan anakku. Akan tetapi suamiku langsung ingin mengurungku didalam ruangan itu, namun bapak dengan sigap menendang pintu itu sampai suamiku terjengkang. Aku ambil anakku lalu lari kerumah rt karna suami dan bapakku berkelahi.
Anakku menangis sekencang mungkin, dan aku menenangkan nya diluar rumah, biar kan pak rt yang melerai nya.
"Cup cup cup, anak mamah diam ya? Jangan nangis lagi ada mamah kok disini?." Ucapku sambil menimang melsha
Setelah didalam sudah bisa dikendalikan, aku pun masuk dan melihat pak rt dan suami, bapak sudah duduk di kursi ruang tamu kembali.
Aku pun juga ikut masuk setelah melsha tenang, aku turunkan beliau kedalam ruang tivi kembali.
"Duduk sana bentar ya sayang." Ujarku dan melsha pun kembali bermain didepan televisi. Aku yang melihat bapak dan ibu mertua ku kembali. Mereka pun juga ikut nimbrung ditempat duduk
"Mad, anak itu bukan mainan yang diperebutkan, jika mau merawat anak itu boleh nggak apa-apa, tapi sama ibunya jangan lah main sesuka hati kamu." Ucap pak rt yang menengahi kami.
"Iya pak saya tau, cuman saya minta istriku tetap disini, tapi dia tidak mau pak makanya saya terpaksa sa'at pulang ku kurung didalam." Jawab ahmad namun aku mendelik lalu berucap.
"Sejak awal tadi aku nggak mau? Karna aku juga ada pekerja'an diluar. Nggak mungkin aku akan tinggal di sini, ini ma'af ma'af saja ya pak rt, bukan maksutku lebih mentingin kerja'an atau tinggal disini bersama anak, cuman aku lebih nggak suka nya disini dia bakal seenaknya saja sama aku. Apalagi dia sudah lama nggak nafkahi aku dan anakku, tiba tiba kok seenak jidat dia ambil anakku." Umpatku sehingga pak rt pun manggut-manggut.
"Jadi mau kalian apa?." Sahut bapakku
"Aku mau kami bercerai." Akupun menyela lebih dulu, lalu bapak mertuaku pun ikut nimbrung
"Ni ma'af saja ya, saya sebagai orang tua ahmad tidak setuju perceraian ini. Ahmad menang banyak salah nya banyak kurangnya, tapi ku rasa dia begini karna ada maksut tertentu?." Ucapnya
Aku mendengar itu dari mulut seorang bapak, yang sangat membela anaknya sungguh aku pun terkagum.
"Lah kenapa bapak nggak setuju? Hah, bapak tau nggak anak bapak memukulku berulang kali lo? Terus selama berbulan bulan dia kemana aja pak? Anakmu nggak pernah kasih aku uang makan. Uang belanja, uang jajan anak lalu sekarang dia dengan gampangnya mengambil anak. Kemana aja dia pak selama ini!? Aku kerja bantingtulang sendirian anak sakit bapakku yang bayari biaya anak? Dan acara aqiqah kemarin anak lahiran bapak yang biayai, terus bapak mertua ku kemana hah, nggak ada kan bapak datang?." Umpatku sehingga suamiku pun ikut berdiri.
"Jaga ucapanmu sama bapakku ya!?." Pekik ahmad
"Kenapa! Memang kenyata'an kan orangtuamu nggak ada datang, jangankan dia membantu acara aqiqah anakmu, jenguk kerumah pun tak ada, harusnya dia senagai orang tua atau nenek dari anakmu datang kerumah? Lagian ada kok motor yang nganterin." Ujarku
"Sudah, sudah, sekarang sudah jelas kan mau anakku seperti apa? Jadi saya tunggu undangan mu mad untuk menceraikan anakku. Kalau tidak jangan salahkan aku yang bisa melaporkan mu kapan saja, atas penganiayayan kdrt." Ancam bapakku lalu kami pun pergi meninggalkan rumah terkutuk bagiku.
(Flasback off)
Selesai membantu Mamak membereskan pekerjaan rumah, aku duduk terdiam sembari menggenggam ponsel. Suasana rumah terasa berbeda, ada kekosongan yang menyesakkan tanpa kehadiran Melsha.
"Kamu tidak makan, Nak?" tanya Mamak lembut sembari menghampiriku.
"Nanti saja, Mak. Oh ya, Adik ke mana? Tadi sepertinya aku mendengar suaranya," tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan dari rasa sedih. Suara perempuan itu terdengar sangat akrab di telingaku.
"Mungkin sedang ke rumah kakak sepupumu," jawab Mamak singkat. Aku hanya mengangguk pelan mengerti.
"Mak, setelah tiga hari ini, aku mau kembali bekerja. Aku ingin menyibukkan diri agar tidak terus-menerus teringat kejadian kemarin," ujarku menyampaikan niatku. Aku butuh bekerja, bukan hanya untuk uang pengacara, tapi juga untuk menjaga kewarasanku.
Mamak tersenyum tulus lalu mengelus rambut panjangku dengan kasih sayang. "Iya, tidak apa-apa. Yang penting kerjanya yang benar dan jaga kesehatan," katanya menenangkan.
"Iya, Mak. Siap," sahutku sambil memeluk Mamak erat. Di pelukannya, aku merasa sedikit lebih kuat.
Aku membatin dalam hati Tidak apa-apa jika hari ini aku tidak merasa baik-baik saja.
Aku manusia, dan aku berhak merasa lelah. Berhenti sejenak bukan berarti menyerah; aku hanya sedang mengumpulkan tenaga untuk kembali melangkah.
Aku mencoba menerima rasa sakit ini, tapi aku bersumpah tidak akan membiarkannya mengendalikan masa depanku.
Badai yang hebat tidak akan bertahan selamanya. Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi. Aku pernah melewati hari-hari sulit sebelumnya, dan aku yakin akan berhasil melewati badai yang satu ini juga.
Bersambung...