Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Hana!"
Alan memanggil lirih saat mengenali gadis yang berpakaian hitam di dalam gerbang. Ia mendekati gerbang, menggenggam erat besi yang menghalangi mereka.
"Pergi dari sini!" Hana menodongkan senjata kepadanya.
Dari sikapnya memegang senjata, Alan seperti melihat seorang profesional sedang membidik.
"Hana! Dengarkan Kakak. Kakak ...."
Dor!
Satu tembakan dilepaskan Hana di dekat gerbang. Alan berjingkrak mundur, terkejut dengan tembakan yang tiba-tiba itu.
"Tuan Muda!" Hans dan Jonas ikut tercengang.
"Nona Hana tidak main-main. Dia tidak ingin berbicara dengan Anda, Tuan Muda," ucap Jonas melihat Hana yang tak segan melepaskan tembakan.
"Hana, dengar! Kakak datang untuk meminta maaf kepadamu, Hana. Bisakah kita berbicara? Kakak tahu selama ini Kakak sudah salah. Kakak minta maaf kepadamu, Hana," ucap Alan memohon dengan sangat.
Hana bergeming, kembali membidik Alan. Lalu ....
Dor!
Tembakan kedua pun dilepaskan, membuat Alan dan dua asistennya memilih mundur.
"Tuan Muda, Nona Hana benar-benar tidak sedang bercanda. Dia tidak ingin bertemu dengan kita," ucap Jonas lagi semakin mengkhawatirkan Alan.
"Ini desa Amanaly, bukan kota Eldoria! Kalian tidak bisa berbuat seenaknya di sini. Pergilah!" usir Hana lagi seraya mempersiapkan kembali senjatanya.
Namun, Alan tidak menyerah. Ia harus mendapatkan maaf dari Hana hari itu juga dan memperbaiki hubungan mereka. Alan kembali merangsek ke depan, memohon kepada sang adik. Ia yakin, Hana tidak akan sampai hati membunuhnya.
"Hana, Kakak mohon. Biarkan Kakak masuk dan kita bicara baik-baik. Hana, kau adik perempuan Kakak satu-satunya. Maafkan Kakak karena selama telah dibutakan oleh sikap Shopia," ucap Alan lagi merendahkan diri sebagai penguasa keluarga Haysa.
"Aku tidak punya kakak sepertimu. Kembalilah ke pelukan adikmu. Kalau sampai dia tahu kau datang ke sini untuk merayuku, dia pasti akan merasa sedih. Pergilah! Aku bisa hidup dengan baik tanpa kalian," sarkas Hana menohok hati Alan.
Alan tertegun, hatinya merasa tercubit karena ucapan sang adik. Ia tahu, tak akan mudah untuk mendapatkan maaf dari Hana, tapi Alan tak ingin menyerah.
"Tapi, Hana ... aku ...."
"Cukup, Alan! Tahukah kamu, hanya dengan membunyikan lonceng di sana aku bisa menggerakkan seluruh desa untuk mengepung kalian," ujar Hana mengangkat tangan menunjukkan lonceng besar di atas menara yang berada di belakang villa.
Bi Sum melirik, ia menahan ekspresi meski terkejut dengan ucapan Hana. Sudah lama sekali lonceng itu tidak dibunyikan. Jika dibunyikan maka tidak menutup kemungkinan seluruh penduduk desa Amanaly akan berbondong-bondong datang ke bukit dan menerima pemimpin baru mereka. Siapapun yang menempati villa itu, maka akan menjadi pemimpin bagi desa Amanaly yang subur akan kekayaan alamnya. Itulah warisan sesungguhnya dari sang nenek.
Di sana sudah berdiri seorang pelayan yang memegang tali lonceng dan bersiap untuk membunyikannya.
"Hana, jangan bercanda! Para penduduk jauh dari bukit ini, mana mungkin mereka akan datang," ucap Alan tidak percaya.
Hana melirik setiap kepala, sebagian dari mereka bahkan menertawakan Hana.
"Terserah. Percaya atau tidak aku tidak peduli," ucap Hana acuh tak acuh.
Aku hanya ingin tahu menjadi pemilik villa ini artinya menjadi pemimpin untuk desa Amanaly. Hanya dengan suara lonceng bisa menggerakkan seluruh desa.
Alan dan yang lainnya terlihat bingung, apalagi ekspresi wajah Hana tidak seperti orang yang tidak sedang bercanda.
"Hana ...."
Hana mengangkat tangan, menghitung dengan jari. Setiap satu gerakan jari, pelayan di menara akan menarik tali lonceng.
"Satu ...."
Alan melirik pada menara tinggi, lonceng besar itu memang akan terdengar ke seluruh desa jika dibunyikan.
"Dua ...."
Deg!
Jantung Alan berdebar, peluru saja bisa Hana lepaskan, apalagi hanya sebuah lonceng. Meski meleset, tapi kemungkinan itu disengaja.
Hana mengangkat jari ketiga, dan pelayan di menara menggenggam erat tali lonceng hendak mengguncangnya. Dalam kurun waktu lima puluh tahu, lonceng itu belum pernah lagi dibunyikan. Hana akan mencetak sejarah, memanggil seluruh desa.
Alan bergetar cemas, memperhatikan gerakan bibir Hana yang hendak berucap. Ia meneguk saliva, hatinya bimbang. Apakah harus bertahan atau mundur terlebih dahulu.
"Ti ... ga!"
hai jalang gk tau diri lo