Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Cemburu Tak Kasat Mata
Langkah kaki Bastian segera menuju ke rumah belakang panggung tempat Ningsih berada. Bastian melihat Ningsih yang masih sibuk merias beberapa orang di sana.
"Ning, Seruni mana?" tanya Bastian secara to the point menyapa sahabat istrinya itu karena ia tak melihat Seruni di dalam rumah tersebut.
"Loh, aku gak tau Bang Bul. Seruni belum ke sini,"
"Masa?"
"Iya, Bang Bul. Kalau nggak percaya, tanya saja sama orang-orang di sini."
Para penari di rumah itu pun kompak menjawab pada Bastian bahwa mereka belum melihat Seruni ke rumah itu.
"Ya sudah, Ning. Aku mau cari Seruni di luar. Mungkin ia pergi ke bazar depan jalan beli jajan atau minuman," ujar Bastian berusaha menekan rasa cemburu dan emosinya saat ini.
"Oke, Bang Bul."
Sebenarnya, Bastian tak percaya dengan ucapan Rasti tentang Seruni yang pernah dicicipi oleh Ardi. Sebagai pria dewasa yang sangat paham betul wanita dan hal yang menjurus ke arah hubungan in_tim, Bastian menyimpulkan Seruni masih gadis.
Hanya saja kata pernah mencicipi seketika membuat api cemburu tak kasat mata mendadak datang menyerbu hatinya.
Entah apa yang sudah dicicipi Ardi ?
Ciuman bibir atau ciuman da_da. Bastian tak tau dan masih meragu untuk semua itu.
Langkah Bastian yang hendak menuju pintu, seketika terhenti. Ia berbalik badan dan kembali menuju Ningsih. Hal ini cukup membuat Ningsih heran.
"Kenapa lagi Bang? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Ningsih.
"Aku boleh minta tolong, Ning?"
"Hah, minta tolong apa?"
"Ke sini sebentar. Penting," ucap Bastian seraya memberi kode agar Ningsih mendekat padanya.
Dikarenakan hal yang hendak dibicarakan oleh Bastian pada Ningsih cukup rahasia. Ia tak ingin ada orang lain yang mendengarnya.
Tanpa banyak basa-basi Ningsih berdiri dari kursinya dan berpamitan sejenak pada para penari di sana. Bastian dan Ningsih lalu memilih berdiri di sudut rumah tersebut yang terlihat sepi.
Bastian langsung mengutarakan hal penting tersebut pada Ningsih dengan suara lirih. Lalu, Ningsih menganggukkan kepalanya kecil di depan Bastian.
Detik selanjutnya, ia mer0goh sakunya dan memberikan sesuatu pada Bastian.
"Makasih, Ning."
"Iya, Bang Bul. Semoga segera ketemu sama Seruni nya,"
"Oke,"
☘️☘️
Di sudut tak jauh dari pesta rakyat berlangsung, tepatnya di bawah pohon mangga terdapat dua orang anak manusia berlainan jenis yang sedang berdiri dan bercakap-cakap. Tampak serius dan sedikit memanas nada pembicaraan antara mereka berdua.
"Sudah bicaranya, Kak?"
"Belum,"
"Apalagi yang Kak Ardi mau bicarakan sama Ading?"
"Aku masih cinta sama kamu, Run. Aku enggak cinta sama Rasti,"
"Apa hubungannya denganku, Kak? Aku sudah menikah,"
"Kamu gak cinta sama dia, Run. Kamu masih cinta sama aku kan,"
"Lucu kali kakak nih. Sejak kakak berselingkuh dengan Rasti, cintaku sudah hilang. Lenyap tak bersisa. Jadi jangan coba-coba berkuasa dengan hatiku. Hanya aku yang tau isi hatiku, bukan kakak!" tegas Seruni.
"Aku dijebak sama Rasti, Run. Aku..." ucapan Ardi seketika menggantung.
"Aku khilaf begitu maksud kakak," potong Seruni.
"Tolong maafkan aku, Run."
"Ading udah maafin kakak. Kita gak perlu bahas masa lalu! Ading sekarang sudah menikah dengan Abang Bastian. Jadi ading harap kakak menerimanya dengan baik takdir kita semua. Satu lagi, lebih baik kakak jaga jarak sama ading. Aku gak mau abang sampai salah paham dengan kita. Permisi," ucap Seruni seraya melangkah pergi meninggalkan Ardi yang mematung bersedih.
Ardi benar-benar menyesal karena telah bodoh tergoda dengan Rasti sampai berbuat khilaf di masa lalu yang berujung hubungannya kandas dengan Seruni.
Tanpa mereka berdua ketahui, ada sepasang mata yang menatap tajam dan serius dari sudut tersembunyi. Siluet gagah tersebut sejak tadi memantau interaksi Seruni dengan Ardi.
Tatapan cemburu masih berkobar nyata dalam sorot kedua matanya. Awalnya mencari keberadaan sang istri yang tak ada bersama Ningsih. Tanpa disangka ia mendapati Seruni justru bersama Ardi di tempat lain.
☘️☘️
Langkah kaki Seruni mendadak terhenti saat ia akan berbelok menuju rumah di mana Ningsih merias.
Grepp...
Sebuah tarikan cepat pada tangan Seruni dan dekapan hangat di tubuhnya, tak mampu membuat si kembang desa ini menghindar. Ia begitu terkejut. Beruntung kali ini tak ada kejadian Seruni pingsan mendadak.
"A_bang," cicit Seruni terbata.
"Kenapa? Kamu terkejut abang di sini?"
"Enggak, cuma kaget saja. Abang tiba-tiba muncul dan tarik tangan ading," jawab Seruni lirih dengan jantung yang masih berdegup kencang.
Seruni bukan khawatir jika Bastian tau tentang kejadian sebelumnya saat ia bertemu dan berbincang empat mata dengan Ardi. Akan tetapi di dekat Bastian, jantung Seruni terus dibuat berdebar tanpa bisa dikomando olehnya.
"Abang tadi cari kamu ke tempat Ningsih, tapi gak ada. Katanya pergi ke sana, tapi kok malah pergi ke tempat lain." Cibir Bastian dengan nada terdengar mirip orang lagi merajuk berat.
"Maafkan ading ya, Bang. Ading enggak pamit dulu ke abang kalau mampir ke tempat lain. Maaf tadi ading_" ucapan Seruni yang berniat menjelaskan pada sang suami, tapi mendadak terpotong.
"Tak perlu diteruskan, aku paham. Ayo pergi dari sini," potong Bastian. "Abang lagi pengin," lanjutnya dengan kalimat penuh makna.
"Hah, abang pengin apa? Jajanan di bazar kah? Biar nanti ading belikan," cecar Seruni berusaha menebak-nebak keinginan Bastian.
Seruni tampak tersenyum begitu antusias. Sebab, ia sendiri juga ingin membeli jajanan tradisional di sana.
Setiap ada pesta rakyat, pasti ada bazar kaget namanya. Bazar tersebut biasanya berdiri lapak-lapak penjual makanan dan minuman serta mainan di depan area pesta rakyat.
"Bukan itu. Abang pengin yang lain," jawab Bastian.
"Apa Bang?"
Tak menjawab pertanyaan Seruni, Bastian langsung menggandeng lengan sang istri dengan erat tapi tetap lembut menuju parkiran motor. Langkah kaki mereka berdua tampak terburu-buru seperti anak kecil yang sedang kebe_let pi_pis.
Tanpa diketahui oleh mereka, ada dua orang di sudut yang berbeda tengah menatap tajam ke arah Bastian dan Seruni.
"Ke mana mereka?" batin Ardi didera penasaran.
Tadi dirinya hendak mengejar Seruni, namun justru pahit yang dirasa. Ia melihat Bastian memeluk Seruni begitu mesra.
Sedangkan di sudut lain yang tak kalah kepo seperti Ardi. Rasti juga melihat Bastian menggandeng mesra Seruni menuju parkiran motor.
"Acara belum selesai, Bastian sama Seruni mau ke mana? Masa mereka pulang?" batin Rasti.
Langkah kaki Ardi dan Rasti diam-diam mengikuti pasangan pengantin baru yang sedang tampak mesra itu.
Bersambung...
🍁🍁🍁
*Next chapter disarankan membaca malam atau after berbuka. 💋💋