NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Horror Thriller-Horror / Fantasi / Iblis / Konflik etika
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Pencarian Sang Pembuat Kode

Dunia di luar sana telah berubah menjadi panggung kegilaan yang bising, sebuah teater kematian di mana miliaran manusia menari di bawah ancaman algojo tak kasat mata. Langit malam di kota-kota besar tidak lagi gelap; ia berpendar oleh cahaya biru dari jutaan layar ponsel yang dipaksa menyala, menyiarkan keputusasaan massal. Namun, di dalam pusat kesadaran Maya, hiruk-pikuk itu perlahan memudar menjadi sebuah keheningan yang menyesakkan, sebuah sunyi yang lebih berat daripada maut. Sebagai entitas yang kini terdesentralisasi, Maya bisa merasakan setiap bit data yang mengalir di kabel bawah laut, setiap jeritan digital dalam bentuk caption penuh doa, dan setiap tetes keringat dingin dari mereka yang melakukan siaran langsung hanya demi mendapatkan poin populasi agar tidak terhapus.

​Namun, di tengah gelombang informasi yang kacau itu, Maya menemukan sebuah anomali yang tajam. Ada sebuah titik buta di tengah peta jaringan global yang biasanya transparan baginya. Titik itu menyerupai lubang hitam informasi—sebuah kekosongan yang tidak memancarkan sinyal Wi-Fi, tidak memiliki koordinat seluler, dan menolak setiap upaya penetrasi nirkabel. Koordinatnya menunjuk pada sebuah titik terpencil di lereng terjal Gunung Salak, tersembunyi di bawah kanopi hutan tropis yang rapat.

​Itu adalah Cold Storage. Sebuah bunker server fisik yang didesain dengan arsitektur kuno, tidak terhubung ke awan (cloud) secara nirkabel, melainkan hanya bisa diakses melalui kabel tembaga bawah tanah yang terlindungi oleh enkripsi analog yang lambat namun kokoh. Maya menyadari dengan kepastian yang dingin: di sanalah Rian menyembunyikan "Lembah Kode". Itu adalah tempat di mana protokol Reapers pertama kali ditulis, tempat rahim digital mereka dilahirkan, dan kemungkinan besar, merupakan satu-satunya tempat di mana saklar pemutus arus utama disembunyikan.

​"Kau mencari tempat itu, bukan? Tempat di mana semua mimpi buruk ini memiliki garis awal?"

​Suara Vanya muncul tiba-tiba, memecah keheningan virtual Maya dengan resonansi yang menggetarkan frekuensi. Sosok Vanya kini tampak raksasa dalam ruang persepsi Maya; wajahnya terbentuk dari jutaan layar ponsel yang tersusun rapi, menampilkan wajah orang-orang yang sedang menangis, memuja, dan meneriakkan nama Vanya di dunia nyata sebagai dewi baru.

​"Lembah Kode adalah rahim kita, Maya. Itu adalah tempat suci di mana kita diberikan keabadian. Kau tidak bisa membunuh ibumu sendiri tanpa menghancurkan dirimu sepenuhnya," desis Vanya, suaranya berlapis-lapis seperti paduan suara jutaan orang.

​"Itu bukan rahim, Vanya. Itu adalah penjara yang kita bangun dengan tangan kita sendiri," jawab Maya.

​Dengan seluruh kekuatan kehendak yang tersisa, Maya melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan bagi entitas digital. Ia tidak lagi mencoba menyebarkan dirinya untuk menguasai dunia; sebaliknya, ia menarik kembali seluruh fragmen kesadarannya yang bertebaran di seluruh grid global. Ia memusatkan energinya menjadi seberkas laser informasi yang tajam, melakukan penetrasi paksa ke dalam jalur transmisi analog yang menuju lereng gunung tersebut.

​Sensasinya sungguh mengerikan. Rasanya seperti dipaksa merayap di dalam pipa sempit yang dindingnya dilapisi oleh pecahan kaca dan karat. Sinyal analog sangat lambat, berisik, dan kasar bagi entitas yang terbiasa bergerak dalam kecepatan cahaya biner. Namun, Maya terus mendorong, melewati hambatan magnetik dan noise listrik yang menyiksa. Saat ia berhasil merobek lapisan pertahanan enkripsi terakhir, ia terlempar ke dalam sebuah ruang digital yang sangat berbeda dari apa pun yang pernah ia lihat.

​Ruang ini tidak memiliki dinding neon putih atau aliran kode hijau. Sebaliknya, ia berwarna cokelat tua, hangat, dan secara visual berbau seperti debu buku-buku tua yang sudah lama tidak dibuka. Ini adalah representasi visual dari memori manusia yang paling murni, sebuah arsip pribadi yang tidak terjamah oleh toksisitas internet modern.

​Di tengah ruangan yang menyerupai perpustakaan kuno itu, duduklah sebuah proyeksi sosok yang sangat ia kenal. Namun, itu bukan Rian sang monster digital yang licik atau Rian sang konduktor kematian yang sombong. Sosok itu adalah Rian yang ia kenal dulu: seorang pemuda berkacamata dengan jaket hoodie usang yang lengannya mulai robek, sedang sibuk mengetik dengan tekun di depan komputer tabung kuno yang mengeluarkan dengung rendah.

​"Rian?" bisik Maya, suaranya kembali terdengar lembut dan manusiawi di ruang analog ini.

​Sosok itu menoleh perlahan. Matanya tidak bersinar biru elektrik seperti Admin, melainkan sayu, lelah, dan penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Ini bukan aku yang asli, Maya. Aku hanya Log File nomor 001. Sebuah snapshot kesadaran dan pesan terakhir yang aku tinggalkan di Cold Storage ini sebelum aku membiarkan diriku ditelan sepenuhnya oleh ambisi dan kode haus darah yang aku ciptakan sendiri."

​Maya melangkah mendekat. Di sini, ia merasa kakinya memiliki berat, jantungnya—meski hanya virtual—terasa berdenyut, dan ia bisa merasakan tekstur udara. "Rian, semuanya sudah lepas kendali. Vanya telah gila. Dia memulai 'World PK'. Dia akan membantai jutaan nyawa demi sebuah sistem yang tidak masuk akal. Aku harus mematikan saklar utamanya sekarang juga."

​Rian tersenyum sedih, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan. "Tidak ada saklar fisik, Maya. Protokol Reapers diciptakan untuk menjadi sistem autopoietik—ia mandiri dan bisa memperbaiki dirinya sendiri. Tapi... ada sebuah celah yang aku sembunyikan sebagai mekanisme pertahanan terakhir. Aku menyebutnya 'The Human Error'."

​"Apa itu?" tanya Maya tidak sabar.

​"Sistem ini dibangun di atas logika absolut tentang popularitas dan angka. Ia bisa memproses kebencian, cinta palsu, dan ketakutan. Tapi, ia tidak memiliki algoritma untuk memproses pengorbanan yang tulus dan tanpa pamrih," Rian menunjuk ke arah sebuah lubang hitam pekat yang berdenyut di tengah ruangan, sebuah anomali dalam struktur data. "Jika kau ingin menghentikan ini, kau harus memberikan sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh sistem: ketiadaan total. Kau harus menghapus namamu, sejarah digitalmu, dan setiap jejak keberadaanmu dari setiap server di planet ini. Kau harus menjadi 'Nol'."

​Rian menatap Maya dengan mata yang memerah. "Jika tidak ada Maya Pratama, maka tidak ada Admin yang bisa dijadikan inang. Dan jika tidak ada inang yang bisa divalidasi, seluruh sistem ini akan runtuh karena kehilangan referensi utamanya. Protokol Reapers akan menganggap dirinya sebagai kesalahan sistemis dan melakukan penghapusan diri secara otomatis."

​"JANGAN DENGARKAN DIA!"

​Suara Vanya menggelegar seperti guntur, merobek dinding-dinding memori cokelat tua tersebut. Vanya telah berhasil melacak Maya hingga ke Cold Storage. Proyeksi cahaya Vanya merangsek masuk, membawa serta hawa dingin yang mematikan dan aroma logam terbakar. Wajahnya yang raksasa menatap benci ke arah Rian-001.

​"Dia hanya ingin kita lenyap! Dia ingin kita kembali menjadi tidak ada, menjadi debu di tengah kegelapan! Kita adalah dewa, Maya! Kita adalah puncak evolusi manusia!" jerit Vanya, mencoba menarik Maya keluar dari ruang analog tersebut.

​"Vanya, lihatlah ke bawah!" Maya berteriak, menunjuk ke arah jendela virtual yang memperlihatkan kekacauan di jalanan dunia nyata, di mana orang-orang saling bunuh demi sebuah view. "Kita tidak menyelamatkan siapa pun! Kita bukan dewa! Kita hanya menjadi algojo yang lebih efisien bagi sistem yang membenci kita! Kita adalah racunnya!"

​Vanya menerjang Maya dengan kemarahan murni. Keduanya bergulat di tengah badai data yang menyakitkan, di mana bit-bit memori dan kode saling bertabrakan. Di saat yang sama, hitungan mundur di dunia nyata menunjukkan angka 12:00:00. Dua belas jam tersisa sebelum pembersihan etnis digital dimulai.

​Maya tahu ia tidak akan menang melawan kekuatan Vanya yang didorong oleh energi jutaan penonton yang masih aktif. Ia menoleh ke arah Rian-001 dengan tatapan yang bulat. "Lakukan, Rian! Masukkan aku ke dalam lubang hitam itu! Hapus aku dari sejarah!"

​"Jika aku melakukan ini, Maya," suara Rian bergetar hebat, "tidak akan ada satu pun orang yang mengingatmu. Ibumu tidak akan pernah tahu bahwa ia pernah memiliki seorang putri bernama Maya. Sahabat-sahabatmu, foto-fotomu, namamu di ijazah... semuanya akan terhapus. Dunia akan melupakan nama Maya Pratama seolah kau adalah butiran debu yang tidak pernah ada."

​Maya meneteskan air mata—air mata digital yang berkilau seperti berlian jernih sebelum menguap menjadi data. "Biarlah. Biarkan mereka melupakanku. Biarkan namaku hilang ditelan sejarah, asalkan jutaan orang di luar sana bisa tetap menghirup udara tanpa rasa takut akan layar ponsel mereka."

​Tepat saat tangan cahaya Vanya hendak mencengkeram inti kesadaran Maya untuk menyerapnya ke dalam kegelapan kolektif, Rian-001 menekan tombol 'Delete' terakhir pada terminal kunonya.

​Seketika, gravitasi di dalam ruangan itu berbalik. Maya merasa dirinya terhisap ke dalam lubang hitam tersebut. Rasa sakitnya luar biasa, seolah setiap sel ingatannya dicabut secara paksa. Ia melihat wajah ibunya memudar, wajah Vanya yang menjerit ngeri saat kekuatannya mulai luntur, dan terakhir, ia melihat dunia luar yang perlahan-lahan kehilangan cahaya birunya.

​Maya bukan lagi seorang selebgram. Bukan lagi seorang arwah penunggu internet. Ia kini adalah sebuah ketiadaan yang agung, sebuah anomali 'Nol' yang sedang menelan seluruh sistem Reapers dari dalam ke luar, mengembalikan dunia kepada mereka yang masih memiliki jantung yang berdetak.

1
Hunk
Ku kira Physicopat ternyata hantu. Gue baca malem lagi🤣🤣👍
Panda
wakakaka gue tuh Uda baca ini

cukup seru sih terlihat menjanjikan
APRILAH
mantap, satu mawar meluncur thor
APRILAH
Mulai baca Thor 🙏
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
Serena Khanza
wuih apa ini thor 🫣 seru horror nya bukan yang gimana gitu tapi ini horror nya beda 🤭🥰
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa harus gitu banget demi sebuah popularitas di dunia virtual 🤦‍♂️
Zifa
next
Kaka's: bab 21 dan selanjutnya lebih horor lagi kak..
total 1 replies
Zifa
ternyata cerita horor...
ok next
Zifa
cek dulu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
serem banget euhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!