"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
"Apa kabar, Sahabat Literasi? Bersiaplah, karena di episode ini kita akan melihat bahwa terkadang, orang asing jauh lebih punya hati daripada keluarga sendiri. Siapkan tisu dan kuatkan hati, karena Hana akan menghadapi pengkhianatan kedua yang tak kalah menyakitkan. Jangan lupa tinggalkan komentar untuk mendukung Hana !"
.
.
Lantai Stasiun Gambir yang dingin menjadi saksi bisu langkah gontai seorang wanita yang dunianya baru saja luluh lantak. Hana berjalan dengan kepala tertunduk, berusaha menyembunyikan bercak lumpur kering yang masih mengotori daster hamilnya.
Ia merasa seperti tontonan gratis, sepasang mata di sekitarnya menatap dengan iba, sebagian lagi dengan pandangan menghakimi.
Namun, Hana tidak punya waktu untuk merasa malu. Fokusnya hanya satu, yaitu pulang. Ia butuh pelukan ayahnya. Ia butuh perlindungan dari rumah tempat ia tumbuh besar sebelum Bima datang dan membawanya pergi.
Setelah perjalanan singkat yang menguras tenaga, taksi yang membawanya berhenti di depan sebuah pagar besi tinggi di kawasan perumahan kelas menengah. Rumah itu tampak tenang, namun bagi Hana, rumah itu adalah satu-satunya harapan yang tersisa.
Dengan tangan gemetar, Hana menekan bel. Tak lama kemudian, pintu kayu jati yang kokoh itu terbuka. Namun, bukannya wajah hangat sang ayah yang muncul, melainkan sosok wanita paruh baya dengan riasan tebal dan daster sutra yang mencolok.
*Mita, ibu tiri Hana*.
Mita terpaku sejenak melihat penampilan Hana. Matanya menyisir dari ujung kepala yang acak-adakan hingga koper tua yang tergeletak di samping kaki Hana.
"Hana? Apa-apaan penampilanmu ini? Kenapa bau lumpur?" tanya Mita dengan nada jijik, bahkan sebelum Hana sempat mengucapkan salam.
"Mama... Mas Bima... dia menceraikanku. Aku ingin bertemu Papa," suara Hana pecah. Pertahanan yang ia bangun di pinggir jalan tadi runtuh saat ia melihat pintu rumahnya sendiri.
Mita tidak membukakan pagar. Ia justru melipat tangan di dada, berdiri menghalangi jalan. "Cerai? Kau bilang diceraikan? Dalam keadaan perut sebesar itu?"
Mita tertawa sumbang, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Hana meremang. "Hana, dengar ya. Papamu sedang tidak ada, dia sedang keluar kota untuk urusan bisnis. Dan sejujurnya, lebih baik dia tidak melihatmu seperti ini."
"Mama, tolong... aku tidak punya tempat tinggal lain. Semalam aku tidur di penginapan murah, aku hanya butuh istirahat," mohon Hana, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Istirahat? Di sini?" Mita melangkah satu langkah lebih dekat ke pagar. "Hana, kau tahu tidak? Bulan depan adikmu, Tania, akan bertunangan dengan putra pengusaha besar. Kalau orang-orang tahu kakaknya pulang ke rumah karena diusir suami saat hamil, apa kata mereka? Keluarga kita akan jadi bahan gunjingan! Kau mau menghancurkan masa depan adikmu dengan status jandamu itu?"
Hana terkesiap. "Mama... aku ini anak Papa. Ini juga rumahku!"
"Dulu, Hana. Sebelum kau menikah dengan pria kaya dan melupakan kami," desis Mita kejam. "Dengar, aku tidak mau menanggung malu. Jangan bawa sial ke rumah ini. Pergilah ke mana pun, asal jangan di sini. Kalau kau memang pintar, harusnya kau sujud di kaki Bima agar tidak diceraikan, bukannya pulang dengan kondisi menjijikkan seperti ini."
**Braakk**!
Pintu pagar itu tidak hanya ditutup, tapi dikunci rapat dari dalam. Hana berdiri terpaku. Ia memukul pagar besi itu berkali-kali sampai tangannya memerah, tapi tidak ada jawaban.
Dari balik jendela lantai dua, ia melihat gorden tersingkap sedikit, ia tahu itu Tania, adiknya, yang melihatnya dengan tatapan dingin sebelum akhirnya menutup gorden kembali.
Dunia Hana benar-benar gelap sekarang. Ia tidak lagi punya 'Rumah'. Pria yang ia cintai membuangnya, dan keluarga yang ia harapkan melindunginya justru menutup pintu rapat-rapat.
Dengan sisa tenaga, Hana menyeret kopernya kembali ke jalan raya. Ia kembali ke stasiun, satu-satunya tempat di mana ia bisa menghilang di antara ribuan orang tanpa perlu menjelaskan siapa dirinya.
Sore hari di stasiun terasa sangat pengap. Hana duduk di sebuah kursi besi panjang di peron, menunggu kereta malam yang akan membawanya menjauh dari Jakarta, menuju desa almarhumah neneknya, satu-satunya tempat yang tersisa di ingatannya.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam perut bagian bawahnya.
"Ah..." Hana mengerang, tangannya otomatis mencengkeram perutnya yang menonjol.
Rasa sakit itu tidak seperti tendangan bayi biasanya. Ini tajam, seperti dipelintir, dan menjalar hingga ke punggung. Wajah Hana mendadak pucat pasi. Butir-butir keringat dingin sebesar biji jagung muncul di pelipisnya.
Ia mencoba mengatur napas, seperti yang diajarkan di kelas senam hamil yang dulu ia ikuti sendirian. Namun, kram itu semakin menjadi. Tubuhnya membungkuk, ia harus berpegangan pada sandaran kursi agar tidak jatuh ke lantai.
"Sayang... tolong jangan sekarang... Ibu mohon, bertahanlah sebentar lagi..." bisiknya dengan suara tercekat.
Di tengah rasa sakit yang menyiksa, memori tentang Bima kembali melintas. Ia membayangkan Bima saat ini mungkin sedang makan malam romantis dengan Clarissa, tertawa di atas penderitaannya.
Sementara di sini, di bangku stasiun yang keras, ia sedang bertaruh nyawa untuk anak yang ditolak oleh ayahnya sendiri.
"Mbak? Mbak tidak apa-apa?" sebuah suara asing menyentuh pendengarannya.
Hana mencoba mendongak, namun pandangannya mulai kabur. Ia hanya melihat bayangan samar seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan jaket berwarna gelap.
"Sakit... perut saya..." hanya itu yang mampu Hana ucapkan sebelum kegelapan mulai merenggut kesadarannya.
Tangannya yang memegang perut mulai melemas. Koper di sampingnya tak lagi ia hiraukan. Dalam detik-detik terakhir sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Hana merasa tubuhnya diangkat oleh sepasang lengan yang kuat.
Aroma antiseptik dan wangi maskulin yang lembut tercium samar,.aroma yang sangat berbeda dengan parfum menyengat milik Bima.
"Tahan, Mbak! Tetap buka matamu! Kita ke rumah sakit sekarang!" suara pria itu terdengar tegas namun penuh kekhawatiran.
Hana ingin bertanya siapa pria itu, namun lidahnya kelu. Ia hanya bisa pasrah saat tubuhnya dibawa menembus kerumunan orang di stasiun.
Di balik kelopak matanya yang tertutup, ia hanya berdoa satu hal - 'Tuhan, jika Engkau harus mengambil nyawaku, selamatkanlah anakku.'
Tanpa Hana sadari, pria yang menolongnya itu adalah dr. Adrian, pria yang nantinya akan menjadi oase di tengah padang pasir hidupnya. Namun untuk saat ini, nasib Hana dan janinnya sedang berada di ujung tanduk.
Di sisi lain kota, Bima sedang mengangkat gelas anggurnya, merayakan kembalinya Clarissa. Ia tidak tahu bahwa saat ini, wanita yang pernah mengandung harapannya sedang berjuang antara hidup dan mati karena perbuatannya.
Apakah janin dalam kandungan Hana bisa selamat setelah kram hebat yang menyerangnya? Siapakah sebenarnya pria di stasiun itu, dan akankah dia menjadi penyelamat atau justru membawa masalah baru bagi Hana?
Jangan lewatkan Up episode selanjutnya yaaa...
...----------------...
**To Be Continue**....