Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Sore itu, suasana rumah terasa begitu tenang. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi utama, di mana Jasmine sedang dibantu oleh Suster Lastri untuk mandi. Sejak insiden kontraksi palsu malam itu, Awan benar-benar menerapkan aturan "protokol kesehatan" yang ketat. Jasmine dilarang melakukan aktivitas berat, bahkan untuk sekadar mandi sendiri pun Awan khawatir ia akan terpeleset.
Awan masuk ke kamar Jasmine untuk meletakkan beberapa vitamin baru yang baru saja ia tebus dari apotek. Saat hendak menaruhnya di nakas, matanya menangkap sebuah buku tulis bersampul cokelat yang terbuka di atas meja kecil samping tempat tidur.
Biasanya, Awan adalah pria yang sangat menghargai privasi. Namun, melihat tulisan tangan Jasmine yang rapi dan sedikit miring, rasa ingin tahunya terusik. Ia mengambil buku itu. Ternyata, itu adalah buku harian sekaligus daftar keinginan (wishlist) yang ditulis Jasmine sejak ia tahu dirinya hamil.
Halaman itu berjudul: "Hal-hal yang ingin aku lakukan bersama Mas Hero dan Bayi Kecil kita."
Awan membaca poin demi poin.
Beli baju bayi warna biru bareng Mas Hero. (Sudah dicoret, tapi ada catatan kecil: Akhirnya beli bareng Kak Awan).
Makan es krim di pinggir jalan pas hujan. (Sudah dicoret).
...
Hingga matanya tertuju pada poin terakhir yang tinta pulpennya tampak sedikit luntur, mungkin terkena tetesan air mata saat ditulis.
"10. Mau ngajak anak aku ke Playground tapi Mas Hero udah nggak ada."
Dada Awan terasa sesak seketika. Kalimat itu begitu sederhana, namun menghantamnya lebih keras daripada kerugian bisnis mana pun. Ia bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Jasmine saat menulis itu—membayangkan masa depan di mana anaknya berlarian di antara perosotan dan ayunan tanpa sosok ayah yang menjaganya dari belakang.
Awan menutup buku itu dengan perlahan, meletakkannya kembali ke posisi semula agar tidak ketahuan. Ia berdiri mematung di tengah kamar, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya identik dengan Hero, namun ia tahu ia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi itu sepenuhnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Suster Lastri membantu Jasmine keluar dengan jubah mandi tebal. Jasmine tampak segar, meskipun langkahnya masih terlihat berat karena perutnya yang semakin besar. Begitu melihat Awan ada di dalam kamarnya, Jasmine sedikit terkejut.
"Loh, Kak Awan? Sejak kapan di sini?" tanya Jasmine pelan.
Awan langsung memasang wajah judes andalannya untuk menutupi gejolak emosinya. "Baru aja. Ini vitamin lo, jangan lupa diminum abis makan malam. Gue nggak mau denger lo ngeluh pusing lagi," ucapnya ketus.
Jasmine tersenyum tipis. "Iya, Kak. Makasih ya."
Awan tidak langsung pergi. Ia menatap Jasmine sejenak, lalu matanya melirik ke arah buku cokelat tadi. "Jas," panggilnya.
"Ya, Kak?"
"Minggu depan, kosongin jadwal lo. Gue nggak mau tahu, nggak ada urusan jahit-menjahit atau baca buku nggak jelas," perintah Awan.
Jasmine mengernyit bingung. "Mau ke mana, Kak? Jadwal kontrol kan masih dua minggu lagi?"
"Udah, ikut aja! Jangan banyak tanya. Lo itu bawel banget jadi bumil," potong Awan sambil melangkah keluar kamar dengan langkah lebar.
Seminggu kemudian, Awan benar-benar menjemput Jasmine pagi-pagi sekali. Ia bahkan sudah menyiapkan baju yang nyaman untuk Jasmine—sebuah daster hamil yang modis dan sepatu flat yang empuk. Sepanjang jalan, Awan tetap pada mode "diam seribu bahasa" dan hanya fokus menyetir.
Hingga akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah gedung indoor playground terbesar dan termewah di pusat kota. Tempat itu tampak sepi, tidak ada antrean panjang anak-anak seperti biasanya.
"Kita... ngapain ke sini, Kak?" tanya Jasmine bingung saat mereka memasuki lobi.
"Gue udah sewa tempat ini buat dua jam ke depan," sahut Awan santai sambil merapikan kerah kemejanya.
Jasmine terbelalak. "Kak! Ini kan tempat main anak-anak? Aku kan belum melahirkan?"
Awan mendengus, ia menarik tangan Jasmine dengan lembut namun tegas untuk masuk ke dalam. "Gue tau lo belum melahirkan, Jasmine. Gue nggak bego. Gue cuma mau lo liat tempat ini sekarang."
Mereka berdiri di tengah hamparan kolam bola berwarna-warni, ayunan kayu yang estetis, dan perosotan raksasa. Suasananya tenang namun penuh warna.
"Gue baca buku lo," ucap Awan tiba-tiba. Suaranya rendah, bergema di ruangan luas itu.
Jasmine tersentak, wajahnya merona merah. "Kak Awan lancang banget..."
"Emang. Dan gue nggak peduli," balas Awan judes. Ia berbalik menatap Jasmine dengan tatapan yang sangat dalam. "Lo tulis kalau lo pengen ajak anak lo ke sini tapi Hero nggak ada. Dengerin gue, Jas..."
Awan melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Ia menunjuk ke arah seluruh permainan itu.
"Mungkin Hero nggak ada di sini secara fisik. Tapi gue ada. Selama gue masih hidup, anak itu nggak akan pernah kekurangan tempat buat main. Dia nggak akan pernah sendirian di playground ini. Kalau dia jatuh dari perosotan, gue yang bakal tangkap dia. Kalau dia takut naik ayunan, gue yang bakal dorong dia."
Jasmine terpaku. Air matanya mulai mengalir tanpa bisa dibendung.
"Jadi, hapus poin nomor sepuluh itu dari daftar lo," lanjut Awan. Tangannya yang besar terangkat, menghapus air mata di pipi Jasmine dengan ibu jarinya. Gerakannya kaku, namun penuh kelembutan yang jujur. "Ganti sama poin baru: 'Main ke Playground bareng Om Awan yang paling ganteng'. Mengerti?"
Jasmine tertawa di tengah tangisnya. "Kak Awan narsis banget..."
"Kenyataan, kan?" Awan sedikit menyeringai. "Ayo duduk di sana. Gue udah pesen makanan sehat dari restoran sebelah. Lo nikmatin aja suasananya. Anggap aja lo lagi survei tempat buat ponakan gue nanti."
Sambil menunggu makanan, Jasmine melihat sesuatu yang sangat lucu. Awan sedang berdiri di depan sebuah boneka beruang besar yang ada di area balita. Pria itu tampak sedang mempraktikkan cara menggendong—yang ia pelajari dari YouTube—menggunakan boneka tersebut.
Wajahnya tampak sangat serius, alisnya bertaut, dan ia bergumam sendiri. "Tangan kiri di bawah leher... tangan kanan di bokong... jangan sampe kepalanya miring... oke, dapet."
Jasmine mengabadikan momen itu lewat ponselnya secara diam-diam. Pria kaku yang ditakuti di dunia bisnis itu, kini sedang berduel dengan boneka beruang hanya demi mempersiapkan diri menyambut keponakannya.
"Kak, cara gendongnya salah! Itu bayinya bisa sesek napas kalau kegencet gitu," canda Jasmine dari jauh.
Awan langsung melempar boneka itu kembali ke kursi dengan wajah merah padam. "Berisik lo! Gue cuma ngetes berat bonekanya doang!"
Jasmine tersenyum lebar. Ia merasa bebannya sedikit terangkat. Meskipun Hero telah tiada, Tuhan mengirimkan "Hero" lain dalam wujud yang berbeda—wujud pria kaku yang judes, namun rela melakukan hal-hal konyol demi menghapus kesedihannya.
Namun, kebahagiaan itu sedikit terganggu saat Awan menerima sebuah pesan singkat dari tim keamanannya.
“Tuan, Celine berhasil melarikan diri saat pemindahan ke lapas. Kami sedang melacak posisinya.”
Rahang Awan mengeras seketika. Ia menatap Jasmine yang sedang asyik memandangi mainan gantung. Ia tidak ingin merusak momen ini, namun ia tahu, ia harus lebih waspada. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, terutama Celine, menghancurkan masa depan yang baru saja ia janjikan pada Jasmine dan bayinya di tempat ini.
"Jas, ayo balik. Udah makin sore," ucap Awan, kembali ke mode seriusnya.
"Loh, makanannya belum habis, Kak?"
"Bungkus aja. Di rumah lebih aman," jawab Awan singkat. Ia menggenggam tangan Jasmine erat-erat saat mereka berjalan keluar. Janjinya di playground tadi bukan sekadar ucapan, melainkan sumpah yang akan ia pertahankan dengan seluruh nyawanya.
Celine yang kabur kini benar-benar kehilangan akal sehat. Ia bersembunyi di dekat rumah Awan, menunggu kesempatan saat Awan lengah.