Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13: Tantangan Hidup Mati
Kembalinya Li Wei ke Sekte Langit Biru menciptakan kegemparan kecil.
Bukan karena kemenangannya yang gemilang, melainkan karena kondisinya yang menyedihkan namun... hidup. Ia berjalan terseok-seok menuju Aula Kontribusi, menyeret karung basah yang meneteskan darah hijau berbau busuk. Pakaiannya robek-robek, penuh noda darah kering (sebagian besar darahnya sendiri yang sengaja ia goreskan).
Di belakangnya, tidak ada tanda-tanda Liu Mang maupun Zhang Hu.
"Hei, bukankah itu Li Wei si Pelayan Lembah Abu?"
"Di mana Senior Liu dan Zhang? Bukankah mereka pergi bersama?"
Li Wei mengabaikan bisik-bisik itu. Ia berjalan lurus ke meja Aula Kontribusi. Penjaga meja, seorang murid senior berwajah bosan, menutup hidungnya.
"Misi selesai," kata Li Wei, suaranya parau.
Ia menumpahkan isi karung itu ke atas meja pualam yang bersih.
Gedebuk.
Potongan kepala Ratu Laba-Laba Wajah Hantu menggelinding. Matanya yang mati masih memancarkan sisa-sisa aura Lapis 7 yang mengerikan.
Keheningan melanda seluruh aula.
Murid senior itu melompat dari kursinya. "I-ini... Ratu Laba-laba Lapis 7?! Bagaimana mungkin..."
"Informasi intelijen salah," Li Wei menjelaskan dengan nada datar, wajahnya menunjukkan duka palsu yang sempurna. "Ada monster Lapis 7 di sana. Senior Liu dan Senior Zhang... mereka mengorbankan diri untuk menahan monster itu agar aku bisa lari. Tapi monster itu terluka parah oleh serangan bunuh diri mereka. Aku... aku hanya menghabisinya saat ia sekarat."
Cerita yang masuk akal. Tidak ada yang percaya murid Lapis 3 (samaran Li Wei) bisa membunuh monster Lapis 7 sendirian. Narasi "serangan bunuh diri senior" menyelamatkan logika itu.
Tetua Aula yang muncul untuk memeriksa bangkai itu mengangguk setuju.
"Sayang sekali. Liu Mang dan Zhang Hu adalah bibit potensial," kata Tetua itu dingin. "Tapi itulah nasib kultivator. Li Wei, karena kau membawa bukti pembunuhan, poin misi ini menjadi milikmu. Ditambah kompensasi bahaya intelijen."
"Total: 500 Poin Kontribusi."
Kerumunan tersentak. 500 poin! Itu cukup untuk menukar teknik tingkat menengah di Paviliun Kitab Suci atau pil langka.
Li Wei menerima lencana poinnya dengan tangan gemetar (akting). "Terima kasih, Tetua. Poin ini... akan saya gunakan untuk memperkuat diri agar pengorbanan senior tidak sia-sia."
Berita itu menyebar seperti api di rumput kering. Dan tentu saja, api itu membakar telinga seseorang di Puncak Pedang Api.
PRANG!
Sebuah cangkir teh porselen hancur berkeping-keping di dinding.
Wang Jian berdiri dengan napas memburu. Dadanya naik turun menahan amarah.
"Mati?" geramnya. "Dua sampah, satu Lapis 4 dan 5 mati, sedangkan tikus Lapis 3 itu hidup dan dapat 500 poin?"
Di depannya, seorang bawahan berlutut ketakutan. "Lapor, Tuan Muda. Ceritanya adalah monster Lapis 7 muncul. Kemungkinan besar Liu Mang panik dan rencananya berantakan."
"Bodoh!" Wang Jian menendang meja.
Ia tidak peduli Liu Mang mati. Ia peduli karena wajahnya tercoreng. Tiga bulan lalu ia bersumpah akan membuat Li Wei menderita, tapi sekarang bocah itu justru semakin makmur.
Jika ia mengirim pembunuh lagi sekarang, Aula Penegakan Hukum pasti akan curiga. Kematian dua murid sudah cukup menarik perhatian. Ia tidak bisa bergerak di bawah bayangan lagi.
"Baiklah," mata Wang Jian menyipit, memancarkan niat membunuh yang dingin. "Jika aku tidak bisa membunuhnya dalam gelap, aku akan membunuhnya di bawah matahari, di depan ribuan mata."
Sore harinya, Li Wei sedang berjalan keluar dari Paviliun Kitab Suci.
Ia baru saja menukarkan poinnya dengan [Manual Pedang Lima Arah], sebuah teknik pedang yang sulit dipelajari karena membutuhkan keseimbangan lima elemen sempurna untuknya, sampah bagi orang lain.
Tiba-tiba, jalan di depannya terhalang.
Tiga murid berpakaian merah dari Puncak Pedang Api berdiri menghadang. Di tengah mereka, Wang Jian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Auranya sekarang jauh lebih kuat dari tiga bulan lalu.
Qi Condensation Lapis 6 Puncak.
Kerumunan murid di sekitar langsung berhenti, merasakan ketegangan udara.
"Li Wei," sapa Wang Jian. Suaranya tenang, tapi beracun. "Kudengar kau 'selamat' berkat pengorbanan anjing-anjingku. Kau benar-benar punya keberuntungan langit."
Li Wei menatapnya datar. "Keberuntungan juga bagian dari kekuatan, Tuan Muda Wang."
"Mulutmu masih tajam," Wang Jian melangkah maju, menekan Li Wei dengan aura apinya. "Tapi mari kita lihat apakah pedangmu setajam mulutmu. Aku bosan dengan permainan kucing-kucingan ini."
Wang Jian mengeluarkan sebuah token emas dan melemparkannya ke kaki Li Wei.
"Satu bulan lagi. Turnamen Sekte Tahunan."
Wang Jian menunjuk wajah Li Wei.
"Aku menantangmu. Bukan tanding ulang biasa. Tapi duel di Panggung Hidup Mati selama turnamen. Yang kalah menyerahkan kultivasinya dihancurkan Dantian nya atau mati di tempat."
Kerumunan tersentak ngeri. Panggung Hidup Mati! Itu adalah duel legal di mana sekte tidak bertanggung jawab atas nyawa yang melayang. Biasanya hanya digunakan untuk dendam kesumat.
Seorang Murid Inti Lapis 6 Puncak menantang Murid Pelayan Lapis 3 (di mata umum). Ini bukan duel. Ini eksekusi mati.
"Kau tidak perlu menerimanya, tentu saja," Wang Jian menyeringai mengejek. "Kau bisa menolak, lalu merangkak di bawah selangkanganku dan bersujud tiga kali. Aku akan mengampuni nyawamu."
Semua mata tertuju pada Li Wei. Xiao Lan, yang baru saja lewat dan melihat kejadian itu, menutup mulutnya dengan wajah pucat, hendak berteriak agar Li Wei menolak.
Tapi Li Wei tertawa.
Tawa kecil yang dingin. Ia membungkuk, memungut token emas itu dari tanah. Ia membersihkan debu dari token itu dengan santai.
"Menghancurkan Dantian..." gumam Li Wei. "Tawaran yang menarik."
Ia menatap Wang Jian, matanya segelap jurang.
"Aku terima."
Jawaban itu seperti petir di siang bolong.
"Apa dia gila?!" "Lapis 3 melawan Lapis 6 Puncak? Itu bunuh diri!"
Wang Jian tampak sedikit terkejut Li Wei menerima secepat itu, tapi senyum kejamnya segera kembali. "Bagus. Siapkan peti matimu, Li Wei. Bulan depan, aku akan mengubahmu menjadi abu."
Wang Jian berbalik dan pergi, diikuti para pengawalnya, meninggalkan Li Wei yang berdiri tegak di tengah kerumunan yang menatapnya dengan pandangan kasihan.
Xiao Lan berlari menghampiri Li Wei, mencengkeram lengannya. "Li Wei! Kau gila?! Kau baru Lapis 3! Wang Jian selangkah lagi masuk Lapis 7! Dia punya teknik tingkat tinggi dan senjata pusaka keluarga!"
Li Wei menatap Xiao Lan, ekspresinya melunak sedikit.
"Jangan khawatir," katanya pelan. "Satu bulan adalah waktu yang lama."
Li Wei tidak menjelaskan lebih lanjut. Ia berbalik dan berjalan menuju gerbang, kembali ke Lembah Abu.
Di dalam hatinya, Li Wei tahu ini pertaruhan gila. Jarak antara Lapis 5 (aslinya) dan Lapis 6 Puncak memang ada, tapi tidak mustahil. Namun, Wang Jian pasti punya kartu as.
"Satu bulan..." batin Li Wei.
Ia meraba Giok di dadanya.
Untuk menang, ia tidak bisa hanya berkultivasi biasa. Ia harus melakukan sesuatu yang drastis. Ia harus memanen Vena Naga Utama di Lembah Abu, meski risikonya tubuhnya bisa meledak karena kelebihan energi.
"Lebih baik mati mencoba menjadi naga, daripada hidup menjadi cacing."