Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERAPAN BERSAMA
Mereka memang tidak kaget kalau Duches mereka bisa memasak, karena Jasmine memang cukup sering memasak, walapun tidak setiap hari, karena resep makanan modern sudah Jasmine berikan pada kepala koki.
Sudah lima tahun keluarga Alistair memakan makanan dengan resep modern milik Jasmine, masakan yang kaya dengan rasa dan rempah-rempah.
Di dapur itu, dengan lihai Jasmine mulai mencampur tepung, susu, dan telur, tangannya yang tadi memegang belati kini dengan lembut mengocok adonan.
Bau manis apel dan kayu manis mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana rumah yang begitu damai, seolah-olah tidak ada ancaman sihir hitam atau perang yang mengintai di balik bayang-bayang.
Tidak membutuhkan waktu lama, masakan Jasmine sudah jadi dan selesai.
Aroma manis apel karamel dan kayu manis kini memenuhi ruang makan keluarga yang biasanya terasa formal dan dingin.
Pagi ini, meja makan itu terlihat lebih hangat dengan tumpukan pancake cokelat keemasan yang masih mengepulkan uap.
Jasmine duduk di ujung meja, memperhatikan kedua putranya yang sudah rapi mengenakan pakaian rumah yang nyaman, rambut mereka masih sedikit lembap dan wajah mereka terlihat segar setelah mandi air hangat.
"Ingat, makannya pelan-pelan, pancake-nya tidak akan lari ke mana-mana," ucap Jasmine sambil menuangkan madu ke atas piring Lucian.
"Tapi ini sangat enak, Ibu! Bau apelnya sampai ke hidung Leo!" seru Leo dengan mulut yang sudah penuh dengan potongan pancake.
Pipi Leo yang gembil bergerak-gerak lucu saat mengunyah.
Sret.
Tiba-tiba tangan mungil Leo mencoba meraih potongan pancake apel tambahan dari piring Lucian yang berada di sebelahnya.
"Leo, kau sudah punya empat di piringmu," tegur Lucian dengan nada tenang.
"Habiskan punyamu dulu," lanjut Lucian, tangannya dengan sigap menggeser piringnya menjauh menggunakan garpu.
"Milik Kakak sepertinya lebih banyak madunya!" rengek Leo, bibirnya mulai mengerucut manja.
"Ibuuu... Kak Lucian pelit," ucap Leo menoleh ke arah Jasmine dengan tatapan mata bulat yang memelas.
Jasmine tertawa kecil, lalu mengambil satu sendok madu lagi dan menuangkannya tepat di atas tumpukan pancake Leo.
"Nah, sekarang punyamu yang paling manis, jangan ganggu piring Kakak, oke?" ucap Jasmine, tersenyum kecil.
"Hehe, terima kasih Ibu!" seru Leo kembali bersemangat, melupakan aksinya mencuri pancake kakaknya.
Nyonya Kimberly yang duduk di seberang Jasmine hanya bisa tersenyum haru sambil menyesap tehnya, begitupun dengan Tuan Steven, yang memperhatikan kedua cucu nya.
"Kau tahu Jasmine, pemandangan ini, membuatku lupa sejenak bahwa kita sedang berada di tengah badai, kamu sangat pandai menjaga suasana hati mereka," ucap Nyonya Kimberly, tersenyum.
"Mereka masih anak-anak, Ibu, biarkan mereka merasa bahagia di meja makan ini, karena dunia luar sudah cukup memberikan tekanan pada mereka," jawab Jasmine menatap kedua anaknya dengan penuh kasih.
Lucian, yang rupanya jauh lebih peka dari usianya, meletakkan garpunya sejenak, pria kecil itu menatap Jasmine dengan mata hitamnya yang dalam.
"Ibu, nanti setelah sarapan, bolehkah kami membantu Ibu? Atau mungkin membacakan buku?" tawar Lucian, sangat peka dan perhatian.
Jasmine tersentuh, Lucian tahu ibunya sedang memikul beban berat, dan cara bocah itu menghibur adalah dengan menawarkan kehadiran dirinya.
"Tentu, Sayang, Ibu ingin sekali mendengar Lucian membaca sejarah Alistair. Dan Leo..." ucap Jasmine mencubit pelan hidung Leo yang kini belepotan madu.
"...kamu bisa membantu Ibu memetik bunga di rumah kaca," lanjut Jasmine, tersenyum kecil.
"Siap! Leo akan petik bunga yang paling besar untuk Ibu!" seru Leo bangga.
Tiba-tiba, Leo berhenti mengunyah, telinganya sedikit bergerak, lalu dia menoleh ke arah pintu ruang makan.
"Paman Ethan datang, langkah kakinya berat, sepertinya dia lapar juga," celetuk Leo polos.
Nyonya Kimberly dan Tuan Steven tergelak, cucu bungsu mereka itu benar-benar sangat menggemaskan.
Mungkin bisa di bilang Leo adalah keturunan serigala yang paling manis, tapi beda lagi kalau dia udah mode serigala nya, bocah kecil itu bisa membakar kerajaan hanya dengan tatapan mata tajam nya.
KREIT...
Pintu ruang makan terbuka dan Ethan muncul, dia tampak sudah berganti pakaian dengan seragam ksatria yang bersih, namun wajahnya terlihat sedikit tegang saat melihat suasana sarapan yang begitu damai.
"Maaf mengganggu waktu sarapan Anda, Yang Mulia," ucap Ethan sambil membungkuk.
"Duduklah, Ethan, ambil piring, kau butuh tenaga untuk jadwal kita selanjutnya," ucap Jasmine mengisyaratkan Ethan untuk mendekat.
"Tapi Yang Mulia, saya-"
"Ini perintah, Ethan," potong Jasmine lembut namun tegas.
"Anak-anak ingin kau bergabung," lanjut Jasmine, melihat kedua anaknya.
"Iya Paman! Makan pancake buatan Ibu! Enak sekali, sampai perut Leo mau meledak!" ucap Leo menepuk-nepuk perut kecilnya yang mulai buncit.
"Duduklah Ethan, kamu sudah bekerja keras hari ini, untuk kedua cucu ku," ucap Tuan Steven, angkat bicara.
"Terimakasih..." ucap Ethan, menunduk sopan.
Ethan akhirnya duduk dengan canggung di ujung meja yang lain.
Saat dia mencicipi potongan pertama pancake itu, matanya sedikit membelalak, rasa manis dan hangat itu seolah menghapus ketegangan di pundaknya yang sejak semalam terasa kaku.
"Pantas saja dulu, Duke tidak ingin berbagi masakan Duches, ternyata rasanya seperti enak ini," batin Ethan, mengingat setiap kali dia ingin mencicipi masakan Jasmine, Duke Lucas selalu melarang nya.
Di meja makan itu, di bawah sinar matahari musim dingin yang mulai meninggi, mereka tertawa bersama.
Leo bercerita tentang bagaimana dia ingin punya kuda sebesar milik ayahnya, sementara Lucian sesekali mengoreksi cerita adiknya yang terlalu berlebihan.
Jasmine menikmati setiap detik tawa itu, menyimpannya baik-baik di dalam ingatannya, karena dia tahu, beberapa jam lagi, dia harus kembali menjadi wanita yang dingin dan penuh perhitungan, tapi untuk saat ini, dia hanya ingin menjadi seorang ibu yang melihat anak-anaknya kenyang dan bahagia.
"Ibu, lihat!" seru Leo menunjukkan potongan pancake yang dia bentuk menyerupai wajah serigala dengan madu.
"Ini Ayah!" lanjut Leo, dengan bangga.
"Iya, Sayang, itu ayah, ayah pasti bangga melihat kalian makan dengan lahap," jawab Jasmine tersenyum, meski hatinya sedikit perih.
"Lucas, bertahan lah sedikit lagi Sayang, kamu harus melihat anak-anak mu, mereka begitu pintar seperti dirimu," batin Jasmine, dengan perasaan sesak.
Pemandangan seperti yang selalu membuat Ethan merasa bersalah, karena gagal melindungi Duke Lucas waktu itu, sehingga tuan muda kecil nya harus tahu tumbuh tanpa kehadiran Ayah nya.
"Kali ini aku bersumpah dengan nyawa ku sendiri, aku akan membawa Duke Lucas kembali ke kediaman ini, apapun resikonya nanti, akan aku hadapi," batin Ethan, mengepal kan tangan nya kuat, di bawah meja, dengan tekat yang membara, di hati nya.