NovelToon NovelToon
Rebel Hearts

Rebel Hearts

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford

Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.

Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati yang Terbakar

Pagi di Reykjavik biasanya tenang, hanya diiringi suara angin yang menyapu salju tipis di trotoar. Namun, pagi ini berbeda.

Sejak pukul delapan, sebuah suara raungan mesin yang dalam dan agresif memecah keheningan di area parkir utama universitas. Itu bukan suara sedan mewah biasa atau bus kampus, itu adalah suara mesin V8 yang telah dimodifikasi untuk lintasan balap.

Zane Sebastian Vance datang bukan untuk bermain-main.

Ia mengendarai mobil yang semalam ia tunjukkan pada Salena di video call, sebuah monster jalanan berwarna hitam pekat dengan aksen karbon yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.

Zane memarkir mobil itu tepat di depan pintu masuk gedung fakultas hukum, sebuah area yang sebenarnya terlarang untuk parkir, namun siapa yang berani menegur sang Dewa New York saat ia turun dari mobil dengan aura yang begitu mendominasi?

Zane bersandar di kap mobilnya yang masih panas. Ia mengenakan jaket kulit balap yang pas di tubuh atletisnya, kacamata hitam menutupi matanya, dan sisa-sisa aroma adrenalin semalam masih terpancar dari gerak-geriknya. Ia sedang menunggu satu-satunya alasan kenapa ia rela bangun sepagi ini setelah hanya tidur tiga jam.

Di sisi lain koridor, Salena berjalan keluar gedung bersama Freya. Ia mengenakan mantel wol panjang berwarna krem yang elegan, namun wajahnya tampak sedikit memerah saat mendengar kebisingan di luar.

"Sal, lihat itu!" Freya menyikut lengan Salena, menunjuk ke arah kerumunan mahasiswa yang sedang mengambil foto. "Pangeranmu datang dengan kereta perang yang baru."

Salena menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada Zane yang berdiri angkuh di samping mobil balapnya. Ingatan tentang percakapan video call semalam, tentang bagaimana Zane memujinya seksi saat ia hanya mengenakan tank top sutra, kembali berputar di kepalanya, membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Zane melihatnya. Ia melepas kacamata hitamnya, menyelipkannya di kerah kaus hitamnya, dan memberikan seringai tipis yang hanya ditujukan untuk Salena. Ia berjalan menghampiri Salena melewati kerumunan mahasiswa yang mendadak sunyi.

"Pagi, Nona Pengacara," suara Zane rendah, hampir menyerupai geraman mesin di belakangnya. "Sudah siap untuk perjalanan paling cepat dalam hidupmu?"

Salena berusaha menjaga wajah kaku Ratu Es nya, meski tangannya sedikit gemetar saat merapikan tas bahunya. "Kau gila, Zane. Kau membawa mobil sirkuit ke kampus? Kau tahu ini melanggar peraturan parkir?"

"Aku sudah membayar denda parkirnya di depan, Salena. Untuk setahun penuh," sahut Zane enteng. Ia meraih tangan Salena, jari-jarinya yang kasar namun hangat bertaut sempurna dengan jemari Salena.

"Ayo. Aku ingin membawamu makan siang di pinggir tebing sebelum kelas sore dimulai."

Namun, kemesraan itu terhenti oleh suara langkah kaki yang tajam dan cepat.

"Zane! Apa-apaan pertunjukan konyol ini?"

Kharel Renaud muncul dari balik kerumunan. Wajahnya yang cantik tampak tegang, matanya berkilat penuh amarah dan cemburu saat melihat tangan Zane menggenggam tangan Salena begitu erat.

Di belakangnya, beberapa mahasiswa yang menjadi pengikut barunya hanya bisa menonton dengan napas tertahan.

Kharel menatap mobil balap itu dengan tatapan merendahkan. "Mobil ini? Kau membawa mobil yang pernah kita gunakan saat balapan liar di Hamptons dulu? Kau mencoba membangkitkan kenangan kita, Zane?"

Zane tidak melepaskan tangan Salena. Ia justru menarik Salena lebih dekat ke arahnya, hingga bahu mereka bersentuhan. Ia menoleh ke arah Kharel dengan tatapan yang sangat dingin, seolah ia baru saja melihat serangga yang mengganggu.

"Hamptons sudah mati, Kharel. Mobil ini bukan tentang kenangan, tapi tentang kecepatan untuk lari dari masa lalu yang membusuk," ucap Zane tajam.

"Dan satu hal lagi... mobil ini punya satu kursi penumpang. Dan kursi itu bukan untukmu."

Kharel tertawa getir, suaranya melengking karena frustrasi.

"Kau pikir dia bisa menangani kecepatanmu, Zane? Gadis hukum yang kaku ini? Dia akan pingsan begitu kau menginjak gas. Dia tidak tahu apa-apa tentang duniamu!"

Salena, yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara. Ia melangkah maju, melepaskan diri sebentar dari rangkulan Zane untuk berdiri tegak di depan Kharel. Senyum tenang namun mematikan menghiasi bibirnya.

"Dunia Zane bukan tentang seberapa cepat mobil ini melaju, Kharel," ucap Salena tenang. "Tapi tentang siapa yang dia temui di garis finish. Dan sepertinya, garis finish-nya ada di Islandia, bukan di Manhattan."

Salena berbalik ke arah Zane, memberikan pandangan yang begitu lembut namun penuh tantangan. "Buka pintunya, Zane. Aku ingin tahu seberapa hebat kau mengendalikan monster ini."

Zane tertawa lepas, tawa penuh kemenangan yang membuat Kharel tampak semakin kecil dan tak berarti di tengah area parkir itu. Zane membukakan pintu untuk Salena dengan gerakan yang sangat sopan, seolah Salena adalah seorang ratu yang akan naik ke singgasananya.

"Dengan senang hati, Sayang," bisik Zane.

Saat Salena duduk di kursi penumpang yang sempit dan menggunakan sabuk pengaman empat titik yang rumit, ia bisa melihat Kharel yang mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kukunya memutih.

Amarah Kharel adalah api yang kini membakar dirinya sendiri, sementara Salena tetap dingin dan tenang di dalam pelindung baja milik Zane.

Zane masuk ke kursi pengemudi, mengenakan helmnya, dan menatap Salena melalui kaca helm yang gelap. "Pegangan yang erat, Salena."

VROOOOM!!

Dengan satu injakan gas yang dalam, mobil itu melesat keluar dari area kampus, meninggalkan kepulan asap tipis dan suara raungan yang menggetarkan kaca-kaca gedung universitas.

Di belakang, Kharel hanya bisa berdiri mematung, menatap debu yang ditinggalkan oleh pria yang sangat ia inginkan, namun kini telah benar-benar pergi bersama Es Islandia yang tak terduga.

Di dalam mobil, adrenalin Salena memuncak. Ia tidak takut, sebaliknya, ia merasa bebas. Ia melihat ke arah Zane yang fokus mengemudi, otot-otot lengannya yang penuh tato bekerja keras mengendalikan setir.

"Kau menyukainya?" teriak Zane di balik deru mesin.

Salena tertawa, sebuah tawa lepas yang terbawa angin. "Aku menyukai faktanya bahwa kita baru saja membuat Kharel hampir meledak!"

Zane tersenyum lebar. Baginya, kecepatan ini tidak lagi tentang melarikan diri, tapi tentang menuju masa depan yang baru bersama wanita yang berani duduk di sampingnya, menghadapi badai apa pun yang akan datang.

Esoknya mungkin akan ada drama baru dari Phoenix atau Kharel, tapi untuk saat ini, di jalanan Islandia yang membentang luas, hanya ada mereka berdua, kecepatan, dan perasaan yang semakin tak terkendali.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰😍

1
Xiao Lian Na ¿?
Baperrr😍
falea sezi
rencana sempurna
falea sezi
pdhl keluarganya zaen berpengaruh masak ngilangin benalu yg bunuh anak nya g bs lemah amat
falea sezi
phoenik goblok
falea sezi
Karel ini jalang bgt ya g bersukur dpet phoenik dan phoenik nya goblok kayak g ada cwek. lain aja
Epha Yusra
ceritanya bagus... berbeda...
Vina Vina
Sedihnyaaaa...../Sob/
falea sezi
Zane sebenarnya suka Karel. gk sih Thor
Anisa Muliana
padahal keluarga Vance berpengaruh di New York masak gk ada pembalasan utk si penabrak? kenapa rasanya kayak pasrah aja gtu..dan yg bergerak utk membalas malah Katiya..😌
Anisa Muliana
ditunggu update ceritanya thor..😁
Anisa Muliana
serius ceritanya seru thor😍 dan bikin deg"an bacanya Krn gk bisa nebak alurnya kyk gmna..
Anisa Muliana
sepertinya seru ceritanya thor😊
sakura
...
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
anggita
tato yg keren😚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!