Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Harga Kejujuran
Siang hari di kantor Zhao Haoran terasa lebih terang dibanding pertemuan pertama mereka. Tirai jendela dibuka setengah, cahaya matahari masuk miring dan jatuh tepat di atas meja kayu yang dipenuhi dokumen.
Gu Yanqing duduk berhadapan dengan Zhao, tanpa berbicara.
Di atas meja, berkas kecelakaan kerja ayahnya tersusun dalam beberapa tumpukan tipis. Tidak tebal. Tidak mengesankan.
Zhao mengenakan kemeja putih sederhana, lengan digulung sampai siku. Ia membaca tanpa tergesa. Sesekali pena hitam di tangannya bergerak, memberi tanda kecil di tepi kertas.
Halaman pertama: laporan kecelakaan internal.
“Jam kejadian tidak konsisten,” katanya datar.
Gu Yanqing tidak menjawab.
Zhao mengangkat satu lembar, membandingkan dengan salinan lain. “Di sini tertulis pukul 14.20. Di formulir ringkasan keselamatan, tertulis 15.05.”
“Selisih empat puluh lima menit,” jawab Gu Yanqing tenang.
“Dalam hukum, empat puluh lima menit bisa mengubah siapa yang bertanggung jawab.”
Zhao meletakkan kedua kertas itu berdampingan. “Ini celah pertama.”
Ia lanjut ke halaman berikutnya.
Daftar petugas keselamatan yang bertugas hari itu.
“Tiga nama tercantum,” katanya. “Tapi tidak ada tanda tangan pemeriksaan rutin sebelum shift dimulai.”
“Dokumen aslinya tidak pernah diberikan ke keluarga,” kata Gu Yanqing.
Zhao mengangguk singkat. “Yang kita punya hanya salinan tidak lengkap. Di pengadilan, salinan tanpa legitimasi mudah dipatahkan.”
Ia membalik halaman lagi.
Laporan medis rumah sakit hari kejadian.
“Cedera akibat jatuh dari ketinggian,” baca Zhao. “Namun tidak ada catatan mengenai kondisi alat pengaman.”
Gu Yanqing menatap titik kosong di meja. “Ayah saya selalu menggunakan pengaman.”
“Itu asumsi pribadi,” jawab Zhao tanpa nada merendahkan. “Di pengadilan, asumsi tidak dihitung.”
Hening beberapa detik.
Zhao mengumpulkan beberapa lembar, menyusunnya kembali dengan rapi.
“Masalah terbesar bukan pada cerita,” katanya akhirnya. “Secara moral, ini terlihat seperti kelalaian serius.”
Ia mengangkat pandangan. “Tapi pengadilan tidak memutus berdasarkan moral.”
Gu Yanqing mengangguk pelan.
“Yang diputus adalah apakah ada bukti konkret bahwa perusahaan melanggar kewajiban keselamatan secara langsung dan dapat diverifikasi.”
Zhao mengetuk bagian laporan yang kosong. “Di sini tidak ada foto lokasi kejadian. Tidak ada pernyataan saksi tertulis. Tidak ada audit keselamatan hari itu.”
“Sebagian orang yang tahu sudah pindah,” kata Gu Yanqing.
“Dan yang masih di sana?” tanya Zhao.
“Takut.”
Zhao tidak tampak terkejut.
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap tumpukan berkas yang sebenarnya terlalu tipis untuk melawan perusahaan besar.
“Dongkou Port Group memiliki departemen hukum internal,” katanya. “Mereka akan menyerang tiga hal: kelengkapan bukti, hubungan sebab-akibat, dan kredibilitas penggugat.”
Ia menunjuk satu demi satu dengan ujung pena.
“Pertama, mereka akan bilang kecelakaan itu murni kelalaian individu.”
“Kedua, mereka akan bilang prosedur keselamatan sudah sesuai standar.”
“Ketiga, mereka akan mempertanyakan mengapa gugatan baru diajukan sekarang.”
Gu Yanqing menjawab tanpa ragu. “Karena dokumen baru ditemukan.”
“Ditemukan oleh siapa?”
“Saya.”
Zhao menatapnya beberapa detik lebih lama.
“Kejujuran Anda bukan masalah,” katanya pelan. “Tapi di ruang sidang, lawan akan memutarbalikkan motivasi. Mereka akan menyiratkan bahwa ini gugatan oportunis.”
Gu Yanqing tidak membantah.
Ia memang tahu itu akan terjadi.
Panel sistem muncul singkat di sudut pandangannya.
Evaluasi Peluang Menang Saat Ini: 38%
Tidak ada grafik. Hanya angka.
Tiga puluh delapan persen.
Angka itu tidak mengejutkannya.
Zhao belum bisa melihat panel, tentu saja. Namun seolah sejalan dengan evaluasi sistem, ia berkata, “Secara objektif, peluang kita tidak tinggi.”
“Berapa persen menurut Anda?” tanya Gu Yanqing.
Zhao berpikir sebentar. “Kurang dari lima puluh. Mungkin tiga puluh sampai empat puluh, tergantung bagaimana hakim menilai bukti prosedural.”
Angka yang hampir sama.
Panel sistem tidak berubah.
Gu Yanqing tidak menunjukkan reaksi.
“Angka di bawah lima puluh bukan berarti tidak layak,” katanya. “Hanya berarti setiap tambahan bukti akan berdampak signifikan.”
Zhao menatapnya, lalu mengangguk tipis. “Benar. Dalam kasus seperti ini, satu dokumen asli bisa menggeser neraca.”
Ia menutup sebagian berkas, menyisakan beberapa lembar inti.
“Yang kita miliki sekarang,” lanjut Zhao, “adalah kebenaran moral yang kuat, tapi kebenaran hukum yang rapuh.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Gu Yanqing memahami sepenuhnya perbedaannya.
Moral: seorang pekerja tewas dalam kondisi yang mencurigakan.
Hukum: apakah ada pelanggaran prosedur yang dapat dibuktikan secara sah.
Tanpa bukti, moral hanya opini.
Tanpa dokumen, opini tidak bernilai.
Zhao menyatukan kedua tangannya di atas meja.
“Saya tidak akan menjanjikan kemenangan,” katanya tegas. “Dan saya tidak akan membangun strategi di atas kemarahan.”
“Saya tidak datang dengan kemarahan,” jawab Gu Yanqing.
“Saya tahu.”
Zhao melihat kembali tumpukan kertas itu. “Jika kita maju dengan kondisi ini, kita mungkin bertahan di tahap awal. Tapi untuk benar-benar menekan Dongkou Port, kita butuh sesuatu yang lebih keras dari sekadar narasi.”
Panel sistem tetap diam. Angka 38% tidak berubah.
Gu Yanqing memandang berkas itu sekali lagi.
Ia tidak merasa putus asa.
Ia hanya melihat celah.
Dan di antara celah-celah itulah strategi akan dibangun.
...
Zhao Haoran menarik satu lembar kosong dan mulai menulis beberapa poin dengan cepat.
“Kita ubah cara pandang,” katanya tanpa menatap Gu Yanqing. “Jika kita hanya menyerang satu insiden, mereka akan mempersempitnya menjadi kesalahan individu. Kita harus menggesernya menjadi kelalaian sistemik.”
“Bukan kecelakaan tunggal,” jawab Gu Yanqing pelan. “Tapi pola.”
Zhao mengangguk. “Betul. Jika kita bisa menunjukkan bahwa prosedur keselamatan di Dongkou Port hanya formalitas di atas kertas, maka beban pembuktian mereka akan bertambah.”
Ia menuliskan tiga kata besar:
Prosedur — Pengawasan — Dokumentasi.
“Kita serang dari sini,” lanjutnya. “Apakah prosedur keselamatan benar-benar dijalankan? Siapa yang mengawasi? Di mana dokumentasinya?”
Gu Yanqing ikut condong ke depan. “Jika laporan asli hilang, itu sendiri bisa menjadi indikasi manipulasi.”
“Bisa,” jawab Zhao, “tapi kita harus hati-hati. Kehilangan dokumen tidak otomatis berarti manipulasi. Kita perlu pola.”
“Pola penghilangan laporan?”
“Atau pola inkonsistensi waktu, tanda tangan, dan audit keselamatan.”
Zhao membuka kembali bagian kronologi. “Lihat ini. Selisih waktu empat puluh lima menit. Jika dalam rentang itu tidak ada supervisor yang tercatat hadir, maka pertanyaannya: siapa yang bertanggung jawab atas pengawasan?”
Gu Yanqing menjawab cepat, “Dan jika mereka tidak bisa menunjukkan catatan pengawasan yang sah, maka kewajiban pengamanan berada pada perusahaan.”
Zhao berhenti menulis. Ia menatap Gu Yanqing dengan ekspresi baru—bukan skeptis, melainkan menilai.
“Anda belajar cepat.”
“Saya hanya membaca ulang regulasi keselamatan kerja,” jawab Gu Yanqing tenang. “Tanggung jawab tidak bisa didelegasikan tanpa dokumentasi.”
Zhao tersenyum tipis. “Bagus. Kita akan gunakan bahasa sederhana di pengadilan. Hakim tidak butuh emosi. Hakim butuh rantai sebab-akibat.”
Ia menggeser kursi sedikit lebih dekat ke meja.
“Target awal kita bukan kompensasi maksimal,” katanya tegas. “Itu terlalu jauh. Target pertama adalah pengakuan tanggung jawab hukum.”
“Jika tanggung jawab diakui,” lanjut Gu Yanqing, “kompensasi akan mengikuti sebagai konsekuensi.”
“Dan reputasi mereka akan terdampak.”
Hening sejenak.
Zhao menyusun ulang berkas menjadi tiga kategori:
Bukti yang ada.
Bukti yang lemah.
Bukti yang belum ada.
“Kita fokus ke kategori ketiga,” katanya. “Karena di situlah peluang 38 persen bisa berubah.”
Panel sistem tetap diam. Angka tidak bergeser.
Gu Yanqing tidak menunggu sistem memberi validasi. Ia sudah mengerti logikanya.
“Untuk dokumen,” katanya, “kita bisa ajukan permintaan resmi kepada pengadilan agar memerintahkan perusahaan menyerahkan arsip keselamatan.”
Zhao mengangguk. “Itu langkah prosedural. Tapi mereka bisa mengklaim arsip rusak atau hilang.”
“Jika terlalu banyak yang hilang,” jawab Gu Yanqing, “itu sendiri menjadi pertanyaan.”
Zhao menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Anda mulai berpikir seperti pihak yang akan menyerang.”
“Karena bertahan saja tidak cukup.”
Zhao menutup laptopnya. “Ada satu hal lagi.”
Ia menyentuh bagian laporan medis. “Cedera akibat jatuh dari ketinggian. Kita perlu memastikan apakah alat pengaman saat itu sesuai standar nasional.”
“Berarti kita butuh ahli?”
“Setidaknya opini teknis tertulis.”
Gu Yanqing menghitung cepat dalam benaknya. Biaya ahli tidak murah. Dana bantuan ¥50.000 harus dipakai dengan presisi.
“Kita tidak bisa menghabiskan dana di awal,” katanya.
“Benar,” jawab Zhao. “Karena itu kita gunakan tahap awal untuk memaksa mereka membuka dokumen. Jika dari sana muncul inkonsistensi besar, baru kita bawa ahli.”
Strategi itu rasional. Tidak agresif, tapi terarah.
Zhao menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Anda harus siap untuk proses panjang. Dongkou Port tidak akan diam. Mereka mungkin mencoba menekan saksi. Atau memperlambat prosedur.”
“Saya mengharapkannya,” kata Gu Yanqing.
“Dan jika saksi mundur?”
“Kita fokus pada bukti dokumenter.”
Jawaban itu membuat Zhao mengangguk pelan. “Baik. Maka kita sepakati satu prinsip: kita tidak bersandar pada simpati. Kita bersandar pada celah prosedur.”
“Kejujuran tanpa bukti tidak cukup,” ujar Gu Yanqing.
“Ya,” balas Zhao. “Kejujuran harus didukung arsip.”
Suasana ruangan menjadi lebih fokus. Tidak ada lagi pembahasan peluang abstrak. Semua berubah menjadi langkah konkret.
Zhao merapikan berkas dan memasukkannya ke dalam map baru.
“Kita ajukan permintaan pengungkapan dokumen resmi minggu ini,” katanya. “Sambil itu, Anda coba cari siapa saja yang masih bekerja di sana dan tahu kondisi keselamatan saat itu.”
Gu Yanqing mengangguk. “Saya akan bergerak hati-hati.”
Zhao menutup map itu dengan satu gerakan tegas.
“Kita butuh bukti tambahan,” katanya tenang.
Kalimat itu tidak terdengar seperti keluhan. Lebih seperti garis start.
“Dokumen asli yang hilang,” lanjutnya, “atau seseorang yang berani berbicara secara tertulis.”
Gu Yanqing berdiri.
Ia tidak merasa terbebani oleh angka 38 persen. Angka itu hanya menunjukkan jarak yang harus ditempuh.
Di pintu kantor, ia berhenti sejenak.
Pertarungan ini bukan lagi tentang membuktikan ayahnya benar.
Ini tentang membuktikan bahwa perusahaan besar pun terikat aturan yang sama.
Dan dengan berkas yang kini tersusun lebih rapi, pertarungan baru saja dimulai secara serius.