NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 : Menelan pil pahit

Kondisi jalan pagi itu bisa dikatakan cukup macet, karena hari kerja memang biasanya sangat padat dengan begitu banyak kendaraan pribadi roda empat atau pun roda dua yang menggunakan jalan sebagai rantai penyambung hidup untuk mencari nafkah.

"Gila ya jalanan, macet banget..., padahal kita jalan udah agak siangan lho. Pagi pasti lebih parah!" Gerutu Andini saat baru saja keluar dari kemacetan lalu-lintas.

"Mau bagaimana lagi, namanya juga Ibukota...," balas Alena hanya bisa tersenyum pasrah.

"Oh ya, nanti di sana lu emang mau apa? Nanya ke semua orang gitu?" Tanya Andini masih penasaran sama rencana Alena.

"Gue mau pergi ke toko perhiasan Cartier buat balikin cincin sekalian nanya kepastian," jawab Alena dengan mantap.

"Wah? Arinta ngasih lu cincin Cartier?" Andini nyaris saja mengerem mendadak saking terkejutnya.

"Iya, dia beli cincin itu buat gue katanya di mall..., gue gak tau dia beli itu emang untuk gue atau dia cuma lagi menutupi perselingkuhannya aja...?" Ujarnya dengan dilemma. Dia gak ingin kebahagiaan itu menjadi seperti alat untuk menutupi kebusukan yang Arinta lakukan di luar sana.

"Semua bakal jelas kalau kita udah ke sana, Len...," balas Andini. "Tapi..., lu udah siap 'kan..., sama apapun yang bakal terjadi nanti...?" Ucapnya bertanya dengan nada sedikit khawatir kalau sampai kebenaran akan menjatuhkan jiwa Alena.

"Gue udah siap," jawab Alena singkat dan mantap. Binar matanya menunjukkan kekuatan tekad sejati.

.

.

Mereka akhirnya sampai di Mall besar dan ternama di kota ibu kota dekat area selatan. Keduanya turun dari mobil setelah sampai di area parkir, lalu berjalan menuju ke bangunan mall super megah itu.

Di depan gerbang pintu mall Alena sempat bertanya pada seorang satpam mengenai lokasi tokoh perhiasan brand Cartier.

"Oh, tempatnya ada di lantai dua sebelah kiri, Bu." Satpam itu pun mengarahkan jalan kepada Alena dan Andini.

"Terimakasih ya, Pak," balas Alena dengan santun.

Setelah mendapat petunjuk, kedua wanita itu pun bergegas menaiki elevator yang ada di tengah-tengah dan berbelok ke arah kiri sesuai dengan arahan satpam tadi.

.

.

Mereka memasuki toko mewah bernuansa rose gold dengan nama brand terpampang nyata di atas tokonya.

"Selamat datang, Ibu." Seorang wanita cantik berpakaian modis sudah menyapa dengan senyum ramah.

Dia berjalan mendatangi Alena juga Andini yang baru masuk dan masih berdiri di ambang pintu toko.

"Silahkan, mungkin ada yang bisa dibantu...?" Ujarnya memandang dia orang wanita di depannya dengan sopan.

"Eum..., begini, saya mau melakukan retur, apa bisa dibantu...?" Tanya Alena dengan sedikit keraguan.

"Oh, mau retur barang? Tentu, silahkan ke resepsionis." Ia mengarahkan Alena untuk menuju ke meja resepsionis di sisi kanan belakang.

"Ya, terimakasih...."

Keduanya melangkah menuju ke arah resepsionis dengan sedikit perasaan canggung. Alena menarik napasnya terlebih dahulu sebelum berbicara.

"Saya kemari mau retur barang," ucapnya.

"Bisa lihat bukti pembelian dan garansi kalau ada?" Balas sang resepsionis cukup ramah. Padahal, awalnya Alena dan Andini mengira akan mendapat perlakuan ketus. Biasanya selalu seperti itu kalau sudah dalam urusan pengembalian barang.

"Ya, saya bawa." Alena segera mengangguk. "Ini...."

Ia memberikan dua kertas kecil, satu adalah struk belanja dan yang satunya adalah garansi dari perhiasan dari toko tersebut. Tak lupa ia juga meletakkan barang mewah yang sudah dibeli, dan masih tersimpan rapih di kotaknya ke atas meja.

"Oh, yang dikembalikan cuma satu ya? Kenapa, enggak cocok sama seleranya? Harusnya kemarin Kakaknya ikut, sayang dikembalikan padahal barang mahal," ucap sang wanita setelah melihat struk tersebut. Ia hanya sedikit berbasa-basi saja kepada pelanggan agar tak terlalu hening. Maklum, suasana tokoh masih sepi karena masih pagi. Pelanggan biasanya mulai ramai menjelang sore hingga malam hari.

Alena mengerutkan dahi setelah mendengar ucapan tak sengaja dari sang resepsionis itu.

"Maksudnya yang dikembalikan cuma satu apa, ya?" Tanyanya tanpa bisa menyembunyikan semua rasa penasarannya.

"Emm...?" Resepsionis muda itu langsung menatap Alena dan Andini secara bergantian dengan agak canggung. Ia seperti menyadari baru salah berucap barusan. "Maksud saya... kemarin 'kan beli cincinnya dua...," jawabnya penuh keraguan.

"Dua...?" Alena terdiam dengan tatapan mengarah pada meja kasir. Pikirannya langsung mengaitkan semua hal. Apa mungkin cincin yang satunya diberikan untuk Melinda?

"Len...?" Andini langsung menatap khawatir kepada temannya yang mendadak terbengong.

"Uh, ini... tunggu sebentar ya...," ujar resepsionis wanita muda itu mengambil dua bukti pembelian yang diberikan oleh Alena untuk dicocokkan lagi. Tangannya bergerak mengetik sesuatu pada keyboard dan matanya fokus menatap layar monitor.

Alena menunggu hasilnya dengan perasaan tegang yang tiba-tiba saja menjalar. Tangannya meremas-remas sendiri dengan gelisah.

"Ya, barang itu dibeli atas nama Pak Arinta," pungkasnya setelah mendapat data yang cocok. "Kalau begitu tunggu dulu ya, saya ambil catatan dulu."

Wanita itu berjalan masuk ke sebuah ruangan lain entah untuk apa. Sementara Alena merasa semakin yakin ada yang disembunyikan oleh sang suami. Kemana cincin yang satu lagi kalau dia membeli dua cincin? Benarkah untuk Melinda? Pertanyaan itu membuat hatinya tak tenang.

Tak lama resepsionis itu kembali sambil membawa sebuah buku.

"Silahkan ditulis di sini nama Ibu juga tanda tangan untuk pembuktian kalau barang sudah dikembalikan, dan nanti setelahnya kita akan melakukan pengembalian uang." Buku itu diletakkan di atas meja kasir dengan sebuah pulpen.

Alena tanpa ragu menuliskan namanya di buku itu beserta tanda-tangan.

"Oke, atas nama Ibu Alena..., pasti Kakak iparnya ya...," ucap sang resepsionis sok tau.

"Kakak ipar? Saya Kakak ipar siapa?" Alena bertanya dengan nada yang sedikit emosi, sampai pegawai toko yang satunya lagi menoleh ke arah mereka.

"Kakak iparnya..., Pak Arinta...," jawab wanita itu dengan takut kali ini karena melihat wajah Alena yang begitu gusar.

"Kakak ipar? Dia ini Istrinya Pak Arinta!" Kali ini Andini yang ikutan ngomong merasa kesal.

"Aduh, maaf Bu, saya 'kan tidak tau..., soalnya kemarin Pak Arinta itu datang dengan wanita lain, saya kira itu Istrinya karena sangat mesra...," ungkap si pegawai dengan cemas dan meminta maaf. Ia takut disalahkan hanya karena salah sebut, bisa diviralkan lagi nanti dan berujung pada pemecatan. "Maafkan saya, Bu...," lanjutnya dengan suara memohon.

Alena kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada resepsionis itu.

"Apa wanitanya adalah Dia?" Tanya Alena dengan tegas.

"I-iya benar sekali! Mereka berdua memang datang kemari dan Bapak ini membeli dua cincin, katanya untuk istri dan satu lagi untuk Kakak iparnya." Sang resepsionis langsung mengangguk mantap. Ia bahkan masih ingat percakapan antara dirinya dengan pelanggannya itu.

"Hah...."

Tubuh Alena seketika melemas. Napasnya sesak, dan kedua kakinya seolah kehilangan pijakan. Wanita itu seperti tercekat dan tangannya memegangi dada yang terasa begitu berat.

"Len, Len!" Andini yang berada di sebelah langsung menopang tubuh Alena yang limbung, hampir merosot jatuh.

"Yu, Ayu ambil air di dalam!" Resepsionis muda itu pun juga langsung keluar dari mejanya untuk membantu Andini memapah Alena.

Ayu pegawai yang satunya lagi segera berlari dengan sepatu hak tingginya ke belakang saat melihat keadaan Alena yang mendadak lemas begitu.

Sementara Alena langsung didudukkan di atas sofa merah yang ada di dalam toko.

"Ternyata Arinta beneran selingkuh...!"

Tangis Alena pecah di ruangan itu dengan suara menggema karena situasi toko yang masih sepi. "Dia beli cincin itu buat selingkuhannya...!!" Ia menangis dalam sandaran bahu Andini yang merasa iba pada sang teman.

"Wi, ini airnya...!" Pegawai yang tadi berlari berdiri di sebelah sang resepsionis bernama Dewi sambil menyodorkan segelas air.

"Pintu tokonya tutup dulu," bisik Dewi supaya gak ada orang lain yang masuk untuk sementara. Ayu, rekan kerjanya mengangguk dan langsung bergerak cepat. Tentunya mereka gak mau hal ini jadi konsumsi publik karena nama baik toko dipertaruhkan.

"Bu, airnya saya taruh di meja ya...," ucap resepsionis toko itu sambil meletakkan gelas minuman di depan Alena yang masih menangis pilu dalam dekapan sang kawan.

Apa sikap Alena setelah mengetahui kenyataan pahit ini?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!