NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Keheningan yang Pahit

Pagi itu, perpustakaan diselimuti oleh aroma kertas tua dan sisa-sisa embun yang menempel pada jendela besar.

Kontrak mengajar Genevieve Isolde Clara di sekolah anak-anak telah berakhir minggu ini—sebuah waktu yang tepat untuk mengambil jeda, meskipun alasannya jauh dari kata tenang.

Genevieve duduk di balik meja sirkulasi, jemarinya sibuk merapikan kartu-kartu peminjaman buku.

Matanya masih sedikit bengkak dan kemerahan akibat tangisan semalam, namun ia berusaha menutupi itu dengan polesan tipis bedak pualam.

Ada perasaan yang sangat membingungkan di dadanya. Di satu sisi, ia merasa seperti beban berat seberat gunung telah diangkat dari bahunya. Ia tidak lagi perlu bangun dengan kecemasan tentang tagihan rumah sakit adiknya atau tuntutan hutang ayahnya. Ia tidak perlu lagi mengorbankan setiap sen gajinya hanya untuk "membeli" kasih sayang dari orang-orang yang hampir menjualnya.

Namun, di sisi lain, ada ruang kosong yang pedih di hatinya.

"Mereka benar-benar tidak mengingatku?" bisiknya pelan pada barisan buku di depannya.

Ia mencoba menulis surat untuk adiknya pagi tadi, namun tangannya bergetar hebat saat menyadari bahwa ia mengirimkan kata-kata kepada orang asing yang tidak lagi mengenal namanya. Kebebasan ini terasa tajam, seperti pisau yang memotong satu-satunya akar yang ia miliki. Meski begitu, ia mencoba berdamai.

Setidaknya untuk saat ini, tidak ada yang memburunya. Tidak ada yang menekannya.

Perpustakaan pagi ini sangat sepi. Hanya ada suara detak jam dinding yang besar. Genevieve menarik napas panjang, mencoba menikmati ketenangan ini. Ia berpikir, mungkin jika ia tetap berada di sini, di antara dinding-dinding buku ini, pria misterius itu akan bosan dan meninggalkannya.

"Mungkin dia sudah pergi," gumamnya dengan nada penuh harap yang tipis.

Ia bangkit dari kursinya untuk menaruh beberapa buku ke rak kategori sejarah. Namun, saat ia melangkah ke lorong paling ujung yang cahaya mataharinya tidak sampai ke sana, ia menyadari sesuatu yang aneh.

Semua buku di rak bagian "Keluarga Bangsawan Abad ke-17" telah bergeser. Di tengah-tengah rak itu, tersisa satu celah kosong yang di dalamnya diletakkan sebuah benda yang sangat tidak asing.

Sebuah cangkir porselen berisi teh melati yang masih mengepul panas—teh favorit Genevieve yang selalu ia minum saat ia merasa sedih—dan di sampingnya, sebuah bros perak berbentuk sayap yang sangat indah.

Genevieve membeku. Teh itu masih panas, berarti seseorang baru saja meletakkannya beberapa detik yang lalu.

"Kau tidak bisa membeli kedamaianmu dengan mengabaikanku, Genevieve," suara itu terdengar begitu dekat, berasal dari balik rak buku yang gelap di hadapannya.

Genevieve menatap cangkir teh yang mengepul itu selama beberapa detik, lalu tanpa ekspresi, ia memalingkan wajahnya. Ia tidak menyentuh teh itu, tidak pula mengambil bros perak yang berkilau di bawah temaram cahaya rak.

Dengan gerakan yang tenang namun dingin, ia melanjutkan tugasnya. Ia mengambil buku-buku di kereta dorong dan menyusunnya ke rak satu per satu, seolah-olah Valerius hanyalah debu yang beterbangan di udara.

"Jangan ganggu aku," ucap Genevieve datar, suaranya hampir tidak lebih dari sebuah bisikan, namun penuh dengan ketegasan yang mutlak. "Aku sedang bekerja."

Ia melewati lorong gelap itu tanpa sedikit pun melirik ke arah bayangan tempat Valerius berdiri. Sikap acuh tak acuhnya adalah senjata baru yang ia temukan. Jika rasa takut hanya memberi Valerius kekuatan, maka ketidakpedulian mungkin akan membuatnya jengah.

Valerius tetap diam di balik bayang-bayang.

Ia memperhatikan bagaimana jemari Genevieve yang lentik dengan cekatan menyusun buku-buku tebal.

Ada sesuatu yang menarik sekaligus menjengkelkan bagi sang vampir melihat gadis itu bertingkah seolah dirinya tidak ada. Selama beratus-ratus tahun, keberadaannya selalu memicu ketakutan atau pemujaan, namun Genevieve memilih untuk menganggapnya tidak kasatmata.

"Kau pikir dengan mengabaikanku, ikatan ini akan putus?" suara Valerius terdengar sedikit lebih berat, ada nada posesif yang tertahan di sana.

Genevieve tetap diam.

Ia bahkan mulai bersenandung kecil—sebuah lagu yang biasa ia nyanyikan di kelas anak-anak—hanya untuk menutupi suara pria itu. Ia mengambil kemoceng dan mulai membersihkan debu-debu di rak buku dengan teliti, melewati Valerius begitu saja seolah pria itu hanyalah bagian dari dekorasi perpustakaan yang kuno.

Pagi itu berlalu dengan tensi yang aneh.

Genevieve bergerak kesana-kemari dengan efisien, melayani satu-dua pengunjung yang datang dengan senyum ramah yang profesional, namun setiap kali ia kembali ke area yang sepi, ia bisa merasakan kehadiran Valerius yang terus mengikutinya dari kejauhan.

Pria itu tidak lagi bicara, namun tatapannya tidak pernah lepas dari punggung Genevieve.

Valerius berdiri di sudut-sudut gelap, duduk di kursi baca yang paling ujung, atau bersandar di pilar marmer—diam, tenang, namun mencekam.

Hingga tengah hari tiba, teh melati di meja itu sudah mendingin sepenuhnya tanpa tersentuh sedikit pun. Genevieve lewat di depannya sekali lagi, mengambil cangkir itu, dan tanpa ragu menuangkan isinya ke dalam wastafel di ruang belakang.

1
Yusry Ajay
semangat trus kk Thor 🤗
May Maya
lanjut Thor
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!