Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pemeriksaan Jiwa yang Menipu
Langkah kaki Ji Zhen bergema di sepanjang selasar batu menuju Aula Penyembuhan. Di setiap sudut, murid-murid sekte berbisik, melemparkan pandangan tajam yang dipenuhi kecurigaan. Mereka menanti kejatuhannya. Namun, Ji Zhen justru berjalan dengan punggung tegak, wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Baginya, setiap tekanan adalah batu asahan untuk pedang ambisinya.
Di dalam aula, suasana terasa berat. Patriark Fei Wang duduk di kursi utama dengan tatapan yang mampu menembus kulit. Sementara di sampingnya, Tetua Penyembuhan sudah menyiapkan formasi deteksi di atas lantai marmer.
“Ji Zhen, kau tahu kenapa kau dipanggil ke sini,” suara Patriark Fei Wang membelah udara, berat dan penuh otoritas. “Insiden ledakan pilar penguji qi waktu itu masih menjadi tanda tanya besar bagi kami semua. Ditambah lagi kemenanganmu atas Tang Wei yang menggunakan metode tidak wajar, sekte harus memastikan kau tidak sedang meniti jalan yang sesat.”
Mendengar tuduhan itu, Ji Zhen lantas berdiri di tengah formasi, menatap langsung ke arah Patriark. “Saya siap diperiksa, Patriark. Saya tidak mungkin menyembunyikan apa pun yang dapat merugikan sekte.”
“Kita lihat saja,” sahut Tetua Penyembuhan. Ia mulai menggerakkan tangannya, memicu cahaya hijau dari formasi di bawah kaki Ji Zhen.
Seketika, Ji Zhen merasakan sensasi seperti aliran listrik panas merayap masuk melalui pori-porinya. Energi deteksi itu membedah setiap jalur meridian, mencari jejak qi yang tidak murni. Rasa sakitnya luar biasa, seakan otot-ototnya ditarik paksa dari tulang. Ji Zhen mengatupkan giginya kuat-kuat, rahangnya mengeras, menahan diri agar tidak mengerang.
Di dalam kesadarannya, Zulong bergerak. “Tahan napasmu, Bocah. Biarkan aku yang menangani sisanya.”
Hawa dingin yang sangat halus menyelimuti inti energi Ji Zhen. Es transparan ciptakan tirai yang mengisolasi keberadaan naga sepenuhnya. Lalu saat energi pemindai menyentuh pusat energinya, yang terlihat hanyalah kekacauan yang mengerikan.
Tetua Penyembuhan pun mengerutkan dahi, tangannya bergerak lebih cepat. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, cahaya hijau itu memudar. Tetua tersebut menghela napas, menoleh ke arah Patriark dengan wajah penuh keheranan.
“Hasilnya sangat buruk, Patriark,” lapor Tetua Penyembuhan. “Meridiannya penuh retakan parah. Ini adalah akibat dari terobosan paksa yang sangat ekstrem. Fondasinya kacau balau, membuat kemajuan kultivasinya akan sangat lambat di masa depan. Namun… saya tidak menemukan jejak qi iblis atau energi jahat apa pun di dalam tubuhnya.”
Ji Zhen mengatur napasnya yang berat, wajahnya pucat namun sorot matanya tetap tajam. “Saya melakukan latihan berat saat di Gunung Bingfeng, Patriark. Badai salju dan kondisi tanpa oksigen memaksa saya menarik qi yang sangat tipis untuk bertahan hidup. Itulah awal dari kerusakan ini, yang kemudian diperburuk oleh misi di Hutan Guyun.”
Patriark Fei Wang bangkit dari kursinya, mendekat ke arah Ji Zhen. “Lalu dari mana asal teknik es yang kau gunakan? Silsilah keluargamu tidak pernah memiliki catatan tentang ilmu es.”
“Saya menemukan teknik dasar es di sebuah gua tersembunyi saat terjebak di Gunung Bingfeng,” jawab Ji Zhen tegas, tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya. “Tanpa teknik itu, saya sudah menjadi mayat beku di sana.”
Zulong tiba-tiba tertawa mengejek di dalam pikiran Ji Zhen. “Seharusnya kau bilang juga soal bermalam dengan gadis cantik yang lari dari perjodohan, Bocah. Itu pasti mempercepat retakan fondasimu.”
“Diam kau, ular sawah!” bentak Ji Zhen dalam hati. Namun, saking kesalnya, kalimat itu terucap sangat pelan melalui bibirnya.
“Kau sedang berbicara dengan siapa tadi, Ji Zhen?” tanya Patriark dengan mata menyipit tajam.
Ji Zhen segera memasang wajah kesal yang dibuat-buat. “Maaf, Patriark. Saya hanya menggerutu pada diri sendiri karena kesal dengan kondisi meridian ini. Rasanya tidak adil jika usaha keras saya hanya berakhir dengan fondasi yang rusak.”
Patriark Fei Wang terdiam sejenak, menimbang-nimbang setiap kata Ji Zhen. Meskipun tidak ada bukti qi sesat, ia merasa ada sesuatu yang tidak sinkron. “Baiklah, Ji Zhen. Kau lolos dari tuduhan ilmu hitam. Namun, karena kondisi fisikmu yang tidak stabil dan risiko yang kau bawa, aku memutuskan untuk melarangmu ikut turnamen murid luar bulan depan.”
Seketika itu jantung Ji Zhen berdegup kencang karena marah. Dilarang ikut turnamen berarti ia kehilangan panggung untuk menghancurkan Ma Yingjie di depan umum dan mendapatkan sumber daya sekte. Tapi ia segera menekan emosinya. Marah tidak akan mengubah keputusan sang penguasa.
“Saya mengerti, Patriark,” ucap Ji Zhen sambil membungkuk hormat, meski pikirannya sudah mulai menyusun rencana lain.
Setelah keluar dari aula, Ji Zhen berjalan menuju area sepi di dekat tebing belakang sekte. Di sana, Lian Shu kebetulan sudah menunggu di balik pohon besar. Tanpa banyak bicara, Lian Shu menyerahkan selembar kertas berisi catatan rahasia.
“Ini bukti korupsi Tetua Ma. Dia menggelapkan ramuan alkimia tingkat tinggi untuk kepentingan pribadinya,” bisik Lian Shu.
Ji Zhen menerima kertas itu, lalu menatap Lian Shu dengan serius. “Kau harus hati-hati. Kalau terus membantuku seperti ini, kau bisa terseret masalah besar. Ma Yingjie tidak akan segan menyingkirkan siapa pun.”
Mendengar kepedulian pemuda itu membuat Lian Shu tersenyum tipis, sorot matanya menunjukkan ambisi yang sama dinginnya dengan Ji Zhen. “Aku sudah bilang sejak awal kan? Ji Zhen. Aku bertaruh padamu. Jika kau naik posisi, aku ingin imbalan yang setimpal di masa depan. Aku tidak membantu karena kasihan.”
Ji Zhen tertawa singkat, sebuah tawa yang penuh dengan rencana busuk. “Itu baru namanya kerja sama. Baiklah, simpan sisanya untuk nanti.”
Saat Lian Shu pergi, Ji Zhen berdiri di tepi tebing, menatap matahari yang mulai turun. Larangan ikut turnamen bukan akhir baginya.
“Mereka pikir aku lemah karena meridian yang rusak ini?” gumamnya sambil meremas kertas di tangannya. “Justru ini kesempatan buat aku lebih kuat diam-diam tanpa pengawasan mereka. Ma Yingjie… nikmatilah masa tenangmu sekarang, karena saat aku kembali nanti, tidak akan ada tempat bagimu untuk bersembunyi.”
Zulong mendengus puas di dalam kepalanya. “Bagus. Itulah mentalitas seorang predator. Sekarang, mari kita bicara soal cara memperbaiki ‘fondasi kacau’ yang kau bicarakan tadi.”