Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE SPESIAL 3: Detak Jantung Baru
Setelah kembali dari ketenangan hutan pinus di Utara, kehidupan di Istana Aurora tidak lagi terasa seperti medan perang yang dingin. Meskipun Elara telah kembali mengenakan mahkotanya, ada kelembutan baru dalam setiap keputusannya. Namun, perubahan yang paling mencolok bukan terjadi pada kebijakan politiknya, melainkan pada rutinitas paginya.
Sudah satu minggu Elara merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Aroma kopi hitam yang biasanya menjadi penyemangat paginya kini terasa begitu memuakkan, dan setiap kali ia mencoba berdiri terlalu cepat, dunia seolah berputar. Puncaknya adalah suatu pagi di ruang makan pribadi, saat pelayan menyajikan hidangan ikan asap favoritnya, Elara harus segera berlari meninggalkan meja dan menutup mulutnya.
Alaric, yang saat itu sedang membaca laporan militer, langsung menjatuhkan perkamennya. Wajahnya yang biasanya tenang mendadak dipenuhi kepanikan. Ia menyusul Elara ke kamar mandi pribadi, memijat tengkuk istrinya dengan tangan yang gemetar.
"Elara? Kita harus memanggil tabib sekarang. Apakah ini racun? Apakah ada penyusup yang lolos dari pengawasan kita?" suara Alaric terdengar berat dan penuh ancaman, naluri pelindungnya langsung bangkit.
Elara menyeka bibirnya, napasnya tersengal namun matanya mulai berbinar. Ia menatap wajah Alaric yang cemas dan menggeleng pelan. "Bukan racun, Alaric. Setidaknya, bukan jenis yang mematikan."
Kabar yang Mengubah Segalanya
Tabib agung istana datang dengan tergesa-gesa. Setelah pemeriksaan yang memakan waktu cukup lama dan penuh ketegangan—di mana Alaric mondar-mandir di depan pintu seperti serigala yang terkurung—sang tabib akhirnya keluar dengan senyuman lebar.
"Selamat, Yang Mulia Empress. Selamat, Grand Duke," ucap tabib itu sambil membungkuk dalam. "Kekaisaran Aurora akan segera memiliki pewaris. Ibu dan janinnya dalam keadaan sehat."
Hening.
Alaric Ravenhurst, pria yang sanggup berdiri tegak di tengah hujan panah Zandaria, mendadak kehilangan kekuatan di kakinya. Ia terduduk di kursi terdekat, matanya menatap kosong ke arah dinding seolah sedang mencoba memproses kata-kata tabib tersebut. Elara mendekatinya, berlutut di depan suaminya, dan mengambil tangan besar Alaric untuk diletakkan di atas perutnya sendiri.
"Ada kehidupan baru di sini, Alaric," bisik Elara dengan suara yang serak karena haru. "Buah dari perdamaian kita."
Alaric perlahan menggerakkan jemarinya, menyentuh perut Elara dengan kelembutan yang sangat kontras dengan tangan yang biasa memegang pedang maut. Air mata perlahan menggenang di mata merahnya. Ia menarik Elara ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di bahu istrinya. "Aku... aku akan menjadi ayah? Aku akan memastikan dia tidak akan pernah mengenal kegelapan yang kita lalui, Elara. Aku bersumpah."
Proteksi Sang Serigala
Maka dimulailah babak baru di istana yang cukup menghibur bagi para pelayan dan ksatria. Alaric von Ravenhurst yang ditakuti berubah menjadi pria yang sangat protektif, hingga ke tahap yang membuat Elara sering kali merasa gemas sekaligus jengkel.
Alaric memerintahkan agar seluruh lantai istana dilapisi dengan karpet tebal dari bulu domba agar Elara tidak terpeleset. Setiap sudut meja yang tajam dibungkus dengan kain beludru. Bahkan, ia melarang Elara menaiki kuda kesayangannya, Snow, dan bersikeras agar Elara hanya bepergian menggunakan kereta yang ditarik oleh empat kuda paling tenang yang pernah ada.
"Alaric, aku ini seorang Empress yang pernah membelah samudera, bukan porselen yang mudah retak," protes Elara saat Alaric mencoba melarangnya turun ke taman hanya karena mendung sedikit bergelayut di langit.
"Bagiku, kau lebih berharga dari porselen mana pun di dunia ini," jawab Alaric tanpa kompromi, sambil membungkus bahu Elara dengan syal wol yang sangat tebal. "Jika terjadi sesuatu padamu atau anak kita, aku akan meratakan seluruh benua ini untuk mencari obatnya."
Meskipun protektif, Alaric juga menunjukkan sisi yang sangat manis. Setiap malam, ia akan membacakan buku-buku sejarah atau cerita rakyat Utara di samping tempat tidur Elara. Ia bersikeras bahwa anak mereka harus mengenal suara ayahnya sejak dini. Alaric juga mulai belajar mengukir kayu, mencoba membuat mainan kecil berbentuk serigala dan naga yang ia simpan di dalam kotak kayu di sudut kamar mereka.
Ikatan di Bawah Cahaya Bulan
Suatu malam, saat kehamilan Elara memasuki bulan kelima, mereka duduk di balkon kamar mereka. Perut Elara mulai terlihat membuncit di balik jubah tidurnya yang tipis. Alaric duduk di belakangnya, membiarkan Elara bersandar pada dadanya yang bidang, sementara tangannya terus-menerus mengelus perut Elara.
Tiba-tiba, Elara terkesiap kecil. "Alaric! Tunggu... rasakan ini."
Alaric diam, menahan napasnya. Tiba-tiba, ada gerakan kecil di bawah telapak tangannya. Sebuah tendangan halus namun nyata. Alaric membeku, matanya membelalak tak percaya.
"Dia... dia bergerak," bisik Alaric. "Dia menyapaku."
"Dia tahu ayahnya sedang menjaganya," jawab Elara sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Alaric. "Aku memikirkan sebuah nama. Jika dia perempuan, aku ingin menamainya Aria. Nama yang berarti melodi, karena kehadirannya adalah melodi terindah dalam hidupku yang pernah hancur."
Alaric mencium kening Elara dengan sangat lama. "Aria Seraphina von Ravenhurst. Nama yang agung. Dan jika dia laki-laki, dia akan memiliki keberanianmu."
Malam itu, di bawah perlindungan ribuan bintang, Elara merasa lingkaran takdirnya benar-benar telah tertutup. Kehidupan lamanya yang penuh pengkhianatan telah terkubur, dan kehidupan barunya yang penuh cinta kini sedang tumbuh di dalam dirinya. Dendam telah digantikan oleh harapan, dan kegelapan telah kalah oleh cahaya fajar yang abadi.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔