NovelToon NovelToon
The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Anak Yang Berpenyakit / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Predator di Balik Bayangan

Arkanza tidak melepaskan pandangannya dari bayangan di ujung koridor, meskipun tangannya masih membelai rambut Aira dengan lembut. Instingnya sebagai seorang Malik, yang tumbuh di tengah pengkhianatan, memberitahunya bahwa ada telinga yang tidak diundang sedang mendengarkan mereka.

"Arkan? Ada apa? Kenapa kau diam?" tanya Aira, menyadari perubahan ketegangan pada tubuh suaminya.

Arkanza tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Bukan apa-apa, Sayang. Aku hanya merasa udara di sini mulai sedikit... beracun."

Arkanza kemudian berdiri, menarik Aira ikut berdiri, dan merangkul pinggangnya dengan sangat posesif. Ia sengaja berbicara sedikit lebih keras. "Ayo kembali ke kamar Ibu. Aku ingin membahas detail penyerahan aset Sterling yang kau sebutkan tadi. Sepertinya kita harus segera memindahkan semua dana ke rekening pribadimu malam ini juga."

Dari kejauhan, Arthur Kingsley yang sedang bersembunyi tampak mencatat informasi itu di otaknya. Begitu Arkanza dan Aira menghilang di balik pintu, Arthur segera melangkah cepat menuju area parkir rumah sakit.

Area Parkir Rumah Sakit – 15 Menit Kemudian

Arthur masuk ke dalam mobil sedannya yang mewah, segera mengeluarkan ponsel terenkripsi. "Tuan Edward, ini saatnya. Arkanza akan memindahkan dana itu malam ini. Jika kita meretas sistemnya sekarang, kita bisa—"

TOK! TOK! TOK!

Arthur tersentak hebat. Jendela mobilnya diketuk oleh seseorang. Saat ia menoleh, jantungnya seakan berhenti berdetak. Arkanza Malik berdiri di sana, bersandar di pintu mobilnya dengan santai sambil memainkan sebuah pemantik api emas.

Di belakang Arkanza, puluhan pria bersetelan hitam—tim keamanan elit Malik yang baru saja tiba—sudah mengepung mobil Arthur.

Arkanza memberi isyarat agar Arthur membuka kaca jendela. Dengan tangan gemetar, Arthur menuruti perintah itu.

"Sedang menelepon siapa, Tuan Kingsley?" tanya Arkanza dengan nada bicara yang sangat tenang, namun mematikan. "Apakah London sangat indah di jam begini?"

"T-Tuan Arkanza... saya hanya sedang mengurus dokumen legal Nona Aira," gagap Arthur.

"Dokumen legal? Atau sedang melaporkan posisi 'target' pada Edward Sterling?" Arkanza merampas ponsel dari tangan Arthur dengan gerakan secepat kilat. Ia melihat panggilan yang masih terhubung.

Arkanza menempelkan ponsel itu ke telinganya sendiri. "Halo, Edward? Atau haruskah kupanggil... Paman?"

Suara berat dengan aksen Inggris yang kental terdengar dari seberang sana. "Siapa ini? Di mana Arthur?"

"Arthur sedang sibuk memilih antara masuk penjara atau masuk liang lahat," jawab Arkanza sambil menyeringai dingin. "Dengar baik-baik, Edward. Aku tahu kau yang mengirim Syarif lima belas tahun lalu. Aku tahu kau yang menginginkan nyawa istriku. Jika kau berani mengirim satu orang pun lagi ke Indonesia, aku tidak akan mengirim mereka kembali dalam keadaan utuh."

"Kau hanya tikus kecil di negara berkembang, Arkanza. Kau tidak tahu siapa yang kau lawan," balas Edward tenang namun penuh ancaman.

"Mungkin aku tikus. Tapi tikus ini yang akan menggigit lehermu sampai kau kehabisan napas di kursi kekuasaanmu," Arkanza mematikan ponsel itu dan langsung menghancurkannya dengan sekali remasan tangan.

Arkanza beralih menatap Arthur yang sudah pucat pasi. "Reno! Bawa pria ini ke gudang. Aku ingin dia menceritakan setiap detail rencana Edward sebelum matahari terbit."

"Baik, Tuan!" Reno yang bahunya masih diperban melangkah maju dengan tegas.

Kamar VVIP – Satu Jam Kemudian

Arkanza kembali ke ruangan dengan napas yang sedikit memburu. Begitu masuk, ia langsung menghampiri Aira yang sedang berbincang dengan Santi. Tanpa mempedulikan keberadaan ibunya, Arkanza langsung menarik Aira ke dalam pelukannya, mendekapnya sangat erat seolah Aira bisa lenyap kapan saja.

"Arkan! Kau kenapa? Kau habis dari mana?" tanya Aira bingung, mencoba melepaskan diri namun dekapan Arkanza justru mengeras.

"Diamlah sebentar. Biarkan aku bernapas," gumam Arkanza, membenamkan wajahnya di leher Aira. Bintik merah tipis muncul di tangannya, tanda bahwa stres dan emosinya sedang tidak stabil.

Santi yang melihat itu hanya bisa menghela napas. "Arkanza, kendalikan dirimu. Kau menakuti Aira."

Arkanza melepaskan pelukannya, namun tangannya tetap mencengkeram bahu Aira. "Arthur adalah mata-mata Edward. Dia sudah diamankan. Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang asing yang boleh mendekati Aira tanpa izin tertulis dariku!"

"Arkan, kau terlalu posesif! Arthur itu pengacara ibuku!" protes Aira.

"Dia bukan pengacara ibumu! Dia adalah algojo yang menunggu waktu untuk menyembelihmu!" bentak Arkanza, membuat Aira terdiam karena keterkejutan. Matanya merah, menatap Aira dengan rasa takut yang dalam. "Aku hampir kehilanganmu di gedung itu, Aira. Aku tidak akan membiarkan celah sekecil apa pun terbuka lagi. Jika aku harus mengurungmu di dalam kamarku selamanya agar kau aman, akan kulakukan!"

Aira menatap mata Arkanza dan menyadari bahwa di balik kemarahan itu, ada trauma yang sangat besar. Aira melunakkan tatapannya, ia meraih tangan Arkanza yang dipenuhi bintik merah dan menciumnya lembut.

"Aku di sini, Arkan. Aku tidak akan pergi. Tapi kau tidak bisa melawan dunia sendirian dengan rasa marah seperti ini."

Arkanza terdiam, napasnya perlahan mulai teratur saat merasakan sentuhan bibir Aira di kulitnya. "Edward Sterling bukan pria sembarangan, Aira. Dia punya kekuasaan yang bisa menjangkau benua lain. Tapi dia melakukan satu kesalahan besar..."

"Apa?"

"Dia mencoba menyentuh milik Arkanza Malik," Arkanza menarik dagu Aira, menatap matanya dalam-dalam. "Aku akan membawamu ke London. Kita tidak akan menunggu dia datang. Kita yang akan mendatanginya dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu."

Santi mengangguk setuju. "Arkanza benar, Aira. Jika kau terus bersembunyi, dia akan terus mengirim pembunuh. Kau harus berdiri di depan para pemegang saham Sterling di London dan menunjukkan bahwa putri Riana masih hidup."

Aira menelan ludah. "Ke London? Tapi aku bahkan belum pernah keluar dari kota ini sebelumnya."

Arkanza menyeringai, kali ini senyuman penuh percaya diri. "Jangan khawatir. Kau punya aku. Dan aku akan memastikan, saat kita sampai di sana, seluruh London akan bersujud di kakimu."

Arkanza kemudian menarik Aira mendekat, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh istrinya. "Dan selama di London nanti, kau tidak boleh jauh-jauh dariku. Bahkan saat kau tidur, kau harus berada di bawah pengawasanku... secara fisik."

Aira mencubit pinggang Arkanza. "Dasar mesum posesif!"

Arkanza tertawa, tawa pertamanya malam itu. "Itu hak prerogatif seorang suami, Nyonya Malik."

...****************...

Saat mereka mempersiapkan keberangkatan ke London, Alan menerima sebuah paket misterius di meja rumah sakit. Saat dibuka, isinya adalah sebuah kalung liontin kuno milik Riana yang hilang saat kecelakaan 15 tahun lalu. Di dalamnya terdapat sebuah kartu memori kecil dengan tulisan: "Jangan pergi ke London, atau kau akan menemukan kebenaran yang lebih pahit tentang siapa Arkanza Malik sebenarnya."

1
Ms. R
Ka ceritanya sangat menarik, saya suka. tapi nama2nya bikin gak mood baca, ini seperti cerita mafia Eropa tapi namanya indo banget, maaf ka gak enak dibaca nya
Ariska Kamisa: hehe maaf ya kak kalo kurang memuaskan🙏
latarnya emang di indo, tapi plot twist nya aira emang keturunan mafia, ibunya kabur ke indo.
total 1 replies
Suginah Ana
critanya bagus menegangkan q suka
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
emang agak tsunder sih arkan 🤣
🍒⃞⃟🦅 ☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
ini dnamakan keluar mulut buaya masuk mulut harimau🤣 dua² ngeri
umie chaby_ba
seru nih ... penasaran akhirnya gimana ? apa penyakitnya Arkan akan sembuh atau selamanya akan bergantung pada Aira . /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!