NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Malam Badai Putih

SUARA lonceng biara berdentang satu kali, namun nadanya tidak bergema seperti biasanya. Suaranya tumpul, teredam oleh salju tebal yang turun seperti tirai putih yang menyembunyikan maut. Di dalam aula utama Biara Santo Bernandino, lampu-lampu minyak telah dipadamkan. Hanya ada keremangan biru yang datang dari pantulan salju di luar jendela-jendela tinggi.

Dante Moretti berdiri di balik pilar granit, napasnya keluar sebagai uap putih yang tipis. Ia mengenakan pelindung pendengaran taktis yang memperkuat setiap suara—gesekan kain, deru angin, dan yang paling ia tunggu: langkah kaki di atas salju yang membeku.

"Target masuk melalui sayap timur," suara Katerina Volkov terdengar datar melalui earpiece. "Enam orang. Formasi serbu. Mereka menggunakan penglihatan malam."

"Biarkan mereka masuk ke area terbuka di halaman tengah," jawab Dante. "Marco, kau siap?"

"Senjata diarahkan, Bos. Tinggal tunggu perintah."

Di ruang rahasia di bawah altar, Aria Moretti tidak duduk diam dengan gemetar. Ia telah menempatkan Letizia di dalam sebuah peti relikui kuno yang telah dilapisi kasur empuk—sebuah tempat persembunyian yang aman dari peluru nyasar.

Aria memegang Beretta peraknya dengan kedua tangan yang kini sangat stabil. Ia memeriksa monitor tablet yang terhubung dengan kamera pengintai kecil yang dipasang Marco di koridor bawah tanah.

"Mama... gelap," bisik Letizia dari dalam peti.

Aria mendekat, mencium kening putrinya melalui celah kecil. "Tutup matamu dan hitung sampai seratus, Sayang. Papa sedang bermain petak umpet yang sangat penting. Begitu selesai, kita akan pergi ke tempat yang banyak bunganya."

Aria berdiri kembali, wajahnya mengeras. Ia melihat di layar: dua bayangan putih baru saja menyelinap masuk melalui saluran udara biara. Mereka menuju langsung ke arah kapel. Mereka bukan mencari Dante; mereka mencari The Last Key.

"Dante, dua orang menuju bawah tanah. Lewat ventilasi utara," ucap Aria dengan nada dingin.

"Aku akan membereskannya, Aria. Tetap di posisimu."

Di halaman tengah biara yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu, enam anggota Spetsnaz pribadi Viktor Volkov bergerak dengan presisi robot. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang dirancang oleh pria yang sudah menghabiskan seluruh hidupnya dalam kegelapan.

Tiba-tiba, lampu sorot raksasa yang disembunyikan di bawah salju menyala, membutakan sensor penglihatan malam para penyerang.

DOR! DOR! DOR!

Katerina melepaskan tembakan dari menara lonceng. Tiga kepala meledak dalam hitungan detik. Sisanya segera berhamburan mencari perlindungan, namun Dante sudah menunggu di bayang-bayang pilar.

Dante muncul seperti hantu. Ia tidak menembak dari jauh. Ia menerjang dengan pisau komando dan pistol Glock-nya. Gerakannya brutal dan efisien. Ia mematahkan leher satu pria, lalu menembak pria lainnya tepat di ulu hati sebelum mereka sempat berteriak.

Namun, Viktor Volkov bukan orang amatir. Dari arah luar gerbang, sebuah peluncur roket ditembakkan.

BOOOOM!

Salah satu pilar biara hancur berantakan, mengirimkan serpihan batu yang menghantam punggung Dante. Dante terlempar ke salju, pandangannya sedikit kabur.

Viktor Volkov melangkah masuk melalui gerbang yang hancur. Ia mengenakan mantel bulu tebal, wajahnya yang penuh luka dari Isola di Sangue tampak mengerikan di bawah cahaya lampu sorot.

"Dante! Keluar kau, pengecut!" teriak Viktor. "Berikan anak itu, dan aku akan membunuhmu dengan cepat! Jika tidak, aku akan meratakan biara ini dengan istrimu di dalamnya!"

Sementara itu, di bawah kapel, Aria mendengar suara langkah kaki di atas kepalanya. Dua pembunuh Spetsnaz telah berhasil turun. Mereka bergerak menuju pintu besi ruang rahasia.

Aria tidak menunggu pintu itu didobrak. Ia tahu pintu itu tidak akan bertahan lama melawan peledak plastik. Ia segera mematikan tabletnya dan bersembunyi di balik altar batu yang berat.

BZZZT—BOOM!

Pintu besi itu terlempar ke dalam. Dua pria dengan masker gas masuk, menyapu ruangan dengan laser merah dari senapan mereka.

"Target ada di sini. Cari petinya," ucap salah satu dari mereka.

Saat salah satu penyerang mendekati peti relikui tempat Letizia bersembunyi, Aria keluar dari bayang-bayang.

DOOR! DOOR!

Peluru pertama mengenai bahu si penyerang, yang kedua mengenai lehernya. Pria itu jatuh tersungkur. Namun, penyerang kedua sangat cepat. Ia menendang tangan Aria, membuat Beretta-nya terlempar ke sudut ruangan.

Pria itu mencengkeram leher Aria dan menghantamkannya ke dinding batu. Aria terengah, oksigen mulai menghilang dari paru-parunya. Tangan pria itu sangat kuat, dilapisi sarung tangan taktis yang keras.

"Di mana kuncinya, Jalang?" desis pria itu.

Aria meronta, namun tangannya tidak mencari pistol. Tangannya meraba ke belakang ikat pinggangnya, tempat ia menyembunyikan belati kecil pemberian Dante.

Dengan satu gerakan putus asa, Aria menghujamkan belati itu ke paha pria tersebut, lalu memutarnya.

"ARGH!"

Cengkeraman itu mengendur. Aria tidak membuang waktu. Ia mengambil batu besar dari sisa ledakan pintu dan menghantamkannya ke kepala pria itu sekuat tenaga. Sekali. Dua kali. Hingga pria itu tidak lagi bergerak.

Aria jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Ia melihat tangannya yang berlumuran darah. Ia baru saja membunuh dua tentara terlatih untuk melindungi anaknya. Ia menoleh ke arah peti.

"Mama?" suara Letizia terdengar gemetar dari dalam.

"Tetap di sana, Sayang. Sedikit lagi," ucap Aria, suaranya kembali tegar. Ia mengambil senapan serbu milik pria yang ia bunuh tadi. Ia bukan lagi hanya seorang ibu; ia adalah seorang prajurit.

Di halaman, Dante bangkit dari salju. Ia memuntahkan darah, matanya menatap Viktor dengan kebencian yang murni.

"Kau tidak pernah belajar, Viktor," ucap Dante, ia membuang Glock-nya yang macet dan mencabut pisau keduanya. "Keluarga Volkov selalu berpikir mereka lebih besar dari takdir. Tapi kenyataannya, kalian hanyalah pupuk bagi tanah yang kalian injak."

Viktor tertawa, ia mengeluarkan parang panjangnya. "Mari kita lihat apakah darah Moretti benar-benar spesial seperti yang mereka katakan."

Mereka bertabrakan di tengah badai salju. Pertarungan itu bukan lagi tentang mafia; itu adalah pertarungan gladiator. Viktor kuat dan liar, namun Dante memiliki presisi yang lahir dari penderitaan selama dua tahun di penjara.

Pisau Dante menyayat lengan Viktor, namun parang Viktor berhasil merobek perut kemeja Dante. Mereka saling mencengkeram, bergulat di atas salju yang kini berubah warna menjadi merah.

Tiba-tiba, suara tembakan sniper dari Katerina terdengar lagi, namun kali ini mengenai helikopter Bratva yang mencoba memberikan bantuan udara. Helikopter itu terbakar dan jatuh di tebing biara, menciptakan ledakan yang menggetarkan bumi.

Getaran itu membuat salju di puncak tebing mulai bergerak.

"Longsor!" teriak Marco dari menara lonceng.

Dante melihat ke atas. Sebuah gelombang putih raksasa mulai meluncur turun menuju biara. Ia tidak punya banyak waktu.

Dante menghindari tebasan terakhir Viktor, lalu ia melakukan gerakan tipuan. Ia membiarkan lengannya tersayat sedikit agar bisa menusukkan pisaunya tepat ke jantung Viktor Volkov.

Viktor membeku. Matanya membelalak, menatap Dante dengan rasa tidak percaya.

"Ini untuk ayahku. Dan untuk masa depan anakku," bisik Dante.

Dante mendorong Viktor jatuh, lalu ia berlari sekuat tenaga menuju kapel. "ARIA! KELUAR! SEKARANG!"

Dante bertemu dengan Aria di pintu masuk kapel. Aria sedang menggendong Letizia, senapan tersampir di bahunya. Mereka tidak bicara; mereka hanya berlari menuju terowongan evakuasi yang mengarah ke bagian belakang gunung yang lebih aman.

Saat mereka masuk ke dalam terowongan, suara gemuruh longsor menghantam biara di belakang mereka.

BRRRRRRRRRR!

Debu salju memenuhi udara. Separuh dari bangunan biara Santo Bernandino terkubur di bawah berton-ton es. Katerina dan Marco berhasil melompat ke jalur evakuasi di detik-detik terakhir.

Mereka terus berlari hingga mencapai sebuah gua kecil yang telah disiapkan Agostino dengan kendaraan salju (snowmobile).

Dante berhenti sejenak, melihat ke arah biara yang kini telah hancur. Viktor Volkov dan pasukannya sudah hilang di bawah salju.

"Apakah sudah selesai?" tanya Aria, tubuhnya gemetar karena kedinginan dan syok.

Dante memeluk Aria dan Letizia erat-erat. "Untuk malam ini, ya. Tapi kita tidak bisa tinggal di Eropa lagi. Longsor ini akan menarik perhatian otoritas Swiss."

Katerina mendekat, menyeka darah di wajahnya. "Aku punya koneksi di pelabuhan Genoa. Ada kapal kargo yang berangkat ke Amerika Selatan besok pagi. Itu satu-satunya jalan kita."

Dante menatap istrinya. "Argentina, Aria. Seperti yang kita bicarakan."

Aria mengangguk. Ia melihat Letizia yang kini tertidur di pelukan Dante, kelelahan karena ketakutan. Mereka telah kehilangan rumah mereka lagi, namun mereka masih memiliki satu sama lain.

Di tengah badai yang perlahan reda, mereka meluncur menuruni lereng Alpen menuju masa depan yang tidak pasti, namun bebas dari bayang-bayang The Circle. Untuk pertama kalinya, mereka bukan lagi target. Mereka adalah legenda yang baru saja menghilang.

1
Septriani Margaret
kapan lanjutannya kk seru ih nanggung 🥺
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!