NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Setelah prosesi akad nikah yang sederhana namun menegangkan itu selesai, Pak RT dan Pak RW menyalami mereka satu per satu.

Ada rona penyesalan di wajah kedua pengurus lingkungan tersebut.

"Pak Jati, Pratama, Mbak Luna. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan dan keributan warga tadi. Semoga pernikahan ini membawa berkah," ucap Pak RT sebelum akhirnya mereka berpamitan keluar.

Kini tinggal Papa Jati, Luna, dan Pratama di ruang tamu yang pengap itu.

Papa Jati berdiri, memandangi menantu barunya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Meski ia berpura-pura menjadi tukang bangunan, aura kepemimpinannya tetap tak bisa disembunyikan sepenuhnya.

"Besok kalian harus nikah ulang di KUA. Papa tidak mau kalau kamu hanya nikah siri, Luna. Masalah administrasi harus jelas. Besok siang Papa tunggu kalian di KUA," ucap Papa Jati tegas, seolah sedang memberi instruksi pada bawahannya.

"Iya, Papa," jawab Luna patuh.

Pratama ikut berdiri dan menganggukkan kepalanya dalam-dalam.

"Baik, Pak. Saya akan membawa Luna ke sana besok."

Papa Jati kemudian berpamitan. Luna mengantar sang papa sampai ke depan pintu, melihat pria perkasa itu menuntun motor bebek tua menjauhi gang.

Luna tahu, hati papanya pasti hancur melihat putri kesayangannya menikah di tempat seperti ini, tapi ia juga tahu papanya menghormati keputusannya.

Pratama menutup pintu kayu yang sudah agak lapuk itu dan menguncinya.

Suasana mendadak canggung. Pratama berbalik, menatap Luna yang masih berdiri di tengah ruangan.

"Mbak, silakan duduk dulu," ujar Pratama lirih.

Luna duduk di kursi kayu tadi, disusul Pratama yang duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk.

"Mbak Luna, saya minta maaf. Jujur, saya sangat malu. Saya ini hanya penjual soto, dan sekarang saya malah melibatkan Mbak dalam kerumitan hidup saya. Soal uang lima puluh juta tadi, saya janji akan bekerja keras untuk mengembalikannya pada Mbak. Saya akan cicil, Mbak," ucap Pratama dengan suara yang bergetar karena beban mental.

Melihat ketulusan itu, Luna merasa tersentuh. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Pratama yang kasar karena kerja keras.

"Mas, sekarang panggil aku 'Dek' saja. Kita sudah menikah, sudah sah di mata agama. Dan soal uang itu, jangan terlalu dipikirkan, Mas. Uang itu gampang, yang penting sekarang kita jalani dulu apa yang ada," ucap Luna lembut.

Pratama mendongak, menatap mata Luna yang indah.

Ada kedamaian yang ia rasakan, namun sekaligus rasa tidak pantas yang besar.

Krucuk... krucuk...

Tiba-tiba suara nyaring muncul dari perut Luna. Ia tersipu malu, wajahnya memerah hingga ke telinga.

Pratama tersentak, lalu senyum kecil muncul di bibirnya.

"Kamu belum makan malam ya, Dek? Maaf, Mas sampai lupa."

Luna meringis kecil sambil memegang perutnya.

"Iya, Mas. Sepertinya tadi urusan tegangnya terlalu banyak sampai perutku protes."

"Mau soto? Mas hanya punya soto saja di dapur. Tadi jualan Mas belum habis karena Mas buru-buru pulang saat lihat Mbak diculik," tawar Pratama.

"Boleh, Mas. Aku malah penasaran secuek apa sih rasa soto buatan suamiku sendiri," jawab Luna dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana.

Pratama segera beranjak ke dapur kecilnya dengan semangat baru.

Di dalam rumah sederhana itu, di bawah pendar lampu yang temaram, Luna menyadari bahwa kebahagiaan mungkin memang tidak selalu ditemukan di lantai teratas gedung pencakar langit, tapi di balik semangkuk soto yang dibuat dengan ketulusan.

Pratama kembali dari dapur dengan nampan plastik kusam, membawa semangkuk soto ayam yang uapnya mengepul harum, menebarkan aroma rempah yang menggugah selera.

"Silakan dimakan, Dek. Ini sambal dan jeruk nipisnya," ucap Pratama pelan sembari meletakkan mangkuk itu di depan Luna.

Luna menerima sendoknya, mulai meracik soto tersebut dengan sedikit perasan jeruk nipis dan sambal.

Saat suapan pertama mendarat di lidahnya, mata Luna membulat. Rasa gurih kaldu yang pas berpadu dengan rempah yang meresap sempurna.

"Mas, ini enak sekali!" seru Luna tulus.

Pratama menatap istrinya dengan ragu, seolah tak percaya.

"Beneran enak, Dek? Mas khawatir tidak cocok dengan lidahmu."

"Iya, Mas. Soto buatan Mas rasanya seperti masakan mendiang Mamaku. Hangat dan bikin kangen," jawab Luna.

Luna kembali menikmati makanannya kembali.

"Mas jualan apa saja biasanya?"

"Hanya soto saja, Dek. Minumnya paling es jeruk atau es teh," jawab Pratama apa adanya.

Luna terdiam sejenak, otaknya yang terbiasa berpikir sebagai pebisnis mulai bekerja.

"Mas, aku punya ide. Bagaimana kalau menu soto ayam Mas ditambah variasinya? Ada ceker, sayap, ampela hati, dan jangan lupa koya yang banyak. Itu pasti makin laku."

Pratama tersenyum tipis, namun tersirat kepedihan di sana.

"Dek, uang Mas sudah habis buat mahar kamu tadi. Untuk modal besok saja Mas masih bingung harus cari pinjaman ke mana."

Tanpa basa-basi, Luna meraih tasnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan menyodorkannya kepada Pratama.

"Mas, ini satu juta. Buat modal tambahan."

Pratama terperanjat, ia menarik tangannya menjauh.

"Dek, jangan. Mas tidak pantas menerima uang dari kamu lagi. Mas sudah terlalu banyak berutang budi."

"Mas, sudah ambil saja. Besok setelah selesai dari KUA, kita langsung belanja bahan-bahan untuk soto ya. Anggap saja ini investasi pertama kita sebagai suami istri."

Mendengar kata-kata Luna, pertahanan Pratama runtuh.

Pria itu menutupi wajah dengan kedua tangannya dan mulai menangis sesenggukan.

Ia tak pernah menyangka, di saat ia kehilangan segalanya dan dihina oleh istri pertamanya, ia justru dipertemukan dengan malaikat berwujud guru TK yang begitu tulus.

"Mas, sudah jangan menangis. Mas membuatku ikut sedih, padahal aku mau lanjut makan soto enak ini dulu," ucap Luna mencoba mencairkan suasana.

Pratama mengusap air matanya, menatap Luna dengan penuh haru, sementara Luna kembali menyantap sotonya dengan lahap di bawah cahaya lampu rumah petak yang kini terasa jauh lebih hangat.

Pratama segera menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung kaosnya.

Ia merasa malu sekaligus sangat bersyukur. Sambil membiarkan Luna menyelesaikan makannya, Pratama bergegas masuk ke satu-satunya kamar yang ada di rumah kecil itu.

Ia merapikan kasur tipis yang ada, mengganti sprei yang sudah agak pudar, dan memastikan tidak ada debu yang tertinggal.

Tak lama kemudian, ia keluar sambil membawa sepotong daster batik yang masih tampak bersih dan terlipat rapi.

"Dik, ini pakaian mendiang ibu Mas. Masih layak pakai, sudah Mas cuci bersih. Kamu bisa pakai ini untuk tidur supaya lebih nyaman," ucap Pratama lembut sambil memberikan pakaian itu.

Luna menerima kain batik itu dengan tangan gemetar. Ia bisa merasakan kehangatan dari cara Pratama memperlakukannya, meskipun pria itu sedang dalam kondisi terpuruk.

"Terima kasih, Mas," jawab Luna pelan.

Pratama kemudian menunjuk ke arah kamar dengan gerakan sopan.

"Dik, kamu tidur di dalam saja ya. Pintunya bisa dikunci dari dalam kalau kamu merasa kurang nyaman. Mas akan tidur di ruang tamu saja, menjaga di depan."

Luna terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari suaminya, lalu mengangguk pelan.

"Iya, Mas. Maaf ya, sudah merepotkan Mas Pratama."

"Tidak sama sekali, Dek. Mas yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan harga diri Mas," sahut Pratama dengan senyum tulus sebelum ia berbalik untuk mengambil bantal tipis menuju ruang tamu.

Luna masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Meskipun hanya beralaskan kasur sederhana dan dinding yang kusam, ia merasa jauh lebih aman di sini daripada di apartemen mewahnya yang terasa dingin sejak dikhianati Noah.

Di luar sana, ia mendengar suara Pratama yang sedang merebahkan diri di kursi kayu, memulai malam pertama mereka sebagai suami istri dalam jarak yang terjaga oleh rasa malu dan hormat.

Luna melangkah masuk ke dalam kamar kecil yang pengap itu.

Sebelum mengganti pakaian, ia teringat sesuatu yang sangat krusial.

Ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Arini, sekretaris setianya.

“Arini, batalkan atau tunda semua proyek dan meeting-ku selama tiga hari ke depan. Katakan pada klien aku sedang ada urusan keluarga yang sangat mendesak.”

Jemari Luna bergerak cepat mengetik pesan tambahan.

“Besok siang, kamu ikut Papa ke KUA. Ingat, jangan pakai pakaian kerja atau seragam kantor! Pakai baju biasa saja, yang sederhana. Satu lagi, carikan aku sekolah TK terdekat dari alamat yang aku kirim ini. Temui guru-guru di sana, katakan kalau aku akan mulai ‘mengajar’ atau setidaknya namaku terdaftar sebagai guru baru di sana. Jangan sampai bocor!”

Setelah mengirim pesan itu, Luna menghela napas panjang.

Ia mengganti pakaiannya dengan daster batik milik mendiang ibu Pratama yang aromanya harum sabun cuci.

Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang terasa sedikit keras di punggungnya.

Luna menatap langit-langit atap kamar yang tampak kusam.

Di salah satu sudut, terdapat bagian yang bolong hingga ia bisa melihat sedikit kegelapan langit malam dari sana.

"Hidupku benar-benar berubah dalam satu malam," gumamnya pelan.

Baru saja ia akan memejamkan mata untuk menjemput mimpi, sesuatu yang mengkilap dan berwarna cokelat tua bergerak cepat di dinding dekat bantalnya.

Seekor kecoa terbang dengan suara sayap yang berderik nyaring, mendarat tepat di atas selimutnya.

"AARGH!!! TOLONG!!! MAS PRATAMAAA!!!" teriak Luna histeris sembari melompat dari kasur hingga hampir terjungkal.

Di ruang tamu, Pratama yang baru saja akan memejamkan mata di atas kursi kayu tua langsung tersentak kaget.

Jantungnya serasa mau copot mendengar teriakan melengking dari dalam kamar.

"Dek? Ada apa, Dek?!" teriak Pratama panik.

Tanpa pikir panjang, ia langsung mendobrak pintu kamar yang memang tidak dikunci itu.

"Kamu tidak apa-apa?!"

"I-itu Mas! Ada monster!" tunjuk Luna dengan jari gemetar ke arah kasur.

Pratama menajamkan penglihatannya. Ia melihat seekor kecoa sedang diam membeku di atas seprai.

Ia menghela napas lega, meski sisa rasa paniknya masih ada.

Dengan sigap, ia mengambil sapu lidi di pojok kamar, menggiring serangga itu keluar dan membuangnya jauh-jauh.

"Sudah, Dek. Monsternya sudah Mas usir," ucap Pratama mencoba menenangkan.

Luna masih berdiri di pojok ruangan dengan wajah pucat pasi. Ketakutannya pada serangga kecil itu mengalahkan rasa malunya.

"Mas, tidur di sini ya? Aku takut kalau monsternya datang lagi."

"Tapi Dek, Mas takut kamu tidak nyaman..."

"Nanti tengahnya kasih guling saja buat pembatas, Mas. Tolong, aku benar-benar tidak bisa tidur kalau sendirian sekarang," potong Luna dengan tatapan memohon.

Melihat raut ketakutan yang tulus di wajah istrinya, Pratama akhirnya menganggukkan kepala perlahan.

Ia mengambil guling, meletakkannya tepat di tengah kasur sebagai sekat pembatas yang kokoh.

Malam itu, di bawah atap yang bocor, sang putri CEO dan sang penjual soto tidur berdampingan untuk pertama kalinya, dipisahkan oleh sebuah guling dan rahasia besar yang masih tersimpan rapat.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!