Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Siapa Yang Benar?
Senin pagi, Asha memaksa dirinya untuk kembali ke sekolah. Ia sudah terlalu sering bolos akhir-akhir ini.
Wajahnya terlihat pucat dengan mata yang sembab. Ia tidak tidur dengan nyenyak semalam karena terus memikirkan kejadian di taman.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, ia mencoba menyiapkan mental. Ia harus bisa menghadapi Arsa dan Raya dengan tenang.
Ia harus bisa berpura-pura bahwa ia baik-baik saja.
🌷🌷🌷🌷
Sesampainya di kelas, Asha langsung menuju kursinya tanpa menyapa siapapun. Ia duduk sembari menundukkan kepala.
Cinta yang melihat kedatangan Asha langsung menghampiri dengan wajah khawatir.
"Sha! Lo kemana aja? Gw nelpon lo dari kemarin tapi gak diangkat-angkat!" ucap Cinta dengan nada panic.
Asha mengangkat kepalanya dan tersenyum lemah. "Maaf, Cin. Hp gw mati."
Cinta menatap wajah Asha dengan tatapan sedih. "Sha... Lo... Lo abis nangis lagi ya?"
Asha menggeleng meskipun mata Cinta bisa melihat kebohongan itu dengan jelas. "Gw gapapa, Cin."
"Sha, jangan bohong—"
"Pagi semua!" sapa Raya dengan ceria saat masuk ke kelas.
Asha dan Cinta langsung menoleh. Mereka melihat Raya masuk dengan senyuman lebar, diikuti oleh Arsa di belakangnya.
Mereka berdua terlihat begitu akrab. Tertawa bersama sembari berbagi cerita.
Asha langsung mengalihkan pandangannya. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu.
"Hmm, Asha! Pagi!" sapa Raya dengan ramah saat melewati bangku Asha.
Asha hanya mengangguk pelan tanpa menatap Raya. "Pagi."
Raya sedikit heran dengan sikap dingin Asha, tapi ia tidak berkomentar apa-apa. Ia lalu berjalan menuju bangkunya.
Arsa yang juga melewati bangku Asha berhenti sejenak. "Asha... Lo udah enakan?"
Asha menatap Arsa sekilas lalu cepat mengalihkan pandangannya. "Udah."
Arsa terdiam sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya ia hanya berkata, "Syukur deh."
Setelah Arsa pergi, Cinta langsung berbisik ke telinga Asha. "Sha, lo yakin lo gapapa?"
Asha mengangguk pelan. "Iya. Gw cuma butuh waktu aja."
Tapi di dalam hatinya, Asha tau bahwa ia tidak baik-baik saja. Ia hanya berusaha keras untuk bertahan.
🌷🌷🌷🌷
Sepanjang hari itu, Asha berusaha untuk menjauhkan diri dari Arsa dan Raya. Ia tidak ikut ngobrol saat jam istirahat. Ia tidak ikut makan di kantin.
Ia hanya duduk di kursinya, membaca buku atau berpura-pura tidur.
Beberapa kali ia menangkap Arsa meliriknya dengan tatapan khawatir, tapi ia berpura-pura tidak menyadari.
Ia juga melihat Raya yang sesekali menatapnya dengan tatapan bingung, seolah bertanya-tanya kenapa Asha jadi begitu dingin.
Tapi Asha tidak peduli. Ia hanya ingin hari ini cepat berlalu.
🌷🌷🌷🌷
Saat jam pulang sekolah, Asha langsung bergegas mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.
Ia tidak ingin berlama-lama di sekolah. Ia tidak ingin bertemu dengan Arsa dan Raya lagi.
Tapi saat ia berjalan di koridor, tiba-tiba Raya mengejarnya dari belakang.
"Hmm, Asha! Tunggu!" panggil Raya dengan nafas yang tersengal.
Asha berhenti melangkah dan berbalik. "Ya?"
Raya menghampirinya dengan wajah yang terlihat khawatir. "Hmm, Asha... Lo kenapa sih? Kok lo jadi ngejauhin aku sama Arsa?"
Asha menatap Raya dengan tatapan datar. "Gak kok. Gw cuma lagi pengen sendiri aja."
"Hmm, tapi lo dari tadi diem terus. Lo gak ngomong sama siapa-siapa" ucap Raya dengan nada yang lembut.
"Emang kenapa? Lo ganggu?" tanya Asha dengan nada yang sedikit tajam.
Raya tersentak mendengar nada bicara Asha. "Hmm, bukan gitu. Gw cuma khawatir—"
"Lo gausah khawatir. Gw gapapa kok" potong Asha dengan cepat.
Raya terdiam menatap Asha. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis ini hari ini.
"Hmm, Asha... Lo... Lo marah sama gw?" tanya Raya dengan hati-hati.
Asha menggeleng meskipun di dalam hatinya ada rasa kesal yang luar biasa. "Enggak."
"Hmm, tapi lo kelihatan marah. Kalau gw salah, maafin gw ya. Gw gak bermaksud—"
"Raya, gw bilang gw gapapa. Lo gausah lebay" potong Asha dengan nada yang lebih tinggi.
Raya terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar nada bicara Asha yang dingin dan tajam.
"Hmm... Maaf..." ucap Raya dengan suara yang pelan.
Asha merasakan sedikit penyesalan melihat Raya yang terlihat sedih. Tapi ia cepat mengusir perasaan itu.
"Gw duluan ya" ucap Asha sembari berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Raya yang terdiam di tempatnya.
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya, Asha datang ke sekolah dengan tekad untuk terus menjauhkan diri dari Arsa dan Raya.
Ia datang tepat saat bel berbunyi agar tidak perlu ngobrol dengan siapapun. Dan ia berencana pulang secepat mungkin setelah jam pelajaran berakhir.
Tapi rencana itu tidak berjalan mulus.
Saat jam istirahat kedua, Raya kembali menghampiri Asha yang sedang duduk sendirian di kelasnya.
"Hmm, Asha. Bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Raya dengan nada yang serius.
Asha menatap Raya dengan tatapan datar. "Ngobrol apa?"
"Hmm, di luar aja. Gw mau ngomong sama lo empat mata" ucap Raya dengan wajah yang terlihat begitu serius.
Asha menghela nafas. "Baiklah."
Mereka berdua lalu keluar dari kelas dan berjalan menuju taman belakang sekolah yang cukup sepi.
Sesampainya di sana, mereka berdua berdiri berhadapan. Suasana begitu tegang.
"Hmm, Asha... Gw mau nanya. Lo kenapa sih akhir-akhir ini? Kenapa lo jadi ngejauhin aku?" tanya Raya langsung to the point.
Asha menatap Raya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gw udah bilang, gw cuma pengen sendiri aja."
"Hmm, tapi gw ngerasa lo ngejauh dari gw tuh setelah kejadian di taman hiburan. Apa gw salah ngomong sesuatu waktu itu?" tanya Raya dengan nada yang lembut.
Asha menggeleng. "Bukan gara-gara itu."
"Hmm, terus kenapa?" desak Raya dengan nada yang semakin khawatir.
Asha terdiam cukup lama. Ia bingung harus menjawab apa. Haruskah ia jujur? Atau haruskah ia terus berbohong?
"Karena gw capek, Raya. Gw capek liat lo sama Arsa" jawab Asha akhirnya dengan nada yang dingin.
Raya tersentak mendengar jawaban Asha. "Hmm... Apa maksud lo?"
"Maksud gw ya lo tau sendiri. Gw capek harus liat kalian berdua terus bersama. Tertawa bersama. Bahagia bersama" jelas Asha dengan nada yang mulai naik.
Raya terdiam. Ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Hmm, Asha... Gw tau ini pasti berat buat lo. Tapi gw sama Arsa cuma temen kok—"
"Temen?" potong Asha dengan nada sinis. "Temen yang bergandengan tangan? Temen yang kencan di taman? Lo pikir gw buta, Raya?"
Raya terdiam mendengar ucapan Asha. Wajahnya memerah. "Hmm, Asha... Itu... Itu bukan kencan. Kami cuma ngobrol—"
"Ngobrol sambil gandengan tangan? Ngobrol sambil saling liatin dengan tatapan sayang? Jangan bohong, Raya!" bentak Asha dengan suara yang mulai tinggi.
Raya merasakan air matanya mulai berkumpul. "Hmm, Asha... Gw... Gw gak bermaksud buat nyakitin lo..."
"Tapi lo udah nyakitin gw!" teriak Asha dengan air mata yang mulai jatuh. "Lo tau gak gimana rasanya harus ngeliat orang yang lo sayang bahagia sama orang lain?!"
"Lo tau gak gimana rasanya harus ngeliat dia tertawa bahagia di depan lo, sementara lo di sini terus nangis?!"
Raya menangis mendengar teriakan Asha. "Hmm, Asha... Maafin gw... Gw beneran gak bermaksud—"
"Maaf lo gak cukup, Raya!" potong Asha dengan suara yang bergetar. "Lo muncul tiba-tiba di hidup Arsa dan ngerebutin dia dari gw!"
Raya menggeleng keras. "Hmm, gw gak ngerebutin dia! Gw cuma... Gw cuma pengen deket sama temen masa kecil gw!"
"Temen masa kecil?!" Asha tertawa sinis. "Lo pikir gw gak liat cara lo ngeliat Arsa? Lo pikir gw gak liat lo sengaja terus nempel sama dia?!"
"Lo... Lo suka sama Arsa kan?!" tanya Asha dengan nada menuduh.
Raya terdiam. Wajahnya semakin memerah. Air matanya semakin deras.
"Hmm, gw... Gw..." Raya tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"JAWAB!" bentak Asha dengan suara yang keras.
"IYA!" teriak Raya akhirnya. "IYA, GW SUKA SAMA ARSA! GW SUKA SAMA DIA DARI DULU!"
Asha tersentak mendengar pengakuan Raya. Meskipun ia sudah menduga, mendengarnya langsung tetap terasa seperti ditusuk pisau.
"Hmm, tapi lo gak ngerti, Asha... Lo gak ngerti gimana perasaan gw..." isak Raya dengan air mata yang terus mengalir.
"Gw... Gw udah suka sama Arsa dari kita masih SD. Dia... Dia adalah orang pertama yang nolongin gw waktu gw di-bully. Dia yang selalu ada buat gw waktu gw lagi sedih."
"Dan waktu gw harus pindah... Hati gw hancur. Gw harus ninggalin dia. Gw harus ninggalin orang yang gw sayang."
Asha menatap Raya dengan tatapan tidak percaya. "Jadi... Jadi lo pindah ke sekolah ini emang sengaja? Emang buat ngedeketin Arsa?"
Raya mengangguk pelan sambil menangis. "Hmm, iya... Gw berusaha keras buat bisa sekolah di sini. Gw... Gw gak peduli harus kerja paruh waktu. Gw gak peduli harus capek. Yang penting gw bisa ketemu Arsa lagi..."
"Tapi waktu gw tau dia punya pacar... Hati gw hancur. Gw pikir gw udah terlambat" lanjut Raya dengan suara yang bergetar.
"Tapi terus gw denger dia kecelakaan dan kehilangan ingatan... Dan gw... Gw ngerasa ini adalah kesempatan gw. Kesempatan terakhir gw buat deket sama dia lagi..."
Asha merasakan dadanya semakin sesak mendengar cerita Raya. "Jadi... Jadi lo manfaatin keadaan Arsa yang lagi kehilangan ingatan? Lo manfaatin kelemahan dia?"
Raya menggeleng keras. "Hmm, bukan gitu! Gw cuma... Gw cuma pengen dia inget gw. Gw cuma pengen dia tau kalau gw masih sayang sama dia..."
"LO EGOIS!" teriak Asha dengan air mata yang semakin deras. "LO EGOIS, RAYA! LO CUMA MIKIRIN PERASAAN LO SENDIRI!"
"Lo gak mikirin gimana perasaan gw yang harus kehilangan dia! Lo gak mikirin gimana sakitnya hati gw ngeliat kalian berdua terus bersama!"
Raya menangis semakin keras. "Hmm, tapi lo juga egois, Asha! Lo pengen Arsa inget lo. Lo pengen dia balik sama lo. Lo juga cuma mikirin perasaan lo sendiri!"
"BEDA!" bentak Asha dengan suara yang keras. "GW SAMA ARSA ITU PUNYA HUBUNGAN! PUNYA SEJARAH BERSAMA! TAPI LO? LO CUMA TEMEN MASA KECIL YANG TIBA-TIBA MUNCUL!"
"Hmm, tapi gw udah kenal Arsa lebih lama dari lo! Gw kenal dia dari SD! Sedangkan lo... Lo baru kenal dia pas SMA!" balas Raya dengan suara yang juga tinggi.
"Hmm, dan lo tau gak, Asha... Gw udah nunggu dia bertahun-tahun! Bertahun-tahun gw ngependam perasaan ini sendirian! Gw berusaha keras buat bisa ketemu dia lagi!"
"Sedangkan lo... Lo cuma pacaran sama dia beberapa bulan terus putus gara-gara sering bertengkar! Lo gak ngerti gimana rasanya cinta yang tulus!"
Asha menampar Raya dengan keras. Suara tamparan itu bergema di taman yang sepi.
Raya memegang pipinya yang memerah sembari menatap Asha dengan mata yang terbelalak.
"JANGAN LO BILANG GW GAK NGERTI CINTA YANG TULUS!" teriak Asha dengan air mata yang mengalir deras.
"GW SAYANG SAMA ARSA! GW SANGAT SAYANG SAMA DIA! DAN JUSTRU KARENA GW SAYANG SAMA DIA, MAKANYA GW RELA NGELEPAS DIA PAS DIA KEHILANGAN INGATAN!"
"GW RELA SAKIT HATI! GW RELA NANGIS SETIAP HARI! ASALKAN DIA BISA BAHAGIA! ITU NAMANYA CINTA YANG TULUS, RAYA!"
Raya menangis mendengar teriakan Asha. "Hmm, tapi gw juga sayang sama dia, Asha... Gw juga sangat sayang sama dia..."
"Hmm, lo gak tau gimana rasanya nunggu seseorang bertahun-tahun tanpa kepastian. Lo gak tau gimana rasanya harus jauh dari orang yang lo sayang."
"Hmm, gw... Gw cuma pengen bahagia sama dia. Apa itu salah?" isak Raya dengan suara yang sangat lemah.
Asha menatap Raya dengan tatapan yang penuh kekecewaan. "Salah atau gak, yang jelas lo udah nyakitin gw, Raya."
"Lo tau gak... Gw nganggap lo temen. Gw percaya sama lo. Tapi ternyata... Ternyata lo dari awal emang punya niat buat ngerebutin Arsa dari gw."
Raya menggeleng keras. "Hmm, bukan gitu, Asha... Gw beneran nganggap lo temen—"
"Temen gak akan ngerebutin orang yang lo sayang, Raya" potong Asha dengan nada dingin.
"Hmm, tapi Arsa sekarang udah gak inget lo! Dia udah bukan pacar lo lagi! Jadi gw gak ngerebutin dia dari lo!" balas Raya dengan nada yang juga mulai defensif.
Asha tertawa sinis mendengar ucapan Raya. "Oh, jadi lo nunggu dia kehilangan ingatan buat bisa dapetin dia? Lo emang licik ya, Raya."
"Hmm, gw gak licik! Gw cuma... Gw cuma manfaatin kesempatan yang ada!" bela Raya dengan air mata yang masih mengalir.
"Manfaatin kesempatan?" Asha menatap Raya dengan tatapan tajam. "Lo bilang itu bukan licik?"
Raya terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa.
"Udah. Gw gak mau berantem sama lo lagi" ucap Asha akhirnya dengan nada lelah.
"Yang jelas, mulai sekarang gw gak mau deket-deket sama lo lagi. Lo jalani hidup lo sama Arsa. Gw gak peduli lagi."
Setelah mengatakan itu, Asha berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Raya yang masih menangis di taman.
🌷🌷🌷🌷
Asha berjalan cepat menuju kelasnya. Air matanya tidak berhenti mengalir.
Ia tidak menyangka akan bertengkar hebat dengan Raya. Ia tidak menyangka akan mengatakan semua isi hatinya seperti itu.
Tapi ia tidak menyesal. Karena setidaknya sekarang ia sudah tau kebenaran.
Raya memang sengaja mendekati Arsa. Raya memang sengaja manfaatin situasi.
Dan itu... Itu membuat Asha semakin sakit hati.
Sesampainya di kelas, Asha langsung mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang meskipun masih ada jam pelajaran.
Cinta yang melihat Asha langsung menghampiri dengan wajah khawatir. "Sha! Lo kenapa? Lo abis nangis lagi?"
Asha menatap Cinta dengan mata yang sembab. "Cin... Gw mau pulang. Gw gak kuat."
"Sha, tunggu. Lo kenapa? Ada apa?" tanya Cinta dengan panik.
"Gw... Gw abis berantem sama Raya" jawab Asha dengan suara yang bergetar.
Cinta terkejut mendengar jawaban Asha. "Berantem? Kenapa? Soal apa?"
"Soal Arsa. Soal... Soal semuanya" jawab Asha dengan air mata yang kembali jatuh.
"Cin... Ternyata Raya itu... Dia sengaja pindah ke sekolah ini buat deketin Arsa. Dia... Dia manfaatin keadaan Arsa yang kehilangan ingatan..."
Cinta menatap Asha dengan mata yang terbelalak. "Serius?!"
Asha mengangguk sembari menangis. "Iya... Dan gw... Gw gak sanggup, Cin. Gw gak sanggup lagi..."
Cinta langsung memeluk Asha dengan erat. "Sha... Udah... Udah jangan nangis..."
"Gw capek, Cin... Gw bener-bener capek..." isak Asha di pelukan Cinta.
"Gw udah berusaha ikhlas. Gw udah berusaha ngelepas Arsa. Tapi sekarang tau kalau ternyata Raya sengaja ngerebutin dia... Gw... Gw makin sakit hati..."
Cinta mengelus punggung Asha dengan lembut. "Sha, dengerin gw. Lo gak salah. Lo boleh marah. Lo boleh sakit hati."
"Tapi lo gak boleh nyerah. Lo harus tetep kuat."
Asha menggeleng di pelukan Cinta. "Gw udah gak kuat lagi, Cin..."
🌷🌷🌷🌷
Sementara itu, di taman belakang sekolah, Raya masih menangis sendirian.
Ia memegang pipinya yang masih terasa perih karena tamparan Asha.
"Hmm... Apa... Apa gw emang egois?" gumam Raya dengan suara yang bergetar.
"Apa gw salah karena sayang sama Arsa?"
Ia menangis semakin keras. Di dalam hatinya, ada perasaan bersalah yang luar biasa.
Tapi di sisi lain, ia juga tidak mau menyerah begitu saja.
Ia sudah berjuang terlalu keras untuk sampai di sini. Ia sudah menunggu terlalu lama.
"Hmm, maafin aku, Asha... Tapi aku... Aku juga gak bisa ngelepas Arsa..." bisik Raya dengan suara yang sangat pelan.
"Aku udah nunggu dia terlalu lama... Aku gak bisa nyerah sekarang..."
Ia menangis dalam diam, dengan hati yang terluka tapi tekad yang tetap kuat.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
PECAHHHH! 😭😭😭 Pertengkaran hebat antara Asha dan Raya akhirnya terjadi! Kebenaran terungkap bahwa Raya SENGAJA pindah ke sekolah ini buat deketin Arsa!
Raya ngaku dia udah suka sama Arsa dari SD dan udah nunggu bertahun-tahun. Dia manfaatin situasi Arsa yang kehilangan ingatan buat dapetin kesempatan kedua.
Tapi Asha juga gak mau kalah! Dia bilang cintanya ke Arsa itu tulus, sampai rela sakit hati asalkan Arsa bahagia 💔
Siapa yang menurut kalian paling berhak dapetin Arsa? Asha yang udah punya hubungan sama dia? Atau Raya yang udah nunggu bertahun-tahun?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku