NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Eleanor Vanderbilt

Pagi itu di Jarvis High School, suasana terasa lebih berat dari biasanya. Clara berdiri di dekat gerbang, matanya terus melirik ke arah jalanan, menunggu sosok sahabatnya. Namun, sebuah mobil limusin hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang, menarik perhatian semua murid yang baru tiba.

​Pintu terbuka, dan Norah turun dengan dagu yang terangkat sangat tinggi—jauh lebih angkuh dari biasanya. Namun, yang membuat Clara menahan napas adalah sosok wanita yang keluar setelahnya. Wanita itu mengenakan setelan formal yang sangat elegan, kacamata hitam mahal, dan memancarkan aura otoritas yang dingin.

​"Eleanor Vanderbilt... itu ibu Norah!" desis Clara pelan, tangannya sedikit gemetar. Kehadiran keluarga Vanderbilt di sekolah biasanya bukan pertanda baik; itu berarti akan ada "pembersihan" atau tuntutan besar yang diajukan.

​"Kenapa bengong, Clara?"

​"Aah!" Clara melompat kecil karena terkejut. Ia menoleh dan mendapati Greta berdiri di belakangnya dengan tas ransel yang tersampir di bahu.

​"Umm... anu... gak apa-apa, Greta. Yuk, masuk!" jawab Clara gugup, mencoba menutupi kecemasannya agar Greta tidak langsung merasa tertekan sejak pagi.

​Begitu mereka sampai di pintu kelas, Luca Blight sudah berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di bingkai pintu. Begitu melihat Greta, senyumnya langsung merekah, meski ada gurat kelelahan di matanya.

​"Pagi, Greta. Pagi, Clara," sapa Luca hangat, matanya sempat tertuju pada dahi Greta yang masih sedikit kemerahan akibat benturan bola basket kemarin. "Kepalamu sudah lebih baik?"

​Greta hanya mengangguk canggung, tidak berani menceritakan bahwa dahi itu berbenturan dengan dahi Leon Weiss.

​Teng! Teng! Teng!

​Bel masuk berbunyi nyaring. Semua siswa bergegas menuju bangku masing-masing. Di baris paling belakang, Leon Weiss sudah duduk dengan tenang, wajahnya sedingin es seolah kejadian memalukan dan "kabur" semalam tidak pernah terjadi. Namun, matanya tetap mengikuti gerakan Greta hingga gadis itu duduk.

Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak senyap saat Ms. Jennie masuk dengan wajah tegang, disusul oleh Mr. Kennedy, kepala sekolah yang dikenal sangat disiplin. Langkah kaki Mr. Kennedy yang berat menggema di lantai kelas, menciptakan ketegangan yang membuat semua murid menahan napas.

​Mr. Kennedy berdiri di depan kelas, matanya yang tajam memindai barisan bangku hingga berhenti tepat di bangku Greta. "Greta," ucapnya dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan. "Ikut ke ruangan saya sekarang.

​Greta seketika pucat. Tangannya yang berada di bawah meja mulai gemetar hebat. Clara, yang duduk di bangku depannya, menoleh dengan raut wajah penuh kecemasan.

​"Kenapa dia memanggilmu, Greta?" bisik Luca yang duduk di sampingnya. Matanya menatap Greta dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus khawatir, namun Greta hanya bisa terdiam membeku. Ia tidak mampu mengeluarkan suara sepatah kata pun. Dengan gerakan kaku, ia bangkit dan berjalan keluar mengikuti langkah lebar Mr. Kennedy.

​Perjalanan menuju kantor Mr. Kennedy terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Koridor sekolah yang biasanya terasa akrab, kini tampak begitu panjang dan asing bagi Greta. Suara sepatu pantofel Mr. Kennedy yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur nasibnya.

​Greta menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri, mencoba mengabaikan tatapan beberapa murid yang kebetulan lewat di koridor. Hawa dingin dari AC lorong sekolah seolah menembus seragamnya, membuat bulu kuduknya berdiri. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seakan-akan ada beban ribuan ton yang menahan kakinya.

​Mr. Kennedy membuka pintu kayu besar ruangannya dan memberi isyarat agar Greta masuk. Begitu melangkahkan kaki ke dalam, Greta langsung menyadari bahwa ia tidak sendirian.

​Dari belakang, ia melihat sosok seorang wanita yang duduk dengan punggung tegak di kursi beludru—Eleanor Vanderbilt. Wanita itu tidak menoleh, namun kehadirannya saja sudah memenuhi ruangan dengan aura yang menindas. Di sampingnya, Norah langsung memutar tubuhnya begitu mendengar suara pintu.

​"Akhirnya, si 'tikus kecil' kita datang juga," sahut Norah dengan senyum sinis yang penuh kebencian, matanya berkilat puas melihat wajah pucat Greta di ambang pintu.

​Mr. Kennedy tanpa banyak bicara mendorong bahu Greta agar masuk lebih dalam ke ruangan. "Duduklah," perintahnya tegas. Sebelum Greta sempat memprotes atau bertanya, Mr. Kennedy sudah melangkah keluar dan menutup pintu dengan bunyi klik yang tajam, meninggalkan Greta terperangkap di dalam bersama Norah dan ibunya yang sangat berpengaruh.

​Greta berdiri mematung. Ruangan mewah itu mendadak terasa sangat sempit, dan ia bisa merasakan tatapan tajam Eleanor Vanderbilt yang perlahan mulai berbalik menatapnya.

Greta terpaksa mundur selangkah saat kursinya ditarik kasar oleh Norah. "Tikus kecil..! Tempatmu di lantai..!" bentak Norah dengan suara yang penuh penghinaan. Norah sengaja menaruh kakinya di atas kursi tersebut agar Greta tidak bisa duduk, memaksa Greta tetap berdiri gemetar di hadapan mereka.

​Eleanor Vanderbilt perlahan menurunkan berkas file yang sejak tadi ia baca. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menampakkan mata yang dingin dan setajam silet. Ia menatap Greta dari ujung rambut hingga ujung kaki seolah sedang memeriksa kuman yang menjijikkan.

​"Namamu Greta Hildegard, ya?" ucap wanita itu dengan nada yang sangat datar namun menekan.

​"I.. iya.." jawab Greta dengan suara yang hampir tidak terdengar.

​"Aku sudah meninjau profilmu. Bagaimana mungkin seseorang sepertimu bisa masuk ke Jarvis High School? Di sini tertulis kamu masuk melalui jalur beasiswa khusus," Eleanor mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja. "Namun setelah dilihat lebih dalam, tidak ada keterangan yang jelas mengenai latar belakang keluargamu. Semuanya tampak... sengaja dikaburkan."

​Greta meremas ujung roknya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

​"Di sini hanya tertulis kamu pindahan dari Seoul High School, namun yayasan yang memberikanmu rekomendasi dan membiayaimu di sini..." Eleanor menaikkan satu alisnya, "...bernama Namsan Orphanage Foundation. Yayasan untuk anak yatim piatu di Seoul yang bahkan tidak dikenal sama sekali oleh relasi bisnisku di Korea."

​Eleanor mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya mengunci Greta. "Jadi katakan padaku, Greta. Bagaimana anak yatim piatu tanpa koneksi, tanpa identitas keluarga yang jelas, dan hanya bermodalkan otak picik bisa menyusup ke sekolah elit ini? Siapa yang sebenarnya mengirimmu ke sini?"

​Norah tertawa mengejek di samping ibunya. "Mungkin dia memalsukan dokumennya, Ma! Lihat saja wajahnya, dia pasti terbiasa menipu orang untuk bertahan hidup di jalanan Seoul!"

Greta hanya terdiam membisu, tubuhnya gemetar menghadapi tatapan menghakimi dari dua wanita di depannya. Namun, kesunyian itu justru memicu amarah Norah. Secara tiba-tiba, Norah berdiri dari kursinya dan melayangkan tangan dengan keras.

​PLAK!

​Tamparan itu mendarat telak di pipi Greta. "Jika ibuku bertanya jangan diam saja tikus kecil!!" bentak Norah dengan mata berkilat penuh kebencian.

​Greta tersentak, tangannya reflek memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang sembab. "A.. Aku juga tidak tahu bu.." ucap Greta tersedu, suaranya parau karena rasa takut yang luar biasa.

​Eleanor Vanderbilt tidak menghentikan tindakan putrinya. Ia justru menyandarkan punggung dengan angkuh, menatap Greta seolah sedang menguliti rahasianya satu per satu. "Menarik.. Sepertinya kamu menyimpan rahasia..?" ucap Eleanor dengan nada suara yang tenang namun sangat tajam. "Apakah kamu pekerja prostitusi yang dikirim ke sini? Atau.. Apakah kamu anak buangan dari selingkuhan penguasa di sana?"

​"Lihat saja tampangnya bu..! Seperti sampah..!" sahut Norah dengan tawa mengejek, merasa berada di atas angin karena ibunya ada di sana untuk mendukungnya.

​Eleanor melirik dingin ke arah Norah. "Norah, kamu masuk ke kelas saja sekarang."

​"T.. Tapi.. Bu.." jawab Norah, niatnya untuk terus menyiksa Greta harus tertahan. Eleanor tidak mengulang perintahnya, ia hanya memberikan lirikan tajam ke arah pintu. Norah yang tahu watak ibunya langsung menunduk dan mengambil tasnya.

​Namun, Norah tidak pergi begitu saja. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti tepat di depan Greta. Dengan wajah penuh kejijikan, ia meludahi muka Greta.

​"Sampai nanti tikus kecil..!" bisik Norah tajam, lalu ia berjalan angkuh keluar pintu dan menutupnya dengan keras.

​Greta memejamkan mata, membiarkan air mata dan rasa hina itu menyatu. Ia perlahan mengangkat tangannya yang gemetar, mengusap mukanya untuk membersihkan bekas ludah Norah. Kini di dalam ruangan besar yang sunyi itu, ia hanya tinggal berdua dengan Eleanor Vanderbilt yang masih menatapnya tanpa belas kasihan.

Eleanor pun berdiri dengan tenang, menutup berkas file di tangannya dengan suara buk yang mantap. Ia tidak terlihat marah seperti Norah, namun auranya jauh lebih mengancam.

​"Aku tahu kau yang melakukan itu kepada putriku kemarin," ucapnya datar sambil mulai melangkah, mengelilingi Greta perlahan seperti pemangsa yang sedang mengunci mangsanya. "Tapi itu bukan masalah besar bagiku. Norah memang perlu sesekali merasakan bau sampah agar dia sadar di mana posisinya."

​Langkah kaki Eleanor berhenti tepat di samping telinga Greta. "Hanya saja... aku penasaran ketika melihat jejak riwayat perpindahanmu ini. Siapa 'mereka' sebenarnya? Karena mereka bisa membuatmu masuk langsung lewat pusat, tanpa filter dariku."

​Eleanor berhenti tepat di depan Greta. Dengan gerakan yang elegan namun kuat, ia mencengkeram dagu Greta dan mendongakkan wajah gadis itu agar menatap langsung ke matanya yang dingin.

​"Nanti malam, aku tunggu kau di rumah Vanderbilt," ucap Eleanor.

​Greta yang mendengarnya seketika kaget, matanya membelalak ketakutan. "Ma.. maksudnya..? Untuk apa saya ke sana..?" jawab Greta dengan suara yang sangat gugup.

​Tanpa menjawab pertanyaan itu, Eleanor mengambil secarik kertas kecil dari atas meja, menuliskan sesuatu dengan cepat, lalu memasukkannya ke dalam saku baju seragam Greta tanpa persetujuan.

​"Jam 07.30," bisik Eleanor tepat di depan wajah Greta. "Jangan telat jika kamu masih ingin bersekolah di sini."

​Setelah itu, Eleanor mengusap kepala Greta dengan lembut—sebuah gerakan yang terasa lebih mengerikan daripada tamparan Norah tadi, Lalu berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan angkuh, meninggalkan Greta sendirian yang masih terpaku lemas di dalam ruangan tersebut.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!