"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Singgasana Tidak Lagi Melindungi
“Bagaimana pembelaanmu, Selir Xue?”
Suara Kaisar turun seperti bilah es.
Tidak tinggi. Tidak berteriak. Namun dinginnya menyusup hingga ke tulang. Suara yang dulu—dalam beberapa kesempatan—pernah berdiri di sisinya, pernah membelanya di hadapan sindiran selir lain… kini terdengar seperti suara hakim yang siap menjatuhkan vonis.
Bukan lagi pelindung.
Melainkan penginterogasi.
Seluruh Aula Utama sunyi. Bahkan napas pun terasa terlalu keras untuk dikeluarkan.
Bai Ruoxue menelan ludahnya.
“Yang Mulia… bisa saja terjadi kesalahan diagnosa.”
Ia memilih kata-kata itu dengan hati-hati. Tidak menuduh. Tidak menyalahkan. Hanya membuka kemungkinan. Namun Kaisar tidak memberi ruang.
“Apa kau meragukan tabib kekaisaran yang telah mengabdi selama 20 tahun?”
Kalimat itu jatuh seperti batu besar menghantam dadanya. Bukan sekadar pertanyaan. Itu tuduhan terselubung. Hatinya bergetar, tetapi wajahnya tetap tegak.
“Hamba tidak bermaksud demikian.”
“Lalu apa maksudmu?”
Nada itu berubah. Lebih tajam. Lebih menekan. Seolah-olah setiap kata yang ia ucapkan akan dijadikan pisau untuk melukainya kembali.
Bai Ruoxue bisa merasakan sesuatu di balik suara itu. Bukan hanya kemarahan. Ada kekecewaan. Ada rasa dikhianati. Dan itu justru membuatnya lebih sesak.
“Bagaimana jika… memeriksa sekali lagi? Mungkin saja—”
“Saat ini kau sedang bernegosiasi denganku?”
Kata “negosiasi” terdengar begitu dingin hingga membuat udara di sekelilingnya terasa beku.
“Tabib telah memeriksamu beberapa kali. Hasilnya tidak pernah berubah.”
Hening sepersekian detik.
“Fakta itu…”
Tatapan Kaisar semakin dalam.
“…kehamilanmu.”
Kata terakhir itu seperti palu yang memukul meja pengadilan.
Sah.
Resmi.
Tak terbantahkan.
Bai Ruoxue mengepalkan tangannya di balik lengan bajunya. Kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga nyaris menimbulkan luka. Ia harus menahan diri agar tidak gemetar.
Jika ia tidak memberi alasan yang logis—
Jika ia gagal meyakinkan—
Hukumannya bukan sekadar pengurangan anggaran seperti Mei Yuxin.
Ini penghianatan. Dan penghianatan terhadap Kaisar adalah dosa terbesar di bawah langit.
Eksekusi.
Atau pengasingan ke wilayah terpencil yang lebih kejam dari kematian.
Wilayah Utara. Tanah yang beku karena cuaca dingin yang ekstrim. Angin yang menggigit kulit membuat siapapun bisa saja mati. Persediaan makanan terbatas. Dibuang ke sana tanpa perlindungan kekaisaran sama saja mati perlahan.
Ia menelan ludahnya lagi. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia yakin seluruh aula bisa mendengarnya.
“Selir Xue diam,” suara Permaisuri kini terdengar, halus namun mengandung keputusan. “Berarti tak lagi memiliki pembelaan.”
Kalimat itu seperti garis yang ditarik. Seperti sesuatu yang telah diputuskan karena ia tak mampu lagi memberi jawaban.
Dalam hati Bai Ruoxue sempat berharap.
Mungkin saja…
Mungkin saja Permaisuri akan menunjukkan sedikit belas kasih. Seperti yang ia lakukan pada Mei Yuxin tadi—hukuman ringan untuk kesalahan yang hampir merenggut nyawanya. Namun harapan itu runtuh dalam satu tarikan napas berikutnya.
“Hukuman Selir Xue adalah pengasingan ke wilayah Utara. Tanpa diperkenankan membawa apa pun dari kekaisaran. Namanya akan dihapus secara utuh dari silsilah Kekaisaran Lianhua.”
Berbeda.
Sangat berbeda.
Untuk Mei Yuxin—pengurangan anggaran.
Untuknya—penghapusan nama.
Itu bukan sekadar hukuman. Itu penghapusan eksistensi.
Bai Ruoxue tersenyum pahit.
Tiba-tiba ia teringat ucapan Permaisuri di Aula Phoenix tempo hari.
Tidak ada perlindungan untukmu. Kau akan hidup dan mati dengan caramu sendiri.
Ternyata permainan benar-benar menepati janji. Ia mengangkat wajahnya perlahan dan menatap Permaisuri. Tatapan wanita itu tenang. Dingin. Tak ada kebencian. Tak ada simpati maupun belas kasihan kepadanya. Hanya kalkulasi. Seolah-olah dirinya hanyalah bidak yang bisa dikorbankan demi kestabilan papan catur.
Bai Ruoxue menarik napas panjang. Jika ia diam sekarang—semuanya selesai.
“Izinkan hamba menambahkan, Yang Mulia.”
Suasana aula kembali menegang. Permaisuri mengerutkan kening tipis.
“Berbicara.”
Bai Ruoxue mengangkat kepalanya lebih tinggi.
“Dari perhitungan tabib, usia kandungan hamba sekitar satu minggu.”
Beberapa selir mulai berbisik lagi.
“Dalam kurun waktu 3 bulan terakhir, bukankah istana sedang dijaga sangat ketat karena ancaman pembelot dari luar? Gerbang utama ditutup, penjagaan berlapis, bahkan tamu kehormatan pun diperiksa dua kali.”
Ia berhenti sejenak.
“Orang luar tidak mungkin bisa masuk ke dalam kekaisaran tanpa diketahui.”
Tatapan Kaisar mengeras.
“Apa maksudmu?”
Nada itu tidak lagi sekadar dingin. Ada kewaspadaan di dalamnya. Bai Ruoxue menelan ludah.
“Maksud hamba…”
Ia sadar satu kata saja bisa menjadi pedang yang berbalik melukai dirinya.
“…kemungkinan anak ini adalah hasil perbuatan orang dalam kekaisaran.”
Aula langsung bergemuruh.
“Berani sekali—”
“Dia menuduh—”
“Siapa yang ia maksud?”
Kasim memukul tongkatnya ke lantai, berusaha menenangkan. Kaisar tidak ikut berbicara. Ia hanya tersenyum tipis. Namun senyum itu bukan senyum lembut.
Itu senyum pahit.
“Jadi… kau mengakui perbuatanmu?”
Kalimat itu membuat beberapa selir tersenyum puas. Namun Bai Ruoxue tidak goyah.
“Hamba tidak mengakui apa pun, Yang Mulia. Hamba hanya menyatakan kemungkinan.”
Tatapannya lurus.
“Jika kabar ini benar, maka ada seseorang di dalam istana yang berani menyentuh selir tanpa izin Kaisar.”
Suasana berubah. Kata itu bukan lagi skandal pribadi. Ini ancaman terhadap wibawa kekaisaran.
“Dan jika kabar ini tidak benar,” lanjutnya, “maka ada penghianat yang dengan sengaja menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan hamba. Penghianat dalam istana jauh lebih berbahaya daripada pembelot di luar gerbang.”
Hening menyelimuti aula. Senyum para selir yang tadi merekah kini memudar.
Bai Ruoxue menarik napas perlahan, lalu melangkah setengah langkah ke depan sebelum menjatuhkan dirinya ke dalam penghormatan yang dalam.
Kedua lututnya menyentuh lantai marmer yang dingin. Suara kainnya berdesir pelan ketika ia merapikan ujung lengan bajunya, lalu kedua tangannya disatukan di depan, menempel pada lantai dengan rapi dan terukur. Ia membungkuk hingga dahinya hampir menyentuh punggung tangannya sendiri—rendah, patuh, tanpa cela dalam tata krama istana.
“Tolong beri hamba waktu untuk menyelidikinya. Setelah itu, keputusan sepenuhnya berada di tangan Yang Mulia.”
Suaranya tidak gemetar, meski seluruh isi aula tahu ia sedang berdiri di tepi jurang hukuman. Nada itu lembut, penuh hormat, sebagaimana seharusnya seorang selir berbicara kepada Kaisarnya. Tetapi di balik kelembutan itu tersimpan sesuatu yang lebih keras—tekad yang tidak terdengar namun terasa.
Ia mempertaruhkan segalanya.
Jika gagal—
Hukuman tetap menantinya.
Namun jika ia tak mencoba—
Ia mati tanpa perlawanan.
“Tidak bisa—” ucap permaisuri hendak memotong.
“Baik. 30 hari.”
Semua kepala yang ada dalam ruangan itu kini terangkat. Permaisuri menoleh cepat ke arah Kaisar.
“Kuberi kau waktu 30 hari untuk membuktikan.”
Kata-kata itu menggema seperti keputusan perang.
“Yang Mulia, ini tidak sesuai prosedur,” ucap Permaisuri, suaranya tetap lembut namun kali ini terasa mengandung tekanan. “Anda biasanya tidak seperti ini.”
“Permaisuri.”
Satu kata. Namun cukup untuk membuat udara berubah arah.
“Ini menyangkut kekaisaran. Penghianatan tidak boleh ditolerir.” jawab kaisar dengan tatapan tajam.
Apakah ia berbicara demi negara?
Atau demi perasaannya sendiri?
Permaisuri terdiam. Namun dalam matanya, ada sesuatu yang berubah.
Dua kali.
Dua kali keputusannya bergeser dari prosedur. Itu bukan pertanda baik bagi stabilitas kekuasaan. Dan tentu saja, kekuasaannya.
“Selir Xue,” suara Kaisar kembali dingin. “Dalam waktu 30 hari, jika kau tak mampu membuktikan kebenaran, kau akan dikirim ke wilayah Utara. Tanpa pengecualian.”
Tak ada kelembutan. Tak ada janji perlindungan. Hanya batas waktu.
Bai Ruoxue mengangkat wajahnya. Tatapannya teguh.
“30 hari sudah cukup.”
Di dalam ruangan itu, ketegangan tak lagi hanya soal kandungan. Ada sesuatu yang lebih besar. Harapan Kaisar yang samar. Kalkulasi Permaisuri yang mulai goyah. Dan seorang selir yang berdiri di antara keduanya—bukan lagi sebagai korban. Melainkan sebagai ancaman yang mulai diperhitungkan.
Permainan belum selesai.
30 hari.
Dan tak satu pun dari mereka benar-benar tahu—siapa yang akan jatuh lebih dulu.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi