NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergolakan di Hati Alexa

Bagi Kenzo, Alexa tetaplah gadis kecil yang dulu sering bermain di taman mansion Bernardo. Selisih usia enam tahun membuat Kenzo secara otomatis menaruh Alexa di kotak yang sama dengan Zella. Ia melindungi Alexa, bersikap manis padanya, namun semua itu didasari oleh rasa sayang seorang kakak kepada adiknya.

Di saat Alexa sedang memuja Kenzo dari kejauhan, muncul sosok wanita lain yang mulai mendapatkan perhatian Kenzo. Dia adalah Diandra, teman masa kuliah Kenzo yang kini menjadi seorang kurator seni sukses.

Berbeda dengan para model yang hanya mengejar status Kenzo, Diandra memiliki kesan yang dalam yang setara dengan Kenzo. Mereka memiliki sejarah panjang sebagai teman diskusi di kampus, dan Diandra adalah wanita yang tahu semua rahasia Kenzo, termasuk duka tentang Liora.

Sore itu, di galeri yang dijanjikan, Kenzo ternyata tidak datang sendirian.

"Alexa, kau sudah sampai?" Kenzo menyapa sambil melambaikan tangan.

Di sampingnya berdiri seorang wanita dengan gaya yang sangat chic, mengenakan blazer hitam oversized dan kacamata yang bertengger di kepalanya.

"Kenalkan, ini Diandra. Teman baikku dari universitas. Dia yang mengatur pameran di galeri ini."

Alexa merasakan jantungnya seolah diremas. Senyum adik yang manis tetap ia pasang, meski di dalam hati ia sedang menilai setiap inci dari wanita bernama Diandra ini.

"Halo, Alexa. Kenzo sering bercerita tentangmu, katanya kau seperti Zella kedua baginya," sapa Diandra dengan nada yang sangat ramah, namun di matanya terpancar kepercayaan diri seorang wanita dewasa yang sudah lama berada di sisi Kenzo.

Selama berkeliling galeri, Alexa harus menelan pil pahit melihat bagaimana Kenzo berinteraksi dengan Diandra. Mereka berbicara tentang teknik melukis, sejarah seni, dan sesekali tertawa mengingat kejadian konyol di kantin kampus dulu.

"Kau ingat prof. Miller, Ken? Dia masih menanyakan mu kapan kau akan mendonorkan koleksi pribadimu ke museum universitas," ucap Diandra sambil menyentuh lengan Kenzo dengan akrab.

Kenzo terkekeh. "Katakan padanya, jika dia berhenti memberiku nilai B di semester akhir dulu, aku akan mempertimbangkan nya."

Alexa berjalan sedikit di belakang mereka, meremas tali tasnya. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang diajak jalan-jalan oleh kakak-kakaknya. Pemujaan yang ia bangun di kamarnya terasa begitu rapuh saat dihadapkan pada kenyataan bahwa Kenzo memiliki dunia lain bersama Diandra, dunia yang tidak ia pahami karena perbedaan usia mereka.

Malam harinya, suasana di kamar Alexa terasa jauh lebih gelap. Sketsa-sketsa wajah Kenzo yang biasanya ia pandangi dengan penuh cinta, kini berserakan di meja.

Ia mengambil foto Diandra dari hasil pencarian internet. Diandra adalah definisi wanita yang tepat untuk Kenzo secara logika. Cantik, pintar, dan seumuran.

"Teman kampus?" gumam Alexa, matanya menatap tajam ke foto Diandra. "Kenzo menganggap ku adiknya karena dia pikir aku tidak mengerti dunianya. Dia pikir aku masih gadis kecil yang butuh dilindungi."

Alexa berdiri di depan cermin besar, melepaskan syal kasmir nya. Ia menatap pantulan dirinya, mencoba mencari apa yang dimiliki Diandra yang tidak ia miliki.

"Kau salah, Kenzo. Aku bukan Zella. Aku tidak butuh pelindung... aku butuh kau," bisiknya pada cermin.

Alexa tidak menangis. Sebaliknya, ia justru merasa tertantang.

Jika Kenzo menganggapnya sebagai adik, maka ia harus menghancurkan citra itu. Ia mulai menyusun rencana baru. Bukan lagi dengan menjadi gadis baik-baik yang pasif, tapi dengan menunjukkan bahwa di balik usia mudanya, ia memiliki kedewasaan yang sanggup mengimbangi Kenzo, bahkan mungkin lebih dari Diandra.

"Diandra hanya bagian dari masa lalumu di kampus, Kenzo," Alexa menyoret foto Diandra dengan pena merah. "Tapi aku... aku adalah masa depan yang sudah mengincar mu sejak lama."

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰😍

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!