Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Salah Paham Lagi
Angin gurun yang membawa butiran pasir halus seolah ingin mengucapkan salam perpisahan yang terakhir kalinya pada Lettu Inf. Erlaga Patikelana.
Setahun sudah ia menghirup udara kering Darfur, setahun pula ia menggadaikan nyawanya demi misi perdamaian. Hari ini, di bawah langit Sudan yang masih sama teriknya, Erlaga berdiri tegap di depan barak timur, menatap bendera PBB dan Merah Putih yang berkibar berdampingan.
Suasana di camp Satgas Garuda hari itu dipenuhi rasa haru yang kental. Setelah melewati masa-masa kritis akibat serangan setahun lalu, Erlaga tidak hanya kembali pulih, tetapi tumbuh menjadi perwira yang jauh lebih tenang dan bijaksana. Bahu kirinya yang pernah hancur kini meninggalkan bekas luka permanen, namun kekuatannya telah kembali sepenuhnya.
"Letnan, ini untukmu. Jangan lupakan kami," ujar Omar, seorang bocah lokal yang selama enam bulan terakhir sering dibantu oleh Erlaga dalam program bantuan air bersih.
Omar menyodorkan sebuah gelang kayu buatan tangan yang sederhana. Erlaga berjongkok, menyetarakan tingginya dengan bocah itu, lalu tersenyum hangat. Ia mengusap kepala Omar dengan lembut sebelum memeluk rekan-rekan prajurit TNI lainnya yang masih harus tinggal di sana.
"Jaga diri kalian. Sampai bertemu di tanah air," ucap Erlaga dengan suara bariton yang khas.
Saat ia melangkah menuju pesawat Hercules yang akan membawanya pulang, tangannya secara refleks menyentuh dadanya. Di balik seragam lorengnya, dog tag dan separuh liontin hati itu masih ada. Setahun di Sudan telah menempa raganya, namun separuh hati itu tetap menjadi satu-satunya ketangguhan batinnya.
Ia merasa sudah lebih siap. Siap untuk pulang, dan siap untuk mengakhiri kegelisahan yang menggantung selama ini.
Sementara itu, di Bandung, kehidupan Syafina seolah berjalan di atas rel yang sangat lurus dan stabil. Sejak hari di mana ia mendengar kabar bahwa "Erlaga anak teman Papanya" telah sembuh dari luka serpihan granat, Syafina seolah menutup buku tentang semua kegalauan hatinya. Ia benar-benar menenggelamkan diri dalam tumpukan buku teks sosiologi, dan materi UAS semester keduanya di UIN Bandung.
Nama Erlaga tidak lagi menjadi tamu dalam mimpinya. Fokusnya kini hanya pada nilai IPK dan keberhasilan butik mamanya. Bahkan, kotak cokelat berisi liontin hati itu sudah tertimbun jauh di dasar laci yang tidak pernah ia buka lagi. Baginya, kenangan itu adalah sebuah artefak masa lalu yang tidak perlu diusik.
Kebahagiaan di rumah hijau sage itu pun sedang memuncak. Dallas tidak henti-hentinya tersenyum bangga karena Dalfas, si kembar kesayangan Syafina, telah resmi lulus Akmil. Dalfas pulang ke Bandung dengan penampilan yang jauh berbeda, rambut cepak, tubuh tegap berisi, dan aura ksatria yang sangat kental.
"Kak, ayo makan keluar! Aku kangen banget pujasera langganan kita. Kali ini aku yang traktir," rengek Dalfas suatu sore, sambil mengenakan seragam kebanggaan Akmilnya.
Syafina tertawa, mencubit lengan adiknya yang kini keras seperti kayu. "Alf, kamu ganteng banget. Seragam kamu juga keren dan...body kamu juga. Ya ampun. Kayanya aku serasa jalan sama pacar bukan sama kembaran. Ya sudah, ayo. Tapi kamu yang traktir ya!"
Dalfas tertawa girang dan mengangguk.
Keduanya berangkat menuju pujasera yang sama, tempat di mana setahun lalu Syafina pertama kali mengenal getaran aneh dari seorang pria bernama Laga. Syafina merasa sudah cukup kuat untuk kembali ke sana. Baginya, tempat itu kini hanya sekadar tempat makan, bukan lagi monumen patah hati.
Di pujasera yang ramai itu, Syafina dan Dalfas duduk berhadapan. Mereka tertawa lepas, Dalfas bercerita tentang betapa kerasnya latihan di Magelang.
BMereka terlihat sangat serasi, pria berseragam gagah dan gadis manis berhijab, siapa pun yang melihat dari jauh pasti akan mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang melepas rindu setelah sekian lama berpisah.
Syafina tidak menyadari bahwa di sudut parkiran, sebuah mobil terhenti. Di dalamnya, seorang pria dengan kulit yang lebih gelap dan tubuh yang sedikit lebih kurus namun tegap, terpaku menatap ke arah meja mereka.
Erlaga, yang baru sehari sampai di Bandung dan ingin bernostalgia di tempat pertama ia bertemu Syafina, justru disuguhi pemandangan yang menghancurkan hatinya untuk kedua kalinya.
"Ternyata benar...." bisik Erlaga getir.
Setahun penantian, setahun perjuangan antara hidup dan mati, dan setahun doa-doa yang ia titipkan pada rembulan, seolah menguap begitu saja. Pria yang ia lihat setahun lalu di kedai bakso, yang kini ia kenali sebagai taruna Akmil, masih ada di samping Syafina. Bahkan sekarang mereka terlihat jauh lebih dekat, lebih bahagia.
Erlaga mencengkeram kemudi mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak di bahu kirinya tiba-tiba muncul kembali, lebih perih daripada saat terkena serpihan ledakan di Sudan. Ia memejamkan mata, mencoba menelan pahitnya kenyataan.
"Aku memang bodoh. Mengharapkan hati yang sejak awal memang bukan untukku," gumamnya dengan nada pasrah.
Kesedihan itu berubah menjadi kepasrahan yang dingin. Erlaga memutar balik mobilnya. Di kepalanya, ia sudah mengambil keputusan. Jika Syafina sudah menemukan kebahagiaannya dengan pria itu, maka ia tidak punya alasan lagi untuk mengejar.
Dalam keputusasaan dan cemburu yang salah tempat serta salah paham yang kian mendera, Erlaga justru teringat kembali permintaan papanya, Pak Erkana, tentang perjodohan dengan anak temannya.
"Mungkin ini jalannya. Aku terima saja perjodohan itu," batin Erlaga.
Erlaga pun menyusun sebuah rencana di dalam benaknya. Ia akan menjalani perjodohan itu dengan baik. Namun, sebelum ia melangkah lebih jauh dengan gadis pilihan orang tuanya, ia akan menemui Syafina sekali lagi secara jantan. Ia akan meminta maaf atas sikapnya setahun lalu, menjernihkan semuanya, lalu memperkenalkan calon istrinya sebagai tanda bahwa ia sudah "selesai" dengan masa lalunya.
Dua hari setelah kepulangan Erlaga yang penuh luka batin itu, Dallas masuk ke kamar Syafina dengan wajah yang sulit ditebak.
"Syafina, Sayang, nanti malam kita sekeluarga akan makan malam di luar. Ingat, pakai baju yang rapi ya, Sayang," ujar Dallas lembut sambil mengusap kepala putrinya.
"Sekeluarga? Kita semua?" yakin Syafina.
"Iya, kita semua. Mama, Dalfas, juga si bungsu Syafini. Kalau Aamu mau juga, Papa akan ajak," ujar Dallas sembari menyunggingkan senyum.
"Serius, Pa?"
Dallas mengangguk dalam.
Syafina buru-buru merapikan buku di atas meja belajarnya. "Makannya di mana, Pa? Tumben banget A Saka diajak juga."
"Ada deh... tempat spesial. Sudah, pokoknya ikut saja. Jangan lupa pakai gamis yang baru dibelikan Mama itu ya," Dallas mengedipkan mata, menyembunyikan rencana besarnya.
Syafina hanya mengangguk setuju, mengira ini adalah syukuran kecil-kecilan untuk kelulusan Dalfas. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Dallas dan Pak Erkana sudah bersekongkol. Ia tidak tahu bahwa di balik perjalanan itu, bukan menuju ke sebuah restoran, melainkan ke sebuah rumah yang akan menjawab semua pertanyaannya selama setahun terakhir.
Dan yang paling tidak ia ketahui, di rumah itu, seorang pria bernama Erlaga sedang duduk dengan wajah kaku, bersiap menyambut "gadis pilihan orang tuanya" sambil membawa separuh hati yang patah di dalam sakunya.
Duhh... Gimana nih, Erlaga salah paham terus, sampai ia akhirnya memutuskan menerima perjodohan itu dengan anak teman papanya. Tapi, Erlaga masih menyimpan liontin separuh itu. Hatinya masih menyimpan nama Syafina tuh.