NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abidzar Manja

Setelah mereka berada di kamar, Abidzar ternyata hanya terlelap sebentar. Beberapa menit kemudian tubuhnya kembali menggigil, meringkuk di bawah selimut.

“Mas dingin?” tanya Azzura lirih begitu suaminya terbangun. Tangannya refleks merapikan selimut Abidzar. “Mau aku ambilin teh hangat atau aku bikinin sup kayak tadi pagi?”

Abidzar bergumam pelan, suaranya serak. “Aku cuma mau peluk kamu aja.”

Azzura menghela napas pelan, antara gemas dan pasrah. Tanpa banyak kata, ia ikut naik ke atas ranjang, membiarkan Abidzar merapat ke arahnya.

“Mana ada orang sakit sembuh cuma gara-gara dipeluk,” omelnya pelan.

“Ada kok,” jawab Abidzar santai sambil semakin mendekat, menjadikan lengan Azzura sebagai guling, memeluknya erat seperti anak kecil yang kedinginan.

Azzura mengangkat tangannya, menyingkirkan surai pendek yang menutupi kening suaminya, lalu menyentuh dahi itu perlahan.

“Beneran pusing?” tanyanya lembut.

Abidzar mengangguk kecil. “Tenggorokan aku juga sakit,” ucapnya manja, nadanya seperti anak kecil yang sedang mengadu.

“Makanya,” Azzura mendengus kesal tapi suaranya tetap tertahan. “Dibilangin jangan ngeyel. Dari tadi aku udah bilang gak usah ke kampus, gak usah nganterin aku. Sok kuat banget sih kamu, Mas.”

Abidzar terkekeh pelan. “Enak juga ya sakit gini… ada yang perhatiin,” katanya iseng. “Tau gitu dari kemarin aja aku manja sama kamu.”

Azzura mendecakkan lidah. Banyak kata pedas ingin keluar, tapi melihat wajah pucat suaminya, semua itu urung terucap.

“Elus-elus lagi dong, sayang… kepala Mas,” pintanya lirih.

Tanpa membantah, Azzura mengusap kening Abidzar dengan lembut. Jari-jarinya bergerak perlahan, penuh perhatian. Abidzar menahan senyum kecil, menikmati sentuhan yang selalu berhasil menenangkannya.

“Bentar,” kata Azzura akhirnya. “Aku ambilin kompresan dulu. Panas kamu kayaknya naik lagi.”

“Tapi…” Abidzar memprotes pelan.

“Astaghfirullah, Mas. Cuma bentar,” Azzura menghela napas, kali ini benar-benar kelelahan menghadapi sikap clingy suaminya. “Kemarin keras kepala, sekarang manjanya kebangetan.”

Azzura mengompres Abidzar dengan telaten, lalu mengecek suhunya kembali. Dadanya menghangat cemas saat melihat angkanya naik.

“Sekarang waktunya tidur,” perintahnya tegas.

Abidzar malah merentangkan kedua tangannya dari balik selimut.

“Mau dipeluk lagi.”

Azzura memutar bola mata. “Dasar manja.”

Namun pada akhirnya, ia tetap kembali naik ke ranjang dan memeluk suaminya. Abidzar pun terlelap dalam dekapannya.

Berbeda dengan Azzura.

Ia sama sekali tak bisa tidur. Setiap setengah jam sekali, tangannya kembali mengecek suhu tubuh Abidzar yang panasnya naik turun. Beberapa kali suaminya mengigau, napasnya tak beraturan karena demam yang belum juga turun.

Azzura bolak-balik ke dapur, mengganti air kompresan, menahan kantuk dan rasa lelah yang mendera.

Hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari.

Abidzar kembali menggigil hebat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, wajahnya pucat, igauannya semakin jelas.

Dengan tangan gemetar, Azzura mengambil termometer digital dan mengecek suhu tubuh suaminya.

Napasnya tercekat.

39,8 derajat Celcius.

Kepanikan perlahan merayap di dadanya.

Ia menatap wajah Abidzar yang terlelap dengan napas berat, lalu menelan ludah dalam-dalam.

Ia harus bagaimana sekarang?

***

Kening Abidzar berkerut saat ia terbangun. Pandangannya menangkap sosok Azzura yang tertidur dalam posisi duduk di lantai, dengan kepala bersandar di tepi ranjang, tepat di sisi tempatnya berbaring. Napas istrinya terdengar pelan dan teratur, menandakan lelap yang sangat dalam.

Alis Abidzar semakin bertaut ketika ia menyadari satu hal lain.

Tangannya terhubung dengan selang infus.

Belum sempat ia mencerna keadaannya, pintu kamar terbuka perlahan. Sosok Umi Hafiza muncul dengan senyum lega begitu melihat putra pertamanya sudah terjaga.

“Udah bangun?” tanya Umi Hafiza, lebih seperti pernyataan. “Gimana rasanya? Masih pusing?”

Umi Hafiza mendekat dan mengecek kening Abidzar dengan punggung tangannya.

Abidzar memaksakan senyum kecil. “Udah baikan, Ummi. Tapi… kok aku sampai diinfus?”

Umi Hafiza menghela napas panjang, lalu duduk di sisi ranjang. “Demam kamu tinggi sekali semalam. Kamu ngigau, keringatan, dan menggigil. Abah sampai nelpon dokter Arman supaya datang ke sini secepatnya.”

Nada suara Umi Hafiza berubah lembut tapi tegas. “Kalau lagi sakit itu jangan dipaksain, Nak. Istirahat. Disuruh minum obat ya minum, diminta istirahat ya istirahat. Jangan ngeyel, jangan keras kepala terus.”

Abidzar meringis kecil, siap menerima omelan lanjutan.

“Kalau kamu sudah gak mikirin badan kamu sendiri,” lanjut Umi Hafiza, “setidaknya kasihan sama istri kamu. Zura itu tidak tidur semalaman jagain kamu. Dia panik, sampai nangis waktu ngetok pintu kamar Ummi dan Abah semalam.”

Pandangan Abidzar langsung beralih ke arah Azzura yang masih terlelap di lantai.

“Coba kamu pikirin perasaan dia lihat kamu sakit kayak gini. Jangan nunggu parah dulu baru nurut,” tutup Umi Hafiza.

Abidzar menelan ludah, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah.

Ia hendak membangunkan Azzura, tapi tangan Umi Hafiza segera menahan. “Jangan dibangunin. Biarin Zura tidur dulu.”

“Tapi, Ummi… posisinya gak nyaman.”

“Kalau kamu bangunin, nanti dia gak bisa tidur lagi. Kasian, semalaman dia gak merem. Baru setengah jam yang lalu akhirnya tidur,” kata Umi Hafiza lembut. “Kamu mending siap-siap Subuh. Ini sudah hampir setengah enam. Mau Ummi bantu ke kamar mandi?”

Abidzar menggeleng. “Gak perlu, Ummi. Aku bisa sendiri.”

Dengan gerakan perlahan, Abidzar bangkit. Kepalanya masih terasa berat, tapi tubuhnya tak lagi menggigil. Keringat hangat justru membasahi pelipisnya—tanda, kata Umi Hafiza, bahwa kondisinya mulai membaik.

Sebelum masuk kamar mandi, Abidzar menatap Azzura lama.

Semua ini berkat kamu…

“Infusnya kapan bisa dilepas, Ummi?” tanyanya.

“Kata dokter Arman nanti, nunggu cairannya habis. Nanti beliau akan kemari lagi. Kamu mau Umi bantu ke kamar mandi?"

Abidzar menggeleng. “Terima kasih, Ummi. Abid bisa sendiri."

Selesai melaksanakan salat Subuh, Abidzar kembali ke kamar. Pandangannya langsung tertuju pada Azzura yang masih tertidur di lantai. Hatinya mencelos.

Ia tidak tega.

Namun ia juga tak ingin membangunkannya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Abidzar membungkuk dan perlahan mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang. Meski tangannya masih terpasang infus dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih, ia tetap bisa mengangkat tubuh kecil Azzura, walau napasnya sempat tersengal.

Azzura sedikit menggeliat, terganggu oleh perpindahan itu.

Dengan cepat, Abidzar memeluknya dan menepuk lengan istrinya pelan, berulang-ulang—seperti menenangkan seorang bayi.

“Sshh… tidur lagi, sayang,” bisiknya lembut di telinga Azzura.

Ia melantunkan shalawat lirih, berharap istrinya tetap terlelap.

Dalam tidurnya, Azzura meringkuk, mencari kehangatan, dan tanpa sadar semakin mendekat ke dalam pelukan suaminya.

Abidzar tersenyum kecil.

Kali ini, ia benar-benar mengerti, keras kepala tidak pernah sebanding dengan ketulusan cinta yang diam-diam menjaganya semalaman.

***

Azzura membuka matanya tiga jam kemudian. Kepalanya terasa ringan, jauh berbeda dari lelah yang ia rasakan semalam. Ia mengernyit heran saat menyadari posisinya kini berada di atas ranjang, terbaring dengan nyaman.

Padahal, terakhir kali ia ingat, ia tertidur di lantai—di sisi ranjang—dengan kepala bersandar di dekat Abidzar yang sedang terlelap.

Kesadaran itu membuat Azzura sontak bangkit. Matanya menyapu ranjang, namun tak menemukan sosok suaminya. Hanya ada selimut yang terlipat rapi dan bekas cekungan tubuh yang sudah dingin.

Jantung Azzura berdegup lebih cepat.

Ia segera menyingkap selimut dan turun dari ranjang, hendak keluar kamar.

“Mau ke mana?”

Suara itu membuat langkah Azzura terhenti.

Ia berbalik dan mendapati Abidzar baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah, handuk tersampir di bahu. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan tadi malam.

Tanpa menjawab, Azzura justru melangkah cepat menghampiri suaminya.

Dengan sedikit berjinjit, ia menempelkan punggung tangannya ke kening Abidzar, lalu berpindah ke lehernya, memastikan suhu tubuh itu benar-benar turun.

Sementara itu, Abidzar memanfaatkan jarak yang kini sangat dekat untuk melingkarkan kedua lengannya di pinggang Azzura.

“Alhamdulillah…” gumam Azzura pelan. “Demamnya sudah turun.”

Nada lega begitu jelas terselip dalam suaranya.

Abidzar tersenyum simpul.

“Iya, berkat kamu, sayang. Terima kasih ya.”

Tangannya terangkat mengelus pipi Azzura dengan lembut.

Alih-alih tersipu, Azzura justru memukul pelan dada Abidzar.

“Makanya kalau sakit itu jangan ditahan. Giliran parah baru ngeluh.”

Ia mendongak menatap suaminya tajam.

“Mas tau gak, semalam demam Mas tinggi banget. Kalau Mas kayak gitu lagi, aku bakal marah. Beneran marah. Bahkan bisa gak mau ngurus Mas lagi.”

“Iya, iya… maaf,” jawab Abidzar, namun senyumnya malah makin lebar.

Azzura semakin kesal melihat reaksi itu. “Ini aku lagi marah, loh. Kok kamu malah senyum-senyum sih?”

Abidzar mendekat sedikit. “Kamu bisa gak sih sehari aja gak bikin aku gemes?”

“Gemes kenapa?” Azzura mendengus.

“Ya gemes aja,” jawab Abidzar santai. “Aku seneng diperhatiin kamu.”

“Emang selama ini aku gak perhatian?”

“Perhatian,” akunya jujur. “Tapi yang kemarin itu beda. Aku jadi makin sayang sama kamu.”

Azzura langsung memalingkan wajah. “Apaan sih, Mas. Pagi-pagi udah ngegombal aja.”

Pipinya memanas, dan ia tau Abidzar pasti menyadarinya.

“Tuh kan,” Abidzar terkekeh pelan sambil memeluknya lebih erat. “Bikin gemes.”

Ia menempelkan dagunya di puncak kepala Azzura.

“Oh iya, kata Umi… seminggu lagi kita resepsi. Semua sudah diatur. Katanya kamu nyerahin semuanya ke Umi?”

“Iya,” jawab Azzura ringan. “Aku males ribet-ribet. Yang sederhana aja. Disini."

Abidzar tertawa kecil. “Istri siapa sih ini?”

Azzura mengangkat bahu pura-pura bingung. “Siapa yaaa?”

Abidzar menghela napas sambil tersenyum, lalu kembali memeluk istrinya dengan penuh rasa syukur.

Di saat tubuhnya sempat tumbang, justru di sanalah ia benar-benar merasa pulang.

1
syora
akhamdulillah
lain kali didgr omongan istri abidz
aduhhhh bikin pingin ngetos tuh kpla
Nifatul Masruro Hikari Masaru
dasar abid dimarahin tambah seneng merasa diperhatikan sama zuya
cutegirl
abidz emg paling bisa ya🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid kalo sakit pengen dimanja
Nifatul Masruro Hikari Masaru
pawang yang galak dan cerewet
syora
sama sama menikmati nikmat Allah zuya abidz,kpn lg kalian sm" luruhkan ego demi kharmonisan pasangan🤭
Alana kalista
azzura galak nya 😌
Fegajon: galak demi kebaikan 🤭
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang nurut bidz. pawangnya galak
Siti Java
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Anak manis
azzura di lawan 🤣
anakkeren
cepet sembuh abid😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
nah gitu dong baikan
syora
lah ank umma mau kamu ajak debat abidz
ckckck mau cari gr"🤭
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!