Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Kiara melangkah keluar kamar dengan koper kecil di tangannya. Celana jeans hot pants yang begitu pendek membalut kakinya yang jenjang, dipadukan dengan atasan putih bermotif bunga bertali satu. Rambutnya dikuncir tinggi asal, memberi kesan santai sekaligus menantang. Kacamata hitam melekat di wajahnya seolah dunia tak berhak melihat matanya pagi ini.
Baru beberapa langkah menuju mobil, suara ayahnya menghentikan langkah Kiara.
“Kamu mau ke desa, bukan ke mal,” tegur Rahmat dingin.
“Pakaianmu tidak pantas.”
Kiara berhenti, menoleh perlahan, senyum tipis bukan senyum ramah tetapi menggantung di bibirnya.
“Pa, aku pakai apa yang nyaman buat aku,” jawabnya ringan namun menyengat.
“Papa nggak perlu protes. Sekarang aku kan sudah jadi istri orang.” Cibirannya jelas.
Rahmat menghela napas berat, namun tak berkata apa-apa lagi. Melati menatap putrinya dengan raut yang sulit dibaca, ia tahu Kiara masih marah, masih terluka karena dinikah paksa, tapi kali ini, ia memilih diam.
Melati melangkah mendekat, memeluk Kiara sebentar. Pelukan singkat, canggung, namun penuh harap.
“Hati-hati,” ucapnya lembut. “Kalau sudah sampai perbatasan desa, hubungi Alvar. Dia yang akan menjemput kamu.”
Kiara mengangguk kecil, tanpa melepas kacamata hitamnya. Tak ada janji, tak ada kata manis. Ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.
Mesin menyala, mobil bergerak meninggalkan halaman rumah besar itu.
Melati berdiri lama, menatap kepergian anak perempuannya hingga bayangan mobil menghilang di tikungan. Dalam diam, ia berdoa, semoga Kiara bisa belajar, dan semoga Alvar cukup sabar mengurus anaknya yang sulit diatur selama ini.
Di kursi belakang, Kiara menyandarkan kepala ke jendela. Jalanan Jakarta perlahan berganti, gedung-gedung tinggi menghilang satu per satu.
Mobil melaju melewati papan kayu bertuliskan Selamat Datang di Desa Tugu Utara, Cisarua, Bogor. Aspal mulai menyempit, berkelok tajam, naik-turun mengikuti kontur perbukitan. Pepohonan pinus berdiri rapat di kiri-kanan jalan, sebagian tertutup kabut tipis yang menggantung rendah.
“Pak,” ujar Kiara, memecah keheningan. “Antar saya langsung ke rumah Pak Kades saja.”
Sopir melirik lewat kaca spion. “Tuan Alvar bilang akan menjemput, Nona.”
“Saya nggak mau dijemput,” jawab Kiara cepat.
“Saya nggak kenal dia.”
Sopir terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia tak punya alasan untuk membantah.
Perjalanan memakan waktu lebih dari tiga jam. Tikungan demi tikungan membuat perut Kiara mual. Dia memejamkan mata sesaat, menahan rasa tak nyaman yang naik hingga tenggorokan. Namun, perlahan, rasa mual itu bercampur dengan sesuatu yang asing.
Udara di luar terasa begitu sejuk, dingin namun menenangkan. Kiara menurunkan kaca mobil. Angin gunung menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah, dedaunan, dan rumput liar. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap keluar dengan mata yang kini lebih jujur.
Hamparan sawah terbentang luas, hijau dan berundak seperti lukisan. Kebun teh mengular mengikuti bukit, sementara rumah-rumah kayu sederhana berdiri berjajar, berasap tipis dari dapur-dapur pagi. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, suara tawa mereka berpadu dengan kokok ayam dan gemericik air sungai kecil di kejauhan.
Mobil tiba-tiba melambat, lalu berhenti total.
“Kenapa berhenti, pak?” tanya Kiara ketus dari kursi belakang.
Sopir menoleh sedikit. “Ada orang berdiri di tengah jalan, Non.”
Kiara mendengus, dia membuka kaca jendela dan menyembulkan kepalanya ke luar. Di depan sana, tepat di jalan sempit desa, terlihat seorang pria berpakaian sederhana berdiri di samping motor tua. Ia mengenakan kaus polos yang sudah sedikit pudar, celana panjang gelap, dan topi sawah yang menutupi sebagian wajahnya.
Di sisinya, seorang gadis berambut dikuncir dua, mengenakan gaun panjang bermotif bunga, tampak memeluk lengan pria itu dengan manja. Entah kenapa, pemandangan itu membuat dada Kiara panas.
“Woi!” teriak Kiara lantang, suaranya memecah udara desa yang tenang.
“Kalau mau enak-enakan jangan di tengah jalan! Ganggu orang lewat tahu?! Minggir cepat!”
Sopir terkejut, beberapa warga yang berada tak jauh dari situ langsung menoleh.
Pria itu, Alvar yang terdiam sejenak, lalu dengan rahang mengeras meminggirkan motor butut milik Pak Kades Yono ke tepi jalan. Saat mobil mulai bergerak melewati mereka, angin menerpa wajah Kiara, rambutnya sedikit terangkat, menampilkan wajah cantiknya yang dingin dan penuh kesombongan.
Tatapan Kiara dan Alvar bertemu sesaat. Namun, alih-alih memalingkan wajah, Kiara justru mengangkat tangannya dan mengacungkan jari tengah ke arah pria itu.
Mobil melaju pergi.
“Dasar orang kota sombong!” ketus Siti kesal, masih memeluk lengan Alvar.
Alvar menarik napas panjang.
“Siti, jangan begini. Nanti orang-orang salah paham.”
Siti mendongak. “Salah paham apa? Aku cuma—”
“Kamu tahu aku sudah menikah,” potong Alvar tegas.
“Kemarin.” Ucapan itu membuat pelukan Siti mengendur.
“Aku harus menjemput istriku di perbatasan,” lanjut Alvar.
“Tolong lepaskan.”
Siti tampak ingin membantah, namun ia tahu tatapan itu tatapan Alvar saat ia tidak suka dipaksa. Akhirnya, dengan berat hati, Siti melepaskan lengannya.
Alvar segera mengenakan helm, menyalakan mesin motor tuanya. Debu tipis terangkat saat ia melaju pergi, menuju perbatasan desa.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah berdinding krem dengan halaman luas dan rapi. Pagar kayu terbuka, pot bunga berjajar di teras. Sopir mematikan mesin lalu menoleh ke belakang.
“Ini rumah Pak Kades, Non. Kemarin saya antar orang tua Non ke sini,” ucapnya memastikan.
Kiara mengangguk singkat.
Begitu pintu mobil terbuka, Kiara turun dengan kacamata hitam masih melekat. Sopir segera menurunkan koper miliknya. Beberapa pasang mata warga sekitar mulai melirik bukan tanpa alasan. Celana jeans yang terlalu pendek dan atasan bertali satu itu jelas mencolok di tengah suasana desa yang sederhana.
Dari dalam rumah, Sulastri melangkah keluar. Ia terdiam sesaat melihat gadis muda cantik di depannya. Tak butuh waktu lama baginya untuk menebak.
“Kiara Valeska?” tanyanya hati-hati.
Kiara tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya, Bu.”
Wajah Sulastri langsung berbinar. “Masya Allah, cantik sekali. Saya Sulastri. Istri Pak Kades Yono,” katanya ramah.
“Ibu Alvar.”
Sopir berpamitan singkat lalu pergi, meninggalkan Kiara berdiri dengan kopernya dan rasa asing yang makin menekan.
“Masuk, Nak,” ajak Sulastri lembut. “Alvar tadi pergi menjemput kamu. Ibu akan telepon supaya dia pulang.”
Kiara mengangguk dan mengikuti Sulastri masuk.
Ruang tamu rumah itu minimalis, bersih, dan tertata rapi. Tak ada kesan kumuh seperti yang Kiara bayangkan. Sofa sederhana tapi empuk, meja kayu mengilap, lantai bersih tanpa debu. Padahal rumah itu hanya dihuni oleh dua orang tua dan satu anak laki-laki.
Sulastri menyodorkan segelas teh. “Minum dulu. Perjalananmu pasti melelahkan.”
Kiara duduk, melepas kacamata hitamnya, lalu menerima gelas itu.
“Terima kasih, Bu.”
Sulastri duduk di seberangnya. “Kamu tahu kan … kemarin Bapak kamu yang jadi wali nikah?”
Kiara mengangguk. “Saya tahu, Bu.” Suaranya datar.
“Saya dipaksa. Tapi saya nggak bisa menolak. Saya menghargai keputusan orang tua saya.”
Sulastri menatap Kiara lama ada iba, ada harap. Belum sempat ia menjawab, terdengar suara motor berhenti di depan teras. Mesin dimatikan.
“Itu Alvar,” ucap Sulastri sambil berdiri. “Suami kamu sudah pulang.”
Satu kata itu membuat jantung Kiara berdegup kencang.
Pikiran Kiara langsung dipenuhi bayangan pria desa yang kumuh, berkulit gelap, berpenampilan dekil dan menjijikkan. Dia menelan ludah, lalu memalingkan wajah ke arah lain. Ia belum siap, belum sanggup melihatnya.
“Assalamu’alaikum.” Suara itu terdengar lembut dan tenang, entah kenapa, jantung Kiara justru berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
Kiara spontan menoleh, seorang pria berdiri tak jauh darinya. Tubuhnya tinggi dan tegap. Kulitnya bersih, bukan hitam seperti yang ia bayangkan. Wajahnya tegas dengan rahang yang kuat, mata teduh, dan sorot yang tajam namun hangat. Kaus sederhana yang dikenakannya justru membuat kesan maskulin semakin jelas.
Topi sawah sudah dilepas, pria itu pria yang tadi ia maki di jalan.
“Kamu?!” Kiara refleks berdiri terlalu cepat.
Gelas teh di tangannya terguling. Cairan hangat tumpah mengenai kakinya.
“Aduh!” Kiara meringis, menahan perih.
“Kiara!” Sulastri panik.
Alvar terkejut dan langsung melangkah mendekat.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Alvar sembari menyentuh kaki Kiara yang tertumpah teh. Bukannya, menjawab Kiara justru terpaku pada tatapan Alvar yang begitu dingin tetapi teduh.
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng