Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TENANG SEBELUM BADAI
Minggu pagi, Dina bangun jam sembilan dengan kepala pusing.
Semalam dia tidur jam dua pagi setelah finalisasi konten untuk seminggu ke depan. Mata masih terasa berat, tapi dia paksa bangun karena ada janji lunch dengan ibunya.
Apartemen kecilnya berantakan. Baju berserakan di sofa, laptop masih terbuka di meja makan, piring kotor menumpuk di sink.
Dia mandi cepat, ganti baju kasual, lalu keluar.
Naik Transjakarta ke Senayan, turun di halte dekat mall. Ibunya sudah menunggu di restoran Padang favorit mereka, duduk di meja pojok dengan segelas teh hangat.
"Maaf telat, Ma," kata Dina sambil duduk.
Ibunya tersenyum, wanita paruh baya dengan rambut mulai memutih, wajah lelah tapi tetap hangat.
"Gak papa. Mama juga baru sampai. Kamu keliatan capek. Kerja keras?"
"Iya. Startup emang gitu. Gak ada weekend."
"Kamu yakin itu tempat kerja yang bagus? Gaji kamu kan lebih kecil dari tempat lama."
Dina tersenyum.
"Gaji lebih kecil, tapi aku punya equity. Kalau perusahaan besar nanti, saham Dina jadi valuable. Dan aku suka kerjanya. Aku ngerasa lagi contribute ke something bigger."
Ibunya menatapnya dengan tatapan khawatir tapi bangga.
"Oke. Asal kamu happy. Tapi jangan lupa kesehatan. Mama lihat kamu makin kurus."
"Aku oke, Ma. Janji."
Mereka pesan nasi padang, makan sambil ngobrol ringan tentang keluarga, tentang adik Dina yang kuliah di Bandung, tentang tetangga yang baru nikah.
Di tengah makan, ibunya bertanya.
"Bos kamu itu gimana orangnya? Kamu pernah cerita dikit, tapi Mama penasaran."
Dina berpikir sebentar.
"Rajendra? Dia... complicated. Dia anak dari keluarga kaya, tapi dia keluar dari keluarganya sendiri karena konflik. Sekarang dia mulai dari nol. Dan dia kerja lebih keras dari siapa pun yang pernah Dina kenal."
"Kamu suka dia?"
Dina hampir tersedak nasi.
"Apa? Enggak, Ma. Aku gak suka dia. Dia cuma bos. Sekali lagi, cuma bos."
Ibunya tersenyum kecil.
"Mama lihat cara kamu ngomong tentang dia. Ada sesuatu di mata kamu."
"Mama kebanyakan nonton drama Korea."
Ibunya tertawa pelan.
"Oke, oke. Mama gak maksa. Tapi kalau kamu suka, gak papa. Dia kedengarannya orang baik."
Dina tidak menjawab, hanya fokus ke piringnya.
Tapi di dalam hatinya, dia tahu ibunya tidak sepenuhnya salah.
Ada sesuatu tentang Rajendra yang bikin dia peduli lebih dari sekadar hubungan bos-karyawan.
Mungkin karena dia lihat betapa keras Rajendra berjuang. Atau karena dia lihat betapa Rajendra tetap tegak meski dunia seperti melawan dia.
Atau mungkin karena dia mulai mengerti bahwa di balik wajah tenang Rajendra, ada orang yang sangat kesepian.
Tapi itu bukan perasaan yang bisa dia akui. Bukan sekarang. Bukan di tengah semua kekacauan ini.
Setelah lunch, Dina pulang ke apartemen, bersih-bersih sedikit, lalu duduk di sofa dengan laptop.
Buka dashboard LokalMart, cek analytics.
Order hari ini sudah sepuluh sejak pagi. Minggu biasanya lebih slow, tapi ini bagus.
Dia buka Facebook page LokalMart, lihat post yang dia publish pagi tadi tentang pengrajin batik dari Solo.
Sudah dapat lima puluh likes, dua puluh comments, lima shares.
Comments-nya kebanyakan positif. Orang-orang appreciate cerita di balik produk. Ada yang bilang mereka mau coba beli. Ada yang tag teman mereka.
Organic engagement yang bagus.
Dina tersenyum kecil. Kerja kerasnya tidak sia-sia.
Ponselnya berdering, panggilan dari nomor tidak dikenal.
Dia ragu sebentar, tapi tetap angkat.
"Halo?"
Suara pria di seberang, formal.
"Selamat siang. Saya Adi dari Jakarta Biz. Apakah ini Dina Kartika?"
"Iya, ini saya."
"Saya mau confirm untuk interview dengan Pak Rajendra besok Senin jam dua siang. Masih bisa?"
"Bisa. Di kantor kami di Tebet."
"Oke. Kami akan datang bertiga. Saya, fotografer, dan editor. Perlu waktu sekitar dua jam. Apa perlu kami bawa apa-apa?"
"Tidak perlu. Kami yang sediakan semua. Oh ya, Pak Rajendra akan siapkan beberapa sample produk untuk difoto. Dan kami juga akan kontak salah satu seller untuk interview tambahan kalau Bapak berkenan."
"Bagus. Itu akan bikin artikel lebih kaya. Oke, sampai besok."
"Sampai besok."
Sambungan terputup.
Dina langsung chat Rajendra.
"Bos, Jakarta Biz confirm besok jam 2. Mereka datang bertiga. Lu udah siapin sample produk?"
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
"Belum. Gue contact seller sekarang, minta kirim beberapa sample ke kantor besok pagi. Thanks udah follow up."
"Sama-sama. Lu istirahat gak hari ini?"
"Coba. Gak terlalu berhasil. Kepala masih penuh."
"Coba lagi. Pikiran lu butuh break. Nanti malah burnout."
"Oke. Gue usahain."
Dina menaruh ponselnya, menatap langit-langit apartemennya.
Rajendra itu keras kepala. Dia tidak tahu cara istirahat. Selalu mikir soal kerja, soal masalah, soal apa yang harus dilakukan berikutnya.
Suatu saat dia akan collapse kalau terus begini.
Tapi Dina tidak tahu bagaimana cara bikin dia slow down.
Sementara itu, di kamar kosnya, Rajendra duduk di tepi kasur dengan laptop terbuka.
Dia tidak benar-benar istirahat seperti yang dia bilang ke Dina.
Dia sedang research tentang ahli forensik dokumen yang certified, yang bisa jadi saksi expert kalau dia butuh gugat balik Dera.
Ada beberapa nama yang muncul. Semua dengan fee yang mahal. Minimum lima belas juta untuk satu kasus.
Uang yang dia tidak punya sekarang.
Dana perusahaan ada, tapi itu untuk operational. Kalau dia pakai untuk personal legal battle, LokalMart bisa terganggu.
Dia butuh sumber dana lain.
Ponselnya berdering, panggilan dari Hartono.
"Pak Hartono."
"Rajendra, saya dapat kabar dari pengadilan. Jadwal sidang putusan dimajukan. Tadinya 12 Agustus, sekarang jadi 5 Agustus. Seminggu lagi."
Rajendra terdiam.
"Dimajukan? Kenapa?"
"Hakim bilang semua bukti sudah cukup. Tidak perlu sidang tambahan. Putusan bisa dijatuhkan lebih cepat."
"Itu bagus atau buruk untuk kita?"
"Tergantung perspektif. Kalau kita yakin bukti kita kuat, ini bagus karena proses jadi lebih cepat. Tapi kalau kita masih mau tambah bukti, ini buruk karena waktu kita lebih singkat."
"Bapak yakin bukti kita cukup?"
"Saya yakin. Dr. Sutanto sangat convincing. Ahli grafologi juga solid. Dokumen palsu dari mereka sudah terbongkar. Peluang kita bagus."
Rajendra menghela napas.
"Oke. Berarti saya harus siap seminggu lagi."
"Iya. Dan Rajendra, satu lagi. Jangan stress. Hakim sudah lihat semua bukti. Sekarang tinggal tunggu keputusan. Anda sudah lakukan yang terbaik."
"Terima kasih, Pak."
Sambungan terputus.
Rajendra menutup laptop, berbaring di kasur, menatap langit-langit.
Seminggu lagi putusan.
Seminggu lagi dia akan tahu apakah semua usaha ini worth it atau tidak.
Kalau menang, dia dapat warisan. Tapi juga dapat musuh selamanya dalam bentuk keluarganya sendiri.
Kalau kalah, dia kehilangan warisan. Tapi setidaknya dia sudah punya LokalMart, punya tim, punya kehidupan baru yang dia bangun sendiri.
Entah mana yang lebih baik.
Di sisi lain kota, di apartemen mewah di kawasan Kuningan, Dera duduk di sofa dengan laptop dan ponsel.
Layar laptop menampilkan dokumen yang sedang dia edit. Invoice palsu baru. Lebih rapi dari yang sebelumnya. Lebih believable.
Kali ini dia tidak akan pakai nama Richard. Terlalu risky setelah Richard membantah laporan kemarin.
Kali ini dia akan pakai nama investor fiktif. Seseorang yang tidak ada, tidak bisa dihubungi, tidak bisa konfirmasi atau bantah.
Dia sudah bikin identitas palsu lengkap. Nama, KTP palsu, rekening bank palsu dengan saldo yang terlihat real.
Semua digital. Semua untraceable kalau dilakukan dengan hati-hati.
Ponselnya berdering, panggilan dari Jessica.
Dera angkat.
"Halo?"
"Dera, aku gak bisa tidur. Aku mikirin terus soal kemarin. Polisi investigate laporan palsu itu. Gimana kalau mereka trace ke kita?"
"Mereka gak akan bisa. Gue submit dokumen pakai identitas palsu. Gak ada CCTV yang nangkep muka gue. Gak ada jejak digital yang lead ke kita."
"Tapi tetap aja aku takut. Aku gak mau masuk penjara, Dera."
"Kamu gak akan masuk penjara. Trust me. Selama kita stay calm dan gak ngaku apa-apa, mereka gak bisa prove apa-apa."
Jessica diam sebentar.
"Dera, maybe kita harus stop. Maybe kita harus terima kalau Rajendra menang. Kita masih bisa hidup dengan sepuluh persen masing-masing."
Dera merasakan amarah naik di dadanya.
"Jessica, kamu mau menyerah sekarang? Setelah kita planning ini bertahun-tahun? Setelah kita sacrifice banyak hal?"
"Tapi ini sudah terlalu jauh. Kita bikin dokumen palsu. Kita fitnah orang. Kalau ketahuan, reputasi kita hancur selamanya."
"Kita gak akan ketahuan kalau kita hati-hati. Dan Jess, inget, kalau Rajendra dapat enam puluh persen saham, dia bisa expose hubungan kita. Dia bisa bikin kita jadi laughing stock di society. Kamu mau itu?"
Jessica terdiam.
Dera melanjutkan dengan nada lebih lembut.
"Dengar, Jess. Kita sudah terlanjur basah. Mundur sekarang sama aja bunuh diri sosial. Satu-satunya cara adalah maju terus sampai Rajendra gak punya kekuatan lagi untuk lawan kita."
"Tapi gimana caranya?"
"Gue punya plan. Sidang seminggu lagi. Kalau Rajendra menang, gue akan segera execute. Kali ini gue gak akan gagal."
"Plan apa?"
"Kamu gak perlu tahu detail. Yang penting kamu stay loyal sama gue. Jangan goyah. Oke?"
Jessica diam lama, lalu menjawab dengan suara pelan.
"Oke."
"Good girl."
Sambungan terputus.
Dera tersenyum kecil, lalu kembali fokus ke laptop.
Dia akan bikin jebakan yang sempurna kali ini.
Jebakan yang tidak bisa dihindari Rajendra.
Dan kali ini, dia akan pastikan Rajendra jatuh dan tidak bisa bangun lagi.
[ END OF BAB 27 ]