NovelToon NovelToon
Ternyata, Bukan Figuran

Ternyata, Bukan Figuran

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Kencan Online / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Distorsi Realitas

Perpustakaan sore itu sangat sepi, hanya ada deru halus mesin pendingin ruangan dan aroma kertas tua yang menenangkan. Di sudut paling tersembunyi, di balik rak buku filsafat yang tinggi, Jane duduk berhadapan dengan Julius.

Julius membuka laptopnya, namun jemarinya tidak menyentuh papan tik. Ia hanya menatap layar yang menampilkan data-data perusahaan tekstil milik ayah Jane.

"Data ini..." Julius memulai, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Kau bilang tekstil menciptakan kehangatan, sementara saham hanyalah angka dingin yang kosong."

Jane tersentak. Napasnya tertahan di tenggorokan. Itu kalimat Mr. A! "Maaf? Aku... aku tidak merasa pernah mengatakan itu padamu, Julius," bisik Jane dengan jantung yang mulai berdebar kaku.

Julius terdiam sebentar, matanya yang tajam menatap Jane dengan intensitas yang membuat Jane ingin melarikan diri. "Mungkin aku hanya mendengarnya dari seseorang. Seseorang yang sangat mengenalmu."

Suasana menjadi sangat aneh. Julius yang biasanya kaku, kini tampak seolah sedang menahan sesuatu yang besar. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Jane, memangkas jarak di antara mereka.

"Jane, apa kau pernah merasa lelah menjadi orang lain demi memenuhi naskah yang ditulis orang lain untukmu?" tanya Julius. Pertanyaan itu sangat personal, sangat mirip dengan gaya bahasa Mr. A.

Jane menelan ludah. "Setiap hari. Tapi aku hanya figuran, Julius. Figuran tidak punya pilihan selain mengikuti naskah."

"Bagaimana kalau aku bilang aku benci naskah itu?" Julius berkata pelan, suaranya nyaris pecah. "Bagaimana kalau aku ingin menulis ulang peranku, dan peran mu?"

Tepat saat itu, ponsel Jane yang tergeletak di atas meja bergetar kuat.

Ting!

Sebuah notifikasi muncul di layar kunci Jane: [1 New Message from Mr. A].

Di detik yang sama, tangan Julius yang berada di dekat laptop bergerak sedikit. Jane melihat dengan mata kepalanya sendiri, layar ponsel Julius yang menghadap ke bawah di samping laptopnya, mengeluarkan cahaya redup dari sela-selanya. Dan yang paling mengerikan... ponsel Julius bergetar dengan pola irama yang persis sama dengan ponsel Jane.

Zzt... zzt-zzt.

Jane membeku. Dunianya seolah berhenti berputar. Otak pintarnya mulai memproses hal yang selama ini ia anggap mustahil. Ia menatap ponselnya, lalu menatap tangan Julius, lalu perlahan mengangkat pandangannya ke mata biru pria itu.

"Julius..." suara Jane bergetar. "Ponselmu baru saja bergetar."

Julius tidak menjauh. Ia tidak menyembunyikan ponselnya. Ia justru mengambil ponsel itu, membaliknya, dan meletakkannya tepat di samping ponsel Jane.

"Aku lelah menjadi peramal, Jane," ucapnya dengan nada yang sangat jujur, jauh dari topeng dinginnya selama ini. "Dan aku lebih lelah lagi melihatmu merasa menjadi figuran, padahal kaulah satu-satunya alasan aku masih bertahan di kelas itu setiap hari."

Jane merasa dunianya runtuh sekaligus meledak. "Kau... kau adalah Mr. A? Selama empat bulan ini?"

Julius tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggeser layar ponselnya, memperlihatkan riwayat percakapan mereka seluruh curhatan Jane tentang "Matahari yang dingin", tentang rasa mindernya, dan tentang betapa ia mengagumi Julius dari jarak tiga meter.

"Tiga meter itu jarak yang sangat menyiksa bagi kita berdua, Ms. J," bisik Julius.

Jane masih terpaku, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Kau punya Grace, kau punya segalanya..."

"Aku tidak punya apa-apa sebelum aku mulai mengobrol denganmu di aplikasi itu," jawab Julius, kali ini ia memberanikan diri menyentuh punggung tangan Jane. "Grace adalah naskah ayahku. Mr. A adalah aku yang sebenarnya. Dan aku yang sebenarnya... memilihmu."

Jane merasa seolah-olah seluruh oksigen di perpustakaan itu tersedot habis. Rahasia yang selama ini terbungkus rapi dalam jaringan internet kini tergeletak telanjang di atas meja kayu di antara mereka.

Julius tidak melepaskan tatapannya. Matanya yang biru gelap yang biasanya sedingin es kutub kini memancarkan sesuatu yang membuat Jane merinding. Itu adalah tatapan yang sangat kompleks, ada rasa lega yang amat sangat karena beban rahasianya telah terangkat, namun ada juga kerentanan yang dalam, seolah Julius baru saja menyerahkan satu-satunya senjata yang ia miliki kepada Jane.

Namun, di balik itu semua, ada kilatan emosi lain yang tidak bisa Jane artikan. Sebuah tatapan yang intens, gelap, dan seolah menyimpan ribuan kata yang bahkan aplikasi chat paling canggih pun tidak bisa menerjemahkannya. Apakah itu rasa bersalah? Obsesi? Ataukah ketakutan bahwa setelah ini Jane akan membencinya?

"Kenapa..." suara Jane hampir hilang, "Kenapa harus dengan cara ini, Julius?"

Julius menarik napas panjang, jemarinya yang masih menyentuh tangan Jane kini menggenggamnya lebih erat. "Karena di dunia nyata, aku adalah tawanan. Sebagai Mr. A, aku bisa bernapas. Dan bersamamu... aku bisa menjadi manusia."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah rak filsafat. Itu bukan langkah kaki pustakawan yang tenang. Itu adalah suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dan penuh amarah.

Grace Liberty.

Ia muncul dari balik rak, wajahnya yang cantik kini memerah karena emosi yang tertahan. Ia menatap tangan Julius yang menggenggam tangan Jane seolah-olah itu adalah sebuah pemandangan yang menjijikkan.

"Jadi ini alasan kamu menolak teleponku seharian ini, Julius?" suara Grace melengking pelan, penuh racun. "Bersembunyi di pojok perpustakaan yang berdebu dengan... gadis tekstil ini?"

Jane segera menarik tangannya, namun Julius justru menahannya. Julius berdiri, masih menggenggam tangan Jane, dan menatap tunangannya dengan tatapan paling dingin yang pernah Jane lihat.

"Pergilah, Grace," ucap Julius datar. "Naskah yang kita jalani sudah mencapai bab terakhir. Aku sudah selesai berpura-pura."

Grace tertawa sinis, matanya beralih ke Jane dengan tatapan menghina. "Kau pikir kau siapa, Jane Montmartre? Kau hanya figuran yang kebetulan lewat di hidupnya. Jangan harap benang murahanmu bisa mengikat seorang Randle."

Julius tidak membalas. Ia justru menoleh ke arah Jane. Tatapan aneh itu muncul lagi, tatapan yang tidak bisa diartikan, namun kali ini terasa seperti sebuah janji yang berbahaya.

Julius kemudian mengangkat ponselnya yang masih menampilkan profil Ms. J, menunjukkannya tepat di depan wajah Grace. "Dia bukan figuran, Grace. Dia adalah penulisnya. Dan mulai hari ini, aku hanya akan mengikuti skenario yang dia buat."

Jane tersentak pelan. Matanya mengerjap, fokusnya kembali pada permukaan meja kayu perpustakaan yang dingin. Tidak ada genggaman tangan. Tidak ada pengakuan emosional. Dan tidak ada Grace yang melabrak mereka.

Suasana perpustakaan tetap sunyi, hanya diisi oleh suara jemari yang menari di atas papan ketik.

Di hadapannya, Immanuel Julius Randle masih duduk dengan punggung tegak. Wajahnya datar, matanya tertuju sepenuhnya pada layar laptop tanpa beralih barang sedetik pun. Ia terlihat sangat jauh, meski jarak mereka secara fisik kurang dari satu meter.

"Jane," panggil Julius. Suaranya dingin dan profesional, memecah lamunan Jane. "Data distribusi untuk wilayah timur. Kau belum memasukkannya ke tabel simulasi."

"Ah... iya. Maaf, Julius. Aku sedikit melamun," sahut Jane gugup, jemarinya segera bergerak kikuk di atas keyboard.

Julius tidak merespons. Ia bahkan tidak menoleh untuk melihat wajah Jane yang memerah karena malu. Baginya, Jane hanyalah asisten riset yang kompeten. Seorang figuran yang berguna untuk menyelesaikan tugasnya tepat waktu.

Jane melirik ponselnya yang tergeletak di meja. Layarnya gelap. Tidak ada notifikasi dari Mr. A. Sosok anonim itu sudah bungkam selama lebih dari dua belas jam, dan Jane mulai merasa bahwa kehangatan yang ia rasakan lewat chat hanyalah anomali digital yang tidak akan pernah menyeberang ke dunia nyata.

"Selesai," ucap Julius tiba-tiba sambil menutup laptopnya dengan suara klik yang final. Ia merapikan jasnya, berdiri dengan keanggunan seorang pewaris tunggal yang sudah terlatih sejak lahir. "Terima kasih untuk bantuannya, Jane. Kau sangat efisien."

"Sama-sama," jawab Jane dengan senyum profesional yang getir.

Julius mengambil ponselnya dari meja ponsel yang dalam khayalan Jane tadi bergetar bersamaan dengan miliknya, lalu memasukkannya ke saku tanpa melihat isinya.

"Grace menungguku di bawah. Kami ada jamuan makan malam dengan dewan direksi," ucap Julius seolah memberikan informasi cuaca, datar dan tanpa beban. "Kau bisa pulang sendiri, kan?"

"Tentu saja. Aku akan membereskan buku-buku ini dulu."

Julius mengangguk singkat, lalu melangkah pergi. Langkah kakinya terdengar tegas di lantai perpustakaan, menjauh dan semakin menjauh hingga hilang di balik pintu besar.

Jane terduduk sendirian di sudut yang sunyi itu. Ia menatap kursi kosong di hadapannya. Khayalannya tadi terasa begitu nyata hingga dadanya masih terasa sesak. Ia sempat percaya bahwa dia adalah pengecualian bagi Julius, bahwa dia adalah pemeran utama dalam sebuah skenario rahasia.

Namun, kenyataannya tetap sama.

Jane membuka ponselnya, membuka aplikasi chat dengan Mr. A, dan mengetik sesuatu yang tidak akan pernah ia kirimkan:

Ms. J: Aku baru saja menyadari satu hal, Mr. A. Di dunia nyata, matahari tidak pernah bicara pada debu. Matahari hanya menyinari debu agar orang lain bisa melihat betapa kotornya ruangan itu.

Jane menghela napas, menghapus ketikannya, dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia bangkit berdiri, merapikan buku-buku yang bukan miliknya, dan berjalan keluar sendirian.

Di luar, mobil mewah Julius sudah melesat pergi, membawa sang pemeran utama menuju naskah emasnya, meninggalkan sang figuran yang kembali tertelan dalam gelapnya malam kampus.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍😍😍

1
Endang Sulistia
bagus...
Endang Sulistia
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
clark...🤪🤦🤦
Endang Sulistia
mantap hery
Endang Sulistia
sukurin kau jules
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Lismawati Salam
bagus
Endang Sulistia
😊😊
Endang Sulistia
suka
Endang Sulistia
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!