Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Hujan Ungu di Kota Wuhe
Langit di atas Kota Wuhe seolah terbelah. Awan ungu yang dipanggil oleh Xiao Chen berputar-putar seperti pusaran raksasa, menelan sinar matahari dan menggantinya dengan cahaya temaram yang mengerikan.
Udara yang tadinya segar kini berubah menjadi kental dan berasa logam di lidah. Inilah "Domain Racun: Langit Penjerat Jiwa", sebuah teknik tingkat tinggi yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ahli di Ranah Langit.
"Cepat! Aktifkan Formasi Pelindung Kota!" teriak Tetua Zhao dari Sekte Matahari Emas. Suaranya gemetar, menyadari bahwa pemuda di bawah sana bukanlah pendekar biasa.
Tujuh pilar cahaya emas melesat dari berbagai sudut kota, membentuk kubah transparan yang mencoba menahan uap ungu tersebut. Para penduduk kota berlarian ketakutan, sementara ribuan murid sekte bersiaga dengan senjata di tangan.
Xiao Chen menatap kubah emas itu dengan tatapan kosong. "Formasi Matahari Emas? Sebuah cangkang telur yang rapuh untuk menahan maut."
Ia mengangkat tangannya tinggi-kali ini, Bai, ular perak di lengannya, melepaskan diri dan meluncur ke tanah.
Namun, saat menyentuh bumi, Bai tidak lagi sekadar ular kecil. Dengan dukungan Qi dari Xiao Chen, tubuh Bai membesar, sisik peraknya berkilau tajam, dan ia melesat menuju fondasi salah satu pilar formasi.
"Hancurkan," perintah Xiao Chen.
Bai bergerak secepat kilat perak. Setiap kali ia melewati pendekar Aliansi, ia tidak perlu menggigit; hanya dengan sentuhan sisiknya yang mengandung racun es dari pegunungan utara, lawan-lawannya langsung membeku menjadi patung es hitam yang rapuh. Dalam sekejap, pilar cahaya pertama retak dan hancur berkeping-keping.
KRAKK!
Kubah pelindung itu bergetar hebat. Xiao Chen melangkah maju, setiap pijakan kakinya meninggalkan bekas telapak kaki yang menghitam dan mengeluarkan asap.
"Semua Tetua, serang bersama!" perintah Tetua Zhao. Lima pendekar Ranah Inti Bumi tingkat puncak melompat dari tembok kota, membawa senjata pusaka mereka. Ada yang menggunakan palu raksasa, pedang api, hingga rantai baja.
"Bocah sombong! Terima ini! Jurus Pedang Matahari Membara!" teriak salah satu tetua, menebaskan pedang yang diselimuti api panas untuk menetralkan racun.
Xiao Chen bahkan tidak menoleh. Ia hanya menggerakkan jarinya seperti memetik senar kecapi di udara. Dari genangan darah hitam para penjaga yang tewas sebelumnya, bangkitlah tentara-tentara cair yang terbentuk dari racun korosif.
"Seni Terlarang: Kebangkitan Boneka Korosif."
Mayat-mayat itu bergerak kembali, namun bukan sebagai manusia, melainkan sebagai gumpalan daging dan racun yang meledak saat bersentuhan dengan energi api.
Ledakan itu justru menyebarkan gas beracun yang lebih pekat. Tetua yang menyerang dengan api tadi tertegun saat melihat pedang pusakanya mulai meleleh dan tangannya berubah menjadi hijau tua.
"A-apa ini?! Api suciku tidak bisa membakar racun ini?!" pekiknya sebelum wajahnya mulai hancur karena uap asam.
Xiao Chen muncul di hadapannya dalam sekejap mata, bergerak melalui bayangan. "Api itu suci, tapi hatimu kotor oleh ketamakan sepuluh tahun lalu. Biarkan racun ini membersihkan jiwamu."
Xiao Chen menempelkan telapak tangannya ke dada tetua tersebut. Tidak ada ledakan besar, hanya suara desisan halus. Dalam detik berikutnya, seluruh organ dalam tetua itu mencair dan keluar dari pori-pori kulitnya. Ia mati tanpa sempat berteriak.
Melihat rekan mereka tewas begitu mudah, empat tetua lainnya mulai ragu. Namun, Xiao Chen tidak memberi mereka waktu untuk berpikir.
"Kalian merindukan Kitab Racun itu, bukan?" Xiao Chen menarik buku tua di pinggangnya dan membukanya di tengah medan perang. Lembaran-lembarannya berkibar ditiup angin maut. "Biarkan aku membacakan satu bab untuk kalian. Bab 9: Nyanyian Pemakaman Sembilan Siksaan."
Xiao Chen mulai merapal mantra dalam bahasa kuno yang berat. Seketika, hujan mulai turun dari awan ungu di langit. Tapi itu bukan air. Itu adalah tetesan cairan pekat berwarna ungu gelap yang sangat korosif.
Setiap tetes yang mengenai kulit akan melubangi daging hingga ke tulang. Setiap tetes yang mengenai bangunan akan meruntuhkan struktur batunya.
"LARI! MASUK KE DALAM BANGUNAN!" teriak para pendekar Aliansi. Namun, bangunan-bangunan itu pun mulai meleleh di bawah hujan ungu tersebut.
Kota Wuhe yang megah kini berubah menjadi panci peleburan. Jeritan ribuan orang menyatu dengan suara hujan yang mendesis. Xiao Chen berdiri di tengah-tengah itu semua, tetap kering karena energi Qi-nya membentuk payung pelindung yang menolak hujan tersebut.
Tetua Zhao, yang masih berdiri di atas tembok yang mulai retak, menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Pemuda ini bukan sekadar ingin membunuh mereka. Ia sedang menghapus keberadaan mereka dari sejarah.
"Kau... kau bukan manusia! Kau adalah bencana alam yang berjalan!" teriak Zhao dengan sisa keberaniannya.
Xiao Chen mendongak, menatap Zhao dengan mata ungu yang tidak memiliki emosi. "Manusia mati sepuluh tahun lalu di Desa Bambu Hijau. Yang berdiri di depanmu sekarang hanyalah konsekuensi dari perbuatan kalian sendiri."
Xiao Chen menjentikkan jarinya, dan Bai kembali ke lengannya, kini dengan ukuran kecil semula namun dengan aura yang lebih haus darah. "Baru dua tetua yang mati. Masih ada banyak halaman kosong di bukuku hari ini."
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.