Buku ini gua tulis sebagai perwujudan eksistensional gua di dunia ini. Karena gua pikir, sebelum gua mati, gua harus ninggalin sesuatu. Untuk bilang ke orang² yang baca buku gua ini: "Ini gua pernah hidup di dunia, dan gua juga punya cerita." Pada dasarnya, buku ini berisi rangkuman hal² penting yang terjadi dalam hidup gua, yang coba gua ingat² kembali, gua gali kembali, di tengah kondisi gua yang sulit mengingat segala hal yang rumit. Juga, kalau² kelak nanti gua lupa dengan semua hal yang tertulis di buku ini, dan gua baca ulang, terus gua bisa bilang: "Oh... ternyata gua pernah begini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proloque
Kata orangtua gua, gua dilahirin dalam keadaan yang berbeda dari anak² lain, dalam hal berat badan. Gua dari kecil memang sudah obesitas. Bocah kecil yang bisa menghabiskan mie ayam dua mangkok penuh itu adalah gua.
Nama gua Boni, panggil saja begitu, meski di dunia nyata orang² enggak pernah manggil gua dengan panggilan itu. Tapi, nama itu, bukan benar² 100% muncul begitu aja untuk menutupi identitas gua, nama itu emang "part" of nama gua yang jarang diketahui orang².
Kedua orangtua gua, bertemu saat mereka sama² bekerja di salah satu pabrik sepatu terbesar di Indonesia. Kata mereka, bokap gua itu karyawan senior, dengan gaji lima kali lipat lebih besar dari buruh normal. Sementara nyokap gua, gadis muda yang baru aja lulus SMA, berencana kuliah di UGM, tapi enggak pernah diterima, lalu memutuskan bekerja di pabrik yang sama dengan bokap gua.
Bokap gua, anak dari keluarga veteran 45, berasal dari keluarga Islam yang masih sangat kental adat Jawanya, dari pada disebut sebagai Islam, mungkin lebih cocok disebut sebagai Kejawen. Saat SMA, bokap gua memutuskan pindah agama, menjadi seorang Katolik. Alasannya? Sampai sekarang dia enggak pernah cerita ke gua. Sementara nyokap gua, berasal dari keluarga tuan tanah. Nenek dari nyokap gua, punya tanah yang benar² luas, bahkan luasnya bisa dijadikan satu pemukiman sekelas RT mungkin. Keluarga nyokap adalah keluarga Islam yang sangat taat. But, nyokap gua agak laen. Sejak remaja, nyokap gua enggak pernah cocok dengan agama yang dianut keluarganya, dari pada membaca Quran, nyokap gua lebih suka membaca Alkitab.
Ketika bokap dan nyokap ketemu, lalu memutuskan menikah. Nyokap gua memutuskan pindah agama, setelah mereka menikah beda agama di gereja Katolik. Dulu sih undang² di Indonesia belum terlalu ribet soal nikah beda agama, enggak kayak sekarang. Jadi nyokap gua baptis Katolik setelah dia nikah sama bokap. Terus lahirlah gua... anak pertama mereka, di bulan desember tahun 1993.
Setelah memutuskan menikah, bokap gua kerja sebagai kernet angkutan umum. Di zaman itu, pekerjaan itu masih cukup worthit untuk menghidup seorang istri dan anak, setidaknya sampai tahun 1998. Setelah tahun itu, semuanya jadi berubah, keluarga gua sebelum tahun itu, tergolong keluarga menengah, bokap gua tipikal orang yang pekerja keras, but kerja keras aja rupanya enggak cukup. Realita selalu berkata lain, tahun 1998 krisis monoter, harga barang pokok menjulang tinggi. Sayangnya, orangtua gua bukan tipikal orang yang bisa beradaptasi menghadapi kondisi carut marut ekonomi. Mereka juga bukan orang yang pandai dalam mengatur finansial.
So, saat usia 5 tahunan, gua udah merasakan artinya kemiskinan. Hidup tanpa aset sama sekali. Bokap kerja keras cuma cukup untuk makan satu hari. Ketika anak² lain bisa merengek minta mainan ke orangtua mereka, gua enggak bisa, bukan karena gua enggak pengen kayak anak² lain, tapi gua udah memiliki kesadaran kalau keluarga gua itu miskin.
Gua enggak ingat dengan jelas masa kecil gua, but yang gua inget, dulu orangtua gua ngontrak rumah di pinggiran sungai. Jadi gua suka banget mainan di pinggir sungai, karena itu juga, kakak kandung dari bokap, nyuruh orangtua gua pindah kontrakan. Alasannya karena mereka takut kalau gua hanyut ke sungai pas gua mainan ke sungai.
Oh iya... karena lingkungan kecil gua itu jarang banget ada anak kecil seusia gua. Itu ngebuat gua takut kalau ketemu sama orang asing, atau orang yang jarang ketemu sama gua. So, gua emang introvert dari kecil.
Gua inget, kalau keluarga dari bokap or nyokap lagi main ke rumah, gua selalu lari masuk ke kamar, karna ketakutan. Enggak ngerti apa yang gua pikirin waktu kecil dulu, yang jelas, kata orang² gua emang anaknya penakut dari kecil.
Singkat cerita, orangtua gua pindah kontrakan, kontrakan baru ini deket sama tempat tinggal kakek-nenek dari bokap, ya masih satu kampung gitu, tapi rada jauhan. Nah, di lingkungan tempat tinggal gua yang baru ini, banyak anak sebaya gua, but tetep aja, gua masih sulit bergaul sama mereka. Perlu usaha cukup keras untuk membuat gua mau main keluar sama anak² kampung.
But, selalu ada orang yang ngajakin gua keluar buat main sama dia. Gua inget dulu gua punya temen kecil, gua lupa namanya, sebut aja namanya Key, dia bukan orang asli kampung sini, pendatang dari timur. Entah apa yang kita pikirin, kita lagi mainan korek di pinggir kebun pisang. Kebetulan banyak daun kering yang sengaja di tata di pinggir kebun... and then, kekocakan gua dan Key, kita ngide buat bakar itu daun kering. Alhasil satu kebun itu kebakaran gede. Kita lari... enggak ada yang tahu kalau penyebab kebakaran itu adalah gua dan Key.
Ada lagi satu kekocakan yang ninggalin bekas sampe sekarang. Waktu itu gua main sama anak² kampung, entah apa yang kita pikirin. Gua sama anak² kampung main korek api lagi. Kali ini bukan kebun yang gua bakar, tapi kita bakar² sedotan plastik, dengan fantasi kalau sedotan itu petasan tetes. Dan tetesan dari sedotan yang terbakar itu netes ke pergelangan tangan kiri gua. Ninggalin luka bakar yang cukup serius, ampe sekarang juga masih ada bekasnya.
But, dari pada main sama anak² kampung, jujur aja dari dulu gua lebih suka main sendiri di rumah, gua punya banyak banget mainan di rumah, robot²an dan mobil²an. Keknya dari dulu emang imajinasi gua lebih dari anak² lain.
Tapi sebenernya ada trigernya, kenapa gua jadi lebih suka main dirumah ketimbang main keluar sama anak² kampung. Gua lupa waktu itu umur berapa, gua lagi suka²nya main di sungai deket rumah. So, gua jelasin dikit, jadi rumah kontrakan lama gua itu bener² pinggir sungai. Nah... rumah kontrakan baru gua agak jauh dari sungai, tapi kampung gua itu deket sama sungai, jadi emang tetep ada sungai di deket rumah. Gua waktu itu main ke sungai sampai sore. Nyokap marah... terus gua diseret dari pinggir sungai ke rumah, jaraknya kira² 500 meteran, itu diseret yang bener² kek nyeret barang. Badan gua lecet² semua, gua cuman bisa nangis. Sejak saat itu, gua bener² malas keluar main sama anak² kampung. Selain karena gua emang introvert, alasan lain karena gua takut nyokap marah.
Dan gua ini orangnya pelupa, sejak kecil gua udah pelupa. Jadi nyokap itu hobi banget nyuruh gua mbeliin something di warung, nah tragedi selalu aja terjadi setiap kali gua beli. Nyokap nyuruhnya beli apa, gua belinya apa. Jadi gua ngetrik, gua ulangin ber-ulang² kata² nyokap kalau pas gua disuruh ngebeliin something, biar enggak salah.
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥