"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 7: HASIL YANG MENENTUKAN
Lima hari.
Lima hari sejak darah Rafa dan Arka diambil untuk tes HLA. Lima hari yang terasa seperti lima tahun bagi Aisha, dan seperti lima abad bagi Rafa yang hidup terbelah antara dua keluarga.
Rafa sekarang punya rutinitas baru: pagi di rumah menemani sarapan Nadia (meski gadis kecil itu masih sedikit menjauh), siang di rumah sakit bersama Arka, malam berusaha berbicara dengan Laras yang dingin dan terjaga. Hidupnya seperti berjalan di atas kawat tajam, dan di kedua ujungnya adalah orang-orang yang ia cintai semuanya terluka karenanya.
Arka semakin lemah. Dialisis tiga kali seminggu tidak lagi cukup. Dokter sudah memasang catheter peritoneal untuk dialisis harian di rumah. Aisha harus belajar cara melakukannya proses yang menakutkan di mana ia harus memasukkan cairan ke dalam perut Arka melalui selang, menunggu, lalu mengeluarkannya lagi. Setiap kali melakukannya, tangannya gemetar. Setiap kali Arka mengerang kesakitan, hatinya seperti diremuk.
"Bunda, kapan hasil tesnya keluar?" tanya Arka pada hari kelima, suaranya semakin lirih.
"Besok, sayang. Sabtu ini," jawab Aisha, membelai keningnya.
"Ayah cocok kan ya?"
"Kita doakan bersama."
Tapi doa-doa Aisha belakangan ini terasa seperti bisikan di tengah badai. Apa Tuhan masih mendengarnya? Setelah semua kesalahan yang ia perbuat? Setelah semua orang yang ia lukai?
---
Sabtu pagi pukul 08.00.
Rafa sudah ada di rumah sakit. Wajahnya pucat, mata berkantung. Laras tidak tidur di kamar yang sama dengannya sejak pertemuan di kafe. Mereka berbicara hanya tentang hal-hal praktis: uang, jadwal Nadia, dokumen perjanjian yang sedang disusun pengacara. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi pelukan. Hanya dua orang asing yang berbagi atap.
"Ayah," sapa Arka lemah ketika Rafa masuk. "Ayah bawa apa?"
Rafa menunjukkan tas kecil. "Ayah bawa puzzle. Yang bisa kita selesaikan bersama. Lumayan buat ngabisin waktu nunggu hasil."
Arka tersenyum kecil. Puzzle itu sederhana gambar dinosaurus tapi bagi Arka, itu adalah dunia baru. Dunia di mana ada ayah yang duduk di sampingnya, menyusun kepingan-kepingan bersamanya.
Aisha memperhatikan mereka dari sudut ruangan. Ini yang ia curi dari Arka selama delapan tahun. Momen-momen kecil seperti ini. Dan sekarang, saat ia akhirnya memilikinya, momen ini ternoda oleh waktu yang terbatas dan kemungkinan hasil buruk.
---
Pukul 10.30.
Dokter Spesialis Ginjal, dr. Arman, masuk dengan wajah serius membawa sebuah tablet di tangannya. "Keluarga Arka? Hasil HLA sudah keluar."
Ruangan mendadak senyap. Hanya suara mesin monitor yang terdengar. Rafa meletakkan kepingan puzzle terakhir yang sedang ia pegang. Aisha bangkit dari kursinya, tangan berkeringat.
"Saya akan langsung ke intinya," kata dr. Arman, menatap layar tablet. "Hasil HLA typing menunjukkan... cocok dalam 5 dari 6 antigen."
Aisha menahan napas. Apa artinya?
"Itu... bagus?" tanya Rafa, suara tegang.
"Ini BAGUS sekali," kata dr. Arman, dan untuk pertama kali ini, senyum kecil muncul di wajahnya. "Kecocokan 5/6 adalah hasil yang sangat baik untuk transplantasi ginjal hidup. Risiko penolakan akut rendah. Artinya... secara medis, Bapak adalah donor yang sangat ideal untuk Arka."
DUNIA BERHENTI.
Lalu, meledak.
Aisha menutup mulutnya, isakannya meledak. Tubuhnya gemetar hebat. Cocok. Rafa cocok. Arka punya kesempatan.
Rafa hanya bisa terduduk, matanya berkaca-kaca, melihat dr. Arman seperti tidak percaya. "Benar... benar cocok?"
"Benar. Dan dengan kondisi ini, kita bisa menjadwalkan transplantasi dalam waktu 2-3 minggu ke depan, setelah pemeriksaan pra-operasi lengkap untuk Bapak."
Arka, yang memperhatikan dengan mata lebar, bertanya polos: "Artinya Arka bisa sembuh? Bisa sekolah? Bisa main bola?"
Dr. Arman mendekati Arka, tersenyum. "Artinya kamu punya kesempatan besar untuk hidup normal lagi, nak. Tapi masih ada proses panjang. Operasi besar. Dan kamu harus minum obat seumur hidup agar ginjal baru ini tidak ditolak tubuhmu."
"Aku mau! Aku mau minum obat! Pokoknya bisa sembuh!" Arka berseru, dengan energi yang belum pernah ia tunjukkan dalam beberapa minggu.
Tapi di tengah euforia itu, dr. Arman menatap Rafa dengan serius. "Tapi Bapak harus paham. Ini operasi besar untuk Bapak juga. Pengangkatan ginjal. Risiko infeksi, perdarahan, komplikasi. Dan hidup dengan satu ginjal setelahnya harus kontrol rutin, hidup sehat, tidak boleh kelelahan berlebihan. Apakah Bapak sudah benar-benar mempertimbangkan?"
Rafa melihat Aisha yang masih menangis haru. Melihat Arka yang berseri-seri. Melihat masa depan yang tiba-tiba terbuka. Lalu ia membayangkan Laras. Nadia. Harga yang harus dibayar.
"Saya siap," kata Rafa, tegas. "Kapan kita mulai pemeriksaan pra-operasi?"
"Senin depan. Kita akan lakukan rangkaian tes: jantung, paru, ginjal sisa, psikologis. Jika semua baik, kita jadwalkan operasi 2 minggu lagi."
---
Setelah dr. Arman pergi, ruangan 307 diliputi keheningan yang berbeda hening penuh harapan yang hampir tidak terbiasa.
"Ayah... beneran mau kasih ginjal ke Arka?" tanya Arka, tiba-tiba serius.
"Beneran," jawab Rafa, duduk di tepi tempat tidur. "Tapi kita harus berjuang bersama ya? Ayah operasi, Arka juga operasi. Kita sama-sama kuat."
Arka mengangguk, lalu memeluk Rafa erat-erat. Pelukan pertama yang spontan, penuh kepercayaan. "Makasih, Ayah. Arka janji jadi anak baik. Nanti kalau sembuh, Arka jagain Ayah."
Kalimat itu membuat Rafa menangis. Tangisan pria dewasa yang lepas, lega, sekaligus takut. Aisha melihat mereka, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia merasa tidak sendirian. Ada seseorang yang bersama-sama memikul beban ini.
Tapi kebahagiaan itu rapuh. Ponsel Rafa berdering. Laras.
Rafa melihat layar, lalu pada Aisha. "Aku harus... mengambil ini."
Dia keluar ruangan, meninggalkan Aisha dan Arka dalam pelukan mereka sendiri.
---
Di koridor, Rafa menerima telepon. "Laras? Ada kabar baik. Hasil tes keluar. Aku cocok."
Diam di seberang sana. Lama sekali. Kemudian: "Jadi kamu akan melakukannya."
"Ya. Operasi bisa 2 minggu lagi."
"Rafa..." suara Laras bergetar. "Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menerima ini. Aku mimpi buruk tadi malam kamu di meja operasi, ada komplikasi, dan aku... aku tidak ada di sana karena marah padamu. Aku bangun nangis."
"Laras, ini akan baik-baik saja. Dokter bilang prosedurnya aman."
"AMAN BAGI SIAPA? Bagimu? Atau bagi anak itu? Kamu tahu, aku cari-cari informasi. Donor ginjal hidup punya risiko kematian 0,03%. Kecil, tapi BUKAN NOL! DAN JIKA ITU TERJADI PADAMU, AKU JANDA DI USIA 30! NADIA YATIM!"
"Laras, tolong..."
"TIDAK! KAMU YANG TOLONG AKU!" teriak Laras, hancur. "Batalkan ini, Rafa. Katakan tidak cocok. Kita bisa cari donor lain. Kita bisa bayar. APAPUN! Tapi jangan ginjalmu!"
"Tidak ada donor lain yang lebih cocok! Dan waktu Arka tidak banyak!"
"JADI KAMU PILIH DIA DARIPADA KELUARGAMU SENDIRI?"
"AKU TIDAK MEMILIH! AKU HANYA INGIN MENYELAMATKAN NYAWA ANAKKU!"
"ANAKMU YANG BARU KAMU KENAL SEMINGGU? ATAU ANAKMU YANG SUDAH KAMU BESARKAN LIMA TAHUN?"
Pertanyaan itu seperti pisau. Rafa bersandar ke dinding, lelah. "Ini bukan pertandingan, Laras. Aku mencintai Nadia. Tapi Arka juga anakku. Dan dia sekarat."
"Kalau kamu tetap melakukan ini," suara Laras tiba-tiba datar, dingin, seperti es. "Maka jangan harap aku dan Nadia akan menunggumu di rumah sakit. Jangan harap aku akan merawatmu pasca operasi. Kamu memilih jalan ini, kamu jalani sendiri."
"Laras, jangan begitu..."
"PERJANJIAN SUDAH AKAN KU BERIKAN PADA PENGACARA. TANDA TANGANI, DAN KITA LANGKAH SELANJUTNYA. TOLONG JANGAN TELEPON AKU LAGI HARI INI. AKU BUTUH WAKTU SENDIRI."
TUTUP.
Rafa menatap ponselnya, hancur. Istrinya mengancam meninggalkannya. Dan ancaman itu nyata. Laras bukan tipe yang menggertak.
Dia kembali ke ruangan dengan wajah yang sudah berbeda. Aisha langsung tahu ada yang tidak beres.
"Masalah?" tanyanya pelan.
"Laras... tidak menerima," jawab Rafa singkat, duduk di kursi dengan tubuh lemas.
Arka yang mendengar, wajahnya berubah. "Istri Ayah marah karena mau kasih ginjal ke Arka?"
Rafa mencoba tersenyum, tapi gagal. "Dia hanya... khawatir."
"Kalau dia marah, Arka tidak usah ginjal Ayah. Arka tidak mau bikin orang bertengkar." Arka menunduk, senyumnya hilang.
"Tidak, sayang," kata Rafa cepat, meraih tangan Arka. "Ini keputusan Ayah. Dan Ayah tidak menyesal. Ibu Laras hanya butuh waktu."
Tapi kata-kata itu kosong. Dan Arka anak delapan tahun yang terlalu dewasa untuk usianya tahu itu.
---
Sore hari, setelah Rafa pulang dengan janji akan kembali besok, seorang perawat membawa surat untuk Aisha.
"Ada yang meninggalkan ini di meja perawat untuk Ibu."
Aisha membuka amplop putih polos. Isinya: sepucuk surat tulisan tangan, dan selembar cek bernilai besar.
Surat itu pendek:
"Ibu Aisha,
Ini untuk biaya pengobatan dan kebutuhan Arka sampai operasi. Jangan menolak. Ini bukan untuk Ibu, tapi untuk cucuku.
Tidak perlu mencari tahu siapa saya. Cukup tahu bahwa saya ingin Arka sembuh.
Seseorang yang juga menyayangi Rafa."
Aisha memegangi cek itu, tangan gemetar. Nilai yang cukup untuk menutupi semua biaya operasi dan pemulihan. Dan surat itu... dari ibu Rafa? Atau dari keluarga Laras? Atau dari seseorang yang tidak ia kenal?
Dia melihat tanda tangan: hanya inisial "S". Misterius.
Arka melihat ekspresinya. "Bunda, apa itu?"
"Bantuan, sayang. Bantuan dari orang baik."
"Orang baik banyak ya, Bun. Tadi juga ada bunda-bunda dari pengajian rusunawa kirim makanan. Katanya doain Arka."
Aisha tersentak. Dia tidak sendirian. Selama ini, sibuk dengan kesendirian dan penyesalannya, ia tidak menyadari bahwa ada orang-orang yang peduli. Tetangga rusunawa yang miskin tapi berbagi makanan. Perawat yang kadang membawakan buku cerita untuk Arka. Dan sekarang, "Seseorang" yang mengirim cek.
Mungkin... mungkin masih ada kebaikan di dunia ini. Mungkin masih ada harapan bukan hanya untuk Arka, tapi juga untuk jiwanya yang penuh luka.
---
Malam itu, saat Arka tertidur, Aisha mengeluarkan surat lama yang tidak pernah dikirim surat untuk Rafa delapan tahun lalu. Dan ia mulai menulis surat baru:
"Rafa,
Hasil tes hari ini memberi kami harapan. Tapi aku melihat beban di pundakmu. Aku melihat perang di matamu.
Aku menyesal bukan hanya untuk masa lalu, tapi juga untuk masa sekarang karena kehadiranku kembali merusak hidupmu.
Ketahuilah: jika suatu saat kamu harus memilih, pilihlah keluargamu. Laras dan Nadia. Mereka yang ada untukmu delapan tahun terakhir. Mereka yang pantas mendapatkan versi terakhirmu.
Arka dan aku... kami akan baik-baik saja. Kami sudah terbiasa bertahan.
Terima kasih untuk segala yang sudah dan akan kamu lakukan.
"Aisha"...
Surat itu tidak akan ia kirim. Tapi menuliskannya membuatnya lega. Mengakui bahwa ia tidak berhak menuntut lebih. Mengakui bahwa cinta terbaik kadang adalah melepaskan.
Dia melipat surat itu, menyimpannya di samping surat lama. Dua surat untuk Rafa. Satu dari masa lalu yang penuh ketakutan. Satu dari masa kini yang penuh pengorbanan.
Dan di luar jendela, bulan purnama bersinar terang, seolah menyinari jalan berliku yang harus mereka tempuh. Jalan menuju meja operasi. Jalan menuju kemungkinan kehilangan. Tapi juga jalan menuju kemungkinan penyembuhan bukan hanya untuk Arka, tapi juga untuk luka-luka lama mereka semua.
---
(Di rumah mewah di seberang kota, seorang wanita paruh baya berlutut di sajadahnya, berdoa dengan air mata: "Ya Allah, lindungi anakku. Dan selamatkan cucuku. Aku percaya pada-Mu.")