"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Tarian Di Atas Belati
Malam di Villa Samudera pada 27 Januari 2026 ini terasa sangat menekan, seolah oksigen di dalam bangunan mewah itu telah digantikan oleh rasa takut yang murni. Di ruang kendali pusat, Kenzo Matsuda berdiri mematung di depan deretan monitor kristal cair yang menampilkan setiap jengkal pulau pribadinya. Namun, ada yang tidak beres. Salah satu monitor di Sektor 4—jalur ventilasi utama—menampilkan glitch statis yang halus, sebuah riak kecil yang seharusnya tidak ada pada sistem seharga miliaran yen miliknya.
Kenzo menyesap wiskinya, namun cairan itu terasa pahit di lidahnya. Ia menghirup udara, dan entah mengapa, ia merasa mencium aroma lilac yang tajam—aroma yang seharusnya tidak ada di ruangan yang steril ini.
“Dia ada di sini,” batin Kenzo, jari-jarinya mencengkeram gelas kristal hingga memutih. “Bau kematian ini... hanya satu orang yang memilikinya. Rena.”
Paranoia yang sudah ia pendam selama puluhan tahun kini meledak menjadi kegilaan yang aktif. Ia tidak bisa menunggu sampai fajar. Proyek Hydra harus dipercepat. Ia harus memastikan bahwa janin di dalam rahim Hana menjadi miliknya secara mutlak sebelum Rena berhasil menjangkaunya. Dengan langkah terburu-buru, Kenzo keluar dari ruang kendali, memerintahkan protokol keamanan tingkat merah.
❤️❤️❤️
Kenzo membanting pintu kamar Hana dengan kasar. Hana, yang sedang duduk di tepi tempat tidur, tersentak. Sebelum ia sempat bereaksi, Kenzo sudah mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya dengan paksa.
"Waktunya telah tiba, Hana," desis Kenzo. Matanya liar, pupilnya mengecil oleh kegilaan. "Dunia luar sedang mencoba meracunimu, tapi aku akan menguncimu dalam keabadian malam ini."
Ia menarik Hana dari tepi tempat tidur. Dalam kepanikan dan obsesinya yang memuncak, Kenzo ingin membuktikan dominasinya sekali lagi. Ia ingin memastikan bahwa janin di dalam rahim Hana menjadi miliknya secara mutlak sebelum konfrontasi besar dimulai.
"Kau adalah bejanaku, Hana. Kau adalah laboratoriumku. Tidak akan ada yang bisa mengambilmu dariku, bahkan ibumu sekalipun." kata Kenzo, mencengkeram lengan Hana erat.
Hana memejamkan mata rapat-rapat, mencoba melakukan disosiasi seperti yang biasa ia lakukan. Namun, kali ini berbeda. Saat wajahnya terdesak ke arah bantal, matanya secara tidak sengaja menatap ke arah kisi-kisi ventilasi di atas langit-langit. Di sana, di balik kegelapan celah besi, ia melihat sepasang mata. Mata yang tajam, dingin, namun mengandung kilatan perlindungan yang ia kenal sejak kecil.
Ibu.
Jantung Hana berdetak kencang, kali ini bukan karena takut pada Kenzo, melainkan karena harapan yang membakar. Ia membiarkan Kenzo merasa menang, merasa memiliki kendali penuh, padahal kematian sedang merayap tepat di atas kepalanya.
❤️❤️❤️
Di balik ventilasi, Rena Sato menahan napas. Jemarinya mencengkeram belati taktisnya hingga buku jarinya memutih. Ia melihat setiap detik bagaimana Kenzo memperlakukan anaknya. Kebencian yang ia rasakan melampaui logika manusia manapun. Namun, ia adalah seorang Aishi. Ia tidak akan menyerang secara membabi buta.
“Nikmatilah saat-saat terakhirmu, Kenzo,” batin Rena, suaranya di dalam kepala terdengar seperti desis ular. “Kau mengotori darah dagingku dengan tangan hinamu. Aku akan memastikan setiap inci kulitmu yang menyentuhnya akan terkelupas dalam penderitaan yang tak berujung.”
Rena bergerak mundur dengan sangat halus. Ia menyambungkan perangkat peretasnya ke kabel optik utama yang melintasi plafon. Dalam beberapa detik, ia memasukkan virus "Dead Silence".
Tiba-tiba, lampu di seluruh Sayap Utara padam total. Suara dengung pendingin udara berhenti. Keheningan yang mengerikan menyergap. Satu-satunya cahaya yang tersisa adalah lampu alarm merah yang mulai berputar, memberikan efek visual seperti darah yang menyembur di dinding marmer.
❤️❤️❤️
Kenzo tersentak. "Apa yang terjadi?!" teriaknya pada kegelapan.
Ia meraih pistol dari laci nakas dan menarik Hana dengan kasar keluar dari kamar menuju lorong. Kenzo memanggil tim keamanannya melalui radio, namun yang terdengar hanyalah suara statis yang dingin.
Saat mereka melintasi lorong menuju Sayap Timur, lampu alarm merah yang berputar-putar menciptakan bayangan panjang yang mengerikan. Hana melihat ke belakang. Di ujung lorong yang remang, para penjaga berseragam hitam jatuh satu per satu tanpa suara. Mereka tidak ditembak; mereka jatuh seolah-olah bayangan itu sendiri yang menarik nyawa mereka.
Kenzo menyadari ia tidak lagi diikuti oleh pengawalnya. Ia berhenti di tengah lorong, napasnya tersengal, menodongkan pistolnya ke arah kegelapan yang pekat.
"Keluar kau, hantu!" teriak Kenzo. "Rena! Aku tahu itu kau! Kau pikir kau bisa menghentikan masa depan yang sudah aku rancang?!"
Terdengar suara langkah kaki yang anggun. Suara heels yang beradu dengan lantai marmer, berirama dan tenang di tengah raungan alarm. Seorang wanita muncul dari balik pilar, siluetnya diterangi oleh kilatan lampu merah.
"Masa depanmu sudah mati sejak kau berani menyentuh putriku, Kenzo-kun," suara Rena Sato menggema, dingin dan tanpa ampun.
❤️❤️❤️
Kenzo tertawa gila, tangannya gemetar namun tetap mengarahkan pistol ke arah Rena. "Dia hamil, Rena! Dia membawa warisanku! Kau tidak akan berani menembak jika itu berisiko membunuh keturunanmu sendiri!"
Rena melangkah maju, sama sekali tidak takut pada moncong senjata itu. "Kau salah satu hal, Kenzo. Kau pikir kau mengenal keluarga Aishi? Kami tidak takut pada kehancuran. Kami hanya takut pada ketidakmurnian."
Rena mengeluarkan sebuah remot kecil. "Aku sudah menanamkan peledak di seluruh fasilitas bawah tanahmu. Proyek Hydra, datamu, semua eksperimen gila itu... akan menjadi debu dalam hitungan menit."
Wajah Kenzo pucat pasi. "Kau tidak akan melakukannya..."
"Lihat mataku, Kenzo. Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda?"
Hana menatap ibunya dengan campuran rasa takut dan kagum. Di tengah lorong berdarah itu, ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar mengenal ibunya. Rena bukan hanya seorang ibu; ia adalah kekuatan alam yang mematikan.
❤️❤️❤️
Tepat saat Kenzo hendak menarik pelatuknya, sebuah getaran hebat mengguncang vila. Suara ledakan pertama terdengar dari arah laboratorium bawah tanah. Langit-langit mulai retak, dan debu putih jatuh seperti salju yang kotor.
Kenzo kehilangan keseimbangan sejenak. Itulah kesempatan yang ditunggu. Rena melemparkan belatinya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Belati itu menancap tepat di bahu kanan Kenzo, membuatnya menjatuhkan pistolnya.
Rena berlari maju, namun sebelum ia mencapai Kenzo, sebuah tim keamanan elit kedua muncul dari lift darurat, menghujani lorong dengan tembakan. Rena terpaksa menarik Hana ke balik pilar pelindung.
"Kita harus pergi sekarang, Hana!" teriak Rena di tengah bisingnya suara peluru.
Hana menatap Kenzo yang sedang diseret oleh pengawalnya menuju helipad. Kenzo menatap Hana dengan kebencian yang murni, mulutnya berdarah, meneriakkan janji akan pembalasan yang lebih kejam.
Vila itu mulai runtuh. Pilihan Hana hanya dua: mengikuti ibunya yang dingin dan misterius, atau terjebak dalam reruntuhan bersama rahasia di dalam rahimnya.
Bersambung...