NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nurani di ambang kematian

Malam kian larut di trotoar Jakarta yang keras. Bimo masih tergeletak tak berdaya, menjadi onggokan daging yang dijauhi manusia. Ribuan orang mungkin telah melintas, namun mereka hanya memberikan tatapan jijik atau menutup hidung rapat-rapat sebelum mempercepat langkah. Di kota yang megah ini, bau busuk adalah dosa besar yang tak termaafkan.

Namun, di tengah kedinginan nurani kota, terdengar bunyi gesekan roda kayu yang berderit ritmis. Seorang bapak tua bernama Pak maman, seorang pemulung yang wajahnya dipenuhi garis-garis keras kehidupan, berjalan perlahan mendorong gerobak usangnya. Hidup di jalanan membuat indra penciuman Pak Maman terbiasa dengan bau sampah dan limbah, namun bau yang menguar dari tubuh Bimo tetap membuatnya menghentikan langkah.

Pak Maman mendekat. Ia melihat seorang pria muda yang dulunya pasti sangat perlente, kini meringkuk seperti binatang yang sekarat.

"Nak... Nak, bangun," bisik Pak Maman sambil mengguncang bahu Bimo.

Tangannya menyentuh kulit Bimo yang panas membara. Pak Maman tidak mundur saat bau anyir itu menusuk hidungnya. Baginya, manusia tetaplah manusia, sebusuk apa pun raga mereka. Dengan sisa tenaga di hari tuanya, Pak Maman mengangkat tubuh Bimo yang mulai kurus itu ke atas gerobaknya, di atas tumpukan kardus dan botol plastik bekas.

"Sabar ya, Nak. Bapak antar ke tempat pengobatan," gumamnya tulus. Pak Maman mendorong gerobaknya sekuat tenaga menuju sebuah Rumah Sakit Umum Daerah yang jaraknya beberapa kilometer dari sana. Peluh membasahi kaos oblongnya yang kumal, namun hatinya tetap teguh.

Kegemparan di Ruang UGD

Pukul dua dini hari, gerobak Pak Maman sampai di depan pintu UGD. Petugas keamanan yang berjaga awalnya hendak mengusir pemulung itu, namun saat melihat ada tubuh manusia yang tergeletak pingsan di atas gerobak, mereka segera memanggil perawat.

"Tolong, Pak. Ini saya temukan pingsan di jalan," ucap Pak Maman terengah-engah.

Begitu petugas medis mendekat untuk mengangkat Bimo ke atas tandu, sebuah "ledakan" aroma busuk menghantam mereka. Bau itu begitu pekat, seolah-olah mereka sedang membuka peti mati yang sudah terkubur berbulan-bulan.

"Allahu Akbar! Bau apa ini?!" seru seorang perawat pria.

Dua orang petugas yang mengangkat Bimo langsung membiru wajahnya. Begitu tubuh Bimo berhasil diletakkan di atas ranjang periksa, mereka berdua tidak kuat lagi. Mereka berlari tunggang langgang menuju wastafel dan kamar mandi terdekat, memuntahkan seluruh isi perut mereka. Suara mereka yang muntah-muntah hebat terdengar hingga ke ruang tunggu, menciptakan suasana mencekam.

Dokter jaga malam itu, seorang pria muda bernama dr. Aris, segera datang setelah memakai masker berlapis tiga. Sejujurnya, dr. Aris ingin sekali berbalik arah. Bulu kuduknya berdiri. Secara insting, ia merasa bau ini bukan berasal dari infeksi medis biasa. Ada aura dingin dan gelap yang menyertai aroma busuk tersebut.

Namun, profesionalisme mengalahkan rasa ngerinya. "Cepat pasang infus! Cek tanda-tanda vitalnya!" perintahnya dengan suara sengau di balik masker.

Pemeriksaan yang Melawan Logika

Dokter Aris mulai melakukan pemeriksaan fisik. Berdasarkan bau yang menyengat, ia mengira akan menemukan luka gangren (daging mati) yang luas, mungkin di area selangkangan atau perut, mengingat Bimo terus memegangi bagian itu dalam pingsannya.

Dengan tangan gemetar, dr. Aris membuka pakaian bawah Bimo. Ia sudah bersiap melihat ulat atau belatung yang merayap keluar. Perawat di sampingnya bahkan sudah menyiapkan alat pembersih luka.

Namun, keajaiban mengerikan terjadi.

"Lho... kok bersih?" gumam dr. Aris tidak percaya.

Alat kelamin Bimo, paha, dan perutnya tampak utuh. Memang ada bekas garukan kemerahan, namun tidak ada luka terbuka, tidak ada nanah, dan sama sekali tidak ada belatung. Kulitnya tampak sehat layaknya orang normal. Tapi, di saat yang sama, aroma busuk itu justru semakin menguat saat pakaian Bimo dibuka, seolah-olah bau itu keluar langsung dari pori-pori kulit yang tampak sehat tersebut.

"Dok, ini tidak masuk akal. Baunya seperti ini, tapi tidak ada sumber pembusukan?" bisik perawat yang wajahnya sudah pucat pasi.

Dokter Aris mencoba menyentuh area yang dibilang Bimo sakit. Kosong. Secara medis, organ-organnya berfungsi. Detak jantungnya stabil, hanya sedikit cepat karena dehidrasi. Tidak ada tanda-tanda nekrosis (kematian jaringan).

Malam itu, Bimo dirawat di sebuah bilik yang dipisahkan oleh tirai rapat. Namun, bau busuk itu merembes keluar, memenuhi seluruh ruangan UGD. Pasien lain di sebelah mulai protes. Ada yang menangis karena mual, ada yang mengamuk meminta pindah ruangan. Suasana rumah sakit malam itu berubah menjadi sangat kacau hanya karena satu orang.

Keputusan yang Terdesak

Senin pagi tiba. Bimo akhirnya siuman. Matanya mengerjap, menatap langit-langit putih rumah sakit. Untuk sesaat, ia merasa lega. Ia merasa aman di sini.

Dokter Aris datang kembali untuk pemeriksaan lanjutan. Hasil tes darah sudah keluar: semuanya normal. Tidak ada leukosit yang naik (tanda infeksi), tidak ada bakteri berbahaya. Bimo hanya dinyatakan pingsan karena kelelahan dan kurang makan.

"Dok... saya sudah sembuh?" tanya Bimo dengan suara lemah.

Dokter Aris menatap Bimo dengan tatapan yang sulit diartikan perpaduan antara kasihan dan ngeri. "Secara medis, kamu sehat, Bimo. Kamu hanya dehidrasi. Tapi..." Dokter Aris terdiam sejenak, ia melepaskan maskernya sebentar dan langsung tersedak oleh bau yang keluar dari tubuh Bimo. "...bau ini. Kami tidak menemukan sumbernya. Pasien lain sudah sangat terganggu. Pihak manajemen rumah sakit meminta agar kamu segera pulang karena tidak ada tindakan medis lebih lanjut yang bisa kami lakukan."

Bimo terperanjat. "Pulang? Tapi saya masih lemas, Dok! Dan bau ini... tolong hilangkan!"

"Kami sudah mencoba memandikanmu dengan antiseptik paling kuat, tapi baunya tetap ada. Kami tidak bisa merawat orang yang secara fisik sehat di saat pasien kritis lainnya terganggu," jawab dr. Aris tegas namun sopan.

Sebenarnya, dr. Aris tahu ada yang tidak beres secara spiritual, namun ia tidak mungkin mengatakannya. Ia melihat Bimo yang kini tidak memiliki apa-apa bahkan Pak Maman sang pemulung sudah pergi setelah memastikan Bimo aman.

Melihat Bimo yang meratapi nasibnya, dr. Aris merogoh dompetnya. Ia membayar biaya pendaftaran dan pengobatan singkat Bimo menggunakan uang pribadinya. Bukan karena ia simpati pada kelakuan Bimo, tapi karena ia ingin pria itu segera pergi agar rumah sakit kembali steril dari aroma kematian tersebut.

"Ini obat untuk lemasmu. Dan ini ada sedikit uang untuk ongkos pulang. Tolong, Bimo... cari bantuan lain. Mungkin bukan ke dokter," bisik dr. Aris sebelum meninggalkan bilik itu.

Terusir dari Harapan Terakhir

Pukul sepuluh pagi, Bimo berdiri di lobi rumah sakit. Orang-orang di lobi segera menyingkir, menciptakan lingkaran kosong di sekeliling Bimo sejauh lima meter. Para satpam menatapnya dengan waspada, siap mengusirnya jika ia tidak segera melangkah keluar.

Bimo menggenggam uang pemberian dokter Aris. Ia merasa hancur. Rumah sakit, benteng terakhir ilmu pengetahuan, baru saja menyerah padanya. Ia dinyatakan sehat, namun ia tahu di bawah kulitnya, ulat-ulat itu hanya sedang bersembunyi di balik mode pasif karena ia baru saja mendapatkan perawatan cairan infus.

"Gue harus ke kantor..." gumam Bimo, mencoba memegang sisa-sisa kewarasannya. "Kalau dokter bilang gue sehat, berarti gue bisa kerja. Gue butuh uang."

Ia lupa bahwa "sehat" menurut dokter adalah sebuah misteri medis bagi dunia, namun "bau bangkai" menurut hidung manusia adalah sebuah kutukan nyata. Bimo melangkah keluar dari rumah sakit, menuju jalan raya. Hari Senin yang ia harapkan menjadi awal baru, justru akan menjadi panggung sandiwara terakhirnya di depan rekan-rekan kerjanya.

Di seberang gerbang rumah sakit, Ratih berdiri dengan tenang di balik tiang telepon. Ia melihat Bimo yang keluar dengan langkah terhuyung. Ia melihat bagaimana dunia menolak Bimo meskipun secara fisik ia tampak utuh.

"Selamat datang di hari Senin, Bimo," Ratih tersenyum manis. "Mari kita lihat, apakah dasi maharmu bisa menutupi bau busuk jiwamu di kantor nanti."

Ratih mengikuti Bimo dari kejauhan. Ia ingin memastikan bahwa penghinaan yang akan diterima Bimo hari ini akan menjadi puncak dari penderitaan sang pengkhianat.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!