NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noorinor

Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.

Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.

Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Sehebat apa pun seseorang, pasti akan ada anomali yang tidak menyukainya. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan posisi Lydia saat ini. Setelah ia tampil luar biasa dalam rapat, justru ada orang yang membicarakannya dan menyebutnya bersikap sok.

"Kamu lihat Bu Lydia tadi? Sok-sokan sekali ingin mengubah managemen kita," ujar salah satu karyawan di toilet wanita.

Lydia yang kebetulan sedang berada di salah satu bilik toilet menyunggingkan senyuman. Alih-alih sedih atau marah, ia justru terhibur mendengar bawahannya membicarakannya.

"Iya, padahal managemen kita baik-baik saja sebelum dia datang," sahut temannya setuju.

"Pasti dia merasa dirinya Nyonya karena dekat dengan Tuan Muda Arion, makanya bersikap sok. Cih," suara yang membicarakan Lydia masih belum berhenti. Kini, mereka bahkan membawa nama Arion.

Lydia menghela napas pelan sebelum keluar dari biliknya. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah mendekati dua orang yang sedang membicarakannya itu. Bukan untuk marah atau melabrak, ia hanya mencuci tangannya di wastafel dekat mereka.

Sementara itu, kedua orang yang tadi membicarakan Lydia tampak melangkah mundur saat melihatnya berdiri di sana. Bagaimanapun, Lydia adalah atasan yang memiliki wewenang untuk merekomendasikan karyawan di bawahnya dipecat, sehingga masih ada rasa takut di hati mereka.

Lydia bisa melihatnya dari sudut matanya. Namun, ia tetap tenang mencuci tangannya. Setelah merasa tangannya bersih, ia kemudian mengulurkan tangannya ke mesin pengering tangan yang terpasang di dinding.

"Astaga!"

Kedua orang itu terlonjak kaget hingga terpeleset dan terduduk di lantai.

Lydia tidak melakukan apa pun. Ia tidak membalas ucapan meremehkan mereka, tidak pula menegur. Namun, hanya karena suara mesin pengering tangan yang tiba-tiba menyala, mereka terjatuh dengan sendirinya ke lantai.

Lydia membalikkan tubuhnya, melirik sebentar ke arah mereka, kemudian melangkah keluar dari toilet.

"Mereka jatuh, tapi tangan gue bersih," batinnya sambil menarik sedikit sudut bibirnya.

***

Lydia keluar dari Kusuma Corp dengan langkah tergesa. Sesuai rencana, ia hendak membeli hadiah untuk Arion. Taksi yang sebelumnya sudah dipesan telah menunggu di depan gedung, dan tanpa membuang waktu ia langsung bergegas masuk.

"Mau ke mana sebenarnya Kak Lydia? Kenapa buru-buru sekali?" gumam Arion di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari gedung Kusuma Corp.

Arion sudah diminta untuk tidak datang menjemput Lydia. Namun, laki-laki itu tetap datang. Bukan tidak mempercayai Lydia atau ingin mengekang. Ia hanya ingin menjaganya dari kejauhan.

"Berani sekali mobil itu membawa Kak Lydia kebut-kebutan," ujar Arion sambil mulai menyalakan mesin mobilnya.

Arion saja selalu menjaga laju mobilnya tetap aman saat bersama Lydia. Bisa-bisanya sopir taksi itu mengebut membawa Lydia. Jika tidak ingat sedang menguntit, mungkin Arion sudah memberi klakson untuk memberi sopir itu peringatan.

"Sepenting apa sih tempat yang ingin Kak Lydia datangi sampai kebut-kebutan seperti itu, atau sopirnya saja yang berinisiatif?" Arion menggerutu sepanjang perjalanan.

Meskipun begitu, Arion tetap mengikuti mobil yang membawa Lydia hingga mobil itu berhenti di depan sebuah mal. Ia pun menghentikan laju mobilnya saat melihat mobil itu berhenti. Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh.

"Jadi ini alasan Kak Lydia buru-buru? ke mal? Mau apa Kak Lydia ke sini?" gumam Arion sambil memperhatikan mobil Lydia.

Tidak lama kemudian, Arion melihat Lydia keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Pemandangan itu membuatnya kesal sekaligus khawatir di waktu yang bersamaan. Tidak bisakah perempuan itu tenang?

"Kita bisa pergi bersama kalau memang Kak Lydia mau mampir ke mal? Kenapa harus pergi sendiri?" Arion kembali menggerutu.

Bukan apa-apa, mal yang Lydia datangi itu adalah salah satu properti milik keluarga Wijaya. Kenapa Lydia harus diam-diam datang ke sana?

***

Lydia tersenyum melihat jam tangan Rolex yang baru ia beli. Meski bukan seri paling mewah, tapi itu adalah merek yang sama yang sering melingkar di pergelangan tangan Arion.

"Semoga saja Arion suka," gumam Lydia pelan, lalu memasukkan jam tangan itu ke dalam tasnya. Ia sengaja membawa tas yang lebih besar hari ini agar hadiah tersebut muat, karena rencananya jam tangan itu baru akan ia berikan saat Arion wisuda nanti.

Sepasang kaki melangkah menghampiri Lydia. Saat Lydia mengangkat wajah, ia melihat Arion berada di sana dan berjalan menghampirinya.

"Arion, kenapa kamu ada di sini?" tanya Lydia, terkejut melihat Arion.

"Aku sedang jalan-jalan saja di sini sambil menunggu Kakak mengirim lokasi seperti yang sudah Kakak janjikan, dan wow... Kebetulan sekali kita bertemu di sini," ucap Arion berpura-pura terkejut.

Lydia menyadari ada yang aneh dari ekspresi wajah Arion. Ia bukan anak kecil yang bisa dengan mudah dibohongi. Arion pasti sengaja mengikutinya.

"Oh, kebetulan ya?" tanya Lydia meragukan hal itu.

"Iya, kebetulan," jawab Arion cepat, bahkan terlalu cepat hingga membuat Lydia yakin bahwa Arion memang sengaja mengikutinya ke sana.

Menyadari tatapan curiga Lydia terhadapnya, Arion spontan bertanya,

"Kakak tidak mungkin berpikir aku sengaja mengikuti Kakak, kan?"

Lydia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. Arion ingin dipercaya, namun tampaknya ia justru meragukan perkataannya sendiri.

"Kakak tidak berpikir begitu," jawab Lydia sambil menggandeng tangan Arion.

"Tapi kenapa Kakak tertawa?" tanya Arion, masih merasa bahwa Lydia mencurigainya.

"Kakak hanya merasa kamu lucu," Lydia menatap Arion sekilas setelah menyelesaikan ucapannya.

Ia tidak berbohong. Menurutnya, tingkah Arion memang lucu. Andai mereka tidak sedang berada di tempat umum sekarang, mungkin Lydia sudah memeluknya karena gemas.

"Kebetulan kita ada di sini. Bagaimana kalau sekalian jalan-jalan?" tawarnya, mengalihkan pembicaraan.

Arion tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan Lydia yang tidak berhenti tersenyum. Perempuan itu baru saja kehilangan uang setelah membeli jam mahal, tapi masih bisa tersenyum semanis itu.

"Aku sudah bilang tidak perlu membeli hadiah, kenapa harus memaksakan diri?" batinnya, masih memperhatikan wajah Lydia.

Arion tahu Lydia baru saja membeli jam tangan Rolex untuknya. Bahkan, ia menyaksikan saat perempuan itu dengan ragu memberikan kartu debitnya pada pelayan.

Ia membiarkan Lydia tetap membelinya untuk menghargai niat baiknya. Meski sebenarnya ia juga kasihan melihat wajah memelas Lydia saat membeli jam tangan tersebut.

Lydia menoleh dan mendapati Arion terus menatapnya, namun laki-laki itu masih belum juga menjawab tawarannya.

"Ada apa?" tanya Lydia, membuat Arion refleks mengerjapkan matanya.

"Tidak ada. Ayo, kita jalan-jalan," seru Arion bersemangat.

Lydia tersenyum melihat Arion tampak bersemangat. Ia tidak sedang memaksakan diri membeli jam tangan mahal untuk Arion. Lagipula, ia sudah menjabat sebagai CMO sekarang, yang gaji setiap bulannya setara dengan harga satu unit jam Rolex.

Lydia tidak asal memilih tempat kerja. Ada beberapa hal yang ia perhitungkan sebelum memilih bekerja di Kusuma Corp. Beberapa di antaranya adalah gaji dan kemampuan dirinya.

Gaji di Kusuma Corp cukup tinggi, hampir lima kali lipat dari gaji Lydia sebagai sekretaris di Adhivara Grup. Namun, tanggung jawabnya juga jauh lebih besar. Ia menjadi pemimpin divisi marketing yang bahkan memiliki sekretaris sendiri.

Lydia sempat ragu akan diterima di posisinya saat ini. Tidak disangka ia diberi kepercayaan. Mungkin ada campur tangan Arion sebagai orang dalam, tapi yang terpenting Lydia tetap bekerja keras dan memenuhi ekspektasi orang yang telah memberinya kepercayaan.

"Apa Kakak suka boneka?" tanya Arion sambil tersenyum menatap Lydia. Senyumannya manis sampai Lydia tidak bisa mengalihkan pandangannya.

1
Syaira Liana
udah mikirin anak aja 🫣🫣🫣
Resa05
semangat up-nya 💪
Syaira Liana
ditunggu kelanjutanya kaka🫶
Aulia Shafa
kapan sehari 2 bab lagi , penasaran👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Reverie Noor: sabtu dan minggu update 2 bab
total 1 replies
Resa05
semangat up-nya thor
Resa05
ditunggu up nya kak
Resa05
wah makin penasaran nih
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Resa05
semangat up-nya thor!
Reverie Noor: terimakasih ❤
total 1 replies
Resa05
sayang banget cerita bagus kayak gini ga rame, semangat up terus thor!
Reverie Noor: lanjutannya udah ada ya
selamat membaca 🙏❤
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!